NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Doa Mayit Perempuan: Bacaan Lengkap, Artinya, dan Keadaan Khususnya

Doa mayit perempuan yang dibaca setelah takbir ketiga dalam sholat jenazah dimulai dengan lafal Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha, yang berarti "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, afiatkanlah dia, dan maafkanlah dia". Ciri khas doa untuk mayit perempuan adalah pemakaian dhamir atau kata ganti "ha" di ujung tiap kata, penanda bahwa yang sedang didoakan adalah jenazah perempuan, sebagai lawan dari "hu" untuk jenazah laki-laki.

Doa Mayit Perempuan: Bacaan Lengkap, Artinya, dan Keadaan Khususnya

Foto sampul: Deretan makam di kompleks Makam Islam Karangkajen, Yogyakarta. Foto oleh Makamindo, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons (dipotong dan diperkecil).

Doa mayit perempuan yang dibaca setelah takbir ketiga dalam sholat jenazah dimulai dengan lafal Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha, yang berarti "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, afiatkanlah dia, dan maafkanlah dia". Doa inilah inti dari sholat jenazah, sebab mendoakan si mayit adalah maksud utama disyariatkannya sholat tersebut. Ciri khas lafal untuk mayit perempuan terletak pada pemakaian dhamir atau kata ganti ha di ujung tiap kata, sebagai lawan dari hu yang dipakai bila jenazahnya laki-laki. Artikel ini menyajikan bacaannya secara lengkap dalam Arab, latin, dan arti, membedah maknanya kalimat demi kalimat, lalu menjelaskan kata ganti perempuan beserta bentuk jamaknya dan beberapa keadaan khusus, dengan rujukan NU Online. Adapun tata cara empat takbirnya secara utuh, dari niat sampai salam, sudah kami bahas terpisah di tata cara sholat jenazah.

Bacaan Doa Mayit Perempuan setelah Takbir Ketiga

Ada dua hal yang perlu Anda ketahui: bacaan minimal yang sudah mengesahkan sholat, dan bacaan lengkap yang lebih sempurna. Keduanya sah, jadi tidak perlu panik bila Anda hanya hafal yang pendek, apalagi kalau yang wafat adalah ibu, istri, atau saudari Anda sendiri dan hati sedang tidak keruan.

Bacaan minimal yang sudah mencukupi untuk mayit perempuan hanya tiga kata:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهاَ

Latin: Allahummaghfir laha.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia (perempuan)."

NU Online dalam kajian Bahtsul Masail menegaskan bahwa rukun mendoakan jenazah sudah terpenuhi dengan doa sekecil apa pun yang layak disebut doa untuk kebaikan akhirat si mayit, bahkan dengan kalimat sependek "Allahummarhamha" (ya Allah, rahmatilah dia). Dasarnya hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Apabila kalian menyolatkan jenazah, ikhlaskanlah doa untuknya" (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Jadi kalau Anda benar-benar tidak hafal apa pun, simpan lafal pendek di atas sebagai jaring pengaman.

Adapun doa yang lebih lengkap untuk mayit perempuan, sebagaimana dimuat NU Online, berbunyi seperti ini:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهاَ وَارْحَمْهاَ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهاَ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهاَ. اللّهُمَّ ابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهاَ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهاَ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهاَ ووسِّعْ مَدْخَلَهاَ

Latin: Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha, waj'alil jannata matswaha. Allahummab dilha daran khairan min dariha, wa zaujan khairan min zaujiha wa ahlan khairan min ahliha. Allahumma innahu nazala bika wa anta khairu manzulin biha. Allahumma akrim nuzulaha wa wassi' madkhalaha.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berilah ia afiat (keselamatan), dan maafkanlah dia. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya. Ya Allah, gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, pasangan yang lebih baik daripada pasangannya, dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya. Ya Allah, sesungguhnya ia telah singgah kepada-Mu, sedangkan Engkau sebaik-baik tempat singgah. Ya Allah, muliakanlah kedatangannya dan lapangkanlah tempat masuknya (kuburnya)."

Catatan penting: riwayat doa takbir ketiga ini beragam, sehingga panjang redaksinya berbeda-beda antar sumber dan semuanya baik. Versi di atas menonjolkan permohonan agar jenazah ditempatkan di surga dan dimuliakan kedatangannya di sisi Allah. Ada pula redaksi lain yang lebih menekankan permohonan "mandikanlah ia dengan air, salju, dan embun, serta bersihkanlah ia dari kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran". Redaksi yang menyebut mandi itu kami sajikan lengkap di artikel tata cara sholat jenazah. Anda cukup memilih salah satu, tidak perlu membaca keduanya sekaligus.

Perlu diketahui, doa ini hanya salah satu dari empat bacaan dalam sholat jenazah. Sebelum takbir ketiga ada Al-Fatihah (setelah takbir pertama) dan shalawat (setelah takbir kedua), yang lafalnya sama persis baik jenazahnya laki-laki maupun perempuan. Setelah takbir keempat ada doa penutup, lalu salam. Dari seluruh rangkaian itu, satu-satunya bagian yang benar-benar berubah menurut jenis kelamin jenazah adalah kata ganti pada doa takbir ketiga dan keempat. Karena itu, memahami doa takbir ketiga di atas sudah menutup sebagian besar kebutuhan Anda di lapangan.

Urutan empat takbir sholat jenazah: takbir pertama membaca Al-Fatihah, takbir kedua membaca shalawat, takbir ketiga membaca doa untuk mayit dengan kata ganti ha, takbir keempat membaca doa penutup lalu salam
Al-Fatihah dan shalawat dibaca sama untuk semua jenazah, sedangkan doa setelah takbir ketiga dan keempat memakai kata ganti perempuan. Sumber: NU Online, Tata Cara Melaksanakan Shalat Jenazah, diagram oleh Ngajia.

Makna Doa Mayit Perempuan Kalimat demi Kalimat

Banyak orang menghafal doa ini sebagai rangkaian bunyi tanpa tahu isinya. Padahal, kalau dipahami, doa takbir ketiga adalah rangkaian permohonan yang tertata rapi untuk kepentingan si mayit di alam barzakh dan akhirat. Kalau kita kelompokkan, isinya bergerak dari permohonan ampunan, ke permohonan tempat kembali yang mulia, lalu ke penghormatan si mayit sebagai tamu Allah.

Kelompok pertama, permohonan ampunan dan rahmat. Empat kata pembuka, ighfir laha (ampunilah dia), warhamha (rahmatilah dia), wa 'afiha (afiatkanlah dia), dan wa'fu 'anha (maafkanlah dia), adalah inti permohonan. Yang paling dibutuhkan seorang yang sudah wafat bukan lagi harta atau kesehatan, melainkan pengampunan atas dosa. Setelah ampunan, dimohonkan rahmat, karena tidak ada yang masuk surga semata karena amalnya tanpa rahmat Allah. Lalu dimohonkan afiat, yaitu keselamatan dari siksa dan dari segala yang tidak diinginkan di alam kubur, dan dimohonkan pula agar Allah memaafkan sampai bekas kesalahannya tidak lagi diperhitungkan.

Kelompok kedua, permohonan tempat kembali yang lebih baik. Kalimat waj'alil jannata matswaha (jadikanlah surga tempat tinggalnya) adalah puncak harapan seorang mukmin. Dilanjutkan permohonan abdilha daran khairan min dariha (gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya), lalu pasangan dan keluarga yang lebih baik daripada yang ia tinggalkan di dunia. Permohonan pasangan yang lebih baik ini bukan berarti merendahkan suaminya di dunia, melainkan menegaskan bahwa kebaikan akhirat tidak tertandingi oleh apa pun yang paling ia cintai di dunia. Doa ini berlaku umum untuk mayit perempuan, entah ia seorang istri, seorang ibu, seorang anak yang sudah dewasa, maupun yang belum sempat menikah.

Kelompok ketiga, penghormatan sebagai tamu Allah. Kalimat nazala bika wa anta khairu manzulin biha mengibaratkan orang yang wafat sebagai tamu yang bertandang kepada Allah, sementara Allah adalah tuan rumah yang paling mulia dan pemurah kepada tamu-Nya. Ditutup dengan akrim nuzulaha wa wassi' madkhalaha (muliakanlah kedatangannya dan lapangkanlah tempat masuknya), yaitu permohonan agar kubur si mayit dilapangkan, bukan disempitkan seperti azab yang ditakuti.

Tiga kelompok isi doa mayit perempuan: permohonan ampunan, rahmat, afiat, dan maaf; permohonan surga serta rumah, pasangan, dan keluarga yang lebih baik; serta penghormatan almarhumah sebagai tamu Allah dengan kubur yang lapang
Membaca doa sambil mengingat tiga kelompok ini membantu menghayati maknanya, bukan sekadar melafalkan bunyi. Sumber lafal: NU Online, Tata Cara Melaksanakan Shalat Jenazah, pengelompokan dan diagram oleh Ngajia.
Key Takeaway: doa takbir ketiga merangkum semua yang dibutuhkan seorang yang sudah wafat dalam satu tarikan napas: ampunan, rahmat, keselamatan dari siksa, tempat yang mulia, dan kubur yang lapang. Membacanya sambil menghayati artinya membuat sholat jenazah terasa sebagai penghormatan terakhir yang tulus untuk almarhumah, bukan sekadar ritual yang dikejar selesai.

Kenapa Semua Berakhiran Ha, dan Bentuk Jamaknya

Inti perbedaan doa jenazah laki-laki dan perempuan bukan pada susunan kalimatnya, melainkan pada satu huruf di ujung tiap kata, yaitu dhamir atau kata ganti. Untuk mayit perempuan dipakai dhamir ha (dia, perempuan), dan untuk laki-laki dipakai hu (dia, laki-laki). NU Online sendiri memuat kedua versi doa itu berdampingan, dengan dhamir hu di ujung tiap kata untuk jenazah laki-laki dan dhamir ha untuk jenazah perempuan, sehingga aturannya bisa dibaca langsung dari perbandingan keduanya.

Kalau Anda perhatikan doa lengkap di atas, setiap katanya berakhiran ha: laha, warhamha, 'afiha, 'anha, matswaha, abdilha, dariha, zaujiha, ahliha, nuzulaha, sampai madkhalaha. Itulah wujud nyata dari aturan tersebut. Konsekuensinya melegakan: kalau Anda sudah hafal doa untuk jenazah laki-laki, Anda sebenarnya sudah hafal versi perempuannya juga, tinggal mengganti setiap bunyi "hu" menjadi "ha". Perbandingan lengkap kedua sisi, laki-laki dan perempuan, bisa Anda baca di doa jenazah laki-laki.

Bagaimana bila jenazahnya lebih dari satu perempuan? Di sinilah dhamir berubah lagi ke bentuk ganda (tastniyah) atau jamak. Untuk dua jenazah, dipakai dhamir huma, dan lafalnya menjadi:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلَهُمَا وَارْحَمْهُمَا وَعَافِهِمَا وَاعْفُ عَنْهُمَا

Latin: Allahummaghfir lahuma warhamhuma wa 'afihima wa'fu 'anhuma.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah keduanya, rahmatilah keduanya, afiatkanlah keduanya, dan maafkanlah keduanya."

NU Online melalui Bahtsul Masail membenarkan pemakaian dhamir tastniyah huma ini untuk kasus dua jenazah sekaligus. Perlu dicatat, bentuk huma dalam bahasa Arab tidak membedakan jenis kelamin, sehingga ia dipakai baik untuk dua jenazah perempuan, dua laki-laki, maupun satu laki-laki dan satu perempuan.

Adapun untuk jenazah yang seluruhnya perempuan dan berjumlah tiga atau lebih, dhamir yang dipakai adalah hunna, sehingga terbaca lahunna, warhamhunna, dan seterusnya. Yang perlu dipahami, dhamir hunna hanya dipakai bila seluruh jenazahnya perempuan tanpa kecuali. Begitu ada satu saja jenazah laki-laki di antara mereka, dhamir yang dipakai berpindah ke bentuk maskulin jamak hum (lahum), mengikuti kaidah taghlib dalam bahasa Arab yang memenangkan bentuk laki-laki ketika terjadi percampuran. Karena bacaan hunna ini tidak selalu kami temukan tertulis lengkap dalam Arab pada laman rujukan, kami menyebutkannya di sini apa adanya dalam bentuk transliterasi dan kaidahnya, bukan sebagai kutipan lafal yang dipatok satu sumber.

Perubahan kata ganti dalam doa jenazah: satu jenazah perempuan memakai ha seperti laha, dua jenazah memakai huma seperti lahuma, tiga atau lebih yang semuanya perempuan memakai hunna seperti lahunna, dan bila ada jenazah laki-laki di antaranya memakai hum seperti lahum
Susunan kalimat doanya tidak berubah, yang menyesuaikan hanya akhiran kata ganti menurut jumlah dan jenis kelamin jenazah. Sumber: NU Online, Cara Shalat Jenazah bagi Orang yang Tidak Hafal Doanya, ditambah kaidah taghlib bahasa Arab, diagram oleh Ngajia.

Supaya mudah diingat di rumah duka, berikut ringkasan kata ganti yang dipakai pada awal doa takbir ketiga menurut keadaan jenazahnya:

Kata ganti pada awal doa takbir ketiga menurut keadaan jenazah
Keadaan jenazahKata gantiAwal doa (latin)Dasar
Satu jenazah perempuanhaAllahummaghfir laha warhamhaLafal NU Online untuk jenazah perempuan
Satu jenazah laki-lakihuAllahummaghfir lahu warhamhuLafal NU Online untuk jenazah laki-laki
Dua jenazah, jenis kelamin apa punhumaAllahummaghfir lahuma warhamhumaBahtsul Masail NU Online (dhamir tastniyah)
Tiga atau lebih, semuanya perempuanhunnalahunna, warhamhunnaKaidah bahasa Arab, disajikan dalam transliterasi
Tiga atau lebih, ada laki-laki di antaranyahumlahum, warhamhumKaidah taghlib bahasa Arab
Jenis kelamin tidak diketahuihu atau haKeduanya sahNU Online (makna syakhs atau janazah)

Doa Mayit Perempuan dalam Keadaan Khusus

Beberapa keadaan menuntut penyesuaian, dan sebagian di antaranya sering menimbulkan kebingungan di rumah duka. Berikut yang paling sering ditanyakan seputar mayit perempuan.

  • Jenazah anak perempuan yang belum dewasa. Menurut NU Online, doa setelah takbir ketiga untuk jenazah anak tidak berhenti pada permohonan ampunan seperti pada orang dewasa, sebab anak kecil belum terbebani dosa. Doanya justru diarahkan untuk kepentingan kedua orang tuanya, dengan memohon agar sang anak menjadi farat, yaitu pendahulu yang menanti dan memberi manfaat, sekaligus pemberi syafaat yang memberatkan timbangan amal ayah dan ibunya. Untuk anak perempuan dipakai dhamir ha dan sebutan ath-thiflah (untuk anak laki-laki dipakai ath-thifl). Lafal Arab lengkap doa anak ini kami muat utuh di artikel tata cara sholat jenazah agar tidak terpotong, dan bisa Anda salin persis dari sana.
  • Mayit perempuan yang wafat saat hamil atau melahirkan. Ada anggapan keliru bahwa perempuan yang wafat karena melahirkan itu syahid sehingga jenazahnya tidak perlu dimandikan dan tidak perlu disholatkan. Ini keliru dan berakibat kewajiban terbengkalai. NU Online menjelaskan bahwa ketentuan syahid yang tidak dimandikan dan tidak disholatkan itu khusus bagi yang gugur di medan perang, sedangkan perempuan yang wafat saat melahirkan tergolong syahid akhirat yang jenazahnya tetap dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan seperti biasa, memakai doa bentuk perempuan di atas. Pembahasan lengkapnya, termasuk ketentuan janin, kami uraikan di niat sholat jenazah perempuan.
  • Jenis kelamin jenazah tidak diketahui. Pada korban kecelakaan atau bencana yang sulit dikenali, NU Online membolehkan Anda memakai dhamir laki-laki (hu) dengan menghadirkan makna kata syakhs (seseorang) atau mayyit yang tergolong maskulin, atau memakai dhamir perempuan (ha) dengan menghadirkan makna kata janazah yang tergolong feminin. Keduanya sah, jadi tidak perlu ragu.
Catatan untuk makmum: menurut penjelasan Bahtsul Masail NU Online, mendoakan mayit setelah takbir ketiga merupakan kewajiban setiap orang yang melaksanakan sholat jenazah, termasuk makmum. Jadi, makmum tetap membaca doa dengan suara lirih, bukan hanya mengaminkan doa imam. Jika belum hafal bacaan panjang, pelajari doa minimal yang dijelaskan sumber tersebut dan mintalah bimbingan untuk keadaan yang belum Anda pahami.

Posisi Imam saat Menyolatkan Mayit Perempuan

Selain kata ganti, ada satu pembeda praktis yang kelihatan mata: posisi berdiri imam. Menurut NU Online, imam dan orang yang sholat sendirian (munfarid) berdiri tepat di arah pantat atau bagian tengah tubuh jenazah perempuan, berbeda dengan jenazah laki-laki yang imamnya berdiri sejajar kepala. Aturan ini bersandar pada praktik para ulama karena mengikuti contoh Nabi (ittiba'), dan berlaku pula untuk khuntsa, yaitu orang yang jenis kelaminnya tidak jelas.

Yang sering disalahpahami, aturan posisi ini hanya berlaku untuk imam dan munfarid. Kalau Anda datang sebagai makmum, Anda cukup berdiri di belakang imam seperti sholat berjamaah biasa, tanpa perlu menggeser posisi menyesuaikan tubuh jenazah. Uraian lengkap soal posisi ini beserta arah kepala jenazah dan pembagian saf bisa Anda baca di niat sholat jenazah perempuan.

Perbandingan sholat jenazah perempuan dan laki-laki: kata ganti ha dengan contoh laha dan imam berdiri di bagian tengah tubuh jenazah, dibandingkan kata ganti hu dengan contoh lahu dan imam berdiri sejajar kepala jenazah
Posisi imam menyesuaikan jenazah, sedangkan makmum tetap berdiri di belakang imam dan membaca doanya sendiri dengan lirih. Sumber posisi: NU Online, Perawatan Jenazah Perempuan; ketentuan bacaan makmum dijelaskan dalam rujukan Bahtsul Masail di atas. Diagram oleh Ngajia.

Satu hal lagi yang berguna diketahui keluarga: soal siapa yang boleh menyolatkan, NU Online menegaskan bahwa siapa saja boleh menyolati jenazah perempuan, baik laki-laki apalagi perempuan. Jadi tidak ada keharusan jenazah perempuan hanya disholatkan oleh perempuan. Yang memang dibatasi adalah urusan memandikan, sebab jenazah perempuan hanya boleh dimandikan oleh perempuan, kecuali suami dan laki-laki yang punya hubungan mahram dengannya. Bila Anda ikut memandikan atau menyentuh jenazah lalu ragu soal kesucian diri sebelum sholat, pastikan dulu bersuci dengan benar, termasuk bila Anda perlu mandi wajib lebih dahulu. Untuk mengulang urutan bersuci sebelum sholat, gunakan panduan bacaan dan tata cara wudhu.

Kesalahan Umum Seputar Doa Mayit Perempuan

Kabar duka biasanya datang mendadak, jamaah berkumpul, dan sebagian baru sadar mereka tidak yakin caranya. Berikut kekeliruan yang paling sering muncul khusus seputar doa untuk mayit perempuan:

  • Keceplosan menukar laha dan lahu. Ini kekeliruan manusiawi dan tidak membatalkan sholat. Lebih baik dibiasakan benar, tetapi kalau terlanjur salah kata ganti, sholat Anda tetap sah. Ingat saja: ha untuk perempuan, hu untuk laki-laki.
  • Mengira harus hafal doa yang panjang. Tidak. Doa sependek Allahummaghfir laha sudah mengesahkan rukunnya. Jangan sampai rasa tidak hafal membuat Anda enggan ikut menyolatkan, padahal ini fardhu kifayah yang berpahala besar.
  • Mengira makmum cukup mengaminkan doa imam. NU Online menegaskan bahwa hal itu tidak mencukupi, karena doa untuk mayit juga wajib dibaca makmum. Bacaan doa dibaca lirih, bukan digantikan dengan amin atas doa imam. Bila tidak cakap membaca doa, ikuti penjelasan pengganti bacaan pada rujukan Bahtsul Masail dan bimbingan guru setempat.
  • Mengeraskan bacaan. Seluruh bacaan sholat jenazah, termasuk doa takbir ketiga, dibaca lirih, cukup terdengar diri sendiri, bahkan bila sholat dilakukan pada malam hari.
  • Mengira mayit perempuan yang wafat melahirkan tidak perlu disholatkan. Sudah dibahas di atas, ini keliru. Keutamaan syahid akhiratnya besar, tetapi perawatan jenazahnya tidak berubah, tetap dimandikan dan disholatkan seperti biasa.
Ringkasan cepat: doa mayit perempuan setelah takbir ketiga diawali Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha. Bacaan minimal yang sudah sah cukup Allahummaghfir laha. Ganti setiap akhiran hu menjadi ha, pakai huma untuk dua jenazah dan hunna untuk banyak jenazah yang semuanya perempuan. Imam berdiri sejajar pinggang jenazah, makmum tetap di belakang imam.

Doa untuk almarhumah tidak berhenti setelah salam. Anda bisa melanjutkannya dengan membiasakan doa untuk orang meninggal, dan ketika berziarah ke makamnya nanti, dengan doa ziarah kubur. Bila yang wafat adalah ibu Anda sendiri, biasakan pula membaca doa untuk kedua orang tua yang pahalanya terus mengalir. Pastikan pula sholat fardhu Anda sendiri tetap tepat waktu di tengah kesibukan takziah dengan memantau jadwal sholat kota Anda. Bila ada persoalan khusus, misalnya jenazah tidak lengkap anggota tubuhnya atau perselisihan adat di keluarga, silakan tanyakan lewat Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda.

Waktu sholat hari ini. Jam Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya tersedia di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari. Untuk wilayah lain, buka jadwal sholat per kota.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa mayit perempuan

TApa bacaan doa mayit perempuan setelah takbir ketiga?

Bacaannya diawali dengan Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha waj'alil jannata matswaha, dan seterusnya, yang berarti "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, afiatkanlah dia, maafkanlah dia, dan jadikanlah surga tempat tinggalnya". Doa ini dibaca sambil berdiri setelah takbir ketiga dengan suara lirih.

TApa doa mayit perempuan yang paling pendek?

Bacaan minimal yang sudah mengesahkan sholat hanya tiga kata, yaitu Allahummaghfir laha (Ya Allah, ampunilah dia). Menurut NU Online, rukun mendoakan jenazah sudah terpenuhi dengan doa sekecil apa pun yang layak disebut doa kebaikan akhirat, bahkan cukup dengan Allahummarhamha. Jadi bila Anda tidak hafal doa panjang, lafal pendek ini sudah sah.

TApa beda doa mayit perempuan dan laki-laki?

Susunan kalimatnya sama, yang berbeda hanya dhamir atau kata gantinya. Untuk mayit perempuan dipakai akhiran ha (laha, warhamha, 'afiha), sedangkan untuk laki-laki dipakai hu (lahu, warhamhu, 'afihi). Kalau sudah hafal doa untuk laki-laki, tinggal mengganti setiap bunyi hu menjadi ha untuk jenazah perempuan.

TBagaimana doa untuk dua jenazah perempuan atau jenazah yang semuanya perempuan?

Untuk dua jenazah dipakai dhamir huma, sehingga menjadi Allahummaghfir lahuma warhamhuma wa 'afihima wa'fu 'anhuma. Untuk jenazah yang semuanya perempuan dan berjumlah tiga atau lebih dipakai hunna (lahunna, warhamhunna). Namun begitu ada satu saja jenazah laki-laki di antara mereka, dhamirnya berpindah ke hum mengikuti kaidah taghlib.

TMayit perempuan yang wafat saat melahirkan disebut syahid, apakah tetap didoakan dan disholatkan?

Tetap disholatkan, juga tetap dimandikan dan dikafani seperti jenazah muslim pada umumnya, memakai doa bentuk perempuan. NU Online menjelaskan bahwa ketentuan syahid yang haram dimandikan dan disholatkan itu khusus bagi yang gugur syahid di medan perang, bukan syahid akhirat seperti perempuan yang wafat saat melahirkan. Keutamaannya besar, tetapi perawatan jenazahnya tidak berubah.

TDi mana posisi imam saat menyolatkan mayit perempuan?

Imam dan orang yang sholat sendirian berdiri di sisi pantat atau bagian tengah tubuh jenazah perempuan, berbeda dengan jenazah laki-laki yang imamnya berdiri sejajar kepala. Dasarnya keterangan yang dikutip NU Online dengan alasan ittiba' atau mengikuti contoh Nabi. Ketentuan ini hanya berlaku bagi imam dan munfarid; makmum cukup berdiri di belakang imam seperti biasa.

TApakah makmum cukup mengaminkan doa imam?

Tidak. Menurut penjelasan Bahtsul Masail NU Online yang dirujuk di artikel ini, mendoakan mayit setelah takbir ketiga merupakan kewajiban setiap orang yang melaksanakan sholat jenazah, termasuk makmum. Makmum tetap membaca doa dengan suara lirih; hanya mengaminkan doa imam tidak mencukupi. Untuk keadaan tidak cakap membaca doa, ikuti penjelasan pengganti bacaan dalam sumber tersebut dan bimbingan guru setempat.

TSiapa yang boleh menyolatkan dan memandikan jenazah perempuan?

Menurut NU Online, siapa saja boleh menyolatkan jenazah perempuan, baik laki-laki maupun perempuan, jadi tidak ada keharusan hanya disholatkan oleh perempuan. Yang dibatasi adalah urusan memandikan: jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan, kecuali suami dan laki-laki yang memiliki hubungan mahram dengannya.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat