
Doa jenazah laki-laki yang dibaca setelah takbir ketiga dalam sholat jenazah dimulai dengan lafal Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, yang berarti "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, afiatkanlah dia, dan maafkanlah dia". Doa inilah inti dari sholat jenazah, sebab mendoakan jenazah adalah tujuan utama disyariatkannya sholat tersebut. Ciri khas lafal untuk jenazah laki-laki terletak pada pemakaian dhamir atau kata ganti hu di ujung tiap kata, yang berubah menjadi ha bila jenazahnya perempuan. Artikel ini menyajikan bacaannya secara lengkap dalam Arab, latin, dan arti, membedah maknanya kalimat demi kalimat, lalu menjelaskan sistem dhamir dan beberapa keadaan khusus, dengan rujukan NU Online. Tata cara empat takbirnya secara utuh sudah kami bahas terpisah di tata cara sholat jenazah.
Bacaan Jenazah Laki-laki di Empat Takbir
Sholat jenazah dikerjakan sambil berdiri dari awal sampai salam, tanpa ruku dan tanpa sujud, dengan empat kali takbir. Untuk jenazah laki-laki, urutan bacaannya seperti ini:
- Takbir pertama: setelah takbiratul ihram, membaca Surat Al-Fatihah dengan suara lirih, cukup terdengar diri sendiri. Menurut NU Online, disunahkan membaca ta'awudz lebih dulu, dan tidak disunahkan membaca doa iftitah karena sholat jenazah dibuat ringkas. Jika ingin memahami bacaan iftitah dalam sholat lain, lihat panduan doa iftitah. Bacaan Al-Fatihah selengkapnya bisa Anda pelajari di bacaan sholat.
- Takbir kedua: membaca shalawat atas Nabi. Yang paling ringkas dan sudah mencukupi adalah Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Bila hafal, yang lebih sempurna adalah Shalawat Ibrahimiyah seperti pada tasyahud akhir, yang lafal lengkapnya kami muat di artikel tata cara.
- Takbir ketiga: membaca doa untuk jenazah laki-laki. Inilah bagian yang khusus kita bahas di artikel ini, lengkap pada bagian berikutnya.
- Takbir keempat: membaca doa penutup. Untuk jenazah laki-laki lafalnya Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba'dahu waghfir lana wa lahu, artinya "Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri kami cobaan sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia". Setelah itu ditutup dengan salam.
Pada setiap takbir, termasuk takbiratul ihram, disunahkan mengangkat kedua tangan sejajar pundak seperti pada sholat lima waktu, lalu menurunkannya dan bersedekap kembali. Seluruh rangkaian ini dikerjakan dengan berdiri tegak, tidak ada gerakan naik turun ruku maupun sujud.
Perhatikan bahwa dari keempat takbir itu, satu-satunya bagian yang benar-benar berubah antara jenazah laki-laki dan perempuan adalah doa pada takbir ketiga dan keempat, tepatnya pada kata gantinya. Al-Fatihah dan shalawat sama persis untuk siapa pun jenazahnya. Karena itulah, memahami doa takbir ketiga sudah cukup menutup sebagian besar kebutuhan Anda di lapangan.
Doa Takbir Ketiga untuk Jenazah Laki-laki
Ada dua hal yang perlu Anda ketahui: bacaan minimal yang sudah mengesahkan sholat, dan bacaan lengkap yang lebih sempurna. Keduanya sah, jadi tidak perlu panik bila Anda hanya hafal yang pendek.
Bacaan minimal yang sudah mencukupi untuk jenazah laki-laki hanya tiga kata:
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ
Latin: Allahummaghfir lahu.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia (laki-laki)."
NU Online dalam kajian Bahtsul Masail menegaskan bahwa rukun mendoakan jenazah sudah terpenuhi dengan doa sekecil apa pun yang layak disebut doa untuk kebaikan akhirat si mayit, bahkan dengan kalimat sependek "Allahummarhamhu" (ya Allah, rahmatilah dia). Dasarnya hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Apabila kalian menyolatkan jenazah, ikhlaskanlah doa untuknya" (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Jadi kalau Anda benar-benar tidak hafal apa pun, simpan lafal pendek di atas sebagai jaring pengaman.
Ulama menjelaskan alasan di balik kelonggaran ini: mendoakan jenazah adalah maksud utama (maqshud) dari sholat jenazah, sedangkan Al-Fatihah dan shalawat sebelumnya berkedudukan seperti mukadimah atau pengantar bagi doa itu. Dengan kata lain, seluruh rangkaian sholat jenazah bermuara pada satu tujuan: memintakan kebaikan bagi orang yang sudah wafat. Memahami hal ini menjadikan Anda tidak terpaku pada panjang pendeknya hafalan, melainkan pada kesungguhan mendoakan. Semakin dihayati, semakin terasa bahwa yang kita antar bukan sekadar jasad, melainkan seorang saudara yang sedang menuju perjumpaan dengan Tuhannya.
Adapun doa yang lebih lengkap dan biasa diamalkan untuk jenazah laki-laki, sebagaimana dimuat NU Online:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهُ. اللّهُمَّ ابْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهُ ووسِّعْ مَدْخَلَهُ
Latin: Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, waj'alil jannata matswahu. Allahummab dilhu daran khairan min darihi, wa zaujan khairan min zaujihi wa ahlan khairan min ahlihi. Allahumma innahu nazala bika wa anta khairu manzulin bihi. Allahumma akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berilah ia afiat (keselamatan), dan maafkanlah dia. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya. Ya Allah, gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, pasangan yang lebih baik daripada pasangannya, dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya. Ya Allah, sesungguhnya ia telah singgah kepada-Mu, sedangkan Engkau sebaik-baik tempat singgah. Ya Allah, muliakanlah kedatangannya dan lapangkanlah tempat masuknya (kuburnya)."
Makna Doa Kalimat demi Kalimat
Banyak orang menghafal doa ini sebagai rangkaian bunyi tanpa tahu isinya. Padahal, kalau dipahami, doa takbir ketiga sebenarnya adalah rangkaian permohonan yang tertata rapi untuk kepentingan si mayit di alam barzakh dan akhirat. Mari kita bedah:
- Allahummaghfir lahu (ampunilah dia): permohonan pertama dan paling utama adalah ampunan. Sebab yang paling dibutuhkan orang yang sudah wafat bukan lagi harta atau kesehatan, melainkan pengampunan atas dosa-dosanya.
- warhamhu (rahmatilah dia): setelah ampunan, dimohonkan rahmat atau kasih sayang Allah, karena tidak ada yang masuk surga semata karena amalnya tanpa rahmat Allah.
- wa 'afihi (afiatkanlah dia): permohonan agar ia diselamatkan dan dijauhkan dari siksa serta dari segala yang tidak diinginkan di alam kubur.
- wa'fu 'anhu (maafkanlah dia): memohon agar Allah memaafkan, yaitu menghapus bekas kesalahannya sehingga tidak lagi diperhitungkan.
- waj'alil jannata matswahu (jadikanlah surga tempat tinggalnya): puncak harapan seorang mukmin, yaitu surga sebagai tempat kembali yang kekal.
- abdilhu daran khairan min darihi (gantilah rumahnya dengan yang lebih baik): memohon tempat tinggal di akhirat yang jauh lebih baik daripada rumahnya di dunia, dilanjutkan permohonan pasangan dan keluarga yang lebih baik. Ini bukan berarti merendahkan keluarganya di dunia, melainkan menegaskan bahwa nikmat akhirat tidak tertandingi oleh apa pun di dunia.
- innahu nazala bika wa anta khairu manzulin bihi (ia telah singgah kepada-Mu, dan Engkau sebaik-baik tempat singgah): kalimat yang menyentuh, mengibaratkan orang yang wafat sebagai tamu yang bertandang kepada Allah, sementara Allah adalah tuan rumah yang paling mulia dan pemurah kepada tamu-Nya.
- akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu (muliakan kedatangannya dan lapangkan tempat masuknya): penutup yang memohon agar kedatangan si mayit dimuliakan dan kuburnya dilapangkan, bukan disempitkan seperti azab yang ditakuti.
Kenapa Pakai Hu: Beda Dhamir Laki-laki, Perempuan, dan Jamak
Inti perbedaan doa jenazah laki-laki dan perempuan bukan pada susunan kalimatnya, melainkan pada satu huruf di ujung tiap kata, yaitu dhamir atau kata ganti. Untuk jenazah laki-laki dipakai dhamir hu (dia, laki-laki), dan untuk perempuan diganti ha (dia, perempuan). NU Online merumuskannya singkat: dhamir "hu" dalam doa-doa jenazah diubah menjadi dhamir "ha" ketika mayit yang dishalati adalah perempuan.
Perhatikan pasangan paling dasarnya. Untuk jenazah laki-laki:
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ
Latin: Allahummaghfir lahu. Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia (laki-laki)."
Untuk jenazah perempuan, kata lahu tinggal diganti laha:
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا
Latin: Allahummaghfir laha. Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia (perempuan)."
Pola ini berlaku di sepanjang doa: warhamhu menjadi warhamha, 'afihi menjadi 'afiha, 'anhu menjadi 'anha, darihi menjadi dariha, dan seterusnya. Kalau Anda sudah hafal doa untuk jenazah laki-laki, Anda sebenarnya sudah hafal versi perempuannya juga; tinggal mengganti setiap bunyi "hu" menjadi "ha". Pembahasan lengkap sisi perempuannya bisa Anda baca di niat sholat jenazah perempuan.
Bagaimana bila jenazahnya lebih dari satu? Di sinilah dhamir berubah lagi ke bentuk ganda (tastniyah) atau jamak. Berikut ringkasannya dalam bentuk tabel, memakai kata lahu sebagai contoh:
| Keadaan jenazah | Dhamir | Contoh | Arti |
|---|---|---|---|
| Satu laki-laki | hu | Allahummaghfir lahu | ampunilah dia |
| Satu perempuan | ha | Allahummaghfir laha | ampunilah dia |
| Dua jenazah | huma | Allahummaghfir lahuma | ampunilah keduanya |
| Banyak, laki-laki atau campur | hum | Allahummaghfir lahum | ampunilah mereka |
| Banyak, semua perempuan | hunna | Allahummaghfir lahunna | ampunilah mereka |
NU Online melalui Bahtsul Masail membahas kasus dua jenazah sekaligus dan membenarkan pemakaian dhamir tastniyah, yaitu lahuma, warhamhuma, 'afihima, wa'fu 'anhuma. Untuk kelompok yang bercampur laki-laki dan perempuan, dhamir yang dipakai adalah bentuk maskulin jamak hum, mengikuti kaidah taghlib dalam bahasa Arab yang memenangkan bentuk laki-laki ketika ada percampuran. Kaidah taghlib inilah yang menjelaskan mengapa satu jenazah perempuan di antara sekian jenazah laki-laki tetap dicakup oleh dhamir hum, dan barulah dipakai hunna bila seluruhnya perempuan.
Bila semua ini terasa rumit, ingat kembali bahwa perubahan dhamir itu masalah kefasihan, bukan keabsahan. Sholat tetap sah meskipun ada kekeliruan kata ganti, dan seorang makmum yang mengaminkan doa imam tidak dibebani urusan ini sama sekali. Yang penting doa itu benar-benar tertuju kepada jenazah yang sedang disholatkan.
Doa untuk Jenazah Anak Laki-laki
Menyolatkan jenazah anak laki-laki yang belum dewasa, termasuk bayi, punya kekhususan yang menyentuh. Menurut NU Online, doa setelah takbir ketiga untuk jenazah anak tidak berhenti pada permohonan ampunan seperti pada orang dewasa, sebab anak kecil belum terbebani dosa. Doanya justru diarahkan untuk kepentingan kedua orang tuanya, dengan memohon agar sang anak menjadi farat, yaitu pendahulu yang menanti dan memberi manfaat bagi ayah dan ibunya kelak.
Inti permohonannya adalah agar anak itu dijadikan simpanan pahala dan tabungan kebaikan bagi orang tuanya, menjadi pemberi syafaat yang memberatkan timbangan amal keduanya, sekaligus agar Allah mencurahkan kesabaran ke dalam hati mereka dan tidak menghalangi keduanya dari pahala kesabaran atas kepergiannya. Ini cara Islam memeluk orang tua yang berduka: kehilangan yang paling berat pun diubah menjadi harapan dan pahala yang mengalir.
Untuk anak laki-laki dipakai dhamir hu dan sebutan ath-thifl, sedangkan untuk anak perempuan dipakai ha dan sebutan ath-thiflah. Lafal Arab lengkap doa anak ini, beserta doa pengiringnya, kami muat utuh di artikel tata cara sholat jenazah agar tidak terpotong, dan bisa Anda salin persis dari sana. Yang perlu ditegaskan, niat wajibnya tetap di dalam hati; bila Anda sedang menyolatkan jenazah anak dan tidak hafal tambahan doa ini, sholat Anda tetap sah selama doa untuk kebaikannya tetap dibaca.
Perlu dicatat, ketentuan menyolatkan berlaku untuk bayi atau anak yang lahir dalam keadaan hidup, meski hanya sebentar. Adapun janin yang keguguran punya ketentuan tersendiri yang bergantung pada tampak tidaknya tanda kehidupan dan usia kandungannya, sehingga kasus seperti ini sebaiknya dikonsultasikan langsung daripada disimpulkan sendiri dari bacaan singkat. Anda bisa menanyakannya lewat Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami detail keadaannya.
Situasi Khusus dan Kesalahan yang Sering Terjadi
Kabar duka biasanya datang mendadak, jamaah berkumpul, dan sebagian baru sadar mereka tidak yakin caranya. Berikut beberapa situasi dan kekeliruan yang paling sering muncul khusus seputar doa jenazah laki-laki:
- Jenis kelamin jenazah tidak diketahui. Pada korban kecelakaan atau bencana yang sulit dikenali, NU Online membolehkan Anda memakai dhamir laki-laki (hu) dengan menghadirkan makna kata syakhs (seseorang) atau mayyit yang tergolong maskulin, atau memakai dhamir perempuan (ha) dengan menghadirkan makna kata janazah yang tergolong feminin. Keduanya sah, jadi tidak perlu ragu.
- Keceplosan menukar lahu dan laha. Ini kekeliruan manusiawi dan tidak membatalkan sholat. Lebih baik dibiasakan benar, tetapi kalau terlanjur salah kata ganti, sholat Anda tetap sah. Ingat saja: hu untuk laki-laki, ha untuk perempuan.
- Mengira harus hafal doa yang panjang. Tidak. Doa sependek Allahummaghfir lahu sudah mengesahkan rukunnya. Jangan sampai rasa tidak hafal membuat Anda enggan ikut menyolatkan, padahal ini fardhu kifayah yang berpahala besar.
- Mengeraskan bacaan. Seluruh bacaan sholat jenazah, termasuk doa takbir ketiga bagi makmum, dibaca lirih, cukup terdengar diri sendiri, bahkan bila sholat dilakukan pada malam hari.
- Bingung saat ketinggalan takbir imam. Makmum yang datang terlambat (masbuq) tetap boleh bergabung. Ia langsung bertakbir dan membaca sesuai runtutan bacaannya sendiri, bukan mengikuti bacaan imam, lalu menyempurnakan kekurangan takbirnya setelah imam salam. Rinciannya kami bahas di artikel tata cara sholat jenazah.
Doa untuk almarhum tidak berhenti setelah salam. Anda bisa melanjutkannya dengan membiasakan doa untuk orang meninggal, membaca doa tahlil sesuai kebiasaan yang diikuti, dan ketika berziarah ke makamnya nanti, dengan doa ziarah kubur. Doa untuk jenazah berbeda konteks dengan doa untuk orang sakit yang masih hidup. Pastikan pula sholat fardhu Anda sendiri tetap tepat waktu di tengah kesibukan takziah dengan memantau jadwal sholat kota Anda. Bila ada persoalan khusus, misalnya jenazah tidak lengkap anggota tubuhnya atau perselisihan adat di keluarga, silakan tanyakan lewat Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda.
Waktu sholat hari ini. Jam Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya tersedia di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari. Untuk wilayah lain, buka jadwal sholat per kota.
Sumber Rujukan
- NU Online - Tata Cara Melaksanakan Shalat Jenazah (lafal doa takbir ketiga untuk jenazah laki-laki)
- NU Online Lampung - Rukun dan Tata Cara Shalat Jenazah (bacaan minimal dan lafal doa laki-laki serta perempuan)
- NU Online - Tata Cara Shalat Jenazah yang Tak Diketahui Jenis Kelaminnya (dhamir hu dan ha, jenis kelamin tidak diketahui)
- NU Online - Cara Shalat Jenazah bagi Orang yang Tidak Hafal Doanya (doa minimal dan dhamir untuk lebih dari satu jenazah)
- NU Online - Doa Khusus dalam Shalat Jenazah Bayi atau Anak-anak (doa untuk jenazah anak laki-laki)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


