
Doa tolak bala adalah doa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari musibah, bencana, dan kemalangan. NU Online Lampung membuka kumpulan doanya dengan kalimat yang jujur: tidak ada seorang pun yang menghendaki adanya musibah atau bala dalam kehidupan ini, dan berbagai upaya dilakukan agar hidup tercukupi serta sehat wal afiat. Namun sebagai umat Islam, upaya itu harus dilengkapi dengan doa yang dapat dirutinkan setiap hari. Perhatikan kata "dilengkapi", bukan "digantikan". Artikel ini menghimpun lafal doa tolak bala beserta arti dan waktu mengamalkannya, sekaligus menjelaskan batas yang sering kabur di masyarakat: mana yang doa dan mana yang sudah masuk wilayah jimat.
Sebagai catatan awal agar Anda tidak membaca dua hal yang sama dua kali: lafal Allahumma inna nas'aluka salamatan fid din yang masyhur dibaca usai shalat dan pada tahlil memang dimuat NU dalam kumpulan yang sama, tetapi lafal itu beserta tujuh permohonannya sudah dibahas tuntas di halaman doa selamat. Halaman ini fokus pada sisi tolak bala-nya: apa itu bala, lafal-lafal perlindungan yang belum dibahas di sana, dan persoalan akidah yang melekat pada istilah "tolak bala" itu sendiri.
Apa Itu Bala dan Bagaimana Islam Memandangnya
Menurut NU Online Lampung, bala mengandung pengertian malapetaka, kemalangan, dan cobaan. Dengan membaca doa, kita berharap dapat terhindar dari musibah dan mendapat keselamatan baik dunia maupun akhirat. Kata kuncinya "berharap", bukan "memastikan". Ini penting diletakkan di awal, sebab istilah "tolak bala" dalam bahasa sehari-hari terdengar seperti nama sebuah teknik yang bila dijalankan dengan benar akan menghasilkan kekebalan. Bukan itu maksudnya.
Islam tidak mengajarkan bahwa musibah selalu berarti hukuman. NU Online Jateng menerangkan bahwa sekalipun musibah yang menimpa seseorang atau suatu kaum bisa terjadi karena keteledoran, kesalahan, maupun dosa yang diperbuat, sejatinya kalau manusia ikhlas dan tawakal dalam menghadapinya, maka musibah itu akan menjadi penghapus dosa dan penutup kesalahan. Allah menyertakan ampunan berbarengan dengan datangnya musibah, sehingga bagi yang sabar dan tawakal, duri kecil yang melukai tubuhnya pun akan menjadi penghapus dosa.
Rujukan itu menyandarkan penjelasannya pada hadits dari Abu Hurairah bahwa tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan, atau rasa gelisah, sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya (HR Bukhari dan Muslim). Perhatikan daftarnya: rasa khawatir dan rasa sedih ikut disebut. Artinya bala tidak selalu berbentuk bencana besar yang masuk berita. Kecemasan yang Anda pikul diam-diam pun terhitung.
Dari sini kita bisa menarik cara pandang yang lebih tenang. Musibah dalam Islam bisa menempati beberapa posisi sekaligus: ia ujian atas kesabaran, ia penggugur dosa bagi yang menghadapinya dengan ikhlas, dan ia bisa menjadi peringatan agar kita memperbaiki kelalaian. Karena posisinya bisa berbeda-beda, kita dilarang menghakimi orang yang tertimpa musibah seolah-olah itu bukti dosanya. Menurut hemat redaksi, inilah pagar adab yang paling sering jebol saat bencana terjadi, dan doa tolak bala tidak ada gunanya dibaca oleh lisan yang sibuk menuduh korban.
Bacaan Doa Tolak Bala: Perlindungan dari Berbagai Bencana
Lafal berikut dimuat Quran NU Online dan NU Online Lampung dengan judul "Doa Perlindungan dari Berbagai Bencana". Inilah lafal yang paling mendekati makna "tolak bala" dalam pengertian memohon dijauhkan dari celaka yang datang mendadak:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّيْ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرِيْقِ وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ فِيْ سَبِيْلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ لَدِيْغًا
Latin: Allahumma inni a'udzu bika minal hadmi, wa a'udzu bika minat taraddi, wa a'udzu bika minal gharqi wal hariqi, wa a'udzu bika an yatakhabbathanisy syaithanu 'indal mauti, wa a'udzu bika an amuta fi sabilika mudbiran, wa a'udzu bika an amuta ladighan.
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari tempat yang tinggi. Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran. Aku berlindung kepada-Mu dari bujuk rayu setan ketika (menjelang) kematian (sakaratul maut). Aku berlindung kepada-Mu dari mati di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri. Dan aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan binatang."
Ada yang menarik dari susunan lafal ini. Kalau diperhatikan, isinya bukan permintaan agar bala pergi, melainkan pernyataan berlindung (a'udzu bika) yang diulang enam kali. Kata kerjanya bukan "menolak", tetapi "berlindung kepada". Itu perbedaan yang halus tetapi menentukan. Orang yang berlindung sedang mengakui dirinya lemah dan mencari tempat bernaung, sedangkan orang yang menolak sedang merasa punya kuasa untuk menghalau. Doa ini menempatkan kita pada posisi yang pertama.
Menarik pula bahwa daftar bahayanya sangat konkret dan membumi: reruntuhan, jatuh dari ketinggian, tenggelam, kebakaran, sengatan binatang. Ini bukan daftar bahaya gaib, melainkan persis jenis kecelakaan yang tercatat di kanal berita mana pun hari ini. Lalu di tengah daftar yang serba fisik itu diselipkan permohonan yang sifatnya batin, yaitu berlindung dari bujuk rayu setan menjelang kematian. Susunan seperti ini menunjukkan bahwa yang dijaga bukan cuma tubuh, melainkan juga iman pada detik terakhir.
Doa Tolak Bala Sesuai Keadaan yang Dihadapi
Kumpulan doa tolak bala yang dihimpun Quran NU Online tidak berupa satu lafal tunggal, melainkan beberapa lafal yang dipasangkan dengan keadaan tertentu. Ini sisi yang sering terlewat: alih-alih satu mantra serbaguna, yang diwariskan justru doa yang menyesuaikan keadaan. Berikut lafal-lafal yang relevan dengan bala dan musibah.
Doa saat musibah telanjur menimpa
إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اَللّٰهُمَّ أَجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
Latin: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.
Artinya: "Sungguh kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya."
Inilah doa yang paling sering dibutuhkan tetapi paling jarang dihafal utuh. Kebanyakan orang berhenti di inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, padahal lanjutannya justru berisi dua permintaan yang sangat manusiawi: pahala atas musibahnya, dan ganti yang lebih baik. Doa ini mengakui bahwa kehilangan itu sakit, lalu meminta agar rasa sakit itu tidak berlalu sia-sia.
Doa saat gempa bumi
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ
Latin: Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira ma fiha, wa khaira ma arsalta bihi, wa a'udzu bika min syarriha, wa syarri ma fiha wa syarri ma arsalta bihi.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi di dalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan."
Doa saat hujan deras yang dikhawatirkan banjir
Untuk hujan deras yang mengkhawatirkan, kumpulan doa tolak bala NU memuat lafal Allahumma hawalaina wa la 'alaina (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami). Lafal ini punya adab yang layak dicontoh: yang diminta bukan hujannya berhenti, sebab hujan itu rahmat dan rezeki bagi banyak pihak, melainkan agar curahannya dialihkan ke dataran tinggi, gunung, dan lembah, tempat yang justru membutuhkannya. Ada kehati-hatian di situ, kita meminta selamat tanpa meminta nikmat orang lain dicabut. Karena lafal, dalil, dan adabnya sudah dibahas tuntas secara khusus, silakan baca di halaman doa agar hujan berhenti.
Doa terhindar dari kezaliman
عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَاۚ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ، وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Latin: 'Alallahi tawakkalna, rabbana la taj'alna fitnatal lil qaumizh zhalimin, wa najjina birahmatika minal qaumil kafirin.
Artinya: "Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir." (QS Yunus ayat 85 sampai 86)
Lafal ini bukan susunan ulama, melainkan ayat Al-Qur'an, yaitu penggalan Surat Yunus ayat 85 dan 86 yang dirangkai menjadi satu doa. Redaksi memverifikasi lafalnya langsung ke basis data Al-Qur'an NU Online dan hasilnya cocok persis, dengan catatan kata pembuka fa qalu (maka mereka berkata) tidak ikut dibaca karena itu bagian narasi ayat, bukan bagian doanya.
Doa saat kehilangan barang dan saat hati susah
اَللّٰهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيْهِ، اِجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ ضَالَّتِيْ فِيْ خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ
Latin: Allahumma ya jami'an nasi liyaumin la raiba fih, ijma' baini wa baina dhallati fi khairin wa 'afiyah.
Artinya: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhan yang mengumpulkan semua manusia di hari yang tiada ragu lagi padanya. Pertemukan aku dan barangku yang hilang dengan kebaikan dan keselamatan."
Adapun ketika dada terasa sempit oleh kesusahan, Quran NU Online memuat lafal berikut:
اَللّٰهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ
Latin: Allahumma rahmataka arju, fala takilni ila nafsi tharfata 'ainin, ashlih li sya'ni kullahu.
Artinya: "Ya Allah, kasih sayang-Mu kuharapkan. Maka dari itu, janganlah Kau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap. Perbaikilah bagiku seluruh urusanku."
Untuk kesulitan yang terasa menghimpit dan berlarut, banyak orang juga mengamalkan lafal Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan, yang pembahasannya tersedia di halaman doa Nabi Yunus. Sedangkan lafal a'udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq yang masyhur sebagai permohonan perlindungan umum dibahas di halaman doa memohon perlindungan.
Waktu dan Cara Mengamalkan Doa Tolak Bala
Di sini kami perlu berterus terang. Rujukan NU yang memuat kumpulan doa tolak bala tidak mematok waktu khusus, tidak menetapkan jumlah hitungan tertentu, dan tidak menyebut satu hari istimewa yang doanya wajib dibaca. Keterangan yang benar-benar tertulis hanya satu: doa-doa ini dapat dirutinkan pembacaannya setiap hari sebagai kelengkapan ikhtiar. Selebihnya, lafal-lafal itu dipasangkan dengan keadaan, bukan dengan jam.
Maka cara mengamalkannya mengikuti keadaan, bukan jadwal. Doa perlindungan dari berbagai bencana cocok dirutinkan sebagai bacaan harian, misalnya digabungkan ke dalam rutinitas dzikir pagi dan petang yang memang waktunya sudah ada tuntunannya. Doa saat tertimpa musibah dibaca ketika musibahnya datang. Doa gempa dibaca ketika bumi berguncang. Doa hujan dibaca ketika hujan deras mengkhawatirkan. Sesederhana itu, dan justru kesederhanaan ini yang membedakannya dari ritual berjadwal.
Adapun dalam shalat, tradisi Islam mengenal qunut nazilah, yaitu qunut yang dibaca ketika umat Islam tertimpa musibah atau bencana. Inilah bentuk "tolak bala" yang paling jelas landasannya dan paling terstruktur, karena dilakukan di dalam shalat fardhu dan berhenti ketika musibahnya berlalu. Pembahasan lengkapnya ada di halaman doa qunut.
Bagaimana dengan Rebo Wekasan dan tradisi tolak bala di masyarakat
Pertanyaan ini pasti muncul, jadi mari dijawab apa adanya berdasarkan keterangan NU sendiri. Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir bulan Safar yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai hari diturunkannya bala, kesialan, musibah, maupun penyakit. NU Online Jatim mencatat ritual yang berkembang di sekitarnya berupa shalat tolak bala, doa-doa khusus, minum air jimat, sedekah, silaturahim, dan berbuat baik kepada sesama.
Bagaimana status dalilnya? NU Online Jatim menyatakannya dengan gamblang: ritual tersebut tidak ada tuntunannya dalam agama Islam, akan tetapi nilai yang terkandung dalam sebagian ritual masih memiliki sisi keislaman. Halaman yang sama menegaskan bahwa tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari syariat Islam, bahkan tata caranya tidak disebutkan secara jelas dalam kitab hadis maupun kitab fikih. Adapun hadits yang biasa dikutip tentang Rabu terakhir sebagai hari naas dinilai dhaif, dan menurut NU hadits itu pun tidak berkaitan khusus dengan bulan Safar.
Soal shalatnya, ulama berbeda pendapat dan NU Online memuat keduanya. Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menghukumi shalat Rebo Wekasan sebagai haram karena tidak ada asalnya dalam syariat. Sementara Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki dalam Kanz an-Najah wa as-Surur menyebutnya boleh dengan syarat tidak diniatkan sebagai shalat Rebo Wekasan, melainkan diniatkan shalat sunnah mutlak. NU Online menutup bahasan itu dengan menyebut perbedaan pandangan ini hal yang lumrah dan tidak perlu dipertentangkan.
Yang justru paling tegas adalah hadits yang dikutip NU Online Jatim sendiri dalam pembahasan tersebut:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم
"Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya). Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Menurut al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali sebagaimana dikutip NU, hadits itu merupakan respons Nabi terhadap tradisi jahiliyah yang meyakini datangnya sial pada bulan Safar, dan Nabi membatalkan keyakinan tersebut. Kesimpulan yang adil: berdoa, bersedekah, dan berbuat baik pada hari apa pun termasuk Rabu terakhir Safar itu baik dan tidak dilarang. Yang bermasalah bukan doanya, melainkan keyakinan bahwa harinya sendiri yang membawa sial.
Doa Tolak Bala Bukan Mantra, Jimat, atau Ritual Penangkal
Inilah bagian yang paling perlu ditulis terus terang, karena istilah "tolak bala" di masyarakat kadung bercampur dengan praktik yang sama sekali bukan doa. Sebagian orang mengenal tolak bala dalam bentuk sesajen, wafak atau rajah yang ditulis lalu dibawa ke mana-mana, air jimat yang diminum, mandi kembang, atau ritual buang sial. Kalau yang Anda cari adalah pembenaran untuk hal-hal itu, artikel ini tidak menyediakannya.
Muhammadiyah mendefinisikan jimat sebagai benda yang diberi mantra, doa, rajah (simbol), atau tulisan tertentu sehingga diyakini mempunyai kekuatan, kehebatan, atau kesaktian tertentu untuk tujuan tertentu, entah berupa kalung, akik, cincin, keris, kain kafan, dan sebagainya. Hukumnya dinyatakan dengan tegas: para ulama sepakat bahwa membuat, mempunyai, ataupun mempercayai jimat untuk tujuan tertentu seperti penglarisan, kecantikan, kekebalan, dan lainnya itu termasuk perbuatan syirik atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Sebabnya, orang tersebut selain meyakini Allah juga meyakini benda itu bisa memberi manfaat atau menolak mudarat.
Rujukan tersebut mengutip hadits dari Abdullah bin Mas'ud bahwa ruqyah (yang tidak syar'i), tamimah (jimat), dan tiwalah (pelet) itu syirik (HR Abu Dawud). Perlu digarisbawahi bahwa keharaman itu tidak gugur hanya karena benda tersebut bertuliskan ayat Al-Qur'an. Yang dipersoalkan bukan tulisan di atas kertasnya, melainkan keyakinan bahwa bendanya yang bekerja.
Di sinilah letak perbedaan yang menentukan, dan sebetulnya sederhana. Doa itu permohonan kepada Allah yang bisa dikabulkan atau tidak menurut kehendak-Nya. Jimat itu benda yang diyakini bekerja dengan sendirinya. Yang pertama menempatkan Allah sebagai pemberi keselamatan, yang kedua menempatkan benda sebagai penentu. Karena itu tidak ada satu pun lafal di artikel ini yang boleh ditulis di kertas lalu digantung di pintu sebagai penangkal, tidak ada hitungan wajib berapa kali harus dibaca, dan tidak ada janji bahwa membacanya membuat Anda kebal dari musibah. Kalau Anda menemukan klaim semacam itu di pesan berantai, klaim tersebut tidak berasal dari rujukan yang memuat doa-doa ini.
Menariknya, kumpulan doa NU sendiri menyediakan jawaban untuk kegelisahan soal pertanda buruk, dan jawabannya bukan ritual, melainkan doa. Quran NU Online memuat "Doa saat Melihat Pertanda Buruk" berikut:
اَللّٰهُمَّ لَا يَأْتِيْ بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا يَذْهَبُ بِالسَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
Latin: Allahumma la ya'ti bil hasanati illa anta, wa la yadzhabu bis sayyi'ati illa anta, wa la haula wa la quwwata illa billah.
Artinya: "Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Engkau. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."
Bacalah isinya pelan-pelan. Doa ini justru membantah premis takhayul dari dalam. Ketika seseorang cemas karena melihat sesuatu yang dianggap pertanda sial, yang diajarkan bukan menangkalnya dengan benda, melainkan menegaskan kembali bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan dan menghilangkan keburukan selain Allah. Jadi obat dari takhayul adalah tauhid, bukan ritual tandingan.
Ketika Bala Tetap Datang: Doa, Ikhtiar, dan Tawakal
Bagaimana kalau doanya sudah dibaca rutin tetapi musibah tetap datang? Pertanyaan ini wajar dan tidak perlu dijawab dengan berkelit. Jawabannya: itu tidak berarti doa Anda gagal atau ditolak. Rujukan NU menempatkan doa-doa ini dalam kerangka harapan agar terhindar dari musibah dan memperoleh keselamatan dunia akhirat, bukan sebagai garansi bebas masalah. Para nabi dan sahabat pun mengalami kesulitan berat, dan tidak seorang pun memahami itu sebagai bukti doa mereka tidak didengar.
Justru di sinilah penjelasan NU Online Jateng tadi menemukan tempatnya. Kalau bala berhasil dihindarkan, itu nikmat yang patut disyukuri. Kalau bala tetap datang lalu dihadapi dengan ikhlas, sabar, dan tawakal, ia berubah menjadi penghapus dosa dan penutup kesalahan. Tidak ada skenario di mana seorang mukmin benar-benar rugi, kecuali bila ia menghadapinya dengan putus asa atau justru berpaling mencari pertolongan kepada selain Allah.
Yang perlu dijaga bersamaan adalah ini: doa tidak menggantikan usaha nyata. Doa perlindungan dari reruntuhan tidak menggantikan membangun rumah dengan struktur yang benar. Doa saat gempa tidak menggantikan mengetahui jalur evakuasi dan mengikuti arahan petugas. Doa agar hujan dialihkan tidak menggantikan membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah ke sungai. Doa saat kehilangan barang tidak menggantikan mengunci pintu. Membaca doa tolak bala lalu mengabaikan peringatan dini bencana bukanlah tawakal, itu kelalaian yang meminjam kosakata agama.
Menurut hemat redaksi, cara paling sehat memahami doa tolak bala adalah memandangnya sebagai pengakuan, bukan alat. Kita sudah berikhtiar semampunya, dan doa adalah cara kita mengakui bahwa hasil akhirnya tidak pernah berada dalam genggaman kita. Orang yang menyadari hal ini akan tetap tenang ketika keadaan aman, dan tidak hancur ketika keadaan berubah.
Bila Anda punya pertanyaan khusus, misalnya menyangkut tradisi tolak bala yang berjalan di kampung Anda atau bagaimana menyikapinya tanpa menyinggung keluarga, silakan tanyakan lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda secara langsung.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - Kumpulan Doa Tolak Bala, Arab, Latin dan Terjemah (13 lafal, memuat doa perlindungan dari berbagai bencana, gempa, hujan, dan pertanda buruk)
- NU Online Lampung - 10 Doa Tolak Bala, Arab Latin dan Artinya (pengertian bala dan anjuran merutinkan)
- NU Online Jateng - Allah Menyertakan Ampunan Ketika Musibah Datang (musibah sebagai penghapus dosa, HR Bukhari dan Muslim)
- NU Online Jatim - Hukum Melaksanakan Ibadah Khusus pada Rebo Wekasan (status dalil tradisi, hadits la 'adwa wa la shafara)
- NU Online - Hukum Shalat Rebo Wekasan dan Tata Caranya (pandangan KH Hasyim Asy'ari dan Syekh Abdul Hamid Quds)
- Muhammadiyah - Hukum Membuat dan Menggunakan Jimat (definisi jimat dan hukum syirik, HR Abu Dawud)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


