
Doa sebelum belajar yang paling masyhur di sekolah dan madrasah Indonesia dibuka dengan lafal Radhitu billahi rabba lalu ditutup dengan Rabbi zidni 'ilma warzuqni fahma. Doa ini begitu akrab sampai banyak dari kita hafal bunyinya sejak SD tanpa pernah tahu dari mana asalnya. Artikel ini menyajikan bacaannya secara lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan arti, sekaligus menjelaskan dengan jujur mana bagian yang berasal dari Al-Qur'an, mana yang berasal dari hadits, dan mana yang merupakan susunan atau tradisi. Pembedaan itu penting supaya kita beramal dengan sadar, bukan sekadar ikut-ikutan.
Bacaan Doa Sebelum Belajar dan Artinya
Doa yang lazim dibaca serentak di kelas sebelum pelajaran dimulai sebenarnya tersusun dari dua penggalan yang asalnya berbeda. Berikut penggalan pertama, yang paling sering disebut orang dengan nama "doa rodhitu billahi robba":
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً
Latin: Radhitu billahi rabba, wa bil islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu 'alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.
Artinya: "Aku rela (ridha) Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul."
Lalu penggalan kedua yang dirangkai sesudahnya, yaitu Rabbi zidni 'ilma warzuqni fahma, yang artinya "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku dan karuniakanlah aku pemahaman". Penggalan kedua inilah yang isinya benar-benar berbicara tentang belajar, sedangkan penggalan pertama isinya pernyataan ridha, bukan permintaan ilmu.
Di sinilah bagian yang perlu kita sikapi dengan jujur. Penggalan Radhitu billahi rabba memang teks hadits, tetapi dalam sumber-sumber yang bisa kami telusuri, konteksnya bukan pembuka belajar. NU Online Jawa Barat menyebutkan bahwa lafal ini diajarkan untuk dibaca ketika mendengar azan, dan yang membacanya diampuni dosanya, sebagaimana dikutip dari kitab Kitab al-Du'a karya Imam ath-Thabrani. Sementara NU Online Jawa Timur menyebut Imam at-Tirmidzi meriwayatkan lafal ini dari sahabat Tsauban sebagai dzikir sore. Jadi keutamaan yang disebut hadits untuk lafal ini adalah ampunan dan ridha, bukan kemudahan memahami pelajaran.
Adapun rangkaian keduanya (Radhitu billahi rabba disambung Rabbi zidni 'ilma warzuqni fahma) sebagai satu paket doa pembuka belajar, itu adalah susunan atau tradisi. Kami tidak menemukan satu pun halaman NU Online yang menyajikan rangkaian ini sebagai doa sebelum belajar. Bahkan dalam himpunan "Kumpulan Doa Ilmu" di Quran NU Online, bagian yang diberi judul "Doa Sebelum Belajar" justru berisi lafal yang sama sekali berbeda (akan kita bahas di bawah). Susunan ini populer lewat buku pelajaran, buku saku, dan media, dan lafalnya pun tidak seragam: sebagian menambahkan wa bil qur'ani imama, sebagian menulis zidni 'ilman nafi'a. Ketidakseragaman itu sendiri adalah penanda bahwa yang kita hadapi adalah tradisi, bukan satu teks yang diriwayatkan baku.
Kalau Anda terbiasa membaca Radhitu billahi rabba, justru ada tempat yang lebih sesuai dengan riwayatnya, yaitu saat mendengar azan dan pada rutinitas dzikir pagi dan petang. Membacanya sebelum belajar tetap boleh dan tetap bernilai, hanya saja keutamaan yang dijanjikan riwayatnya melekat pada konteks aslinya.
Doa "Robbi Zidnii 'Ilman" dan Asal Ayatnya
Berbeda dengan penggalan pertama, penggalan Rabbi zidni 'ilma punya asal-usul yang sangat jelas: ia adalah potongan firman Allah dalam Surat Thaha ayat 114. Berikut ayat lengkapnya:
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Latin: Fa ta'alallahul-malikul-haqq, wa la ta'jal bil-qur'ani ming qabli ay yuqdla ilaika wahyuhu wa qur rabbi zidni 'ilma.
Artinya: "Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"
Bagian yang menjadi doa adalah penutup ayat tersebut, yaitu rabbi zidni 'ilma ("Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku"). Ini perintah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk meminta tambahan ilmu, dan karena itu kedudukannya kuat sekali. Menariknya, ayat ini justru diawali larangan tergesa-gesa. Nabi diminta tidak terburu-buru menyerap wahyu sebelum tuntas disampaikan, baru kemudian diajari meminta tambahan ilmu. Urutan ini seakan mengingatkan bahwa menuntut ilmu itu berpasangan dengan kesabaran, bukan dengan ketergesaan.
Lalu bagaimana dengan tambahan warzuqni fahma ("dan karuniakanlah aku pemahaman") yang selalu ikut dibaca di sekolah? Perlu dikatakan apa adanya: frasa itu tidak ada di dalam ayat. QS Thaha ayat 114 berhenti pada rabbi zidni 'ilma. Frasa warzuqni fahma adalah tambahan yang sangat populer di Indonesia. Ia bahkan lazim dipakai para penulis NU Online sebagai kalimat penutup artikel, tetapi dipakai sebagai ungkapan harapan, bukan disajikan sebagai doa bersanad.
Doa Nabi Musa dan Doa Mudah Memahami Pelajaran
Kalau Anda mencari doa sebelum belajar yang seluruhnya Qur'ani, doa Nabi Musa dalam Surat Thaha ayat 25 sampai 28 adalah pilihan yang sangat tepat. Musa memanjatkannya ketika hendak menghadapi tugas berat berbicara di hadapan Fir'aun:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْۖ
Latin: Qala rabbisyrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul 'uqdatam mil lisani, yafqahu qauli.
Artinya: "Dia (Musa) berkata, 'Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.'"
Doa ini terasa sangat relevan bagi pelajar. Isinya persis kebutuhan orang yang sedang belajar atau hendak presentasi: dada yang lapang (siap menerima), urusan yang dimudahkan, dan lisan yang lancar sehingga orang lain paham maksud kita. Dalam himpunan Kumpulan Doa Ilmu di Quran NU Online, doa Musa ini dikembangkan menjadi versi yang lebih panjang dan dibaca ketika hendak berangkat belajar atau mengajar:
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ بِمَا شَرَحْتَ بِهِ صُدُوْرَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ بِمَا يَسَّرْتَ بِهِ أُمُوْرَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ وَاهْدِ قَلْبِيْ بِمَا هَدَيْتَ بِهِ قُلُوْبَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ وَسَدِّدْ لِسَانِيْ بِمَا سَدَّدْتَ بِهِ أَلْسِنَةَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Latin: Rabbisyrahli shadri bima syarahta bihi shudurash shalihina min 'ibadika, wa yassir li amri bima yassarta bihi umurash shalihina min 'ibadika, wahdi qalbi bima hadaita bihi qulubash shalihina min 'ibadika, wa saddid lisani bima saddadta bihi alsinatash shalihina min 'ibadika bi haqqi sayyidina Muhammadin shallallahu 'alaihi wa sallam.
Artinya: "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dengan sesuatu yang Engkau gunakan untuk melapangkan dada orang-orang saleh dari hamba-hamba-Mu, mudahkanlah urusanku dengan sesuatu yang Engkau gunakan untuk memudahkan urusan orang-orang saleh dari hamba-hamba-Mu, berilah petunjuk hatiku dengan sesuatu yang Engkau gunakan untuk memberi petunjuk hati orang-orang saleh dari hamba-hamba-Mu, dan luruskanlah lisanku dengan sesuatu yang Engkau gunakan untuk meluruskan lisan orang-orang saleh dari hamba-hamba-Mu, dengan kemuliaan junjungan kami Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."
Menariknya, di dalam himpunan yang sama, bagian yang justru diberi judul "Doa Sebelum Belajar" berisi lafal berikut, bukan lafal rodhitu yang kita hafal di sekolah:
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Latin: Allahummarzuqna fahman nabiyyina wa hifdhal mursalina wa ilhamal malaikatil muqarrabin birahmatika ya arhamar rahimina.
Artinya: "Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih."
Ada pula doa pendek yang sangat berguna saat menghadapi soal ujian, yaitu Rabbi yassir wa a'in wa la tu'assir yang berarti "Wahai Tuhanku, mudahkanlah, bantulah aku, jangan Kaupersulit". Pendek, mudah dihafal, dan bisa dibaca saat menerima lembar soal.
Doa Setelah Belajar dan Doa Memohon Ilmu Bermanfaat
Belajar tidak berhenti saat buku ditutup. Justru masalah paling umum bagi pelajar adalah lupa. Quran NU Online mencantumkan doa berikut pada bagian "Doa Sesudah Belajar", yang isinya adalah menitipkan ilmu kepada Allah:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ قَدِ اسْتَوْدَعْتُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ وَ لَا تَنْسَنِيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Latin: Allahumma inni qad istauda'tuka ma 'allamtanihi fardud-hu ilayya 'inda hajati ilaihi wa la tansanihi ya rabbal 'alamin.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku titipkan kepada-Mu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah ia kepadaku ketika aku membutuhkannya. Dan janganlah Engkau membuat aku lupa padanya, wahai Tuhan yang memelihara alam."
Perhatikan pilihan katanya: istauda'tuka, "aku menitipkan kepada-Mu". Ilmu diibaratkan barang titipan yang kita simpan pada Zat yang tidak mungkin lupa, lalu kita minta kembali saat membutuhkannya. Ini gambaran yang menenangkan bagi siapa pun yang pernah merasa hafalannya menguap saat ujian.
Adapun doa memohon ilmu yang bermanfaat, NU Online memuat lafal dari hadits Nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, dan dijelaskan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam kajian kitabnya:
اَللّٰهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْمًا، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ
Latin: Allahummanfa'ni bima 'allamtani wa 'allimni ma yanfa'uni wa zidni 'ilman, alhamdu lillahi 'ala kulli halin wa a'udzu billahi min hali ahlin nar.
Artinya: "Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah kepadaku ilmu. Segala puji hanya milik Allah pada setiap keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan penduduk neraka."
Menurut Gus Mus, doa ini penting sekali diamalkan, dan beliau menganjurkan membacanya setiap selesai shalat dalam hitungan ganjil: satu kali, tiga kali, tujuh kali, atau sebelas kali. Perhatikan bahwa di dalamnya tetap ada wa zidni 'ilman, permintaan tambahan ilmu, yang menurut Gus Mus justru berfungsi menggerakkan kita untuk terus belajar. Ada kalimat beliau yang layak direnungkan: "Selama kamu masih mencari ilmu, selama itu kamu pandai. Begitu kamu merasa pandai, mulailah kamu bodoh." Pembahasan lebih lengkap tentang lafal ini bisa Anda baca pada halaman doa ilmu bermanfaat.
Adab Menuntut Ilmu
Doa adalah pembuka, tetapi yang menentukan keberkahan ilmu adalah adab sepanjang prosesnya. Berikut beberapa adab yang ditekankan para ulama:
- Meluruskan niat. Syekh az-Zarnuji menulis kitab Ta'limul Muta'allim justru karena resah melihat kekeliruan niat dan metode para pencari ilmu di zamannya. Dalam Kumpulan Doa Ilmu, niat belajar dilafalkan dengan Nawaitut ta'alluma wat ta'lima, yaitu berniat belajar dan mengajarkan, saling mengingatkan, memberi dan mengambil manfaat, serta mengajak pada petunjuk, semuanya demi mengharap ridha Allah. Niat seperti ini mengubah kegiatan belajar dari sekadar mengejar nilai menjadi ibadah.
- Menghormati dan mendoakan guru. Salah satu dari enam modal penuntut ilmu menurut az-Zarnuji adalah irsyadu ustadzin, petunjuk guru. Alasannya masuk akal: seorang pelajar sering keliru kalau menyimpulkan sendiri secara terburu-buru dari pengetahuannya yang terbatas. Karena itu Kumpulan Doa Ilmu juga memuat doa khusus untuk guru, Allahummaghfir li masyayikhina wa liman 'allamana, "Ya Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami". Sejalan dengan itu, jangan lupakan pula doa untuk kedua orang tua, karena merekalah yang mengantar kita pada kesempatan belajar.
- Sabar dan tekun. Dua dari enam modal itu adalah hirshun (ketekunan) dan ishtibarun (kesabaran). Dalam proses belajar pasti ada kendala, baik mental, fisik, maupun materi, dan tanpa kesabaran hal itu mudah berujung putus asa.
- Mengamalkan ilmunya. KH Hasyim Asy'ari mengutip syair, "Tuntutlah ilmu lalu amalkanlah wahai saudaraku, karena ilmu merupakan perhiasan bagi orang yang mengamalkannya." Bagi Hadratussyekh, musibah terburuk manusia bukanlah kelaparan atau kemiskinan, melainkan kebodohan, dan karunia terbaik bukanlah harta melainkan akal.
Adab tidak berhenti di ruang kelas. Kebiasaan kecil seperti membaca doa sebelum makan menumbuhkan kesadaran yang sama, yaitu menyertakan Allah pada aktivitas sehari-hari. Uraian yang lebih luas tentang etika keseharian bisa Anda baca pada pembahasan adab islami.
Kenapa Doa Saja Tidak Cukup Tanpa Usaha
Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Beredar anggapan bahwa ada doa yang kalau dibaca sekian kali akan membuat seseorang langsung pintar, cepat hafal, atau dijamin lulus ujian. Perlu dikatakan terus terang: kami tidak menemukan dasar untuk klaim semacam itu pada sumber-sumber yang kami rujuk. Doa bukan mantra dan bukan jalan pintas. Doa adalah ikhtiar batin yang berjalan bersama ikhtiar lahir, bukan penggantinya.
Menariknya, NU Online sendiri membingkainya persis seperti itu. Ketika memuat "Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran" yang dikutip dari kitab Perukunan Melayu Besar (kitab yang isinya setengahnya diambil dari karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari), redaksinya menulis bahwa kita "tentu harus berusaha maksimal", dan bahwa doa itu dibaca di tengah menjalankan upaya maksimal tersebut. Jadi doa diposisikan sebagai pendamping usaha keras, bukan pengganti belajar.
Hal yang sama tampak dari nasihat klasik Syekh az-Zarnuji. Dalam Ta'limul Muta'allim beliau menyebut enam modal yang harus dimiliki penuntut ilmu lewat syair berikut:
ذُكَاءٍ وَ حِرْصٍ وَ اصْطِبَارٍ وَ بُلْغَةٍ # وَ اِرْشَادِ اُسْتِاذٍ وَ طُوْلِ زَمَانٍ
Artinya: "Kecerdasan, ketekunan, kesabaran, dan bermodal, petunjuk guru, serta waktu yang tidak sebentar."
Coba perhatikan keenamnya: kecerdasan (dzaka'un), ketekunan (hirshun), kesabaran (ishtibarun), bekal (bulghatun), petunjuk guru (irsyadu ustadzin), dan waktu yang panjang (thulu zamanin). Tidak satu pun dari enam syarat itu berbunyi "membaca doa sekian kali". Semuanya adalah usaha yang harus dijalani. NU Online menambahkan bahwa di balik enam syarat itu, seorang pencari ilmu hendaknya mengharapkan keberkahan, kemanfaatan ilmu, dan ridha Allah. Artinya doa dan keberkahan itu melingkupi usaha, bukan menghapusnya.
Satu catatan tentang kecerdasan yang layak melegakan: menurut penjelasan NU Online, dzaka'un di sini bukan berarti ber-IQ tinggi atau berketerampilan hebat, melainkan setiap orang yang memiliki kemampuan untuk belajar. Setiap orang punya potensi belajarnya masing-masing. Jadi kalau Anda merasa "tidak pintar-pintar amat", syarat pertama itu sudah Anda penuhi sejak awal.
Kalau Anda punya pertanyaan lebih spesifik seputar lafal, status riwayat, atau kebiasaan belajar di sekolah dan pesantren Anda, silakan menanyakannya kepada ustadz setempat atau lewat halaman Tanya Ustadz.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - Kumpulan Doa Ilmu (niat belajar, doa sebelum dan sesudah belajar, doa ujian, doa ilmu bermanfaat, doa untuk guru)
- Quran NU Online - QS Thaha Ayat 114 (rabbi zidni 'ilma)
- Quran NU Online - QS Thaha Ayat 25 (rabbisyrah li shadri)
- Quran NU Online - QS Thaha Ayat 28 (yafqahu qauli)
- Quran NU Online - Kumpulan Doa Wirid Harian (lafal radhitu billahi rabba)
- NU Online Jabar - Bacaan Doa ketika Mendengar Adzan yang Diajarkan Rasulullah Saw
- NU Online Jatim - Doa yang Dibaca Rasulullah ketika Sore (riwayat at-Tirmidzi dari Tsauban)
- NU Online - Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran (Kitab Perukunan Melayu Besar)
- NU Online - Amalan Doa dari Nabi agar Punya Ilmu yang Bermanfaat (penjelasan KH Mustofa Bisri)
- NU Online - Ini Enam Modal yang Harus Dimiliki Penuntut Ilmu (Ta'limul Muta'allim)
- NU Online - Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy'ari
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


