
Doa ayat kursi adalah sebutan yang populer di masyarakat untuk surat Al-Baqarah ayat 255, ayat yang dibuka dengan lafal Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum. Sebutan "doa" di sini perlu diluruskan sedikit sejak awal: ayat kursi bukan doa karangan ulama seperti doa qunut atau doa selamat, melainkan firman Allah di dalam Al-Qur'an yang dibaca, dipahami, dan direnungi. Ia memang lazim dipakai sebagai wirid harian, tetapi kedudukannya tetap ayat Al-Qur'an, bukan mantra. Artikel ini menyajikan bacaannya lengkap dengan arti, membedah maknanya potongan demi potongan, menakar keutamaannya secara jujur beserta derajat riwayatnya, dan meluruskan praktik menjadikannya jimat.
Bacaan Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Berikut teks Ayat Kursi sebagaimana dimuat Quran NU Online dan halaman tafsir NU Online, mengikuti rasm mushaf standar Indonesia:
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ
lalu ditutup dengan penggalan wa laa ya'uuduhuu hifzhuhumaa ("dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya") dan penutup:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Latin: Allaahu laa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qayyuum. Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh. Man dzalladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih. Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai'im min 'ilmihii illaa bimaa syaa'. Wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh. Wa laa ya'uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-'aliyyul-'azhiim.
Artinya: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung." (QS Al-Baqarah: 255)
Kalau Anda baru mulai menghafal, cara yang paling masuk akal bukan menghafal bunyinya sekaligus dari awal sampai akhir. Ayat ini panjang, dan menghafal bunyi tanpa tahu artinya membuat lidah lancar tetapi hati tidak ikut bergerak. Pecah saja menjadi tujuh potongan seperti pada bagian berikut, hafalkan satu potongan per hari bersama artinya, dan dalam sepekan biasanya sudah lengkap sekaligus paham.
Makna Ayat Kursi Potongan demi Potongan
Imam Ibnu Katsir, sebagaimana dikutip NU Online, menyebut bahwa ayat ini mengandung sepuluh susunan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri, semuanya berbicara tentang Dzat Allah dan berisi pengagungan kepada Yang Maha Esa. Inilah yang membuat Ayat Kursi terasa padat: hampir tiap penggalannya adalah satu pernyataan tauhid yang utuh. Mari kita telusuri satu per satu.
1. Allah satu-satunya Tuhan, Mahahidup, dan terus mengurus
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ
Latin: Allaahu laa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qayyuum. Artinya: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)."
Pembukaan ini langsung menegaskan pondasi tauhid. Menurut Imam Qurthubi yang dikutip NU Online, al-Hayy adalah salah satu asmaul husna, dan sebagian ulama menyebutnya sebagai ismul a'zham, nama Allah yang paling agung. Adapun al-Qayyum berasal dari akar kata qaama, maknanya Allah adalah Dzat yang mengatur semua yang Dia ciptakan. Qatadah memaknainya demikian, Hasan memaknainya sebagai Yang mengawasi apa yang diperbuat setiap jiwa lalu membalasnya, sedangkan Ibnu Abbas memaknainya sebagai Yang tidak berubah dan tidak hilang. Anda bisa menelusuri nama-nama Allah lainnya di halaman Asmaul Husna.
2. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur
لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ
Latin: Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Artinya: "Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur."
Perhatikan urutannya: kantuk disebut lebih dulu, baru tidur. Kantuk adalah awal dari lengah, tidur adalah puncaknya. Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir yang dikutip NU Online menjelaskan bahwa penggalan ini menguatkan penggalan sebelumnya: karena Allah al-Qayyum, Dzat yang mengatur urusan makhluk sepanjang siang dan malam, maka mustahil Dia mengantuk atau tertidur. Halaman tafsir yang sama menyebut kantuk dan tidur sebagai sifat kekurangan, yang bila ada pada Allah akan membuat-Nya tidak mampu mengurus makhluk-Nya. Di sinilah letak penghiburannya: urusan Anda tidak pernah sedang menunggu Allah bangun.
3. Langit dan bumi milik-Nya
لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ
Latin: Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh. Artinya: "Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."
Kepemilikan di sini mutlak, bukan sekadar menguasai. Syekh Wahbah Zuhaili menyebut Allah sebagai Dzat yang menciptakan, memelihara, memiliki, sekaligus bertindak terhadap semua itu. Konsekuensinya sederhana tetapi berat: tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki secara mandiri, termasuk tubuh dan umur kita sendiri.
4. Tidak ada syafaat tanpa izin-Nya
مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ
Latin: Man dzalladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih. Artinya: "Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya."
Ini penggalan yang paling sering luput padahal paling relevan dengan akidah sehari-hari. Kalimatnya berbentuk pertanyaan retoris: siapa gerangan yang berani memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Jawabannya: tidak ada. Syekh Wahbah Zuhaili menegaskan tidak ada seorang pun yang berani memberikan syafaat kepada orang lain kecuali atas seizin-Nya. Artinya, tidak ada perantara mana pun, sehebat apa pun kedudukannya, yang bisa memaksa keputusan Allah. Pemahaman ini yang nanti akan kita pakai saat membahas jimat.
5. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ
Latin: Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai'im min 'ilmihii illaa bimaa syaa'. Artinya: "Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki."
Ada keseimbangan yang indah di sini. Allah tahu segalanya, sedangkan makhluk hanya tahu sepotong, dan potongan itu pun pemberian. NU Online mengutip Syekh Wahbah Zuhaili bahwa ilmu Allah meliputi segala hal dan seluruh keadaan makhluk, baik yang kecil maupun yang besar. Bagi manusia modern yang mudah merasa serba tahu, penggalan ini semacam rem.
6. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ
Latin: Wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh. Artinya: "Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi."
Inilah penggalan yang menjadi asal nama ayat ini, dan pembahasannya kita lanjutkan di bagian berikutnya.
7. Tidak berat bagi-Nya, dan Dia Mahatinggi
Penggalan wa laa ya'uuduhuu hifzhuhumaa berarti "Dia tidak merasa berat memelihara keduanya", lalu ayat ditutup dengan:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Latin: Wa huwal-'aliyyul-'azhiim. Artinya: "Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung."
Memelihara langit dan bumi tidak membuat Allah lelah. Ayat ditutup dengan dua nama: Mahatinggi dan Mahaagung. Menurut hemat redaksi, penutup ini sengaja mengembalikan pembaca pada posisinya. Setelah sepuluh pernyataan tentang kebesaran Allah, tidak tersisa ruang untuk merasa besar, dan itu justru melegakan.
Kenapa Disebut Ayat Kursi?
Sumber NU yang kami buka tidak membahas secara khusus riwayat asal-usul penamaannya. Yang terbaca jelas dari teksnya, nama itu diambil dari kata kursi pada penggalan wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh. Al-Qur'an sendiri menyebut kata tersebut, dan masyarakat lalu menamai seluruh ayat dengan kata paling menonjol di dalamnya, persis seperti penamaan banyak surat.
Pertanyaan yang lebih penting: apa itu "Kursi" Allah? Terjemahan resmi yang dimuat Quran NU Online memberi penjelasan dalam kurung, yaitu "Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi". Jadi menurut rendering yang dipakai NU, kursi di sini dimaknai sebagai ilmu dan kekuasaan Allah, bukan sebuah kursi fisik tempat duduk.
Pemaknaan itu selaras dengan penegasan di halaman tafsir NU Online sendiri, yang mengutip Syekh Wahbah Zuhaili bahwa Allah adalah Tuhan yang tiada sesuatu pun dari makhluk-Nya menyerupai-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan, sebagaimana firman-Nya laisa kamitslihii syai', "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya" (QS Asy-Syura: 11). Karena itu membayangkan Kursi Allah sebagai perabot berukuran raksasa jelas keliru arah: ia justru menyeret kita membandingkan Allah dengan makhluk, hal yang persis dibantah ayat tersebut.
Keutamaan Ayat Kursi dan Kejujuran soal Dalilnya
Keutamaan Ayat Kursi beredar sangat banyak di internet, dari yang bersanad kuat sampai yang entah dari mana. Karena itu bagian ini kami susun berdasarkan derajat riwayatnya, bukan berdasarkan mana yang paling menggiurkan.
Yang sahih: ayat teragung dalam Al-Qur'an
Ini keutamaan yang paling kokoh, karena diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab sahihnya. Dari sahabat Ubay bin Ka'ab, Rasulullah bertanya, "Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang ada padamu yang paling utama?" Ubay menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Nabi mengulang pertanyaannya, dan Ubay menjawab, "Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum." Lalu Nabi menepuk dadanya seraya bersabda, "Demi Allah, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir." (HR Muslim, Ensiklopedia Hadits NU Online nomor 1343). Abu Mundzir adalah kunyah atau nama panggilan Ubay bin Ka'ab sendiri.
Halaman tafsir NU Online juga mengutip Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir bahwa Ayat Kursi merupakan puncak dari ayat-ayat Al-Qur'an dan ayat yang paling agung, karena di dalamnya terkandung nama-nama Allah yang paling agung.
Yang sahih: perlindungan saat hendak tidur
Imam Bukhari meriwayatkan kisah Abu Hurairah yang ditugasi Rasulullah menjaga harta zakat. Seseorang menyusup hendak mengambil makanan, lalu tertangkap. Penyusup itu berkata, "Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi." Ketika dilaporkan, Nabi bersabda, "Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah setan." (HR Bukhari, Ensiklopedia Hadits NU Online nomor 4624).
Perhatikan redaksinya baik-baik, karena sering disalahpahami. Yang menjaga adalah Allah ("senantiasa menjagamu" dalam riwayat itu disandarkan kepada penjaga dari Allah), bukan ayatnya yang bekerja sendiri. Ayat Kursi adalah bacaan yang dengannya seorang hamba memohon penjagaan, bukan alat yang memaksa hasil.
Yang perlu disebut apa adanya: membaca setiap selesai shalat fardhu
Riwayat yang paling sering dikutip adalah sabda Nabi dari Abu Umamah: "Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian." NU Online Jatim memuat riwayat ini dua kali di dua artikel berbeda, dan menariknya menyebut rujukan yang tidak sama: satu menulis "HR An-Nasa'i dalam Al-Yaum wa Al-Lailah: 10", satu lagi menulis "HR An-Nasai dalam Al-Kubro 9: 44". Keduanya sama-sama menunjuk Imam An-Nasa'i, hanya berbeda kitab rujukan, dan memang An-Nasa'i punya karya di luar Sunan-nya yang masyhur.
Yang perlu kami sampaikan terus terang: kedua halaman NU tersebut tidak mencantumkan derajat riwayat ini, tidak menyebutnya sahih dan tidak pula menyebutnya dhaif. Kami juga menelusuri kanal Ensiklopedia Hadits NU Online dan tidak menemukannya di Sunan An-Nasa'i, yang wajar karena rujukan yang disebut NU sendiri mengarah ke kitab An-Nasa'i yang lain, bukan Sunan-nya. Maka posisi jujurnya begini: riwayat ini punya takhrij yang jelas menurut NU, tetapi status derajatnya tidak dinyatakan oleh sumber NU yang kami buka. Mengamalkannya tetap baik karena membaca Al-Qur'an selepas shalat tidak butuh dalil khusus untuk dianggap baik, tetapi jangan menyampaikannya seolah-olah jaminan bersegel.
Yang tidak dinyatakan derajatnya
Halaman tafsir NU Online juga memuat riwayat "Pimpinan kalam adalah Al-Qur'an, pimpinan Al-Qur'an adalah surat Al-Baqarah, dan pimpinan surat Al-Baqarah adalah ayat kursi" yang disandarkan kepada Ad-Dailami, serta riwayat bahwa pembacanya bagaikan orang yang berperang bersama para nabi hingga mati syahid. Halaman tersebut memuatnya tanpa menyebut derajat. Imam Qurthubi juga dikutip menyatakan bahwa Ayat Kursi menyamai sepertiga Al-Qur'an sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, pendapat yang beliau kutip dari Ibnu 'Athiyah, dan lagi-lagi tanpa keterangan derajat. Kami mencantumkannya di sini apa adanya sebagai informasi, bukan sebagai dalil yang setara dengan dua riwayat sahih di atas.
Kapan Ayat Kursi Dianjurkan Dibaca
Dari keterangan yang ada, setidaknya ada tiga waktu yang lazim:
- Menjelang tidur. Inilah yang paling kuat dasarnya, yaitu riwayat Bukhari di atas. NU Online Jatim juga mencatat keterangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa ia tidak pernah melihat orang yang memahami Islam dengan baik bisa tidur sebelum membaca Ayat Kursi dan ayat-ayat akhir surat Al-Baqarah. Anda bisa merangkainya dengan doa sebelum tidur yang biasa dibaca.
- Setiap selesai shalat fardhu. Berdasarkan riwayat Abu Umamah yang sudah kami bahas derajatnya di atas. Dalam praktik masyarakat Indonesia, Ayat Kursi biasanya dibaca setelah istighfar dan kalimat Allaahumma antas salaam, lalu dilanjutkan tasbih, tahmid, dan takbir. Urutan lengkapnya ada di artikel doa setelah sholat.
- Dzikir pagi dan petang. NU Online Jatim menyebut bahwa membaca Ayat Kursi lalu dilanjutkan tiga ayat pertama surat Al-Mu'min pada pagi hari membuat Allah menjaga pembacanya sampai sore, dan sebaliknya bila dibaca sore. Ayat Kursi memang lazim masuk rangkaian dzikir pagi petang sebagai bacaan perlindungan.
Selain itu, Ayat Kursi juga menjadi bagian dari rangkaian doa tahlil yang dibaca untuk mendoakan orang yang telah wafat, dibaca setelah surat Al-Fatihah dan awal surat Al-Baqarah. Perlu dicatat bahwa dalam tahlil, Ayat Kursi hadir sebagai salah satu mata rantai bacaan, bukan sebagai fokus utama.
Ayat Kursi Dibaca dan Direnungi, Bukan Digantung
Bagian ini perlu ditulis terus terang, karena Ayat Kursi termasuk ayat yang paling sering diperlakukan sebagai benda bertuah. Kita menemukannya ditulis di kertas lalu dilipat dan dibawa ke mana-mana, dijadikan gantungan kendaraan agar terhindar kecelakaan, ditempel di pintu sebagai penangkal, atau dibuat wafak dan rajah untuk kekebalan. Pertanyaannya: apakah itu yang dimaksud ayat ini?
Jawabannya tidak, dan kita punya alasan yang berasal dari ayat itu sendiri. Ayat Kursi justru menegaskan bahwa tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Kalau makhluk semulia para nabi pun tidak bisa memberi syafaat tanpa izin Allah, atas dasar apa selembar kertas bertuliskan ayat bisa memaksa keselamatan? Menggantungkan harapan pada benda justru membalik pesan ayat yang digantungkan itu.
Soal hukumnya, dua rujukan besar umat Islam Indonesia tidak sepenuhnya sepakat, dan kami sajikan keduanya apa adanya:
- Muhammadiyah mendefinisikan jimat (tamimah) sebagai sesuatu yang digantungkan di leher atau selainnya, berupa mantra, kantong berjahit, rajah, atau tulang, dengan tujuan mendatangkan manfaat atau menolak mudarat. Untuk tamimah yang diambil dari Al-Qur'an, yaitu menulis ayat lalu mengalungkannya untuk memohon kesembuhan lewat perantaranya, Muhammadiyah menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah diharamkan, dengan tiga alasan: keumuman larangan Nabi tanpa ada dalil yang mengkhususkan, tindakan pencegahan (saddu adz-dzari'ah), dan risiko menghinakan ayat karena terbawa ke tempat buang hajat. Adapun tamimah dari selain Al-Qur'an dinyatakan haram sekaligus syirik.
- NU Online mengutip Imam Malik lewat kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an bahwa menulis huruf-huruf Al-Qur'an itu tidak diharamkan manakala diletakkan dalam wadah atau dibungkus kulit sehingga terjaga. Sebagian ulama menambahkan bahwa hal itu tidak dilarang, tetapi lebih baik ditinggalkan karena akan terbawa ketika seseorang berhadats. NU menyimpulkan bahwa selama kehormatannya terjaga, penggunaannya tidak dilarang.
Perbedaannya nyata dan tidak perlu ditutup-tutupi. Namun perhatikan bahwa keduanya bertemu di titik yang justru paling menentukan: tidak satu pun dari keduanya mengatakan bendanya yang bekerja. NU membolehkan dengan syarat kehormatan ayat terjaga dan tetap menyebut meninggalkannya lebih baik, sedangkan Muhammadiyah mengharamkannya justru demi menjaga kehormatan ayat dan mencegah kesalahpahaman. Tidak ada yang menjanjikan kekebalan, dan tidak ada yang mengizinkan keyakinan bahwa kertasnya punya daya.
Menariknya, Muhammadiyah pada rujukan yang sama menyatakan bahwa menggantungkan tulisan ayat Al-Qur'an untuk tujuan perhiasan atau agar terbaca ketika melihatnya, misalnya di dinding rumah, di pintu, atau di kendaraan, hal itu diperbolehkan. Jadi kaligrafi Ayat Kursi di ruang tamu bukan masalah selama fungsinya sebagai pengingat dan bacaan. Yang dipersoalkan bukan tintanya, melainkan keyakinan yang ditumpangkan padanya.
Garis pemisahnya sebetulnya sederhana. Membaca Ayat Kursi berarti memohon perlindungan kepada Allah, dan Allah yang memutuskan. Menjadikannya jimat berarti meyakini bendanya menolak bahaya, dan itu memindahkan tawakal dari Allah kepada barang. Yang pertama ibadah, yang kedua menggeser tempat bergantung. Karena itu artikel ini tidak menyediakan aturan penulisan wafak, hitungan tertentu, atau tata cara membuat azimat, dan tidak menjanjikan bahwa siapa pun yang membacanya akan kebal dari musibah. Doa dan bacaan Al-Qur'an adalah ikhtiar seorang hamba, bukan transaksi bergaransi. Pembahasan lebih luas soal batas antara doa dan jimat bisa Anda baca di artikel doa tolak bala.
Kesalahpahaman yang Sering Muncul
Bayangkan situasi ini: seseorang membaca Ayat Kursi setiap malam selama setahun, lalu tetap mengalami kecelakaan. Ia bertanya, apakah bacaannya tidak berguna? Pertanyaan seperti ini muncul karena beberapa salah paham yang berikut ini sering jadi akarnya:
- Menganggap Ayat Kursi sebagai jaminan kekebalan. Riwayat Bukhari menyebut penjagaan dari Allah, dan penjagaan Allah tidak selalu berarti bebas dari segala kejadian. Musibah tetap bisa datang sebagai ujian atau penghapus dosa, dan itu tidak membatalkan nilai bacaan Anda.
- Mengejar hitungan ajaib. Beredar anjuran membaca sekian belas kali agar dibukakan rezeki atau hikmah. Sumber NU dan Muhammadiyah yang kami rujuk tidak memuat hitungan-hitungan semacam itu untuk Ayat Kursi. Kalau ada yang menawarkannya, tanyakan dalilnya.
- Mengira Ayat Kursi adalah doa buatan ulama. Ia adalah firman Allah, satu ayat utuh dari surat Al-Baqarah. Menyebutnya "doa ayat kursi" boleh saja sebagai kebiasaan bahasa, tetapi jangan sampai kedudukannya turun menjadi sekadar wirid tanpa dipahami.
- Membacanya cepat tanpa tahu artinya. Ayat ini berisi sepuluh pernyataan tentang Allah. Membacanya tanpa memahami satu pun berarti melewatkan bagian terbaiknya, yaitu efeknya pada cara kita memandang hidup.
- Membayangkan Kursi Allah sebagai benda. Sudah dibahas di atas: terjemahan yang dipakai NU memaknainya sebagai ilmu dan kekuasaan Allah.
Kalau Anda punya persoalan pribadi seputar amalan ini, misalnya menyangkut kebiasaan keluarga yang sudah telanjur memakai azimat, sebaiknya dibicarakan dengan ustadz setempat yang mengenal konteks Anda, atau lewat halaman Tanya Ustadz. Perbedaan pandangan NU dan Muhammadiyah pada soal azimat adalah perbedaan yang sudah lama ada di kalangan ulama, sehingga tidak perlu menjadi bahan saling menyalahkan, apalagi memutus silaturahmi.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - QS Al-Baqarah ayat 255 (teks Arab satu ayat penuh, terjemahan resmi)
- NU Online - Penjelasan Lengkap tentang Tafsir Ayat Kursi (teks Arab, kutipan Wahbah Zuhaili, Qurthubi, Ibnu Katsir)
- NU Online Jatim - Berikut Keutamaan Membaca Ayat Kursi (riwayat Abu Umamah, atsar Ali bin Abi Thalib, waktu membaca)
- NU Online Jatim - Berikut Bacaan Setelah Shalat Berdasarkan Hadits Nabi (takhrij An-Nasai Al-Kubro 9:44)
- Ensiklopedia Hadits NU Online - Shahih Muslim No. 1343 (riwayat Ubay bin Ka'ab, ayat teragung)
- Ensiklopedia Hadits NU Online - Shahih Bukhari No. 4624 (riwayat Abu Hurairah, ayat kursi sebelum tidur)
- NU Online - Menjadikan Ayat Al-Quran sebagai Azimat (kutipan Imam Malik via At-Tibyan)
- Muhammadiyah - Jimat/Rajah dari Al-Qur'an Bolehkah? (definisi tamimah, hukum tamimah dari Al-Qur'an)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


