NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Doa Qobliyah Subuh: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Sholat Sunnah Fajar

Doa qobliyah subuh yang dicari kebanyakan orang sebenarnya adalah lafal niat sholat sunnah fajar, yaitu Ushalli sunnatas subhi rak'ataini lillahi ta'ala. Sholat qobliyah subuh adalah dua rakaat sunnah muakkad yang dikerjakan sebelum sholat Subuh, dan keutamaannya luar biasa: dalam riwayat Muslim, dua rakaat fajar disebut lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Sekelompok pemuda berdiri bersedekap dalam barisan sholat Subuh berjamaah di dalam ruangan

Jamaah menunaikan sholat Subuh berjamaah, 31 Januari 2026. Qobliyah Subuh dikerjakan sebelum sholat fardhu ini. Foto: Dicky Herlambang / Wikimedia Commons, CC0

Doa qobliyah subuh yang dicari kebanyakan orang sebenarnya adalah lafal niat sholat sunnah fajar. Sholat qobliyah subuh adalah dua rakaat sholat sunnah yang dikerjakan sebelum sholat Subuh, dan dalam mazhab Syafi'i ia termasuk sunnah rawatib yang muakkad, yaitu yang paling ditekankan. Karena tata cara bacaannya sama dengan sholat pada umumnya, yang membedakan hanyalah niatnya, maka wajar bila banyak orang menyebut "doa qobliyah subuh" untuk merujuk pada lafal niat tersebut. Artikel ini menyajikan niat qobliyah subuh dalam Arab, latin, dan artinya, ditambah keutamaannya yang istimewa, waktu dan surat yang dianjurkan, tata cara, sampai hukum mengqadhanya bila terlewat, sebagaimana dihimpun NU Online. Pembahasan seluruh sholat rawatib secara umum bisa Anda baca di artikel sholat rawatib apa saja, sedangkan halaman ini fokus mendalami satu rawatib yang paling istimewa: qobliyah Subuh.

Doa dan Niat Qobliyah Subuh (Sunnah Fajar)

Perlu diluruskan sejak awal, tidak ada satu bacaan panjang khusus bernama "doa qobliyah subuh" yang dibaca terpisah. Yang dimaksud adalah lafal niat sholat sunnah Subuh, lalu dilanjutkan bacaan sholat seperti biasa dari takbiratul ihram, Al-Fatihah, surat, rukuk, sujud, sampai salam. Berikut lafal niat qobliyah Subuh menurut NU Online:

اُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Ushalli sunnatas subhi rak'ataini lillahi ta'ala.

Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sunnah Subuh dua rakaat karena Allah Ta'ala."

NU Online menukil lafal ini dari kitab Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sebagian orang juga memakai redaksi yang menyebut kata "fajar", yaitu Ushalli sunnatal fajri rak'ataini lillahi ta'ala (Aku niat sholat sunnah fajar dua rakaat karena Allah Ta'ala). Keduanya sama-sama sah karena sholat sunnah Subuh memang dikenal juga dengan nama sholat sunnah fajar. Ada pula yang menambahkan kata qabliyyatan (yang berarti "sebelum") di dalamnya, mengikuti pola penulisan niat rawatib pada umumnya.

Anda mungkin menjumpai dua ejaan yang berbeda: "qobliyah" dan "qabliyah". Keduanya merujuk pada kata Arab yang sama, yaitu qabliyyah yang berarti "yang sebelum", jadi tidak ada perbedaan makna. Ejaan "qobliyah" lebih sering dipakai orang saat mengetik di kolom pencarian, sedangkan "qabliyah" lebih dekat dengan transliterasi baku. Apa pun ejaannya, yang dimaksud tetap sholat sunnah dua rakaat sebelum Subuh. Karena itu, saat mencari "doa qobliyah subuh", yang sebenarnya dibutuhkan orang adalah lafal niat di atas, ditambah pemahaman soal keutamaan dan tata caranya, bukan bacaan doa yang berdiri sendiri.

Yang penting dipahami, niat pada dasarnya adalah pekerjaan hati, yaitu menyengaja melakukan sholat sunnah Subuh karena Allah. Melafalkannya dengan lisan hanyalah anjuran untuk membantu kemantapan hati, bukan syarat sahnya. Jadi bila Anda belum hafal lafal Arabnya, kehadiran niat di dalam hati saat takbiratul ihram sudah mencukupi. Yang membedakan niat sunnah ini dengan niat sholat fardhu Subuh hanyalah kata sunnah menggantikan kata fardhu, sisanya serupa. Adapun rangkaian bacaan di dalam sholatnya sendiri, mulai doa iftitah, Al-Fatihah, sampai tasyahud, tidak berbeda dengan sholat lain dan teks lengkapnya sudah tersedia di artikel bacaan sholat. Untuk konteks niat sholat fardhu Subuh yang dikerjakan sesudahnya, silakan lihat niat sholat 5 waktu.

Pro Tip: Karena qobliyah Subuh dan sholat Subuh berdekatan sekali waktunya, siapkan niat yang berbeda untuk keduanya. Saat berdiri untuk dua rakaat pertama, niatkan sunnah Subuh; setelah salam dan berdiri lagi untuk sholat wajib, barulah niatkan fardhu Subuh. Membedakan dua niat ini di dalam hati mencegah tertukar, terutama saat masih mengantuk di waktu Subuh.

Keutamaan: Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Meski hanya dua rakaat dan tampak ringan, qobliyah Subuh menyimpan keutamaan yang jarang tertandingi amalan sunnah lain. Rasulullah bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Latin: Rak'ataal fajri khairun minad dunya wa maa fiiha.

Artinya: "Dua rakaat (sholat) fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR Muslim)

Sebagian orang bertanya, apakah "dua rakaat fajar" dalam hadits ini maksudnya sholat Subuh yang fardhu atau sholat sunnah sebelum Subuh? NU Online menjelaskan bahwa Imam Abu Hasan al-Mubarakfuri mengartikan dua rakaat fajar pada hadits tersebut sebagai sholat sunnah fajar, sehingga yang dimaksud adalah sholat qobliyah Subuh. Artinya, dua rakaat sunnah yang sering diremehkan karena dianggap sekadar pelengkap justru dinilai lebih berharga daripada seluruh dunia beserta isinya.

Keistimewaan ini diperkuat oleh kebiasaan Nabi sendiri. Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah bahwa Nabi tidak pernah lebih memperhatikan satu pun sholat sunnah melebihi perhatian beliau pada dua rakaat qobliyah fajar (HR Bukhari). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau meringkas dan menyegerakan dua rakaat ini, tanda bahwa nilainya tidak diukur dari panjang bacaannya, melainkan dari kesungguhan menjaganya setiap hari. Karena itulah para ulama menempatkan qobliyah Subuh sebagai rawatib yang paling ditekankan di antara semua rawatib.

Menariknya, waktu fajar secara umum memang sarat keutamaan, sehingga kadang muncul pertanyaan mana yang dimaksud dalam sebuah hadits. NU Online mengutip Imam al-Munawi yang menjelaskan hadits "Barang siapa melaksanakan sholat fajar dengan ikhlas maka dia berada dalam jaminan Allah", lalu menegaskan bahwa "sholat fajar" dalam hadits itu, menurut sebagian riwayat, mengarah pada sholat Subuh yang fardhu. Jadi keutamaan "berada dalam jaminan Allah" tertuju pada sholat Subuh, sedangkan keutamaan "lebih baik dari dunia dan seisinya" tertuju pada dua rakaat sunnahnya. Memahami pemetaan ini penting agar kita tidak mencampuradukkan keutamaan sunnah dengan keutamaan fardhu, meski keduanya sama-sama dikerjakan di waktu fajar dan sama-sama layak dijaga.

Pemetaan dua keutamaan: dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya (HR Muslim) ditujukan pada sholat qobliyah Subuh menurut al-Mubarakfuri, sedangkan berada dalam jaminan Allah ditujukan pada sholat Subuh fardhu menurut penjelasan al-Munawi
Memisahkan dua keutamaan ini mencegah keutamaan sunnah tertukar dengan keutamaan fardhu. Sumber: NU Online Jombang, Mengenal Shalat Fajar dan NU Online Jatim, Penjelasan Pahala Shalat Fajar.
Key Takeaway: Kalau Anda hanya sanggup menjaga satu sholat sunnah setiap hari, jadikan qobliyah Subuh pilihan pertama. Dua rakaat, waktunya jelas menjelang Subuh, dan dalam riwayat Muslim pahalanya digambarkan melebihi dunia dan seisinya. Ini investasi ibadah dengan modal paling ringan tetapi nilai paling besar.

Waktu dan Surat yang Dianjurkan

Waktu qobliyah Subuh dimulai setelah masuk waktu Subuh, yaitu setelah terbit fajar shadiq yang ditandai dengan azan Subuh, dan berakhir ketika sholat Subuh ditunaikan. Karena rentang waktu Subuh relatif singkat, dua rakaat ini sebaiknya disegerakan begitu azan selesai, lalu langsung menyusul sholat fardhunya. Untuk memastikan Anda tidak keliru soal awal waktu Subuh di daerah masing-masing, gunakan jadwal sholat kota Anda yang dihitung berdasarkan koordinat setempat.

Ada satu adab yang sering terlewat: ulama mazhab Syafi'i menganjurkan seseorang berbaring sejenak sebagai pemisah antara sholat sunnah Subuh dan sholat Subuh. Anjuran berbaring sebentar ini bersandar pada praktik yang diriwayatkan dari Nabi dan menjadi penanda peralihan dari amalan sunnah ke amalan wajib. Namun ini sebatas anjuran kesempurnaan, bukan keharusan, sehingga tidak mengapa bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya karena khawatir kehabisan waktu atau tertinggal jamaah.

Urutan amalan waktu Subuh: azan Subuh menandai masuk waktu, qobliyah dua rakaat dengan Al-Kafirun dan Al-Ikhlas, berbaring sejenak sebagai anjuran pemisah menurut ulama Syafi'i, lalu sholat Subuh fardhu
Berbaring sejenak adalah anjuran kesempurnaan, jadi boleh dilewati bila waktu sempit. Sumber: NU Online Lampung, Dalil Shalat Sunnah Subuh atau Fajar.

Soal bacaan surat, ada tuntunan khusus untuk qobliyah Subuh. NU Online menyebut bahwa Rasulullah cukup membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama (setelah Al-Fatihah) dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua (setelah Al-Fatihah). Menariknya, pemilihan dua surat pendek ini sejalan dengan sifat qobliyah Subuh yang dianjurkan diringkas dan disegerakan. Meski begitu, membaca surat pendek lain yang Anda kuasai tetap sah; anjuran Al-Kafirun dan Al-Ikhlas adalah bentuk penyempurnaan, bukan syarat.

Perlu dicatat, awal waktu ini bergantung pada terbitnya fajar shadiq, yaitu cahaya putih yang membentang horizontal di ufuk timur dan menandai masuknya waktu Subuh, bukan fajar kadzib yang menyembul tegak lalu menghilang. Karena itu, patokan yang paling praktis bagi kebanyakan orang adalah azan Subuh di daerahnya. Begitu azan berkumandang, waktu qobliyah Subuh sudah terbuka, dan sejak saat itu pula amalan ini bisa dikerjakan sampai sebelum sholat Subuh ditunaikan.

Selain itu, sebagian ulama seperti yang dikutip dalam kitab Nihayatuz Zain menganjurkan membaca wirid khusus seusai sholat sunnah ini. NU Online merinci wirid tersebut antara lain: kalimat Ya Hayyu Ya Qayyum laa ilaaha illa anta sebanyak empat puluh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali, surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing sekali, serta bacaan tasbih, tahmid, dan istighfar sebanyak seratus kali. Anjuran wirid ini bersifat tambahan dan sifatnya penyempurnaan; inti amalannya tetap pada dua rakaat sunnah itu sendiri, sehingga tidak perlu merasa amalannya kurang bila belum sempat membaca seluruh wiridnya. Bila Anda ingin merutinkan zikir pagi setelah Subuh, panduannya ada di artikel dzikir pagi petang.

Tata Cara Sholat Qobliyah Subuh

Secara teknis, mengerjakan qobliyah Subuh sama persis dengan sholat dua rakaat pada umumnya. Berikut urutannya supaya lebih jelas:

  1. Pastikan waktu Subuh sudah masuk (azan Subuh sudah berkumandang), lalu berdiri menghadap kiblat.
  2. Niat sholat sunnah Subuh dua rakaat, dihadirkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Bila ingin, lafalkan niat sebelumnya sebagai penguat.
  3. Kerjakan rakaat pertama seperti biasa: takbiratul ihram, doa iftitah, Al-Fatihah, lalu surat Al-Kafirun, dilanjutkan rukuk, iktidal, dan dua sujud.
  4. Bangkit ke rakaat kedua: Al-Fatihah lalu surat Al-Ikhlas, lalu rukuk, iktidal, dua sujud, tasyahud akhir, dan salam.
  5. Setelah salam, dianjurkan berbaring sejenak, lalu bersiap menunaikan sholat Subuh (berjamaah bila memungkinkan).
Isi dua rakaat qobliyah Subuh: rakaat pertama takbiratul ihram, doa iftitah, Al-Fatihah, Al-Kafirun, rukuk, iktidal, dan dua sujud; rakaat kedua Al-Fatihah, Al-Ikhlas, rukuk, iktidal, dua sujud, tasyahud akhir, dan salam
Pembedanya hanya niat dan surat yang dianjurkan pada tiap rakaat. Sumber: NU Online, Dua Rakaat sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya.

Perlu diingat, qobliyah Subuh termasuk sholat sunnah yang dikerjakan sendiri-sendiri, tidak berjamaah, dan lebih utama dilaksanakan di rumah sebagaimana rawatib pada umumnya. Karena sifatnya amalan pribadi, tidak ada anjuran mengeraskan bacaan seperti seorang imam. Kerjakan dengan tenang dan tidak tergesa, meski tetap ringkas mengingat waktu Subuh yang sempit. Rincian bacaan tiap gerakan, dari doa iftitah sampai tahiyat, bisa Anda pelajari di artikel bacaan sholat agar tidak perlu diulang di sini.

Ada satu situasi praktis yang sering ditemui: bagaimana bila kita datang ke masjid dan iqamah Subuh sudah dikumandangkan padahal belum sempat qobliyah? Dalam kondisi seperti ini, mendahulukan sholat fardhu berjamaah lebih diutamakan, dan qobliyah Subuh dapat diqadha setelahnya sebagaimana dibahas di bagian berikutnya. Jangan sampai memaksakan diri mengerjakan sunnah dua rakaat ketika jamaah sudah mulai, karena keutamaan berjamaah pada sholat wajib lebih besar. Ketenangan mengatur prioritas seperti ini justru bagian dari memahami kedudukan sunnah: ia dianjurkan, tetapi tidak boleh mengalahkan yang wajib.

Satu catatan penting agar tidak keliru: qobliyah Subuh berbeda dengan qunut. Qunut dibaca di dalam sholat Subuh yang fardhu, yaitu pada rakaat kedua setelah iktidal, bukan pada sholat sunnah dua rakaat ini. Jadi qobliyah Subuh dikerjakan lebih dulu sebagai sholat sunnah tersendiri, baru kemudian sholat Subuh fardhu yang di dalamnya ada qunut menurut mazhab Syafi'i. Penjelasan lengkap soal qunut ada di artikel doa qunut.

Perbedaan qobliyah Subuh dan sholat Subuh fardhu
AspekQobliyah SubuhSholat Subuh
HukumSunnah muakkadFardhu
Jumlah rakaatDua rakaatDua rakaat
NiatUshalli sunnatas subhiNiat fardhu Subuh
PelaksanaanSendiri, lebih utama di rumahDianjurkan berjamaah
QunutTidak adaDibaca pada rakaat kedua menurut mazhab Syafi'i
Bacaan suratDianjurkan Al-Kafirun dan Al-IkhlasSesuai yang dibaca imam atau yang dikuasai

Hukum Mengqadha Qobliyah Subuh yang Terlewat

Bagaimana kalau kita bangun kesiangan dan langsung menunaikan sholat Subuh tanpa sempat qobliyah? Karena statusnya sunnah, meninggalkannya tidak berdosa dan tidak mengurangi keabsahan sholat Subuh kita. Namun agar keutamaannya tidak hilang begitu saja, para ulama membahas kemungkinan mengqadhanya.

Menurut NU Online, pendapat yang sahih dalam mazhab Syafi'i adalah disunahkannya mengqadha sholat sunnah rawatib yang terlewat, termasuk qobliyah Subuh. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa pendapat sahih mazhab Syafi'i adalah sunnahnya mengqadha rawatib, sebagaimana juga menjadi pendapat sebagian ulama lain. Adapun Abu Hanifah, Imam Malik, dan Abu Yusuf dalam riwayat yang masyhur berpendapat bahwa rawatib yang terlewat tidak perlu diqadha. Perbedaan ini soal keutamaan mengqadha, bukan soal sah atau batalnya sholat.

Dalil kalangan Syafi'iyah antara lain hadits riwayat At-Tirmidzi bahwa Nabi menganjurkan orang yang belum sempat mengerjakan dua rakaat sebelum Subuh untuk mengerjakannya setelah matahari terbit. Terjemahnya kurang lebih, "Siapa yang tidak mengerjakan sholat dua rakaat fajar, hendaklah ia mengerjakannya setelah matahari terbit." Praktisnya, bila qobliyah Subuh terlewat, Anda bisa menggantinya setelah matahari agak meninggi, yaitu ketika waktu yang dimakruhkan untuk sholat sudah berlalu.

Prinsip mengqadha rawatib ini tidak khusus untuk qobliyah Subuh saja. NU Online juga menukil riwayat Ummu Salamah dalam Sahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi pernah mengerjakan dua rakaat ba'diyah Zuhur setelah sholat Ashar ketika beliau berhalangan mengerjakannya pada waktunya. Contoh dari Nabi ini menjadi dasar bahwa sholat sunnah yang menempel pada fardhu tetap bisa disusul di lain waktu. Jadi kalau ada hari ketika Anda bangun terlambat dan hanya sempat sholat Subuh, jangan menganggap kesempatan qobliyah Subuh hilang total; masih ada ruang untuk mengqadhanya setelah matahari terbit dengan pahala yang tetap dijanjikan.

Tiga keadaan saat qobliyah Subuh terlewat: iqamah sudah dikumandangkan maka dahulukan fardhu berjamaah, sudah selesai sholat Subuh maka disunnahkan qadha setelah matahari agak meninggi menurut pendapat sahih mazhab Syafi'i, tidak sempat mengqadha maka tidak berdosa karena anjuran
Mengqadha adalah upaya meraih keutamaan, bukan menebus dosa. Sumber: NU Online, Hukum Menqadha Shalat Sunnah.
Catatan: Mengqadha qobliyah Subuh adalah anjuran, bukan kewajiban. Kalau memang tidak sempat mengqadhanya pun, tidak ada dosa yang ditanggung. Jangan sampai perkara sunnah ini justru menimbulkan rasa bersalah berlebihan; niatkan mengqadha sebagai upaya meraih keutamaan, bukan menebus dosa.

Kesalahan Umum Seputar Qobliyah Subuh

Setelah memahami niat, keutamaan, dan tata caranya, ada beberapa salah paham yang perlu diluruskan agar amalan kita tepat:

  • Mencari "doa qobliyah subuh" berupa bacaan panjang. Yang dimaksud sebenarnya adalah lafal niatnya. Setelah niat, bacaannya sama dengan sholat biasa, bukan doa khusus yang terpisah.
  • Menyamakan qobliyah Subuh dengan qunut. Qunut dibaca di dalam sholat Subuh yang fardhu, sedangkan qobliyah Subuh adalah sholat sunnah dua rakaat sebelumnya. Keduanya amalan yang berbeda.
  • Menganggapnya wajib. Qobliyah Subuh hukumnya sunnah, meski muakkad. Meninggalkannya tidak membatalkan dan tidak mengurangi sahnya sholat Subuh, hanya kehilangan keutamaannya.
  • Melewatkannya karena merasa waktunya mepet. Justru karena waktu Subuh singkat, dua rakaat ini dianjurkan diringkas dan disegerakan, bukan ditinggalkan. Cukup dengan Al-Kafirun dan Al-Ikhlas, amalannya sudah utuh.
  • Mengerjakannya berjamaah. Rawatib termasuk qobliyah Subuh dikerjakan sendiri-sendiri dan lebih utama di rumah, berbeda dengan sholat Subuh fardhu yang dianjurkan berjamaah.
Ringkasan: "Doa qobliyah subuh" merujuk pada niat sholat sunnah fajar, yaitu Ushalli sunnatas subhi rak'ataini lillahi ta'ala. Ia dua rakaat sunnah muakkad sebelum Subuh, keutamaannya lebih baik dari dunia dan seisinya (HR Muslim), dianjurkan membaca Al-Kafirun lalu Al-Ikhlas, dan bila terlewat disunahkan diqadha setelah matahari terbit menurut mazhab Syafi'i.

Bila masih ada persoalan pribadi seputar qobliyah Subuh, misalnya sering kesiangan, ragu soal batas waktu, atau kondisi safar, silakan tanyakan lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami detail keadaan Anda. Untuk melengkapi amalan seusai Subuh, Anda juga bisa membaca doa setelah sholat dan merutinkan zikir pagi.

Waktu sholat hari ini. Jam Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya tersedia di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari. Untuk wilayah lain, buka jadwal sholat per kota.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa qobliyah subuh

TApa itu doa qobliyah subuh?

Yang dimaksud doa qobliyah subuh adalah lafal niat sholat sunnah fajar, yaitu 'Ushalli sunnatas subhi rak'ataini lillahi ta'ala' yang artinya 'Aku menyengaja sembahyang sunnah Subuh dua rakaat karena Allah Ta'ala'. Setelah niat, bacaannya sama dengan sholat biasa, tidak ada doa panjang khusus yang terpisah.

TBerapa rakaat sholat qobliyah subuh?

Sholat qobliyah subuh berjumlah dua rakaat, dikerjakan sebelum sholat Subuh. Dalam mazhab Syafi'i ia termasuk sunnah rawatib yang muakkad, yaitu yang paling ditekankan di antara semua rawatib.

TApa keutamaan sholat qobliyah subuh?

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah menyebut dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya. Menurut NU Online, Imam al-Mubarakfuri mengartikan dua rakaat fajar pada hadits itu sebagai sholat sunnah qobliyah Subuh, sehingga keutamaan istimewa ini tertuju padanya.

TSurat apa yang dibaca saat qobliyah subuh?

NU Online menyebut Rasulullah cukup membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, masing-masing setelah Al-Fatihah. Ini anjuran penyempurnaan; membaca surat pendek lain yang dikuasai tetap sah.

TKapan waktu sholat qobliyah subuh?

Waktunya dimulai setelah masuk waktu Subuh (setelah azan Subuh) dan berakhir saat sholat Subuh ditunaikan. Karena waktu Subuh singkat, qobliyah Subuh sebaiknya disegerakan begitu azan selesai lalu langsung menyusul sholat fardhunya.

TBolehkah mengqadha qobliyah subuh yang terlewat?

Boleh. Menurut pendapat sahih mazhab Syafi'i sebagaimana dikutip NU Online, mengqadha sholat sunnah rawatib yang terlewat itu disunahkan. Berdasarkan riwayat At-Tirmidzi, dua rakaat sebelum Subuh yang terlewat bisa dikerjakan setelah matahari terbit. Namun ini anjuran, bukan kewajiban.

TBagaimana kalau iqamah Subuh sudah dikumandangkan padahal belum sempat qobliyah?

Dahulukan sholat fardhu berjamaah, karena keutamaan berjamaah pada sholat wajib lebih besar. Qobliyah Subuh bisa diqadha setelah matahari agak meninggi. Menurut pendapat sahih mazhab Syafi'i yang dikutip NU Online, mengqadha rawatib yang terlewat disunnahkan, tetapi bukan kewajiban.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat