NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Dzikir

Dzikir Pagi dan Petang: Bacaan dan Waktunya

Dzikir pagi adalah amalan berzikir yang dibaca pada waktu pagi, yaitu sejak selesai shalat Subuh hingga terbit matahari, dan dilengkapi dzikir petang yang dibaca sejak Asar hingga terbenam matahari. Salah satu bacaan utamanya adalah Sayyidul Istighfar, yang menurut hadits riwayat Bukhari, siapa membacanya di pagi hari dengan yakin lalu wafat pada hari itu, maka ia termasuk penghuni surga, dan berlaku hal serupa bila dibaca di petang hari.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit . Diperbarui

Dzikir Pagi dan Petang: Bacaan dan Waktunya

Dzikir pagi dan petang adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk membentengi diri, menenangkan hati, dan meraih keberkahan sepanjang hari. Al-Qur'an berulang kali memerintahkan mengingat Allah pada waktu pagi dan petang. Waktu utamanya adalah setelah shalat Subuh hingga terbit matahari untuk dzikir pagi, dan setelah Asar hingga terbenam matahari untuk dzikir petang. Artikel ini menghimpun bacaan dzikir pilihan beserta waktunya, dengan bacaan utama berupa Sayyidul Istighfar sebagaimana dijelaskan NU Online.

Dalil Anjuran Dzikir Pagi dan Petang

Anjuran berzikir pada waktu pagi dan petang bukan sekadar tradisi, melainkan perintah yang berulang di dalam Al-Qur'an. Menurut penjelasan NU Online, Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan sejumlah ayat yang menjadi dasar anjuran dzikir di waktu Subuh, di antaranya Surat Thaha ayat 130, Surat Ghafir ayat 55, Surat An-Nisa ayat 148, Al-An'am ayat 52, An-Nur ayat 36, dan Surat Shad ayat 18.

Salah satunya adalah firman Allah dalam Surat Thaha ayat 130:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Artinya: "Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari." (QS Thaha: 130)

Kemudian dalam Surat Ghafir ayat 55, Allah berfirman:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

Artinya: "Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada pagi dan petang." (QS Ghafir: 55)

Kedua ayat ini secara jelas menunjuk dua momen istimewa dalam sehari: sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa lafal dzikir yang baik dibaca di waktu subuh berasal dari Rasulullah SAW dan jumlahnya sangat banyak. Mereka yang mampu mengamalkan semuanya terbilang orang yang beruntung, sedangkan yang tidak sanggup boleh menyingkatnya meski hanya dengan satu lafal dzikir. Prinsip ini sangat melegakan: dzikir pagi petang bukan paket "semua atau tidak sama sekali", melainkan amalan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Waktu Dzikir Pagi dan Petang

Para ulama menjelaskan waktu dzikir pagi dan petang sebagai berikut:

  • Dzikir pagi: waktu utamanya sejak selesai shalat Subuh hingga terbit matahari. Sebagian ulama melapangkan hingga masuk waktu Dhuha bagi yang berhalangan.
  • Dzikir petang: waktu utamanya sejak masuk waktu Asar hingga terbenam matahari, dan sebagian melapangkan hingga sepertiga awal malam.

Rentang waktu ini selaras dengan redaksi ayat "sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari" pada Surat Thaha ayat 130 di atas. Karena patokannya adalah waktu Subuh, Asar, dan posisi matahari, jam pastinya berbeda-beda antarkota di Indonesia. Untuk memastikan waktu Subuh dan Asar secara tepat, Anda dapat memeriksa jadwal sholat sesuai kota Anda.

Poin Penting: Dzikir pagi dan petang berbeda dengan wirid setelah shalat fardhu. Wirid dibaca setiap usai shalat lima waktu, sedangkan dzikir pagi petang terikat pada rentang waktu pagi dan sore, meskipun keduanya bisa digabungkan setelah Subuh dan setelah Asar. Pelajari juga doa setelah sholat agar dua amalan ini saling melengkapi.

Sayyidul Istighfar

Sayyidul Istighfar berarti "penghulu istighfar", yaitu lafal permohonan ampun yang paling utama dari sekian bentuk istighfar. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar memasukkannya ke dalam doa harian yang dianjurkan dibaca pada pagi dan sore hari. Bacaannya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana 'abduka, wa ana 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'uudzu bika min syarri maa shana'tu, abuu'u laka bi ni'matika 'alayya wa abuu'u bi dzanbii, faghfirlii fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam ikatan janji dan setia kepada-Mu sekuat kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau."

Makna dan Kandungan Sayyidul Istighfar

Mengapa lafal ini disebut penghulu semua istighfar? NU Online Jabar menjelaskan bahwa Sayyidul Istighfar memuat tiga pengakuan sekaligus yang membuatnya lebih utama dari bentuk istighfar lainnya. Pertama, pengakuan status penciptaan: hamba mengakui bahwa Allah yang menciptakannya dan ia sepenuhnya milik Allah. Kedua, pengakuan nikmat: hamba mengakui segala karunia yang selama ini ia terima datang dari Allah. Ketiga, pengakuan dosa: hamba jujur mengakui kesalahannya tanpa mencari pembenaran, lalu memohon ampun hanya kepada Allah.

Susunan ini menjadikan Sayyidul Istighfar bukan sekadar ucapan "astaghfirullah" biasa, melainkan sebuah dialog utuh antara hamba dan Tuhannya: dimulai dari tauhid, berlanjut ke pengakuan janji dan kelemahan diri, lalu ditutup dengan permohonan ampunan. Menurut hemat redaksi, justru di sinilah letak kekuatannya. Orang yang membacanya dengan sadar sedang melatih kejujuran spiritual setiap pagi dan sore, sebelum sibuk dengan urusan dunia.

Bacaan Dzikir Pilihan Lainnya

Selain Sayyidul Istighfar, ada bacaan tasbih yang secara khusus disebutkan dalam hadits untuk diamalkan pagi dan petang. Riwayat dalam Shahih Muslim menyebut lafalnya:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaanallaahi wa bihamdih.

Artinya: "Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya."

Adapun riwayat dalam Sunan Abu Dawud menyebut lafal tasbih dengan tambahan:

سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaanallaahil 'azhiimi wa bihamdih.

Artinya: "Mahasuci Allah yang Maha Agung dengan segala puji bagi-Nya."

Tasbih ini dianjurkan dibaca sebanyak seratus kali pada pagi dan sore hari. Di samping itu, dalam himpunan dzikir pagi petang yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia, biasanya turut dibaca:

  • Ayat kursi satu kali sebagai bacaan perlindungan.
  • Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali.
  • Tahlil: "Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir."
  • Doa-doa perlindungan dan permohonan lain yang dianjurkan, seperti doa Nabi Yunus ketika sedang menghadapi kesulitan.

Sekali lagi, tidak semua bacaan wajib dibaca setiap hari. Imam an-Nawawi sendiri menyatakan bahwa yang tidak sanggup mengamalkan seluruhnya boleh memilih sebagian, bahkan satu lafal saja tetap berpahala. Yang penting adalah keberlangsungannya, bukan banyaknya.

Keutamaan Dzikir Pagi Petang

Rasulullah SAW menyebutkan ganjaran istimewa bagi yang membaca Sayyidul Istighfar. Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaddad bin Aus RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, siapa yang membaca Sayyidul Istighfar di sore hari lalu ia wafat pada malamnya, maka ia termasuk penghuni surga; dan siapa yang membacanya di pagi hari dengan penuh keyakinan lalu wafat pada siangnya, maka nasibnya sama, termasuk penghuni surga. Keterangan ini dinukil Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar.

Tasbih seratus kali juga memiliki keutamaan yang luar biasa. Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang membaca "Subhaanallaahi wa bihamdih" seratus kali ketika pagi dan ketika sore, niscaya pada hari kiamat tidak ada orang yang datang membawa amal yang lebih baik daripadanya, kecuali orang yang mengamalkan bacaan yang sama atau melebihinya.

Dua hadits ini menggambarkan betapa besar nilai amalan yang secara hitungan waktu sebenarnya sangat ringan. Membaca Sayyidul Istighfar butuh kurang dari satu menit, dan tasbih seratus kali umumnya selesai dalam beberapa menit saja. Dibandingkan waktu yang kita habiskan untuk menggulir media sosial setiap pagi, porsi waktu untuk dzikir ini nyaris tidak terasa.

Ringkasan: Keutamaan dzikir pagi petang berdasarkan sumber yang sahih: (1) pembaca Sayyidul Istighfar yang wafat pada hari itu dijanjikan surga menurut riwayat Bukhari, (2) pembaca tasbih 100 kali pagi dan sore menjadi orang dengan bawaan amal terbaik di hari kiamat menurut riwayat Muslim, (3) keduanya dianjurkan Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar sebagai amalan harian.

Tata Cara Mengamalkan Sehari-hari

Tidak ada aturan kaku dalam urutan dzikir pagi petang, namun urutan praktis berikut bisa membantu Anda memulai:

  1. Selesaikan shalat Subuh atau Asar terlebih dahulu. Dzikir pagi paling mudah dirangkai langsung setelah wirid Subuh, dan dzikir petang setelah wirid Asar, sehingga tidak perlu mencari waktu khusus.
  2. Pastikan diri dalam kondisi tenang. Duduklah sejenak, tidak perlu berpindah tempat. Kondisi suci dari hadats lebih utama; jika berhadats besar, bersucilah dulu dengan mandi wajib.
  3. Mulai dengan Sayyidul Istighfar satu kali dengan penuh keyakinan dan penghayatan makna.
  4. Lanjutkan bacaan pilihan: ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, kemudian tasbih "Subhaanallaahi wa bihamdih" hingga seratus kali.
  5. Tutup dengan doa pribadi sesuai kebutuhan hari itu, misalnya memohon kelancaran pekerjaan, kesehatan keluarga, atau kemudahan urusan.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

  • Menunda hingga waktunya lewat. Niat "nanti saja setelah sarapan" sering berujung terlewat sama sekali. Rangkaikan langsung dengan shalat agar tidak tertunda.
  • Mengejar jumlah tanpa makna. Membaca seratus tasbih dengan terburu-buru sampai lafalnya tidak jelas justru menghilangkan ruh dzikir. Lebih baik pelan tetapi sadar apa yang diucapkan.
  • Merasa gagal karena tidak lengkap. Sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi, satu lafal dzikir pun tetap bernilai. Jangan berhenti total hanya karena tidak sempat membaca semuanya.
  • Menganggapnya pengganti shalat. Dzikir pagi petang adalah pelengkap, bukan pengganti ibadah wajib. Adab dan urutan prioritas ibadah tetap harus dijaga; selengkapnya bisa dibaca di artikel adab islami.

Tips Istiqamah Berzikir

Bayangkan seorang karyawan di Bekasi yang setiap pagi berangkat pukul enam mengejar KRL ke Jakarta. Rasanya mustahil menambah "agenda baru" di pagi hari. Namun banyak yang akhirnya menemukan celahnya: Sayyidul Istighfar dibaca sesaat setelah salam shalat Subuh, lalu tasbih seratus kali dicicil selama berjalan ke stasiun. Sampai di peron, dzikir pagi sudah selesai tanpa mengambil satu menit pun dari jadwal hariannya. Pola serupa bisa diterapkan siapa saja: ibu rumah tangga sambil menyiapkan sarapan, pedagang sambil membuka lapak, atau mahasiswa sambil menunggu kelas pertama.

  • Jadikan dzikir sebagai rutinitas yang menempel pada shalat Subuh dan Asar agar tidak terlewat.
  • Gunakan buku saku dzikir atau aplikasi untuk membantu menghafal urutannya.
  • Mulai dari jumlah yang ringan lalu tingkatkan secara bertahap agar konsisten.
  • Hayati makna setiap bacaan agar dzikir tidak sekadar lisan, tetapi meresap ke hati.
  • Bagi yang gemar ibadah malam, rangkaikan dzikir pagi dengan rutinitas sholat tahajud menjelang Subuh sehingga pagi Anda dibuka dengan rangkaian ibadah yang utuh.
Pro Tip: Konsistensi lebih mudah dibangun dengan "jangkar kebiasaan". Tempelkan dzikir pada aktivitas yang pasti Anda lakukan setiap hari, misalnya selalu membaca Sayyidul Istighfar sebelum beranjak dari sajadah Subuh. Setelah 2-3 pekan, amalan ini berjalan otomatis tanpa perlu diingat-ingat.
Lengkapi ibadah Anda: Baca juga doa setelah sholat yang waktunya berdekatan dengan dzikir pagi, serta pelajari doa Nabi Yunus untuk dibaca saat menghadapi kesulitan.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar dzikir pagi

TKapan waktu membaca dzikir pagi?

Waktu utama dzikir pagi adalah sejak selesai shalat Subuh hingga terbit matahari. Sebagian ulama melapangkannya hingga masuk waktu Dhuha bagi yang berhalangan.

TKapan waktu membaca dzikir petang?

Waktu utama dzikir petang adalah sejak masuk waktu Asar hingga terbenam matahari, dan sebagian ulama melapangkannya hingga sepertiga awal malam.

TApa itu Sayyidul Istighfar?

Sayyidul Istighfar berarti penghulu atau raja istighfar, yaitu lafal permohonan ampun yang paling utama, dianjurkan dibaca pada pagi dan petang.

TApa keutamaan membaca Sayyidul Istighfar?

Menurut hadits riwayat Bukhari, siapa membacanya dengan yakin di pagi hari lalu wafat pada hari itu, atau di petang hari lalu wafat pada malamnya, maka ia termasuk penghuni surga.

TApa saja bacaan dzikir pagi selain Sayyidul Istighfar?

Di antaranya tasbih 'Subhaanallaahi wa bihamdih' seratus kali sebagaimana riwayat Muslim, serta ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, tahlil, dan doa-doa perlindungan.

TApakah harus membaca semua bacaan dzikir setiap hari?

Tidak. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa yang tidak sanggup mengamalkan semuanya boleh menyingkatnya, bahkan satu lafal dzikir saja tetap bernilai.

TBolehkah berdzikir sambil beraktivitas, misalnya berjalan atau bekerja?

Boleh. Dzikir tidak disyaratkan duduk di satu tempat, sehingga tasbih dan istighfar dapat dibaca sambil berjalan atau beraktivitas, selama tetap menjaga kesadaran akan maknanya.