
Mencari doa untuk orang sakit biasanya bukan pekerjaan yang dilakukan dengan hati tenang. Sering kali kita membukanya di ruang tunggu rumah sakit, di sela-sela menunggu kabar, atau malam-malam ketika seseorang yang kita sayangi sedang kesakitan dan kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Artikel ini menghimpun lafal doa yang benar-benar diajarkan Rasulullah dan dicatat Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya, beserta adab menjenguk yang sering terlewat. Perlu ditegaskan sejak awal: dalam Islam, doa berjalan beriringan dengan ikhtiar berobat, bukan menggantikannya.
Doa Menjenguk Orang Sakit dan Dalilnya
Menjenguk orang sakit hukumnya sunah. Abu Ishaq as-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi'i mendasarkan kesunahan ini pada riwayat al-Barra' bin 'Azib, bahwa Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengiringi jenazah dan menjenguk orang sakit. Jadi membesuk bukan sekadar formalitas sosial, melainkan amalan yang berpahala.
Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menghimpun sejumlah lafal yang dibaca Rasulullah ketika menjenguk. Berikut yang paling masyhur, yaitu doa yang beliau baca untuk keluarganya sendiri, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا
Latin: Allaahumma rabban naasi, adzhibil ba'sa. Isyfi, antasy syaafii. Laa syaafiya illaa anta, syifaa'an laa yughaadiru saqaman.
Artinya: "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan, karena Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit." (Imam an-Nawawi, Al-Adzkar, Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H, halaman 113)
Lafal kedua yang juga sering dibaca berasal dari riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Menurut catatan an-Nawawi, doa ini dianjurkan dibaca sebanyak tujuh kali di hadapan orang yang sedang sakit:
أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
Latin: As'alullaahal 'azhiima rabbal 'arsyil 'azhiimi an yasyfiyaka.
Artinya: "Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan pemilik Arasy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu." (Imam an-Nawawi, Al-Adzkar, halaman 114)
Kata yasyfiyaka pada lafal di atas berakhiran ka yang berarti "kamu" untuk laki-laki. Bila yang didoakan perempuan, sebagian pembaca mengubahnya menjadi yasyfiyaki mengikuti kaidah bahasa Arab. Kalau Anda belum terbiasa, membaca lafal apa adanya tetap sah, sebab yang dinilai adalah doanya, bukan kefasihan tata bahasanya.
Rasulullah juga pernah mendoakan dengan menyebut langsung nama orang yang sakit. Ini beliau lakukan saat menjenguk Sa'ad bin Abi Waqqash, sebagaimana riwayat Imam Muslim. Nama Sa'ad tinggal diganti dengan nama orang yang sedang kita jenguk:
اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا
Latin: Allaahummasyfi Sa'dan, Allaahummasyfi Sa'dan, Allaahummasyfi Sa'dan.
Artinya: "Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad." (Imam an-Nawawi, Al-Adzkar, halaman 114)
Selain memohon kesembuhan, kita juga dapat menyertakan permohonan ampunan dan keselamatan agama. Doa berikut dibaca Rasulullah ketika menjenguk sahabat Salman al-Farisi, sebagaimana riwayat Ibnu Sunni:
شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ
Latin: Syafaakallaahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa 'aafaaka fii diinika wa jismika ilaa muddati ajalika.
Artinya: "Semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam agama serta fisikmu sepanjang usiamu." (Imam an-Nawawi, Al-Adzkar, halaman 115)
Doa yang Dibaca Orang Sakit untuk Dirinya
Doa tidak hanya milik orang yang menjenguk. Orang yang sedang sakit justru berada pada posisi istimewa. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar mengutip riwayat dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah bersabda, apabila kita mengunjungi orang sakit, hendaknya kita meminta ia mendoakan kita, karena doanya seperti doa malaikat. Artinya, orang sakit bukan pihak yang lemah dalam urusan doa, justru sebaliknya.
Salah satu doa yang paling sesuai dibaca sendiri saat sakit adalah doa Nabi Ayyub, yang Allah abadikan dalam Surat Al-Anbiya ayat 83. Nabi Ayyub adalah teladan kesabaran menghadapi penyakit yang panjang, dan doanya terasa sangat manusiawi, yaitu mengadu tanpa menuntut:
اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
Latin: Annii massaniyadh dhurru wa anta arhamur raahimiin.
Artinya: "(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." (Surat Al-Anbiya ayat 83)
Perhatikan bahwa Nabi Ayyub tidak berkata "sembuhkanlah aku". Beliau hanya menyebut keadaannya, lalu menyebut sifat Allah. Ada adab yang dalam di situ, dan bagi banyak orang, justru cara berdoa seperti ini yang paling melegakan ketika sedang tidak sanggup merangkai kata.
Amalan lain yang dianjurkan bagi orang sakit adalah membaca kalimat tauhid Nabi Yunus. Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Irsyadul Ibad mengutip hadits riwayat al-Hakim, bahwa muslim yang membaca kalimat berikut sebanyak empat puluh kali dalam sakitnya, lalu wafat karena sakit itu, ia mendapat pahala syahid; dan bila ia sembuh, dosanya diampuni:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Latin: Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.
Artinya: "Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim."
Kalimat ini sama dengan yang dibaca Nabi Yunus saat berada di dalam perut ikan. Penjelasan lebih lengkap mengenai keutamaan dan kisah di baliknya bisa Anda baca pada ulasan doa Nabi Yunus. Bagi yang kondisinya memungkinkan, membiasakan dzikir pagi dan petang juga membantu menjaga hati tetap tersambung selama masa pemulihan yang panjang.
Ruqyah dengan Al-Fatihah dan Ayat Al-Quran
Ruqyah adalah praktik pengobatan dengan ayat Al-Quran, doa, atau dzikir tertentu. Banyak orang keliru mengira ruqyah selalu berurusan dengan santet, kesurupan, atau gangguan gaib. Padahal, sebagaimana dijelaskan NU Online, ruqyah juga digunakan untuk mendampingi pengobatan penyakit medis biasa. Dasarnya adalah firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Latin: Wa nunazzilu minal qur'aani maa huwa syifaa'un wa rahmatul lil mu'miniin, wa laa yaziiduzh zhaalimiina illaa khasaaraa.
Artinya: "Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian." (Surat Al-Isra ayat 82)
Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa kata syifa pada ayat tersebut mencakup obat untuk penyakit rohani maupun jasmani. Adapun surat yang paling masyhur dipakai meruqyah adalah Al-Fatihah. Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an mengutip riwayat panjang dari Abu Sa'id al-Khudri: sekelompok sahabat singgah di sebuah kampung yang pemimpinnya tersengat hewan berbisa. Abu Sa'id membacakan Al-Fatihah kepadanya, dan orang itu pun siuman lalu sembuh. Ketika peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau tidak menyalahkannya, melainkan bertanya, "Apa yang membuatmu tahu bahwa ia adalah ruqyah?" lalu membenarkan tindakan tersebut.
Selain Al-Fatihah, NU Online menyebut orang yang sakit disunahkan membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas pada bagian tubuh yang sakit. Semua itu adalah ikhtiar batin sebagai bentuk kefakiran manusia kepada Penciptanya.
Adab Menjenguk Orang Sakit
Menjenguk itu berpahala, tetapi menjenguk tanpa adab bisa berbalik menyusahkan orang yang sakit. NU Online bahkan menyampaikan hal yang jarang terdengar: tidak setiap orang boleh menjenguk, dan tidak setiap orang sakit boleh dijenguk, terutama pasien yang memang dilarang dijenguk oleh dokter. Menghormati aturan rumah sakit adalah bagian dari adab, bukan penghalang niat baik.
Soal waktu, terdapat pandangan dari kalangan mazhab Hanbali yang memakruhkan menjenguk pada tengah hari, dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Ibnu Muflih dalam Al-Adab As-Syar'iyyah menyimpulkan bahwa pendapat yang lebih utama adalah menjenguk pada waktu pagi dan petang, karena pada waktu tersebut para malaikat memperbanyak shalawat.
Adapun mengenai perilaku saat menjenguk, Imam al-Ghazali merinci beberapa adab berikut:
- Tidak berlama-lama di sisinya agar ia tidak merasa bosan.
- Meminimalisir pertanyaan tentang kondisinya, karena banyak bertanya dapat menyusahkan hatinya.
- Menampakkan rasa belas kasihan kepadanya.
- Mendoakan agar ia lekas sehat.
- Menjaga pandangan mata dari apa saja yang tidak patut dilihat dari orang yang sedang sakit.
- Bila duduk di samping orang sakit lalu dihidangkan makanan atau minuman, tidak perlu menyantap atau meminumnya.
Adab-adab tersebut dinukil dalam Siraj al-Thalibin Syarh al-Syaikh Dahlan al-Kediri 'ala Minhaj al-'Abidin, jilid I, halaman 247. Perlu dicatat, sumber-sumber ini menganjurkan agar kunjungan tidak berlarut-larut, tetapi tidak mematok durasi dalam satuan menit. Jadi tidak ada angka baku yang bisa kami sebutkan; ukurannya adalah kondisi si sakit, dan itu memang berbeda-beda.
Rasulullah sendiri, setelah mendoakan orang yang sakit, tidak berlama-lama di rumahnya. Beliau juga berbicara dengan hal-hal yang membesarkan hati. Salah satu kalimat penghibur yang beliau ucapkan ketika menjenguk seorang badui yang menderita demam, sebagaimana riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas, adalah:
لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ
Latin: Laa ba'sa, thahuurun insyaa Allaah.
Artinya: "Tidak apa-apa, semoga menjadi penyuci (dosa) dengan kehendak Allah." (Imam an-Nawawi, Al-Adzkar, halaman 115)
Makna Sakit dalam Islam: Penggugur Dosa, Bukan Hukuman
Pertanyaan yang paling sering muncul di kepala orang sakit, apalagi ketika sakitnya berat, adalah "kenapa saya?" Sebagian orang lalu buru-buru menyimpulkan bahwa penyakit adalah hukuman atas dosa. Dalam Islam, cara pandang itu tidak tepat. Rasulullah justru menempatkan sakit sebagai sarana pengguguran dosa, sebagaimana sabda beliau dalam riwayat Imam Muslim:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
Latin: Maa min muslimin yushiibuhu adzan min maradhin, famaa siwaahu illaa hatthallaahu bihi sayyi'aatihi, kamaa tahutthusy syajaratu waraqahaa.
Artinya: "Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau selainnya, kecuali Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu, sebagaimana pohon menggugurkan daunnya." (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kesalahan seseorang dilebur oleh berbagai penyakit di dunia, sekalipun kesusahannya hanya sedikit. Perhatikan perumpamaannya: pohon yang menggugurkan daun tidak sedang dihukum, ia sedang dibersihkan. Nabi Muhammad juga pernah berkata kepada Ummul Ala yang sedang sakit bahwa Allah akan menghapus dosa seorang muslim dengan sakit, seperti api yang membersihkan kotoran emas dan perak.
Allah juga menjanjikan pahala tanpa hitungan bagi orang yang bersabar, sebagaimana Surat Az-Zumar ayat 10 yang dikutip Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' ketika membahas anjuran bersabar bagi orang sakit. Karena itu, menghibur orang sakit dengan mengingatkan bahwa sakitnya melebur dosa dan mengangkat derajat lebih tepat daripada menakut-nakutinya.
Meski demikian, memaknai sakit sebagai penggugur dosa sama sekali tidak berarti pasrah tanpa usaha. Para ulama memandang berobat itu sunah bagi orang yang sakit. Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab mengutip hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Darda' bahwa Allah menurunkan penyakit sekaligus obatnya, dan memerintahkan, "Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan yang haram." Dalam riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan:
إنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Latin: Innallaaha lam yunzil daa'an illaa anzala lahu syifaa'an.
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali Dia turunkan pula obat baginya." (HR Bukhari)
NU Online merumuskan keseimbangannya dengan gamblang: ketika seorang muslim sakit, ia dianjurkan berikhtiar lahir dan batin sekaligus. Secara lahir, ia harus berobat ke dokter dan menaati anjurannya. Secara batin, ia mendekatkan diri kepada Allah, di antaranya melalui doa dan dzikir. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan.
Hal yang Sering Keliru saat Menjenguk
Niat baik saja ternyata belum cukup. NU Online mencatat bahwa penjenguk yang mengabaikan adab justru kerap menambah penderitaan, menyusahkan hati si sakit, bahkan memperparah sakitnya. Beberapa kekeliruan yang paling sering terjadi:
- Menakut-nakuti dengan cerita orang lain. Menceritakan kerabat yang dulu sakitnya serupa lalu meninggal jelas tidak menolong siapa pun. Rasulullah mengajarkan sebaliknya, yaitu berbicara dengan hal-hal yang melapangkan dada. Bila si sakit bertanya tentang penyakitnya, hendaknya kita kesankan bahwa sakitnya tidak parah, cepat reda, dan umumnya orang bisa sembuh darinya.
- Membesar-besarkan penyakit. Berkomentar tentang betapa pucat atau kurusnya seseorang tidak membuat ia merasa lebih baik. Hindari pula banyak bicara soal penyakitnya.
- Menghakimi dengan dalih agama. Menyebut sakit seseorang sebagai balasan atas dosanya bertentangan dengan hadits penggugur dosa di atas, dan itu menambah luka batin pada saat yang paling rapuh.
- Terlalu lama dan terlalu banyak bertanya. Dua hal yang persis diperingatkan Imam al-Ghazali. Orang sakit butuh istirahat, bukan sesi wawancara.
- Menyarankan menghentikan pengobatan. Termasuk merekomendasikan ramuan atau terapi tanpa dasar kepada orang yang sedang menjalani perawatan. Ini berisiko nyata dan tidak berlandaskan ajaran yang dibahas di sini.
- Mengharap kematian. Bagi yang sakit sendiri, mengharap kematian karena beratnya penderitaan hukumnya makruh, kecuali bila ada kekhawatiran akan terjadinya fitnah bagi agamanya.
Bila yang sakit adalah ayah atau ibu Anda, momen ini juga waktu yang tepat untuk memperbanyak doa untuk kedua orang tua. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan secara umum bagi keluarga, Anda dapat membiasakan doa memohon perlindungan dan doa selamat. Adapun untuk persoalan fikih yang spesifik seputar ibadah orang sakit, misalnya tata cara shalat dan bersuci bagi pasien yang tidak bisa bergerak, silakan konsultasikan melalui Tanya Ustadz atau tanyakan kepada ustadz setempat.
Terakhir, satu hal yang tidak diajarkan lafal mana pun: kehadiran. Tidak semua orang sakit butuh dinasihati. Banyak yang hanya butuh ditemani, didoakan dengan pelan, lalu dibiarkan beristirahat. Doa yang Anda baca di ruang tunggu, bahkan yang tidak sempat terucap karena tenggorokan tercekat, tetap didengar Allah.
Sumber Rujukan
- NU Online - Ini Sejumlah Doa Rasulullah untuk Kesembuhan Orang Sakit
- NU Online - Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit
- NU Online - Berobat dalam Pandangan Islam
- NU Online - Anjuran Bersabar bagi yang Sakit
- NU Online - Waktu yang Baik Jenguk Orang Sakit
- NU Online - Ruqyah menurut Islam: Pengertian, Dalil, dan Hukumnya
- NU Online Jabar - Adab Menengok Orang Sakit
- NU Online - Ini Dua Dzikir Andalan untuk Orang Sakit
- NU Online - Khutbah Jumat: Hak Seorang Muslim atas Muslim Lainnya
- NU Online - Lima Sikap Nabi Muhammad kepada Orang Sakit
- NU Online - Anjuran Minta Doa kepada Orang Sakit
- Quran NU Online - Surat Al-Anbiya ayat 83
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


