NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Bacaan Sholat Lengkap: Dari Takbiratul Ihram sampai Salam

Bacaan sholat berurutan dari takbiratul ihram sampai salam meliputi takbiratul ihram, doa iftitah, Al-Fatihah, surat pendek, ruku, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyat awal, tahiyat akhir, dan salam. Dari semua itu hanya lima yang berstatus rukun qauli alias bacaan wajib: takbiratul ihram, Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat pada tahiyat akhir, dan salam pertama. Selebihnya berstatus sunnah.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit . Diperbarui

Bacaan Sholat Lengkap: Dari Takbiratul Ihram sampai Salam

Bacaan sholat yang lengkap berurutan dari takbiratul ihram sampai salam meliputi takbiratul ihram, doa iftitah, ta'awudz, surat Al-Fatihah, surat pendek, bacaan ruku, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyat awal, tahiyat akhir, dan salam. Menariknya, dari sekian banyak bacaan itu hanya lima yang benar-benar wajib, sedangkan sisanya berstatus sunnah. Artikel ini menyajikan seluruh bacaan tersebut secara berurutan lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya, sekaligus menjelaskan mana yang menjadi rukun dan mana yang boleh ditinggalkan, sebagaimana dihimpun NU Online dari kitab Nihayah az-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Matan al-Ghayah wat Taqrib karya Imam Abu Suja'.

Rukun Sholat dan Sunnahnya: Mana yang Wajib Dibaca

Sebelum menghafal bacaannya satu per satu, ada baiknya kita pahami dulu kerangkanya. Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam Al-Fiqh al-Manhaji ala Madzhab al-Imam asy-Syafi'i sebagaimana dikutip NU Online menjelaskan bahwa rukun adalah bagian mendasar dari sesuatu, seperti tembok bagi bangunan. Artinya, tanpa rukun, sholat tidak berdiri. Sunnah, sebaliknya, adalah pelengkap yang membuat sholat menjadi lebih sempurna, tetapi ketiadaannya tidak merobohkan bangunan sholat itu sendiri.

Ada beberapa versi penghitungan jumlah rukun sholat, dan NU Online menegaskan bahwa perbedaan versi tersebut tidak bersifat substansial, melainkan hanya persoalan teknis. Sebagian ulama menyebut thuma'ninah satu kali saja meskipun letaknya di beberapa tempat, sebagian lain merincinya terpisah-pisah. Imam Abu Suja' dalam Matan al-Ghayah wat Taqrib termasuk yang merinci paling detail, sehingga rukun sholat menurut beliau berjumlah 18:

  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Takbiratul ihram
  4. Membaca surat Al-Fatihah, dan bismillahirrahmanirrahim merupakan bagian ayatnya
  5. Ruku
  6. Thuma'ninah dalam ruku
  7. Bangun dari ruku dan i'tidal
  8. Thuma'ninah dalam i'tidal
  9. Sujud
  10. Thuma'ninah dalam sujud
  11. Duduk di antara dua sujud
  12. Thuma'ninah dalam duduk di antara dua sujud
  13. Duduk untuk tasyahud akhir
  14. Membaca tasyahud akhir
  15. Membaca shalawat pada Nabi saat tasyahud akhir
  16. Salam pertama
  17. Niat keluar dari sholat
  18. Tertib, yakni mengurutkan rukun-rukun sesuai urutan di atas

Perhatikan bahwa dari 18 rukun itu, sebagian besar berupa gerakan dan sebagian kecil berupa ucapan. NU Online membagi rukun sholat menjadi dua jenis: rukun fi'li (perbuatan) seperti berdiri, ruku, dan sujud, serta rukun qauli (ucapan) yang berupa bacaan. Rukun qauli inilah yang jumlahnya hanya lima, yaitu membaca takbiratul ihram, membaca surat Al-Fatihah, membaca tahiyat akhir, membaca shalawat saat tahiyat akhir, dan salam pertama.

Key Takeaway: Kalau Anda pernah panik karena merasa belum hafal semua bacaan sholat, kabar baiknya begini: dari seluruh bacaan yang biasa kita dengar, hanya lima yang berstatus rukun. Doa iftitah, bacaan ruku, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan tahiyat awal semuanya sunnah. Sholat seorang pemula yang baru hafal Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat, dan salam sudah sah. Sisanya bisa dicicil pelan-pelan.

Bacaan Sholat Lengkap dari Takbiratul Ihram sampai Salam

Berikut seluruh bacaan sholat secara berurutan. Secara umum, sholat fardhu lima waktu memiliki cara pelaksanaan yang sama, dan yang membedakan hanyalah niat, jumlah rakaat, serta waktunya.

1. Takbiratul ihram

Takbiratul ihram adalah pintu masuk sholat. Begitu takbir ini diucapkan, kita sudah benar-benar berada di dalam sholat, sehingga hal-hal yang tadinya boleh (misalnya makan dan minum) seketika tidak boleh lagi.

أَللهُ أَكْبَر

Latin: Allaahu akbar

Artinya: "Allah Maha Besar."

Saat takbiratul ihram, tangan diangkat ke atas, mulut mengucapkan takbir, dan hati membisikkan niat. Ketiga hal tersebut dilakukan secara bersamaan.

2. Niat

Niat dipasang bersamaan dengan takbiratul ihram. Lafal niat berbeda-beda tergantung sholat apa yang sedang dikerjakan, misalnya ushalli fardhal maghribi tsalatsa raka'atin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aala untuk Maghrib yang tiga rakaat. Karena lafalnya cukup banyak dan berbeda tiap waktu, pembahasan lengkapnya kami pisahkan di artikel niat sholat 5 waktu. Perlu dicatat juga bahwa melafalkan niat dengan lisan sendiri merupakan hal yang diperdebatkan; yang menjadi rukun adalah niat di dalam hati.

3. Doa iftitah

Doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Statusnya sunnah hai'ah. Berikut versi yang paling umum diamalkan di Indonesia, sebagaimana disarikan NU Online dari Nihayah az-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Latin: Allaahu akbar kabiira wal hamdu lillaahi katsiira, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya: "Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri."

Doa iftitah punya beberapa versi yang sama-sama sahih, bukan hanya satu. Selain versi di atas, ada versi Allaahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya, ada pula versi Allaahumma antal malik, dan versi ringkas alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih. NU Online mengutip kaidah bahwa dengan versi mana pun sholat dibuka, kesunahannya tetap tercapai. Rincian tiap versi beserta syarat kesunahannya kami bahas terpisah di artikel doa iftitah.

4. Ta'awudz

Sebelum membaca Al-Fatihah, disunahkan membaca ta'awudz:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ

Latin: A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim

Artinya: "Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."

5. Surat Al-Fatihah

Inilah bacaan wajib yang paling panjang, dan dibaca pada setiap rakaat tanpa terkecuali. Basmalah termasuk bagian dari ayatnya, sehingga ikut dibaca:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Latin: Bismillaahir rahmaanir rahiim

Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Latin: Al-hamdu lillaahi rabbil 'aalamiin

Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

Latin: Ar-rahmaanir rahiim

Artinya: "Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Latin: Maaliki yaumid diin

Artinya: "Pemilik hari Pembalasan."

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Latin: Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin

Artinya: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Latin: Ihdinash shiraathal mustaqiim

Artinya: "Bimbinglah kami ke jalan yang lurus."

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

Latin: Shiraathalladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim wa ladh dhaalliin

Artinya: "(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat."

Selesai membaca Al-Fatihah, disunahkan mengucapkan "aamiin". Bagaimana kalau seseorang benar-benar belum hafal Al-Fatihah? NU Online memberi jalan keluar bertingkat: bila tidak bisa, bacalah ayat apa pun dari Al-Qur'an yang diketahui; bila tidak ada satu ayat pun yang dihafal, boleh membaca dzikir; dan bila tetap tidak bisa, cukup berdiam diri selama kira-kira waktu orang membaca Al-Fatihah. Tentu ini keringanan darurat, bukan alasan untuk menunda menghafal.

6. Surat pendek

Setelah Al-Fatihah, disunahkan membaca ayat atau surat Al-Qur'an, dan ini hanya pada rakaat pertama dan kedua. Salah satu yang paling ringan dihafal adalah surat Al-Ikhlash:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Latin: Qul huwallaahu ahad

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Dialah Allah Yang Maha Esa.'"

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Latin: Allaahush shamad

Artinya: "Allah tempat meminta segala sesuatu."

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

Latin: Lam yalid wa lam yuulad

Artinya: "Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ

Latin: Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad

Artinya: "serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."

7. Ruku

Bacaan ruku dibaca minimal tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaana rabbiyal 'azhiimi wa bihamdih

Artinya: "Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan Maha Terpuji."

8. I'tidal

I'tidal adalah gerakan bangkit kembali ke posisi berdiri setelah ruku. Saat bangkit, bacalah:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Latin: Sami'allaahu liman hamidah

Artinya: "Allah mendengar (pujian) orang yang memuji-Nya."

Kemudian setelah berdiri tegak, dilanjutkan membaca:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Latin: Rabbanaa lakal hamdu mil-us samaawaati wa mil-ul ardhi wa mil-u maa syi'ta min syai'in ba'du

Artinya: "Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu."

Khusus pada rakaat kedua sholat Subuh, setelah i'tidal inilah qunut dibaca menurut mazhab Syafi'i. Pembahasan lengkapnya ada di artikel doa qunut.

9. Sujud

Sama seperti ruku, bacaan sujud dibaca minimal tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaana rabbiyal a'laa wa bihamdih

Artinya: "Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan segala puji hanya bagi-Nya."

10. Duduk di antara dua sujud

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa 'aafinii wa'fu 'annii

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupilah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk kebenaran, berilah kesehatan padaku dan berilah ampunan kepadaku."

11. Tahiyat awal

Tahiyat awal dibaca pada rakaat kedua untuk sholat yang berjumlah tiga atau empat rakaat. Sholat Subuh tidak memiliki tahiyat awal karena hanya dua rakaat.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Latin: Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu 'alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.

Artinya: "Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad."

12. Tahiyat akhir

Bacaan tahiyat akhir sama dengan tahiyat awal, hanya ditambah shalawat Ibrahimiyah secara lengkap setelahnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى سَيِّدِنَا آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Latin: Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammadin kamaa shallaita 'alaa sayyidinaa Ibraahiima wa 'alaa aali sayyidinaa Ibraahiima, innaka hamiidun majiid. Wa baarik 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammadin kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa Ibraahiima wa 'alaa aali sayyidinaa Ibraahiima, fil 'aalamiina innaka hamiidun majiid.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Berikanlah keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung di seluruh alam."

13. Salam

Sholat ditutup dengan salam. Salam pertama inilah yang menjadi rukun:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Latin: Assalaamu 'alaikum warahmatullaah

Artinya: "Salam dan rahmat Allah semoga tercurahkan bagi kalian semua."

Setelah salam, rangkaian sholat sudah selesai dan sah. Yang lazim dilanjutkan sesudahnya adalah dzikir serta doa setelah sholat, dan itu berada di luar rangkaian sholat itu sendiri.

Bacaan Wajib, Sunnah Ab'ad, dan Sunnah Hai'ah

Setelah melihat daftar panjang di atas, wajar kalau muncul pertanyaan: kalau ketinggalan salah satunya, apa konsekuensinya? Di sinilah pembagian NU Online menjadi berguna. Secara garis besar, bacaan dalam sholat terbagi menjadi tiga kategori: bacaan wajib yang harus diucapkan, sunnah ab'ad yang bila ditinggalkan disunahkan sujud sahwi, dan sunnah hai'ah yang tidak berkonsekuensi apa pun bila ditinggalkan namun sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kualitas sholat.

Lima bacaan wajib (rukun qauli)

Disarikan NU Online dari Nihayah az-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani, rukun sholat yang berupa ucapan berjumlah lima:

  1. Bacaan takbiratul ihram
  2. Bacaan surat Al-Fatihah
  3. Bacaan tahiyat akhir
  4. Bacaan shalawat Nabi sesudah tasyahud akhir
  5. Salam pertama

Kalau salah satu dari lima ini tertinggal, sholat tidak sah dan tidak bisa ditambal dengan sujud sahwi. Perlu dicatat, shalawat yang wajib pada tahiyat akhir cukup yang paling ringkas, yaitu Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad. Adapun shalawat Ibrahimiyah yang panjang itu statusnya penyempurna.

Tujuh sunnah ab'ad

Menurut Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami dalam Safinatun Naja sebagaimana dikutip NU Online, sunnah ab'ad terdiri atas tujuh perkara: tasyahud awal, duduk untuk tasyahud awal, membaca shalawat Nabi pada tasyahud awal, membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud akhir, membaca qunut, membaca shalawat dan salam kepada Nabi pada qunut, serta membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada qunut.

Sunnah ab'ad dinamai demikian, menurut Syekh Muhammad bin Syatha, karena ia menjadi bagian (ba'dhu) dari rukun sholat. Bila tertinggal, baik sengaja maupun lupa, dianjurkan menggantinya dengan sujud sahwi. Sholatnya tetap sah, bahkan seandainya sujud sahwinya pun ikut terlupa.

Sunnah hai'ah

Sisanya masuk kategori hai'ah, yaitu doa iftitah, ta'awudz, membaca "aamiin", membaca surat setelah Al-Fatihah, takbir pada setiap perpindahan gerakan, tasbih ruku, tasbih sujud, serta doa sebelum salam. Bila ditinggalkan, tidak ada konsekuensi apa pun dan tidak dianjurkan sujud sahwi.

Catatan: Perhatikan asimetri yang menarik di sini: tahiyat awal hanya sunnah ab'ad (ditinggalkan cukup ditambal sujud sahwi), sedangkan tahiyat akhir adalah rukun (ditinggalkan berarti sholat batal). Dua bacaan yang lafalnya hampir sama persis, tetapi status hukumnya berbeda jauh. Inilah alasan kenapa imam yang lupa tahiyat awal tetap melanjutkan sholat lalu sujud sahwi, bukan mengulang dari awal.

Perbedaan Tahiyat Awal dan Tahiyat Akhir

Karena keduanya sering tertukar, mari kita pisahkan dengan jelas.

Dari sisi lafal. Bacaan intinya identik, yaitu mulai attahiyyaatul mubaarakaat sampai wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah, lalu disambung shalawat. Bedanya, pada tahiyat awal shalawatnya cukup sampai Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, sementara pada tahiyat akhir dilanjutkan dengan shalawat Ibrahimiyah lengkap yang menyebut Nabi Ibrahim dan keluarganya. Jadi tahiyat akhir adalah tahiyat awal ditambah kelanjutan shalawat.

Dari sisi letak. Tahiyat awal berada di rakaat kedua pada sholat yang tiga atau empat rakaat, yakni Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Sholat Subuh yang hanya dua rakaat tidak punya tahiyat awal, langsung tahiyat akhir. Tahiyat akhir selalu berada di rakaat terakhir, tepat sebelum salam.

Dari sisi hukum. Ini perbedaan yang paling berkonsekuensi. Tahiyat awal berstatus sunnah ab'ad, sedangkan tahiyat akhir berstatus rukun qauli. NU Online mengutip hadits riwayat Abu Dawud dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah hanya duduk sekali lalu melanjutkan dengan dua sujud. Menurut Al-Fiqhul Manhaji, seandainya tasyahud awal termasuk rukun, tentu Nabi akan tetap melakukannya dan tidak menggantinya dengan sujud sahwi. Hadits inilah yang menjadi dasar bahwa tahiyat awal bukan rukun.

Dari sisi posisi duduk. Praktik yang lazim di kalangan Syafi'iyah, tahiyat awal dilakukan dengan duduk iftirasy (menduduki telapak kaki kiri), sedangkan tahiyat akhir dengan duduk tawarruk (pinggul menempel lantai, kaki kiri dikeluarkan ke arah kanan). Ini termasuk kesunahan, sehingga tidak membatalkan bila keliru.

Kesalahan Bacaan Sholat yang Sering Terjadi

Bayangkan situasi ini: seseorang sudah puluhan tahun sholat, hafal semua bacaan di luar kepala, tetapi ketika ditanya artinya justru bingung. Situasi seperti itu sangat umum, dan dari pengalaman redaksi mengasuh pertanyaan pembaca, beberapa hal berikut paling sering menjadi ganjalan:

  • Menganggap semua bacaan wajib. Kekhawatiran terbesar pemula biasanya adalah "belum hafal semuanya". Padahal hanya lima bacaan yang berstatus rukun. Doa iftitah, tasbih ruku, tasbih sujud, dan tahiyat awal semuanya sunnah.
  • Mengulang sholat gara-gara lupa tahiyat awal. Ini tidak perlu. Tahiyat awal adalah sunnah ab'ad. Kalau terlanjur berdiri dan baru sadar, lanjutkan saja, lalu sujud sahwi sebelum salam. Sholatnya tetap sah.
  • Membaca terlalu cepat sampai kehilangan thuma'ninah. Thuma'ninah adalah rukun, sementara jumlah tasbih tiga kali itu sunnah. Ironisnya banyak orang mengejar tasbih tiga kali dengan cepat, tetapi justru mengorbankan diam sejenak yang statusnya rukun.
  • Meninggalkan basmalah pada Al-Fatihah. Dalam mazhab Syafi'i, basmalah adalah bagian dari ayat Al-Fatihah, sehingga ikut dibaca. Ini berbeda dengan sebagian mazhab lain, dan perbedaan semacam ini wajar terjadi.
  • Salah kaprah soal doa iftitah. Sebagian orang mengira hanya ada satu versi yang benar, lalu merasa versi tetangganya keliru. Padahal versinya beberapa dan semuanya sahih. NU Online juga menegaskan bahwa doa iftitah menjadi terlewat begitu kita sudah masuk ke bacaan setelahnya, baik sengaja maupun lupa, sehingga tidak perlu diulang.
  • Terlalu fokus pada lafal, lupa pada makna. Ini bukan kesalahan fikih, tetapi menurut hemat redaksi inilah yang paling merugikan. Bacaan sholat berisi permintaan petunjuk, pengakuan atas kebesaran Allah, dan permohonan ampun. Membacanya tanpa tahu artinya membuat sholat terasa seperti rutinitas kosong.

Cara Menghafal Bacaan Sholat secara Bertahap

Menghafal seluruh bacaan sekaligus adalah resep untuk menyerah di hari ketiga. Cara yang lebih realistis adalah mengikuti urutan prioritas hukumnya.

  1. Tahap pertama, kuasai yang rukun. Hafalkan lima bacaan wajib dulu: takbiratul ihram, Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat ringkas, dan salam. Begitu lima ini beres, sholat Anda sudah sah.
  2. Tahap kedua, tambahkan yang berulang. Tasbih ruku, tasbih sujud, dan bacaan duduk di antara dua sujud. Ketiganya pendek dan diulang berkali-kali setiap rakaat, jadi biasanya cepat menempel dengan sendirinya.
  3. Tahap ketiga, lengkapi shalawat Ibrahimiyah dan tahiyat awal. Bagian ini lebih panjang, jadi pecah menjadi dua potongan: bagian shalli dan bagian baarik. Perhatikan bahwa strukturnya berulang, hanya kata kerjanya yang berganti.
  4. Tahap keempat, doa iftitah dan ta'awudz. Ini yang paling panjang tetapi paling ringan konsekuensinya, jadi tempatkan di urutan terakhir.
Pro Tip: Hafalkan artinya berbarengan dengan lafalnya, jangan dipisah. Hafal bunyi tanpa makna cenderung cepat luntur karena otak tidak punya pegangan. Sebaliknya, begitu Anda tahu bahwa rabbighfirlii warhamnii berarti "ya Allah ampunilah aku, sayangilah aku", duduk di antara dua sujud yang tadinya cuma jeda teknis berubah menjadi momen paling personal dalam sholat. Cukup satu bacaan per hari sambil membaca terjemahnya, dalam dua pekan biasanya sudah lengkap.

Agar ibadah harian Anda makin tertata, pastikan sholat dikerjakan tepat waktu dengan memantau jadwal sholat kota Anda, dan periksa arah kiblat terutama saat sedang bepergian. Bila masih ada persoalan fikih pribadi seputar bacaan sholat, misalnya soal makhraj huruf yang belum tepat atau kebiasaan di masjid setempat yang terasa berbeda, silakan tanyakan lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz di lingkungan Anda.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar bacaan sholat

TApa saja bacaan sholat yang wajib dibaca?

Ada lima bacaan wajib yang disebut rukun qauli: takbiratul ihram, surat Al-Fatihah, tahiyat akhir, shalawat Nabi pada tahiyat akhir, dan salam pertama. Bacaan lain seperti doa iftitah, tasbih ruku, tasbih sujud, dan tahiyat awal berstatus sunnah.

TApakah sholat sah kalau belum hafal doa iftitah?

Sah. Doa iftitah termasuk sunnah hai'ah, yaitu bacaan yang tidak berkonsekuensi apa pun jika ditinggalkan. Bahkan menurut NU Online, doa iftitah menjadi terlewat begitu kita sudah mulai membaca bacaan setelahnya, baik sengaja maupun lupa, sehingga tidak perlu diulang.

TApa bedanya tahiyat awal dan tahiyat akhir?

Lafal intinya sama. Tahiyat awal cukup sampai shalawat ringkas 'Allaahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad', sedangkan tahiyat akhir dilanjutkan shalawat Ibrahimiyah lengkap. Tahiyat awal ada di rakaat kedua dan berstatus sunnah ab'ad, sedangkan tahiyat akhir ada di rakaat terakhir dan berstatus rukun.

TBagaimana kalau lupa membaca tahiyat awal?

Sholat tidak perlu diulang. Tahiyat awal adalah sunnah ab'ad, sehingga bila tertinggal dianjurkan menggantinya dengan sujud sahwi sebelum salam. Kalau sudah terlanjur berdiri, lanjutkan saja sholatnya dan jangan kembali duduk.

TApakah doa iftitah hanya ada satu versi?

Tidak. Ada beberapa versi yang sama-sama sahih, di antaranya versi 'Allaahu akbar kabiira', versi 'Allaahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya', versi 'Allaahumma antal malik', dan versi ringkas 'alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih'. NU Online mengutip kaidah bahwa dengan versi mana pun sholat dibuka, kesunahannya tetap tercapai.

TApakah bacaan sholat lima waktu berbeda-beda?

Tidak. Secara umum sholat fardhu lima waktu memiliki cara pelaksanaan dan bacaan yang sama. Yang membedakan hanya niat, jumlah rakaat, dan waktunya. Tambahan khusus hanya ada pada Subuh, yaitu kesunahan membaca qunut setelah i'tidal rakaat kedua.

TBagaimana kalau belum hafal surat Al-Fatihah sama sekali?

NU Online memberi solusi bertingkat: bila tidak bisa membaca Al-Fatihah, bacalah ayat Al-Qur'an lain yang diketahui; bila tidak hafal satu ayat pun, boleh membaca dzikir; dan bila tetap tidak bisa, cukup berdiam diri kira-kira selama waktu orang membaca Al-Fatihah. Ini keringanan darurat, bukan pengganti permanen.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat