NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Duduk di Antara Dua Sujud: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya

Doa duduk diantara dua sujud (ejaan bakunya: di antara dua sujud) adalah bacaan Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa 'afini wa'fu 'anni, delapan permohonan yang dibaca sambil duduk iftirasy setelah bangkit dari sujud pertama. Perlu dibedakan dengan tegas: duduk dan tumaninahnya termasuk rukun sholat, sedangkan bacaan doanya berstatus sunnah.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Doa Duduk di Antara Dua Sujud: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya

Doa duduk di antara dua sujud adalah bacaan Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa 'afini wa'fu 'anni, yang dibaca sambil duduk sesudah bangkit dari sujud pertama dan sebelum turun ke sujud kedua. Isinya delapan permohonan berturut-turut: ampunan, kasih sayang, kecukupan, keterangkatan derajat, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan pemaafan. Ada satu hal yang sering tertukar dan perlu ditegaskan sejak awal: duduknya beserta tumaninah adalah rukun sholat, sedangkan bacaan doanya berstatus sunnah. Artikel ini mendalami satu bacaan itu saja, mulai dari lafal, makna tiap permohonan, cara duduk, sampai kesalahan yang lazim terjadi, sebagaimana dihimpun dari NU Online. Untuk rangkaian bacaan sholat selengkapnya dari takbir sampai salam, silakan baca bacaan sholat.

Bacaan Doa Duduk di Antara Dua Sujud Lengkap

Berikut lafal yang lazim diamalkan dan dihimpun NU Online Jombang dalam panduan sholat wajib lima waktu:

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa 'aafinii wa'fu 'annii.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, belas kasihinilah aku dan cukupilah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk kebenaran, berilah kesehatan padaku dan berilah ampunan kepadaku."

Doa ini dibaca pada setiap duduk di antara dua sujud, di setiap rakaat, tanpa kecuali. Artinya, dalam sehari semalam seorang muslim yang mengerjakan sholat lima waktu membacanya sebanyak tujuh belas kali, sama dengan jumlah rakaat sholat fardhu. Ini menjadikannya salah satu bacaan yang paling sering diulang dalam hidup seorang muslim, sekaligus, ironisnya, salah satu yang paling jarang direnungkan artinya.

NU Online dalam panduan tata cara sholat fardhu lima waktu juga memuat lafal yang sama dengan transliterasi Rabbighfirlî warhamnî wajburnî warfa'nî warzuqnî wahdinî wa'âfinî wa'fu 'annî. Jadi, meski Anda menemukan penulisan latin yang sedikit berbeda di berbagai buku dan situs, susunan katanya sama: delapan kata kerja permohonan yang seluruhnya ditujukan kepada Allah dengan kata ganti "aku".

Key Takeaway: Ada delapan permohonan dalam doa ini, bukan tujuh. Urutannya: ighfirli (ampuni), warhamni (rahmati), wajburni (cukupi), warfa'ni (angkat derajat), warzuqni (beri rezeki), wahdini (beri petunjuk), wa 'afini (beri kesehatan), wa'fu 'anni (maafkan). Menghitungnya dengan benar membantu Anda menyadari kalau ada yang terlewat saat membaca cepat.

Makna Delapan Permohonan, Satu per Satu

Inilah bagian yang membuat doa pendek ini layak direnungkan lebih dalam. Kalau dibaca sekilas, delapan kata itu terdengar seperti daftar permintaan yang ditumpuk. Padahal kalau dibuka satu per satu, terlihat bahwa ia mencakup kebutuhan manusia dari yang paling batin sampai yang paling jasmani. Mari kita telusuri berdasarkan terjemah yang dihimpun NU Online.

1. Rabbighfirli: ampunilah dosa-dosaku

Doa dibuka dengan permohonan ampunan, bukan permintaan rezeki atau kesehatan. Urutan ini menarik. Seorang hamba yang baru saja meletakkan dahinya di tanah, posisi paling rendah yang bisa dilakukan tubuh manusia, hal pertama yang ia ucapkan ketika bangkit adalah pengakuan bahwa dirinya berdosa. NU Online menerjemahkannya "ampunilah dosa-dosaku". Menurut hemat redaksi, meletakkan istighfar di urutan pertama mengajarkan bahwa yang paling menghalangi seorang hamba bukanlah kekurangan harta, melainkan dosa yang menumpuk tanpa disadari.

2. Warhamni: belas kasihanilah aku

Setelah ampunan, yang diminta adalah rahmat. Ampunan menghapus yang buruk, rahmat mendatangkan yang baik. Keduanya berbeda dan karena itu diminta terpisah. Seseorang bisa saja diampuni tanpa otomatis dilimpahi kasih sayang, maka doa ini meminta dua-duanya secara berurutan.

3. Wajburni: cukupilah segala kekuranganku

Inilah kata yang paling kaya maknanya sekaligus paling beragam diterjemahkan. NU Online Jombang menerjemahkannya "cukupilah segala kekuranganku", sementara NU Online pada panduan tata cara sholat fardhu menerjemahkannya "perbaikilah". Dua terjemah ini tidak bertentangan, keduanya sama-sama menyentuh gagasan menambal sesuatu yang retak atau kurang. Jadi yang diminta di sini bukan sekadar tambahan, melainkan perbaikan atas apa yang rusak dan penambalan atas apa yang berlubang dalam diri kita, baik urusan agama maupun urusan hidup sehari-hari.

4. Warfa'ni: angkatlah derajatku

Permohonan agar derajat diangkat. Perhatikan letaknya: diucapkan persis ketika badan sedang berada dalam posisi rendah, baru saja bangkit dari sujud dan sebentar lagi akan sujud kembali. Ada pelajaran yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar di situ, bahwa ketinggian yang sesungguhnya diminta kepada Allah, bukan diraih dengan meninggikan diri sendiri.

5. Warzuqni: berilah rezeki kepadaku

Barulah pada urutan kelima muncul permintaan rezeki. Banyak orang mengira doa dalam sholat melulu soal urusan akhirat, padahal di sini, di tengah sholat, kita diajari meminta rezeki secara terang-terangan. Islam tidak memisahkan keduanya. Yang diatur adalah urutannya: ampunan dan perbaikan diri lebih dulu, rezeki menyusul.

6. Wahdini: berilah aku petunjuk kebenaran

Permohonan hidayah. Ini permintaan yang juga kita ulang di setiap rakaat lewat ihdinash shiraathal mustaqiim dalam surat Al-Fatihah. Pengulangan seperti ini bukan kebetulan. Petunjuk bukan sesuatu yang didapat sekali lalu selesai, melainkan kebutuhan yang diperbarui terus menerus, sebanyak kita berdiri dan duduk dalam sholat.

7. Wa 'afini: berilah kesehatan padaku

Permohonan afiat. Kata ini biasa dipahami lebih luas daripada sekadar sehat secara fisik, mencakup keselamatan dan terbebasnya seseorang dari hal-hal yang menyusahkan. Lafal yang serumpun juga muncul dalam doa qunut lewat kalimat wa 'aafinii fii man 'aafait, sehingga bagi yang terbiasa qunut Subuh, kata ini semestinya sudah akrab.

8. Wa'fu 'anni: berilah ampunan kepadaku

Doa ditutup dengan kembali kepada tema pembuka: permohonan agar dimaafkan. NU Online menerjemahkan penutup ini "berilah ampunan kepadaku". Perhatikan bahwa doa ini dibuka dengan permohonan ampun dan ditutup dengan permohonan ampun juga, mengapit enam permohonan lain di tengahnya. Menurut hemat redaksi, susunan melingkar seperti ini menyiratkan sesuatu yang jujur tentang keadaan kita: apa pun yang kita minta di tengah, yang paling kita butuhkan tetap di ujung keduanya.

Pro Tip: Kalau selama ini duduk di antara dua sujud terasa cuma jeda teknis sebelum sujud kedua, cobalah satu hal sederhana selama sepekan: pilih satu saja dari delapan permohonan itu, lalu hadirkan maknanya sungguh-sungguh setiap kali membacanya. Pekan berikutnya ganti ke permohonan lain. Dalam dua bulan, kedelapannya sudah pernah Anda hayati secara sadar, dan biasanya duduk singkat ini berubah menjadi salah satu momen paling personal dalam sholat.

Duduknya Rukun, Bacaannya Sunnah: Jangan Tertukar

Di sinilah letak salah paham yang paling sering terjadi, dan sayangnya berkonsekuensi serius pada sah atau tidaknya sholat. Keduanya harus dibedakan dengan tegas.

Duduk dan tumaninah: rukun

Imam Abu Suja' dalam Matan al-Ghayah wat Taqrib, sebagaimana dikutip NU Online, merinci rukun sholat menjadi 18 perkara. Pada urutan ke-11 dan ke-12 tercantum "duduk di antara dua sujud" dan "thuma'ninah" di dalamnya. Artinya, dua-duanya rukun. Meninggalkan duduk ini, atau duduk tetapi tanpa berhenti sejenak, berarti meninggalkan rukun, dan sholat menjadi tidak sah.

NU Online menegaskan hal ini lewat keterangan Syekh Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, bahwa rukun kedelapan dari sholat adalah duduk di antara dua sujud dengan tumaninah, meski pada sholat sunnah sekalipun. Lebih dari itu, disebutkan bahwa duduk ini harus dilakukan dengan niat atau sengaja. Kalau seseorang bangkit dari sujud pertama karena kaget oleh sesuatu, bukan karena bermaksud duduk, maka itu tidak memadai dan ia wajib kembali ke sujudnya.

Bacaan doanya: sunnah

Sebaliknya, bacaan Rabbighfirli tidak termasuk rukun. NU Online menjelaskan bahwa rukun sholat yang berupa ucapan (rukun qauli) hanya ada lima: takbiratul ihram, surat Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat Nabi pada tahiyat akhir, dan salam pertama. Doa duduk di antara dua sujud tidak termasuk di dalamnya, sehingga statusnya sunnah. NU Online Jombang pun menuliskannya dengan redaksi "hendaknya membaca", bukan "wajib membaca".

Konsekuensi praktisnya begini. Orang yang duduk dengan tenang tetapi lupa membaca doanya, sholatnya tetap sah. Sebaliknya, orang yang membaca doanya lengkap delapan permohonan tetapi tidak sempat berhenti sejenak karena buru-buru menyusul imam, justru berpotensi kehilangan rukun. Yang wajib adalah diamnya, bukan doanya.

Catatan: Perhatikan asimetri yang mudah membalik intuisi kita. Kebanyakan orang khawatir kalau lupa bacaannya, padahal itu yang cuma sunnah. Sedikit yang khawatir kalau duduknya kurang tenang, padahal justru itu rukunnya. Kalau Anda harus memilih antara membaca lengkap dengan terburu-buru atau membaca sebagian dengan tenang, pilihlah yang kedua.

Tata Cara Duduk Iftirasy dan Tumaninah

Setelah tahu mana yang rukun, mari masuk ke tekniknya.

Posisi duduk iftirasy

NU Online menjelaskan bahwa dalam fikih sholat dikenal dua cara duduk: iftirasy dan tawarruk. Duduk iftirasy dilakukan dengan menegakkan kaki kanan dan meletakkan kaki kiri menempel lantai, kemudian menduduki kaki kiri tersebut. Adapun tawarruk mirip dengan iftirasy, hanya saja kaki kiri tidak diduduki melainkan dijulurkan ke bawah kaki kanan, sementara pinggul menempel lantai.

Pembagiannya: tawarruk disunahkan saat tasyahud akhir, sedangkan iftirasy disunahkan antara lain saat duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk istirahat, dan tasyahud akhir bila setelahnya masih ada sujud sahwi. Ini bersandar pada keterangan Syekh Zainuddin al-Maliabari dalam Fathul Mu'in juz 1 halaman 195. Dalam Hasyiyah I'anah at-Thalibin ditambahkan bahwa jari-jari kaki kanan dilipat menghadap ke arah kiblat.

Menariknya, Majelis Tarjih Muhammadiyah sampai pada rumusan yang senada soal posisi ini, yaitu bahwa duduk tawarruk dilakukan pada tasyahud akhir sedangkan duduk iftirasy dilakukan ketika duduk antara dua sujud. Jadi soal cara duduk ini, dua ormas besar di Indonesia relatif sejalan.

Tumaninah dan rukun qashir

Tumaninah, menurut NU Online Jombang, adalah berhenti sejenak dalam setiap gerakan rukun. Kelihatannya sepele, tetapi inilah yang paling sering dikorbankan orang saat sholat terburu-buru.

Ada satu hal penting yang jarang diketahui. Duduk di antara dua sujud, sebagaimana i'tidal, tergolong rukun qashir alias rukun singkat: rukun yang tidak boleh diperpanjang, tetapi juga tidak boleh dipersingkat sampai kehilangan tumaninah. Syekh Ar-Ramli menjelaskan bahwa keduanya bukan rukun yang dimaksudkan untuk dirinya sendiri, melainkan sekadar pembatas atau pemisah antara dua rukun lain. Karena itu NU Online menyebutkan bahwa memperpanjang bacaan pada i'tidal dan duduk di antara dua sujud termasuk hal yang membatalkan sholat bila dilakukan dengan sengaja.

Ini poin yang perlu digarisbawahi, karena mengoreksi anggapan umum bahwa "semakin lama semakin baik". Untuk duduk ini justru tidak. Ada rentang yang pas: cukup lama untuk tenang, tidak boleh dipanjang-panjangkan seperti sujud. Jadi kalau Anda tergoda menambah doa panjang di posisi ini, sebaiknya berhati-hati.

Adapun bagaimana kalau kondisi fisik tidak memungkinkan duduk iftirasy, misalnya karena lutut bermasalah atau harus sholat di atas kursi? NU Online mengutip Syekh Taqiyuddin al-Hishni bahwa dalam sholat tidak ada cara duduk tertentu yang wajib. Bagaimanapun cara seseorang duduk dalam sholat, itu tetap sah, dan ini merupakan kesepakatan ulama, termasuk untuk duduk di antara dua sujud. Iftirasy tetap yang disunahkan, tetapi ketidakmampuan melakukannya tidak merusak sholat. Ini keringanan yang perlu diketahui para lansia dan siapa pun yang sedang sakit, agar tidak was-was tanpa alasan.

Varian Lafal dan Salinan yang Keliru

Kalau Anda membandingkan beberapa buku dan situs, akan tampak penulisan yang tidak seragam. Sebagian perbedaan itu wajar, sebagian lagi sebenarnya galat ketik. Membedakan keduanya penting supaya kita tidak salah menghafal.

Perbedaan penulisan yang wajar. Halaman-halaman NU Online menuliskan lafal ini dengan variasi ortografi ringan, misalnya ada yang menyambung ighfirli menjadi satu rangkaian dan ada yang memberi spasi, atau perbedaan pemakaian sukun pada huruf ya di akhir kata. Semua ini tidak mengubah kata maupun bacaannya, hanya soal gaya penulisan. Redaksi memeriksa beberapa halaman NU Online yang memuat lafal ini, dan seluruhnya konsisten memuat delapan permohonan yang sama dengan urutan yang sama.

Perbedaan terjemah. Seperti sudah disinggung, kata wajburni diterjemahkan "cukupilah segala kekuranganku" pada satu halaman NU Online dan "perbaikilah" pada halaman lain. Ini bukan pertentangan, melainkan dua sisi dari satu makna yang sama.

Salinan yang keliru. Ini yang perlu diwaspadai. Sebagian salinan yang beredar luas, termasuk yang dikutip berbagai media, memuat galat ketik pada teks Arabnya: huruf ra pada kata rabbi hilang sehingga tersisa bi, dan huruf ra pada warzuqni hilang sehingga terbaca wazuqni. Galat semacam ini lolos begitu saja karena orang umumnya membaca dari hafalan, bukan benar-benar mengeja teksnya. Redaksi Ngajia memakai salinan yang bersih dan sudah dicocokkan antarhalaman NU Online, dan sengaja tidak mereproduksi versi yang keliru itu.

Pro Tip: Kalau Anda menemukan teks Arab doa di internet, jangan langsung dihafal. Cocokkan dulu dengan latinnya di halaman yang sama. Kalau latinnya berbunyi warzuqni tetapi Arabnya terbaca wazuqni, berarti ada yang salah ketik di situ, dan hampir selalu yang keliru adalah teks Arabnya. Membandingkan dua halaman berbeda dari sumber tepercaya adalah cara paling murah untuk menghindari menghafal galat.

Perlu ditambahkan satu catatan lintas ormas. Muhammadiyah menegaskan bahwa sholat adalah ibadah mahdah, yaitu ibadah yang tata cara, gerakan, dan bacaannya telah ditentukan secara rinci oleh Rasulullah, sehingga menambah-nambah doa yang tidak diajarkan beliau pada posisi tertentu dalam sholat, termasuk pada duduk di antara dua sujud, pada dasarnya tidak dibenarkan. Prinsip ini bertemu dengan penjelasan mazhab Syafi'i di atas soal rukun qashir: dari dua jalur penalaran yang berbeda, keduanya sama-sama tidak menganjurkan memanjangkan atau menambahi bacaan pada posisi duduk ini.

Kesalahan Umum saat Duduk di Antara Dua Sujud

Bayangkan situasi yang mungkin pernah Anda alami: imam sholat Subuh membaca cepat, dan begitu Anda bangkit dari sujud pertama, terdengar takbir imam untuk sujud kedua. Anda pun langsung menyusul turun, praktis tanpa sempat duduk tenang sedetik pun. Situasi seperti ini menyingkap beberapa kekeliruan yang lazim terjadi:

  • Duduk tanpa tumaninah. Ini yang paling berbahaya sekaligus paling sering. Tumaninah adalah rukun, sedangkan bacaannya sunnah. Duduk yang cuma numpang lewat karena mengejar imam berarti mempertaruhkan rukun demi kecepatan. Solusinya sederhana: berhenti sejenak sampai badan benar-benar diam, meski hanya sempat membaca sebagian doa.
  • Mengira bacaan doanya wajib. Sebagian orang panik dan mengulang sholat gara-gara lupa membaca Rabbighfirli. Tidak perlu. Bacaan ini sunnah, dan meninggalkannya tidak membatalkan sholat, juga tidak mengharuskan sujud sahwi.
  • Memperpanjang duduk dengan doa tambahan. Karena tergolong rukun qashir, duduk ini tidak boleh diperpanjang. NU Online menyebutkan bahwa memperpanjang bacaan pada i'tidal dan duduk di antara dua sujud dengan sengaja termasuk yang membatalkan sholat. Niat baik memperbanyak doa tetap perlu ditempatkan pada posisinya yang tepat, dan sujudlah tempat yang dianjurkan untuk memperbanyak doa.
  • Membaca bacaan yang bukan tempatnya. NU Online menyebut bahwa membaca Al-Qur'an saat rukuk dan sujud, atau membaca subhana rabbiyal a'la ketika duduk di antara dua sujud padahal semestinya membaca doa, hukumnya makruh. Setiap posisi punya bacaannya sendiri. Bahkan memindah rukun qauli bukan pada tempatnya, seperti membaca Al-Fatihah saat duduk di antara dua sujud, disebutkan sebagai kondisi yang menganjurkan sujud sahwi.
  • Menghilangkan sebagian permohonan tanpa sadar. Karena dibaca cepat dan berulang, kata yang mirip bunyinya mudah terlompati, terutama warfa'ni dan warzuqni yang berdekatan. Ini tidak membatalkan, tetapi sayang. Menghitung delapan permohonan sesekali di luar sholat membantu memastikan hafalan Anda utuh.
  • Merasa harus iftirasy sempurna meski sedang sakit. Iftirasy itu sunnah, dan segala cara duduk tetap sah menurut kesepakatan ulama. Jangan sampai kekhawatiran soal posisi kaki justru merusak kekhusyukan atau menunda sholat.

Dari pengalaman redaksi mengasuh pertanyaan pembaca, akar hampir semua kekeliruan di atas satu: kita menempatkan perhatian pada bagian yang sunnah dan mengabaikan bagian yang rukun. Kalau ada satu hal saja yang ingin kami titip dari artikel ini, itulah dia. Duduklah dengan tenang lebih dulu, baru doanya menyusul dengan sendirinya.

Untuk melengkapi pemahaman rangkaian sholat Anda, silakan pelajari juga doa iftitah sebagai bacaan pembuka, niat sholat 5 waktu, dan doa tahiyat akhir yang justru berstatus rukun sehingga menuntut perhatian lebih. Sesudah salam, dianjurkan melanjutkan dengan doa setelah sholat. Bila masih ada persoalan pribadi seputar duduk di antara dua sujud, misalnya kondisi lutut yang menyulitkan atau kebiasaan di masjid setempat yang terasa berbeda, silakan tanyakan lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz di lingkungan Anda.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa duduk diantara dua sujud

TApa bacaan doa duduk di antara dua sujud?

Bacaannya adalah 'Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa 'aafinii wa'fu 'annii', yang artinya: 'Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, belas kasihinilah aku dan cukupilah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk kebenaran, berilah kesehatan padaku dan berilah ampunan kepadaku.' Isinya delapan permohonan berurutan.

TApakah doa duduk di antara dua sujud wajib dibaca?

Tidak. Bacaannya berstatus sunnah, karena rukun sholat yang berupa ucapan hanya lima: takbiratul ihram, Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat pada tahiyat akhir, dan salam pertama. Yang wajib adalah duduknya beserta tumaninah, karena keduanya termasuk rukun. Jadi lupa membaca doanya tidak membatalkan sholat, tetapi duduk tanpa tumaninah membatalkan.

TBagaimana posisi duduk di antara dua sujud yang benar?

Yang disunahkan adalah duduk iftirasy, yaitu menegakkan kaki kanan dan meletakkan kaki kiri menempel lantai lalu mendudukinya, dengan jari-jari kaki kanan dilipat menghadap kiblat. Ini berbeda dengan tawarruk yang disunahkan pada tasyahud akhir. Meski begitu, menurut kesepakatan ulama, bagaimanapun cara seseorang duduk dalam sholat tetap sah, sehingga yang tidak mampu iftirasy tidak perlu khawatir.

TBolehkah memperpanjang doa saat duduk di antara dua sujud?

Tidak dianjurkan. Duduk di antara dua sujud dan i'tidal tergolong rukun qashir atau rukun singkat yang berfungsi sebagai pembatas saja, sehingga tidak boleh diperpanjang. NU Online menyebutkan bahwa memperpanjang bacaan pada kedua rukun ini termasuk hal yang membatalkan sholat bila dilakukan dengan sengaja. Kalau ingin memperbanyak doa, sujud adalah tempat yang dianjurkan.

TApakah doa duduk di antara dua sujud dibaca di setiap rakaat?

Ya. Duduk di antara dua sujud terjadi di setiap rakaat, sehingga doanya juga dibaca setiap kali, tanpa membedakan sholat fardhu maupun sunnah. Dalam sehari semalam, seorang muslim yang mengerjakan sholat lima waktu membacanya tujuh belas kali sesuai jumlah rakaat sholat fardhu.

TKenapa teks Arab doa ini berbeda-beda di berbagai sumber?

Sebagian perbedaan hanya soal gaya penulisan, misalnya pemberian spasi atau pemakaian sukun pada huruf ya di akhir kata, dan itu tidak mengubah bacaannya. Namun sebagian salinan yang beredar memang memuat galat ketik, misalnya hilangnya huruf ra pada kata rabbi atau pada warzuqni. Cara paling mudah memeriksanya adalah mencocokkan teks Arab dengan transliterasi latin di halaman yang sama.

TApakah sholat sah kalau lupa duduk di antara dua sujud?

Tidak sah. Duduk di antara dua sujud beserta tumaninahnya termasuk rukun sholat, baik pada sholat wajib maupun sholat sunnah, sehingga tidak bisa ditambal dengan sujud sahwi. Bahkan duduk ini harus dilakukan dengan sengaja; kalau seseorang bangkit dari sujud pertama karena kaget oleh sesuatu dan bukan karena bermaksud duduk, ia wajib kembali ke sujudnya.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa