NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Bercermin: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Adab Berhias dalam Islam

Doa bercermin yang masyhur berbunyi "Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi", artinya "Hai Tuhanku, sebagaimana telah Kaubaguskan kejadianku, maka baguskanlah perangaiku". Inti doa ini adalah memohon akhlak yang baik, bukan sekadar mensyukuri rupa. NU Online mencantumkannya sebagai doa yang dianjurkan saat bercermin dengan merujuk kitab Maslakul Akhyar, dan menempatkan bercermin sebagai perbuatan yang mubah.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Doa Bercermin: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Adab Berhias dalam Islam

Doa bercermin adalah doa pendek yang dianjurkan dibaca ketika seseorang memandang wajahnya di cermin, dengan lafal Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi. Menariknya, inti permohonan doa ini bukan meminta rupa yang makin rupawan, melainkan meminta akhlak yang baik. Kita memandang rupa yang sudah Allah beri, lalu memohon agar batin dan perangai kita ikut diperindah. Artikel ini menyajikan bacaannya secara lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan arti, lalu membahas maknanya, status dalilnya secara jujur, adab berhias dalam Islam, sampai hikmah bercermin sebagai bahan muhasabah harian, sebagaimana dihimpun dari NU Online.

Bacaan Doa Bercermin: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut lafal doa bercermin yang paling masyhur dan dicantumkan NU Online:

اَللّٰهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ

Latin: Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi.

Artinya: "Hai Tuhanku, sebagaimana telah Kaubaguskan kejadianku, maka baguskanlah perangaiku."

Terjemahan verbatim di atas dikutip NU Online dari kitab Maslakul Akhyar karya Sayid Utsman bin Yahya, seorang ulama Betawi. Sebagian orang menerjemahkannya dengan kalimat yang lebih longgar, misalnya "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah penciptaanku, maka perindahlah akhlakku." Dua terjemahan itu bermaksud sama. Kata kuncinya ada pada pertentangan dua kata yang seakar bunyinya, yaitu khalq (bentuk fisik, penciptaan) dan khuluq (akhlak, perangai). Rupa sudah selesai diciptakan, sedangkan akhlak masih terus kita usahakan, dan doa inilah jembatannya.

NU Online menegaskan bahwa bercermin sendiri adalah perbuatan yang mubah menurut syara. Agama tidak menuntut seseorang untuk sering berkaca, tetapi juga tidak melarangnya. Karena hukum asalnya mubah, membaca doa ini bukanlah kewajiban, melainkan anjuran adab agar aktivitas yang tampak sepele itu bernilai ibadah dan mengingatkan kita pada Sang Pemberi rupa.

Pro Tip: Doa bercermin ini sangat pendek, hanya satu kalimat, sehingga mudah sekali dihafal dalam sekali duduk. Kaitkan pembacaannya dengan kebiasaan yang sudah pasti Anda lakukan, misalnya saat merapikan diri sebelum berangkat kerja atau sekolah di depan cermin. Sekali kebiasaan itu terpasang, doa akan mengalir sendiri tanpa perlu diingat-ingat.

Variasi Lafaz Doa Bercermin dan Cara Menyikapinya

Kalau Anda mencari doa bercermin di berbagai sumber, Anda akan menjumpai beberapa versi yang tampak berbeda. Penting menyikapinya dengan jujur dan tenang, tanpa buru-buru menyalahkan satu sama lain.

Pertama, ada perbedaan penulisan yang sifatnya sekadar ejaan. Dua halaman NU Online yang kami telusuri menuliskan lafal inti yang sama persis, yaitu kama hassanta khalqi fahassin khuluqi, dan hanya berbeda pada cara menulis kata "Allah" di awal (satu memakai alif kecil di atas, satu tidak). Perbedaan seperti ini tidak mengubah bunyi maupun makna, jadi tidak perlu dipermasalahkan.

Kedua, ada versi yang beredar luas di media dan buku saku Indonesia dengan tambahan di depan atau di belakang, misalnya diawali Alhamdulillah atau ditutup dengan penggalan tentang wajah dan neraka. Di sini kami memilih berterus terang: pada halaman-halaman NU Online yang benar-benar kami buka dan verifikasi, yang tercatat adalah lafal ringkas Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi saja. Kami tidak menemukan tambahan-tambahan itu di sumber resmi yang kami rujuk. Karena itu, yang kami sajikan di sini adalah lafal ringkas yang jelas sumbernya.

Sikap yang aman: pakailah lafal ringkas yang sudah pasti tercantum di sumber terpercaya. Kalau Anda terbiasa dengan versi yang lebih panjang, silakan tetap membacanya sebagai doa yang baik, hanya saja jangan menisbatkannya sebagai satu teks hadis baku bila memang tidak ada rujukan yang menyatakan demikian. Bila ragu tentang satu versi tertentu, tanyakan langsung kepada guru atau lewat halaman Tanya Ustadz.

Makna Doa Bercermin: Memohon Akhlak, Bukan Sekadar Rupa

Inilah bagian yang paling sering luput dari perhatian. Sekilas, orang mengira doa bercermin adalah doa untuk mensyukuri wajah yang tampan atau cantik. Padahal, kalau kita cermati susunan kalimatnya, permintaan utamanya justru akhlak, bukan rupa.

Perhatikan strukturnya: bagian pertama, kama hassanta khalqi ("sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku"), adalah pengakuan atas nikmat yang sudah selesai diberikan. Bagian kedua, fahassin khuluqi ("maka baguskanlah akhlakku"), barulah inti permohonannya. Jadi rupa hanya dijadikan pijakan untuk meminta sesuatu yang jauh lebih penting dan lebih abadi, yakni perangai yang baik. Doa ini seolah berkata, "Ya Allah, Engkau sudah merapikan tampilan luarku, tolong rapikan juga bagian dalam diriku."

Perhatikan juga betapa dekatnya dua kata kunci itu dalam bahasa Arab. Khalq dan khuluq ditulis dengan huruf yang sama persis dan hanya dibedakan oleh harakat, tetapi maknanya menunjuk pada dua dunia yang berbeda: yang satu bentuk lahir, yang satu bentuk batin. Kedekatan bunyi itu seakan menjadi pengingat bahwa keduanya semestinya berjalan seiring. Percuma rapi di luar bila kasar di dalam, dan doa pendek ini menutup celah tersebut hanya dengan satu kalimat.

Cara pandang ini sejalan dengan ajaran bahwa nilai seseorang di sisi Allah bukan terletak pada rupa, melainkan pada hati dan amalnya. Wajah adalah pemberian yang tidak kita minta dan tidak bisa kita pilih, sedangkan akhlak adalah medan usaha seumur hidup. Karena itu, membaca doa bercermin dengan sadar akan maknanya bisa menjadi pengingat harian yang lembut: bahwa yang benar-benar perlu terus diperbaiki bukanlah pantulan di kaca, tetapi kelakuan kita kepada orang tua, pasangan, tetangga, dan siapa pun yang kita temui.

Meletakkan akhlak di atas rupa juga menutup pintu bagi dua penyakit hati sekaligus. Bagi yang merasa dirinya rupawan, doa ini menahannya dari sombong, karena ia diingatkan bahwa rupa hanyalah titipan dan yang lebih berharga adalah budi pekerti. Bagi yang merasa kurang menarik, doa ini menghiburnya, karena kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh bentuk wajah, melainkan oleh akhlak yang bisa diperjuangkan siapa saja.

Status Dalil Doa Bercermin secara Jujur

Karena Ngajia berkomitmen menyajikan rujukan keagamaan apa adanya, status doa ini perlu dijelaskan dengan jujur, tanpa dibesar-besarkan dan tanpa diremehkan.

Yang bisa kami pastikan dari sumber resmi yang kami buka: NU Online menyajikan lafal Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi sebagai doa yang dianjurkan dibaca saat bercermin, dan mengutipnya dari kitab Maslakul Akhyar karya Sayid Utsman bin Yahya. Quran NU Online juga memasukkan lafal yang sama ke dalam himpunan doa keseharian dengan judul "Doa Bercermin". Kedua halaman itu menempatkannya sebagai adab keseharian, dan tidak mencantumkan penilaian derajat sanad secara khusus, misalnya label sahih, hasan, atau dhaif.

Adapun soal kekuatan riwayatnya, memang termasuk hal yang diperbincangkan di kalangan ahli hadis, dan penyandaran lafal ini beredar dengan beragam bentuk di luar sumber NU. Kami memilih tidak menukil penilaian yang tidak benar-benar kami temukan di sumber yang kami buka. Karena itu, kami tidak mengklaim doa ini "hadis sahih", dan juga tidak menghakiminya sebagai bacaan yang tertolak. Yang jelas dan cukup untuk pegangan: NU menganjurkannya sebagai adab, isinya adalah permohonan akhlak yang baik, dan permohonan semacam itu selaras dengan ajaran Islam secara umum sehingga tetap baik untuk diamalkan.

Poin Penting: Menyebut sebuah lafal sebagai "anjuran adab" yang belum diberi label derajat sanad bukan berarti melarangnya. Doa yang isinya baik tetap boleh dibaca. Yang tidak boleh adalah memaksakan klaim keutamaan atau menyebutnya "pasti hadis sahih" tanpa dasar. Bila Anda ingin pendalaman soal sanad lafal ini, tempat yang tepat adalah bertanya kepada ustadz yang memiliki keahlian di bidang hadis.

Adab Berhias dalam Islam

Bercermin nyaris selalu berpasangan dengan berhias, entah menyisir rambut, merapikan pakaian, atau bersiap keluar rumah. Islam tidak melarang berhias, tetapi mengaturnya dengan adab agar tidak berlebihan dan tidak menumbuhkan kesombongan. NU Online mengulasnya dengan bertolak dari sebuah hadis yang cukup terkenal:

الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya: "Al-Badzadzah (kesederhanaan penampilan) adalah sebagian dari iman." Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, sebagaimana dikutip NU Online, menegaskan bahwa hadis ini sahih dan ditakhrij oleh Abu Dawud. Beliau menjelaskan bahwa al-badzadzah berarti meninggalkan pakaian yang serba mewah dan bersikap tawadhu (rendah hati) meski sebenarnya mampu bermewah-mewah, dan bahwa sikap tawadhu ini bukan lahir dari mengingkari nikmat Allah.

NU Online menambahkan satu keterangan yang menarik dan sering disalahpahami. Dengan mengambil riwayat dari Imam an-Nasai, disebutkan bahwa Rasulullah pernah melarang para sahabat dari sikap berlebih-lebihan dalam melakukan irfah. Ibnu Buraidah menjelaskan irfah sebagai at-tarajjul, yaitu menyisir rambut, sedangkan menurut Ibnu Hajar al-Asqalani al-irfah berarti bermewah-mewah dan bersantai dalam kenikmatan. Namun larangan itu tidak berarti membiarkan diri kusut, sebab dalam riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah, Nabi justru bersabda bahwa siapa yang memiliki rambut hendaklah ia memuliakannya. Semua keterangan ini dimuat dalam kitab Fathul Bari juz 10 halaman 368.

Jadi ada dua sisi yang harus dipegang bersamaan: jangan berlebihan sampai bermegah-megahan, dan jangan pula menelantarkan penampilan sampai kehilangan kepantasan. Titik tengah inilah yang dituju syariat. Dari sini, para ulama merumuskan beberapa adab berhias yang bisa kita tarik untuk keseharian:

  • Bersyukur, bukan sombong. Berhias hendaknya diniatkan sebagai wujud mensyukuri nikmat berupa tubuh dan pakaian, bukan untuk memamerkan diri. Bercermin lalu berkata dalam hati "alhamdulillah" berbeda jauh dari bercermin lalu merasa lebih unggul dari orang lain. NU Online menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab kata syukur berarti membuka dan menampakkan, dan lawannya adalah kufur yang bermakna menutup dan menyembunyikan. Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan cara menggunakannya pada tempatnya, sesuai kehendak Sang Pemberi. Karena itu, menampakkan nikmat rupa dan pakaian secara wajar itu boleh, bahkan bagian dari syukur, selama niatnya bukan pamer. NU Online menegaskan bahwa tahadduts bin ni'mah (menyebut nikmat sebagai bentuk syukur) berbeda dengan ujub, kesombongan diri, atau sekadar pamer, karena niat dan tujuannya memang berlainan sama sekali.
  • Tidak berlebihan. NU Online mengutip Ibnu Bathal bahwa Islam justru memerintahkan mengambil perhiasan saat hendak ke masjid, dan Nabi menganjurkan memakai wangi-wangian serta berpenampilan baik pada momen berkumpul. Jadi yang dilarang bukan berhiasnya, melainkan berhias secara berlebihan dan bermegah-megahan seolah hendak berpesta. Ibnu Abdul Barr, juga dikutip NU Online, menyebut inti larangan itu adalah membuang syahwat berlebihan dan pemborosan dalam berpakaian.
  • Menjaga kewibawaan. Berpenampilan rapi dalam batas yang wajar justru dianjurkan karena menjaga muru'ah, yaitu kehormatan dan kewibawaan seorang muslim. Islam menghendaki umatnya tampil bersih dan pantas, sekaligus tetap rendah hati.
  • Tidak mencela ciptaan. Karena rupa adalah pemberian Allah, mengeluh atau mencela bentuk fisik diri sendiri bertentangan dengan ruh syukur. Doa bercermin justru mengarahkan kita menerima rupa apa adanya, lalu memindahkan energi kita untuk memperbaiki akhlak.

Adab-adab ini bukan aturan yang mengekang, melainkan pagar yang menjaga hati. Uraian lebih luas tentang etika keseharian bisa Anda baca pada pembahasan adab islami dan panduan adab sehari-hari seorang muslim.

Hikmah Bercermin sebagai Muhasabah

Ada satu hikmah yang sering terlewat: cermin bisa menjadi alat muhasabah, yaitu introspeksi diri. Perlu kami sampaikan dengan jujur bahwa bagian ini lebih merupakan perenungan redaksi yang bertolak dari makna doa dan adab di atas, bukan tafsir baku dari satu teks tertentu. Kami menyajikannya sebagai ajakan berpikir, bukan sebagai ketentuan agama.

Logikanya sederhana. Setiap hari kita menatap cermin untuk memastikan tidak ada yang keliru pada penampilan fisik, entah rambut yang berantakan atau kerah baju yang terlipat. Doa bercermin mengajak kita melakukan hal yang sama untuk bagian dalam diri. Ketika mata memandang wajah, hati diajak bertanya: hari ini, apakah lisanku sudah baik, apakah aku menahan marah, apakah aku menunaikan hak orang lain? Rupa dirapikan di depan kaca, akhlak dirapikan di hadapan Allah.

Dibaca dengan cara ini, aktivitas semenit di depan cermin berubah menjadi jeda spiritual kecil yang mahal. Ia mencegah pagi kita dimulai dengan kesibukan memoles tampilan tanpa sedikit pun memeriksa keadaan batin. Kebiasaan menautkan doa pada aktivitas biasa inilah yang menjadikan seorang muslim sadar bahwa Allah menyertai hal-hal kecil, sebagaimana kita juga dianjurkan membaca doa keluar rumah sebelum melangkah beraktivitas. Pola yang sama, yaitu membiasakan doa harian sekaligus jujur tentang status tiap lafalnya, bisa Anda lihat pula pada pembahasan doa sebelum belajar.

Ada pula dimensi tauhid yang halus di sini. Doa hassanta khalqi mengembalikan pujian atas rupa kepada Allah, Sang Pembentuk. Dalam khazanah asmaul husna, Dia disebut Al-Mushawwir, Yang Maha Membentuk rupa. Menyadari hal ini membuat kita berhenti menganggap wajah sebagai prestasi pribadi, dan mulai memperlakukannya sebagai amanah. Anda bisa menelusuri nama-nama indah Allah lainnya pada halaman asmaul husna.

Kesalahan Umum Seputar Doa Bercermin

Terakhir, mari luruskan beberapa salah paham yang lazim beredar seputar doa bercermin, supaya amalan kita berdiri di atas pemahaman yang benar:

  • Mengira doa ini untuk memohon rupa yang makin menawan. Padahal inti permintaannya adalah akhlak yang baik, bukan wajah yang makin rupawan. Salah paham ini membalik seluruh maksud doa.
  • Menganggapnya wajib. Bercermin hukumnya mubah, dan doanya adalah anjuran adab, bukan kewajiban. Melewatkannya tidak berdosa, tetapi membiasakannya membuat aktivitas biasa jadi bernilai.
  • Memaksakan satu versi sebagai satu-satunya yang benar. Ada perbedaan ejaan dan tambahan lafal yang beredar. Selama isinya baik, tidak perlu saling menyalahkan. Yang penting jangan mengklaim keutamaan yang tidak ada sumbernya.
  • Menjadikan cermin ajang sombong. Ini kebalikan dari maksud doa. Alih-alih menumbuhkan kesombongan, bercermin semestinya menumbuhkan syukur dan kerendahan hati.
  • Mencela wajah atau tubuh sendiri. Mengeluhkan bentuk fisik pemberian Allah bertentangan dengan sikap syukur. QS Ibrahim ayat 7 mengingatkan, "sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian." Menerima rupa apa adanya adalah bentuk syukur, dan syukur mengundang tambahan kebaikan.
Ringkasan: Doa bercermin berbunyi "Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi", memohon akhlak yang baik seiring rupa yang telah Allah beri. NU Online menganjurkannya sebagai adab (bercermin sendiri mubah), mengutip kitab Maslakul Akhyar, tanpa memberi label derajat sanad tertentu. Iringi dengan adab berhias: bersyukur, tidak sombong, tidak berlebihan, dan tidak mencela ciptaan.

Bila Anda punya pertanyaan lebih spesifik seputar lafal, status riwayat, atau kebiasaan berhias dalam keluarga Anda, silakan menanyakannya kepada ustadz setempat atau melalui halaman Tanya Ustadz.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa bercermin

TApa bacaan doa bercermin yang paling masyhur?

Bacaannya adalah "Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi", yang artinya "Hai Tuhanku, sebagaimana telah Kaubaguskan kejadianku, maka baguskanlah perangaiku." NU Online mencantumkan lafal ini sebagai doa yang dianjurkan dibaca saat bercermin.

TApa arti dan maksud doa bercermin?

Artinya memohon agar akhlak diperbaguskan sebagaimana Allah telah membaguskan rupa. Inti permintaannya adalah akhlak yang baik, bukan sekadar rupa yang menawan. Rupa dijadikan pijakan untuk meminta perangai yang mulia.

TApakah doa bercermin termasuk hadis sahih?

Sumber resmi yang kami buka, yaitu NU Online, menyajikannya sebagai doa yang dianjurkan dengan mengutip kitab Maslakul Akhyar karya Sayid Utsman bin Yahya, dan tidak mencantumkan penilaian derajat sanad secara khusus. Kekuatan riwayatnya termasuk hal yang diperbincangkan ahli hadis, sehingga kami tidak mengklaimnya sahih dan tidak pula menolaknya. Isinya baik dan tetap dianjurkan sebagai adab.

TApakah wajib membaca doa saat bercermin?

Tidak wajib. NU Online menyatakan bercermin hukumnya mubah, dan membaca doanya adalah anjuran adab. Melewatkannya tidak berdosa, tetapi membiasakannya menjadikan aktivitas biasa itu bernilai dan mengingatkan pada pemberian Allah.

TBagaimana adab berhias dalam Islam?

Berhias diperbolehkan, bahkan dianjurkan pada momen tertentu seperti ke masjid, asalkan tidak berlebihan dan tidak menumbuhkan kesombongan. NU Online mengutip hadis "al-badzadzah min al-iman" (kesederhanaan bagian dari iman) dan penjelasan Ibnu Hajar bahwa yang ditekankan adalah sikap tawadhu meski mampu bermewah-mewah.

TKenapa doa bercermin lebih menekankan akhlak daripada rupa?

Karena rupa adalah pemberian yang sudah selesai dan tidak bisa dipilih, sedangkan akhlak adalah usaha seumur hidup. Menekankan akhlak menahan orang yang rupawan dari sombong dan menghibur orang yang merasa kurang menarik, sebab kemuliaan sejati ada pada perangai, bukan bentuk wajah.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa