
Setelah menunaikan sholat fardhu, seorang muslim dianjurkan tidak langsung beranjak, melainkan memperbanyak dzikir dan memanjatkan doa setelah sholat. Urutannya secara ringkas: istighfar tiga kali, lafal "Allaahumma antas salaam", tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, tahlil penyempurna, lalu doa permohonan. Waktu setelah shalat lima waktu termasuk salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Susunan dzikir dalam artikel ini mengacu pada tuntunan yang dihimpun jaringan NU Online, termasuk rangkaian wirid dari kitab Perukunan Melayu, ikhtisar karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, serta hadits-hadits shahih yang menjadi landasannya.
Susunan Dzikir Setelah Sholat
Secara ringkas, urutan dzikir setelah sholat fardhu yang lazim diamalkan umat Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:
- Membaca istighfar tiga kali.
- Membaca lafal "Allaahumma antas salaam...".
- Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing tiga puluh tiga kali.
- Membaca tahlil dan kalimat tauhid.
- Ditutup dengan doa permohonan sesuai kebutuhan.
Dalam tradisi pesantren dan masjid-masjid Nahdliyin, rangkaian ini sering diperluas. NU Online Jombang mencatat susunan wirid yang juga memuat bacaan surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, ayat Kursi, serta lafal "Allaahumma ajirnaa minan naar" (Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka). Semua tambahan ini bersandar pada amalan yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan diajarkan turun-temurun oleh para ulama Nusantara.
Perlu dipahami bahwa dzikir setelah sholat bersifat anjuran, bukan kewajiban. Ustadz Suparman Abdul Karim, Ketua Lembaga Dakwah NU Lampung, menjelaskan bahwa dzikir usai shalat termasuk ibadah yang sifatnya muthlaq: tidak terikat pada satu redaksi tertentu, sehingga selain dzikir yang masyhur, kita boleh mengamalkan dzikir lain yang bersumber dari hadits.
Istighfar dan Salam
Dzikir diawali dengan memohon ampun kepada Allah:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
Latin: Astaghfirullaahal 'azhiim (dibaca tiga kali).
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung."
Amalan ini berlandaskan hadits dari Tsauban RA: "Bahwasanya Rasulullah SAW apabila usai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali" (Shahih Muslim nomor 591, Sunan At-Tirmidzi nomor 300). Terdapat pula redaksi istighfar yang lebih panjang dengan tambahan "alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih", yang keutamaannya disebutkan dalam Sunan At-Tirmidzi nomor 3577 dan Sunan Abi Dawud nomor 1517. Redaksi panjang ini serupa dengan sayyidul istighfar yang juga dianjurkan dibaca setiap pagi dan sore.
Kemudian dilanjutkan dengan lafal:
اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Latin: Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.
Artinya: "Ya Allah, Engkau Maha Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan."
Lafal ini diriwayatkan dari Aisyah RA dalam Shahih Muslim nomor 592. Dalam praktik di banyak masjid Indonesia, dibaca pula versi yang lebih panjang dengan tambahan "wa ilaika ya'uudus salaam, fahayyinaa rabbanaa bis salaam, wa adkhilnal jannata daaras salaam" (kepada-Mu kembali keselamatan, hidupkanlah kami dengan keselamatan, dan masukkanlah kami ke surga Darussalam).
Khusus setelah shalat Maghrib dan Subuh, terdapat anjuran tambahan membaca lafal berikut sebanyak tujuh kali, berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud nomor 5079:
اللَّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنْ النَّارِ
Latin: Allaahumma ajirnii minan naar.
Artinya: "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."
Tasbih, Tahmid, dan Takbir
Selanjutnya dibaca rangkaian kalimat thayyibah, masing-masing sebanyak tiga puluh tiga kali:
- Tasbih: "Subhaanallaah" (Maha Suci Allah).
- Tahmid: "Alhamdulillaah" (segala puji bagi Allah).
- Takbir: "Allaahu akbar" (Allah Maha Besar).
Rangkaian ini biasa disempurnakan dengan tahlil:
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya: "Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Keutamaan susunan ini sangat besar. Dalam hadits dari Abu Hurairah RA disebutkan: barangsiapa bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali setelah shalat hingga berjumlah 99, lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan kalimat tahlil di atas, "niscaya semua dosanya akan diampuni, walaupun sebanyak buih di lautan" (Shahih Muslim nomor 597). Kalimat tahlil dengan redaksi serupa juga dibaca Rasulullah SAW tiga kali usai shalat, sebagaimana riwayat Al-Mughirah dalam Shahih Al-Bukhari nomor 6473 dan Shahih Muslim nomor 593.
Doa Penutup Setelah Sholat
Setelah dzikir, dilanjutkan dengan doa. NU Online Jabar mengawali kumpulan doanya dengan pujian berikut:
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
Latin: Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, hamdan yuwaafii ni'amahu wa yukaafi'u maziidah.
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-Nya dan menandingi tambahan nikmat-Nya."
Salah satu doa yang lazim dipanjatkan setelahnya adalah permohonan ampunan untuk diri dan kedua orang tua:
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
Latin: Allaahummaghfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil."
Penjelasan lebih lengkap tentang bacaan ini dapat dibaca pada halaman doa untuk kedua orang tua. Doa kemudian ditutup dengan permohonan kebaikan dunia dan akhirat:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar.
Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka."
Doa penutup ini dikenal sebagai doa sapu jagat karena cakupan permohonannya yang menyeluruh. Dalam kumpulan doa NU Online Jabar, sebelum doa sapu jagat juga dianjurkan membaca shalawat serta doa memohon keselamatan agama, kesehatan badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, dan ampunan setelah wafat. Seluruh rangkaian lalu diakhiri dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan hamdalah.
Tata Cara Praktis Langkah demi Langkah
Bagi yang ingin mengamalkan versi lengkap, NU Online menyalin rangkaian wirid dari kitab Perukunan Melayu, ikhtisar karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dengan urutan praktis berikut:
- Selesai salam, tetap pada posisi duduk shalat, baca istighfar tiga kali.
- Baca kalimat sifat Allah dan pernyataan tobat "alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, wa atuubu ilaih".
- Baca doa keselamatan "Allaahumma antas salaam...". Setelah bacaan ini, posisi kaki boleh diubah menjadi duduk bersila.
- Baca doa "Allaahumma laa maani'a limaa a'thaita, wa laa mu'thiya limaa mana'ta" (Ya Allah, tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau tahan).
- Baca doa memohon pertolongan agar istiqamah: "Allaahumma a'innii 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatik" (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).
- Baca tasbih 33 kali, ditutup "Subhaanallaahi wa bihamdihi daa'iman abadaa".
- Baca tahmid 33 kali, ditutup "Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiina 'alaa kulli haalin wa ni'mah".
- Baca takbir 33 kali, ditutup takbir panjang dan tahlil.
- Baca istighfar tiga kali lagi, lalu doa "hamdan yuwaafii ni'amahu", shalawat, dan doa-doa lain sesuai kebutuhan.
Bayangkan suasana selepas Maghrib di musala kampung: sebagian jamaah langsung bangkit karena mengejar urusan, sementara beberapa orang tua tetap duduk tenang merampungkan wirid. Padahal jarak antara keduanya hanya sekitar lima menit. Bagi pekerja kantoran yang shalat di musala kantor pun sama; menahan diri lima menit sebelum kembali ke meja kerja sudah cukup untuk merampungkan susunan inti dzikir ini. Agar lebih mudah konsisten, ketahui juga jadwal sholat di kota Anda supaya bisa datang lebih awal dan tidak terburu-buru setelah salam.
Keutamaan dan Waktu Mustajab
Waktu sesudah shalat lima waktu termasuk salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. NU Online Jabar menyebutkan bahwa di antara waktu-waktu cepat terkabulnya doa adalah setelah waktu shalat, seraya mengutip firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan" (Surat Al-Ghafir ayat 60).
Keutamaan lain yang dijanjikan dalam hadits: ampunan dosa meskipun sebanyak buih di lautan bagi yang merampungkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil (Shahih Muslim nomor 597), bebas dari api neraka bagi yang membaca "Allaahumma ajirnii minan naar" tujuh kali setelah Maghrib dan Subuh (Sunan Abi Dawud nomor 5079), serta ampunan dosa bagi yang membaca istighfar panjang (Sunan At-Tirmidzi nomor 3577).
Menurut hemat redaksi, di sinilah letak keistimewaan dzikir setelah sholat dibanding amalan sunnah lain: modal waktunya sangat kecil, dalilnya kuat, dan ia menempel pada ibadah wajib yang sudah pasti kita kerjakan lima kali sehari. Membiasakannya jauh lebih ringan daripada membangun kebiasaan ibadah baru dari nol, misalnya sholat tahajud yang menuntut bangun malam. Karena itu, doa boleh dipanjatkan dengan bahasa Arab maupun bahasa yang dipahami, karena inti doa adalah kesungguhan hati dalam memohon kepada Allah.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
Ada beberapa kekeliruan yang sering dijumpai dalam praktik sehari-hari:
- Langsung bangkit setelah salam. Tidak berdosa, tetapi melewatkan salah satu waktu mustajab dan janji ampunan yang disebutkan dalam hadits shahih.
- Menganggap dzikir setelah sholat sebagai kewajiban. Hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan. Orang yang meninggalkannya tidak berdosa, sehingga tidak perlu menghakimi jamaah lain yang bangkit lebih dulu.
- Terpaku pada satu redaksi dan menyalahkan yang lain. Riwayat dzikir setelah sholat beragam: tahlil ada yang tiga kali, "Allaahumma ajirnii minan naar" ada yang tujuh kali dan ada yang diamalkan tiga kali di masjid-masjid Indonesia. Keduanya punya sandaran, sebagaimana dijelaskan Lembaga Dakwah NU Lampung.
- Dzikir cepat tanpa makna. Mengejar hitungan 33 sambil pikiran melayang mengurangi ruh dzikir itu sendiri. Lebih baik pelan sambil meresapi artinya.
- Berhenti pada dzikir tanpa berdoa. Setelah wirid selesai, justru itulah momen memanjatkan hajat pribadi, dari urusan rezeki, keluarga, sampai pekerjaan, boleh dengan bahasa Indonesia.
Sempurnakan ibadah harian Anda dengan membaca dzikir pagi dan petang, serta pelajari doa qunut yang dibaca dalam shalat Subuh. Ada pertanyaan seputar tata cara ibadah? Sampaikan lewat Tanya Ustadz.
Sumber Rujukan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.