NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Doa Iftitah dan Maknanya

Doa iftitah adalah doa pembuka yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah pada rakaat pertama shalat. Salah satu redaksinya yang masyhur berbunyi "Allaahu akbar kabiiraa, wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa." Membaca doa iftitah hukumnya sunnah, dan dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa lafal ini menjadi sebab dibukakannya pintu-pintu langit.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit . Diperbarui

Doa Iftitah dan Maknanya

Doa iftitah adalah doa pembuka yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum surat Al-Fatihah pada rakaat pertama shalat. Hukumnya sunnah, bukan wajib, sehingga shalat tetap sah walau doa ini terlewat. Kata iftitah sendiri berasal dari akar kata yang berarti pembukaan. Menurut NU Online, kata ini serumpun dengan kata miftah yang berarti alat pembuka atau kunci, sehingga doa iftitah dapat dipahami sebagai doa kunci yang membuka setiap shalat. Terdapat beberapa redaksi doa iftitah yang sahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan seorang muslim boleh memilih salah satunya. Artikel ini mengulas bacaan lengkapnya dalam tulisan Arab, latin, dan artinya, macam-macam redaksinya, makna kandungannya, keutamaannya, tata cara membacanya langkah demi langkah, hingga ketentuan khusus bagi makmum masbuq.

Posisi dan Hukum Doa Iftitah dalam Shalat

Doa iftitah dibaca hanya sekali dalam satu shalat, yaitu pada rakaat pertama. Urutannya jelas: takbiratul ihram terlebih dahulu, lalu membaca doa iftitah dengan suara pelan (sirr), kemudian membaca taawudz, dan barulah surat Al-Fatihah. Pada rakaat kedua dan seterusnya doa ini tidak diulang lagi.

Hukum membaca doa iftitah adalah sunnah. Jika seseorang lupa dan langsung membaca Al-Fatihah, shalatnya tetap sah, hanya saja ia kehilangan keutamaan sunnah ini. Ia juga tidak perlu mengulang atau kembali membacanya setelah Al-Fatihah dimulai, karena tempatnya memang sudah lewat.

Kesunnahan ini berlaku untuk hampir semua shalat, baik shalat fardhu lima waktu maupun shalat sunnah seperti tahajud, dhuha, dan tarawih. Satu-satunya pengecualian yang disebut para ulama adalah shalat jenazah. Menurut penjelasan NU Online yang mengutip kitab I'anatut Thalibin karya Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, shalat jenazah dibangun di atas prinsip keringanan dan keringkasan, sehingga doa iftitah yang relatif panjang tidak disunnahkan di dalamnya.

Bacaan Doa Iftitah Arab, Latin, dan Artinya

Salah satu redaksi doa iftitah yang paling banyak diamalkan umat Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Latin: Allaahu akbar kabiiraa, wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.

Artinya: "Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji yang banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang."

Redaksi ini biasanya disambung dengan lafal berikut:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Latin: Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifam musliman wa maa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah, dan aku termasuk orang-orang muslim."

Macam-Macam Redaksi Doa Iftitah yang Sahih

Doa iftitah tidak hanya satu versi. NU Online, mengutip kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten, menyebutkan lima bentuk doa iftitah yang bisa dipilih:

  1. Redaksi wajjahtu: diawali "wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha", yaitu lafal penghadapan diri yang juga menjadi sambungan redaksi masyhur di atas.
  2. Redaksi alhamdu: diawali "alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih", berisi pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah.
  3. Redaksi kabiiraa: "Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa", redaksi yang paling populer di Indonesia.
  4. Redaksi Allaahumma baa'id: diawali "Allaahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghrib", permohonan agar dijauhkan dari dosa sejauh jarak timur dan barat.
  5. Redaksi Allaahumma antal malik: diawali "Allaahumma antal maliku laa ilaaha illaa anta", pengakuan bahwa Allah adalah Raja yang tiada tuhan selain Dia.

Redaksi Allaahumma baa'id juga menjadi pilihan utama dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Menurut Ensiklopedia Tarjih Muhammadiyah, redaksi ini dipilih karena kualitas periwayatannya sangat kuat, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, sekaligus lebih ringkas untuk diamalkan. HPT juga mengakui redaksi wajjahtu wajhiya sebagai alternatif yang sahih.

Poin Penting: Perbedaan redaksi doa iftitah antara jamaah NU dan Muhammadiyah bukanlah soal benar salah. Semua redaksi di atas bersumber dari riwayat yang sahih. Memilih salah satunya sudah menggugurkan kesunnahan, dan tidak sepatutnya perbedaan ini dijadikan bahan perdebatan di masjid maupun di grup keluarga.

Makna dan Kandungan Doa Iftitah

Doa iftitah memuat tiga inti yang menyiapkan hati seorang hamba sebelum bermunajat dalam shalat:

  • Pengagungan: mengakui kebesaran Allah dan memuji-Nya dengan pujian yang banyak, pagi dan petang.
  • Penghadapan diri: menghadapkan seluruh jiwa kepada Sang Pencipta langit dan bumi dengan tulus dan berserah diri.
  • Pengikhlasan: menegaskan bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati semata-mata milik Allah tanpa sekutu.

NU Online menjelaskan bahwa "menghadapkan wajah" dalam kalimat wajjahtu wajhiya bukan sekadar menghadapkan badan ke arah kiblat, melainkan menghadapkan orientasi batin sepenuhnya kepada Allah. Kalimat "dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik" menjadi pengingat agar tidak ada sedikit pun kesombongan dan penyekutuan dalam ibadah. Adapun kalimat penutup tentang shalat, ibadah, hidup, dan mati adalah bentuk penyerahan total: seluruh gerak hidup seorang hamba dikembalikan kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Dengan memahami makna ini, doa iftitah tidak lagi menjadi hafalan yang meluncur otomatis tanpa rasa. Ia menjadi semacam kalibrasi hati di detik-detik pertama shalat, sebelum kita mengucapkan sepatah pun ayat Al-Fatihah.

Keutamaan Doa Iftitah, Pembuka Pintu Langit

NU Online menuturkan sebuah riwayat dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tentang keutamaan doa iftitah. Suatu ketika para sahabat shalat bersama Rasulullah, tiba-tiba seorang jamaah membaca lafal "Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa". Selesai shalat, Rasulullah bertanya siapa yang mengucapkan kalimat tersebut. Orang itu menjawab bahwa dialah yang membacanya. Rasulullah kemudian menyatakan kekagumannya karena kalimat itu mampu membuka pintu-pintu langit.

Ibnu Umar sendiri mengaku tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut sejak mendengar pernyataan Rasulullah itu. Riwayat ini menunjukkan betapa mulianya membiasakan doa pembuka dalam shalat: sebuah kalimat pendek yang diucapkan pelan, tetapi bergema hingga membuka pintu-pintu langit.

Keutamaan ini pula yang membuat para ulama menganjurkan agar doa iftitah tidak dianggap remeh. Ia memang sunnah, tetapi sunnah yang dijaga oleh para sahabat sepanjang hidup mereka.

Tata Cara Membaca Doa Iftitah Langkah demi Langkah

Agar lebih mudah dipraktikkan, berikut urutan membaca doa iftitah dalam shalat:

  1. Berdiri menghadap kiblat dan berniat. Niat cukup di dalam hati bersamaan dengan takbir. Untuk shalat sunnah tertentu, lafal niatnya bisa dilihat di halaman niat sholat tahajud dan niat sholat lainnya.
  2. Takbiratul ihram. Angkat kedua tangan sambil mengucapkan "Allaahu akbar", lalu sedekapkan tangan.
  3. Baca doa iftitah dengan suara pelan. Pilih salah satu redaksi yang sahih, misalnya redaksi kabiiraa yang disambung wajjahtu, atau redaksi Allaahumma baa'id. Bacaan ini tetap dibaca pelan meski pada shalat jahr seperti Maghrib, Isya, dan Subuh.
  4. Lanjutkan taawudz dan Al-Fatihah. Setelah iftitah selesai, baca "a'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim" lalu surat Al-Fatihah.
  5. Rakaat berikutnya tanpa iftitah. Pada rakaat kedua dan seterusnya, langsung membaca taawudz atau Al-Fatihah tanpa mengulang doa iftitah.

Sebagai gambaran yang mungkin akrab bagi Anda: di banyak masjid kampung di Indonesia, saat tarawih Ramadhan, imam biasanya diam sejenak setelah takbiratul ihram. Jeda hening beberapa detik itu bukan karena imam lupa bacaan, melainkan waktu bagi imam dan makmum untuk membaca doa iftitah masing-masing dengan pelan. Anak-anak yang baru belajar shalat sering bingung mengapa ada jeda sunyi itu, dan momen inilah kesempatan yang baik bagi orang tua untuk mengenalkan doa iftitah sejak dini.

Pro Tip: Kalau Anda belum hafal redaksi yang panjang, mulailah dari kalimat pertamanya saja: "Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa". Kalimat inilah yang dalam riwayat Ibnu Umar disebut membuka pintu-pintu langit. Setelah lancar, barulah tambahkan sambungan wajjahtu sedikit demi sedikit. Menghafal bertahap jauh lebih baik daripada tidak membaca sama sekali.

Syarat Kesunnahan, Makmum Masbuq, dan Kesalahan Umum

Lima syarat kesunnahan doa iftitah

Mengutip kitab I'anatut Thalibin, NU Online merinci bahwa doa iftitah disunnahkan bila lima syarat terpenuhi:

  • Shalat yang dikerjakan bukan shalat jenazah.
  • Tidak khawatir waktu shalat akan habis jika membacanya.
  • Bagi makmum, tidak khawatir kehilangan sebagian bacaan Al-Fatihah.
  • Makmum mendapati imam dalam posisi berdiri, bukan pada posisi lain.
  • Belum terlanjur memulai taawudz atau Al-Fatihah, walaupun karena lupa.

Bagaimana dengan makmum masbuq?

Makmum yang datang terlambat (masbuq) perlu menimbang waktu. Menurut penjelasan NU Online dalam mazhab Syafi'i, membaca Al-Fatihah hukumnya wajib bagi makmum, sedangkan iftitah hanya sunnah. Karena itu, jika makmum mendapati imam sudah membaca Al-Fatihah, ia boleh tetap membaca iftitah selama yakin masih sempat menyelesaikan iftitah dan Al-Fatihah sebelum imam rukuk, dan disunnahkan mempercepat bacaan iftitahnya agar segera bisa menyimak bacaan imam. Namun jika waktunya sempit, tinggalkan iftitah sama sekali dan fokus pada Al-Fatihah. Jangan sampai yang sunnah mengorbankan yang wajib.

Kesalahan umum seputar doa iftitah

  • Menyaringkan bacaan. Doa iftitah dibaca pelan, tidak dinyaringkan meski pada shalat jahr. Yang dikeraskan imam hanyalah takbir dan bacaan surat.
  • Membacanya di setiap rakaat. Iftitah hanya dibaca sekali pada rakaat pertama, bukan diulang tiap rakaat.
  • Membacanya setelah Al-Fatihah dimulai. Jika taawudz atau Al-Fatihah sudah terlanjur dibaca, kesempatan iftitah sudah lewat dan tidak perlu diulang.
  • Memaksakan iftitah saat masbuq. Makmum yang mendapati imam hampir rukuk sebaiknya langsung membaca Al-Fatihah, atau mengikuti gerakan imam sesuai keadaannya.
  • Menganggap satu-satunya redaksi yang benar adalah yang biasa ia dengar. Ada beberapa redaksi sahih; semuanya boleh diamalkan.

Menurut hemat redaksi, hal terpenting dari semua pembahasan ini bukan sekadar hafal lafalnya, melainkan hadirnya kesadaran bahwa kita sedang membuka percakapan dengan Allah. Shalat lima waktu yang terjaga, ditopang jadwal sholat yang akurat untuk kota Anda, akan terasa berbeda kualitasnya bila dibuka dengan iftitah yang dipahami maknanya.

Ringkasan: Doa iftitah dibaca sekali setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, hukumnya sunnah, dan memiliki beberapa redaksi sahih yang bebas dipilih. Keutamaannya disebut mampu membuka pintu-pintu langit. Makmum masbuq mendahulukan Al-Fatihah, dan shalat jenazah tidak memakai iftitah.

Bacaan pelengkap: Setelah menyelesaikan shalat, biasakan membaca doa setelah sholat dan wirid harian. Untuk melengkapi ibadah shalat Anda, pelajari juga doa qunut yang dibaca pada i'tidal rakaat terakhir Subuh, serta doa sholat tahajud bagi yang ingin menghidupkan sepertiga malam terakhir.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa iftitah

TKapan doa iftitah dibaca dalam shalat?

Doa iftitah dibaca sekali pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca taawudz serta surat Al-Fatihah, dengan suara pelan.

TApakah membaca doa iftitah wajib?

Tidak wajib. Membaca doa iftitah hukumnya sunnah. Jika lupa dan langsung membaca Al-Fatihah, shalat tetap sah namun kehilangan keutamaan sunnah tersebut.

TApakah doa iftitah hanya satu redaksi?

Tidak. Terdapat beberapa redaksi doa iftitah yang sahih dari Rasulullah, di antaranya lima bentuk yang disebut dalam kitab Nihayatuz Zain. Seorang muslim boleh memilih salah satu redaksi, dan itu sudah mencukupi.

TApa perbedaan doa iftitah versi NU dan Muhammadiyah?

Keduanya sama-sama sahih. Di lingkungan NU umumnya dibaca redaksi kabiiraa yang disambung wajjahtu, sedangkan Putusan Tarjih Muhammadiyah memilih redaksi Allaahumma baa'id bainii (riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) dengan wajjahtu sebagai alternatif.

TApakah makmum masbuq perlu membaca doa iftitah?

Jika waktu masih longgar sebelum imam rukuk, boleh membaca iftitah dengan cepat lalu Al-Fatihah. Jika waktunya sempit, tinggalkan iftitah dan langsung baca Al-Fatihah, karena Al-Fatihah wajib sedangkan iftitah hanya sunnah.

TApakah doa iftitah dibaca dalam shalat jenazah?

Tidak. Shalat jenazah dibangun di atas prinsip keringanan dan keringkasan, sehingga doa iftitah tidak disunnahkan di dalamnya. Setelah takbir pertama langsung membaca Al-Fatihah.

TApa keutamaan doa iftitah?

Dalam riwayat dari Ibnu Umar, lafal pujian dalam doa iftitah disebut Rasulullah sebagai kalimat yang mampu membuka pintu-pintu langit, sehingga menjadikannya doa pembuka yang mulia.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat