
Lafal doa dimudahkan segala urusan yang paling masyhur adalah Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja'altahu sahlan, doa yang diajarkan Rasulullah dan dicatat Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar. Doa ini dibaca ketika seseorang menghadapi perkara yang terasa berat: pekerjaan yang mentok, urusan administrasi yang berbelit, ujian yang menegangkan, atau rencana yang sudah disiapkan matang tetapi tersendat saat dijalankan. Artikel ini menyajikan bacaan lengkapnya beserta arti dan sumbernya, adab berdoa menurut Imam al-Ghazali yang dikutip Imam Nawawi, serta satu hal yang sering terlewat: bagaimana para ulama menempatkan doa ini sebagai ikhtiar batin yang berjalan seiring dengan usaha lahir, bukan sebagai rumus yang menjamin hasil.

Bacaan Doa Dimudahkan Segala Urusan
NU Online memuat doa ini pada halaman berjudul "Doa saat Terjebak dalam Situasi Sulit". Menurut keterangan di sana, ini termasuk doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, sebagaimana diungkap Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), halaman 238. Berikut bacaannya:
اللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ ما جَعَلْتَهُ سَهْلاً وأنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إذَا شِئْتَ سَهْلاً
Latin: Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzâ syi'ta sahlan.
Artinya: "Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali Engkau jadikan perkara itu menjadi mudah dan Engkau jadikan kesulitan menjadi kemudahan, jika Engkau menghendaki."
Perhatikan bentuk kalimatnya. Doa ini tidak dimulai dengan daftar permintaan, melainkan dengan sebuah pengakuan: lâ sahla illâ mâ ja'altahu sahlan, tidak ada yang mudah kecuali yang Engkau jadikan mudah. Baru setelah itu muncul harapan bahwa Allah berkenan mengubah yang sulit menjadi mudah. Susunan seperti ini menempatkan pembacanya pada posisi yang jujur: ia sedang mengakui bahwa kemudahan bukan hasil kecerdikannya sendiri, dan bahwa perubahan keadaan itu bergantung pada kehendak Allah, bukan pada kekuatan lafalnya.
Kalimat terakhir doa ini penting untuk tidak dilewati: idzâ syi'ta, "jika Engkau menghendaki". Doa ini sendiri, di dalam redaksinya, sudah mengembalikan keputusan kepada Allah. Artinya orang yang membacanya sedang meminta dengan sungguh-sungguh sekaligus menyadari bahwa pengabulannya bukan sesuatu yang bisa ia paksakan.
Makna Lafal dan Arti Kata Hazn
Ada satu keterangan menarik yang dicatat NU Online dari Imam Nawawi. Lafal hazn dalam untaian doa tersebut diartikan sebagai tanah keras berikut tanaman yang tumbuh di atasnya. Jadi kata yang di dalam terjemahan Indonesia dirender sebagai "kesulitan" itu, secara harfiah, menggambarkan bentang tanah yang kasar dan sukar digarap.
Gambaran ini membantu memahami doa tersebut. Kesulitan yang kita hadapi diibaratkan tanah keras: bukan sesuatu yang mustahil dilewati, tetapi memang berat, memakan tenaga, dan tidak bisa diselesaikan dengan sekali langkah. Yang diminta lewat doa ini adalah agar Allah menjadikan tanah keras itu sahl, yaitu lunak dan mudah dilalui. Perlu dicatat, ini pembacaan atas keterangan Imam Nawawi tadi, bukan tafsir resmi yang dipatok sumber.
Dasar keyakinan bahwa Allah mendengar dan menjawab permohonan hamba-Nya termuat dalam surat Al-Baqarah ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Latin: Wa idzâ sa'alaka 'ibâdî 'annî fa innî qarîb, ujîbu da'watad-dâ'i idzâ da'âni falyastajîbû lî walyu'minû bî la'allahum yarsyudûn.
Artinya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
NU Online mengutip ayat ini ketika menjelaskan bahwa para ulama memotivasi umat untuk terus berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan. Namun perhatikan bahwa ayat itu sendiri tidak berhenti pada "Aku mengabulkan". Ia berlanjut dengan perintah agar hamba memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Permohonan dan ketaatan disebut dalam satu tarikan napas, dan itu sudah memberi isyarat bahwa doa bukan transaksi yang berdiri sendiri.
Lafal Lain untuk Memohon Kemudahan
Tidak ada satu lafal tunggal yang dipatok sumber sebagai satu-satunya "doa dimudahkan segala urusan". Yang ada adalah sejumlah doa yang isinya memohon kemudahan, dan masing-masing punya konteksnya sendiri. Beberapa di antaranya sudah dibahas tuntas di halaman lain situs ini, sehingga di sini cukup disebut sekilas.
- Doa Nabi Musa (QS Thaha ayat 25 sampai 28). Inilah lafal rabbisyrah lî shadrî wa yassir lî amrî, yang berisi permohonan agar dada dilapangkan, urusan dimudahkan, dan lidah dilepaskan dari kekakuan. Nabi Musa memanjatkannya ketika diutus menghadap Firaun, jadi latarnya memang tugas berat yang menuntut keberanian dan kejelasan bicara. Bacaan lengkapnya beserta arti dan pembahasannya sudah dimuat pada artikel doa sebelum belajar, karena lafal yang sama juga lazim dibaca saat menuntut ilmu.
- Doa sapu jagat. Permohonan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari siksa neraka. Ringkas, mencakup banyak hal, dan bisa dibaca kapan saja. Lihat doa sapu jagat.
- Doa istikharah. Kalau urusan yang terasa berat itu sebenarnya bukan soal hasil, melainkan soal memilih di antara dua pilihan, yang lebih tepat adalah istikharah. Lihat doa istikharah.
- Shalat hajat. Ketika ada kebutuhan tertentu yang ingin diajukan kepada Allah, ada tuntunan shalat hajat beserta doanya. Lihat doa sholat hajat.
- Doa Nabi Yunus. Lafal yang dibaca dalam keadaan terjepit dan penuh penyesalan, dengan pengakuan atas kezaliman diri sendiri. Lihat doa Nabi Yunus.
Ayat "ud'ûnî astajib lakum" (berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan) dari surat Ghafir ayat 60 juga sering dibawakan dalam konteks ini, dan pembahasannya ada pada artikel doa setelah sholat.
Menurut hemat redaksi, tidak perlu bingung memilih. Doa mana pun yang isinya memohon kemudahan sah dibaca, dan tidak ada keharusan mengumpulkan semuanya sekaligus. Yang lebih menentukan bukan banyaknya lafal yang dihafal, melainkan adab dan kesungguhan saat memanjatkannya, sebagaimana dibahas di bagian berikut.
Adab dan Waktu Berdoa yang Dianjurkan
NU Online Lampung, mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, menyebutkan sepuluh adab berdoa:
- Menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir setiap malam, dan waktu sahur.
- Memanfaatkan kondisi istimewa seperti saat sujud, saat dua pasukan berhadapan siap tempur, ketika turun hujan, serta ketika iqamah shalat dan sesudahnya.
- Menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa.
- Mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah.
- Menghindari kalimat bersajak dalam doa, karena dikhawatirkan justru melewati batas. Prinsipnya tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata.
- Berdoa dengan penuh ketundukan, kekhusyukan, dan rasa takut kepada Allah.
- Mantap hati, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar.
- Meminta terus-menerus dalam berdoa.
- Membuka doa dengan lafal zikir, yaitu pujian dan shalawat, dan menutupnya dengan cara yang sama.
- Tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan menghadap Allah dengan mematuhi aturan agama.
Adab kesepuluh diberi penekanan khusus. Imam Nawawi menulis:
العاشر : وهو أهمها والأصل في الإجابة ، وهو التوبة ، ورد المظالم ، والإقبال على الله تعالى
"Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan 'menghadap' Allah swt." (An-Nawawi, Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo: Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372)
Ada catatan yang menenangkan pada adab ketujuh. Sufyan bin Uyaynah mengatakan, kesadaran akan buruknya kondisi diri jangan sampai menghalangi seseorang untuk berdoa kepada Allah, sebab Allah tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk. Jadi merasa diri banyak dosa bukan alasan untuk berhenti berdoa. Soal waktu, Anda bisa menyesuaikan dengan jadwal sholat kota Anda, terutama untuk memanfaatkan waktu sesudah iqamah dan sepertiga malam terakhir bersama doa sholat tahajud.
Doa Ikhtiar Batin, Bukan Pengganti Usaha
Inilah bagian yang paling sering terlewat, padahal justru menentukan. NU Online merumuskannya dengan jernih: tawakal merupakan ikhtiar batin yang memasrahkan segala hal kepada Allah, sedangkan ikhtiar merupakan upaya lahiriah dalam mencapai tujuan, baik untuk sebuah kemaslahatan maupun untuk memperkecil mafsadat. Keduanya, tegas NU Online, tidak dipertentangkan, tidak dihadap-hadapkan, dan tidak dipilih salah satunya, karena keduanya dapat berjalan seiring dan masing-masing memiliki domainnya sendiri.
Rasulullah mengajarkannya lewat riwayat yang terkenal:
عن أنس بن مالك قال جاء رجل على ناقة له، يا رسول الله، أدَعها وأتوكل؟ فقال اعقلْها وتوكَّلْ
"Dari Anas bin Malik RA, ia bercerita bahwa suatu hari seseorang dengan mengendarai unta miliknya mendatangi Rasulullah. Ia bilang, 'Wahai Rasulullah, aku melepasnya dan aku bertawakal.' Rasulullah menjawab, 'Ikatlah untamu. Tawakallah.'" (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Kairo: Darus Salam, 2010 M/1431 H, halaman 92)
Jawaban Rasulullah tidak memilih salah satu. Beliau tidak berkata "ikat saja untamu, tidak usah tawakal", dan juga tidak membenarkan "lepas saja, yang penting tawakal". Beliau menyuruh keduanya sekaligus: ikat, lalu bertawakal. Dalam bahasa lain, sufi besar Sahal bin Abdullah at-Tustari menjelaskan bahwa tawakal merupakan sikap batin Nabi Muhammad, sedangkan usaha adalah jalan sunah atau anjuran beliau, sehingga siapa pun yang keadaannya belum berubah ke arah yang diinginkan hendaknya jangan meninggalkan usaha sebagai sunah Nabi (Al-Qusyairi, halaman 93). NU Online menyimpulkan bahwa perintah tawakal tidak menggugurkan kewajiban melakukan sebab atau ikhtiar.
Diterapkan pada topik kita, artinya begini. Doa dimudahkan segala urusan adalah unta yang ditawakalkan, dan berkasnya tetap harus Anda ikat sendiri. Kalau urusannya adalah wawancara kerja, doa ini tidak menggantikan latihan menjawab dan riset tentang perusahaan. Kalau urusannya adalah sidang skripsi, ia tidak menggantikan membaca ulang naskah. Kalau urusannya adalah izin usaha yang berbelit, ia tidak menggantikan melengkapi dokumen dan menanyakan prosedurnya dengan sabar. Doa mengurus sisi yang tidak sanggup kita pegang, yaitu hasil; usaha mengurus sisi yang memang diserahkan kepada kita, yaitu proses.
Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa
Pertanyaan yang jujur harus dijawab: kalau sudah berdoa dan sudah berusaha, tetapi urusannya tetap tidak lancar, apa artinya? Di sinilah penjelasan Imam al-Baijuri dalam kitab Tuhfatul Murîd 'alâ Jauharatit Tauhîd (Kairo: Darus Salam, 2015, halaman 255) yang dikutip NU Online sangat membantu. Menurut beliau, dikabulkannya doa itu bisa dengan berbagai macam cara, dan setidaknya ada tiga:
- Dikabulkan segera sesuai permintaan. Apa yang diberikan Allah sama persis dengan apa yang diminta, dan dalam waktu yang cepat. Orang sakit meminta sembuh, lalu segera diberi kesembuhan. Orang berutang meminta dilunasi, lalu utangnya terlunasi dalam waktu tak lama.
- Dikabulkan sesuai permintaan, tetapi ditunda. Allah menunda pemberian itu karena ada kemaslahatan dan hikmah tertentu yang hanya Allah ketahui. Penundaan ini bukan karena Allah enggan memberi, melainkan karena Allah lebih tahu kapan pemberian itu justru bermanfaat.
- Dikabulkan dalam bentuk yang lain. Apa yang diminta hamba ternyata tidak ada maslahatnya baginya, atau ada manfaatnya tetapi yang Allah berikan jauh lebih bermanfaat. NU Online mencontohkan pelajar yang memohon beasiswa, lalu yang Allah berikan adalah pekerjaan yang dengannya ia dapat membiayai pendidikannya sendiri.
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pernah menggambarkannya di hadapan para muridnya lewat perumpamaan yang mudah diingat. Ada orang tua pulang membawa oleh-oleh makanan kesukaan anaknya. Sang anak bergegas memintanya, tetapi makanan itu tidak segera diberikan karena tangan si anak sedang kotor. Bukan karena orang tuanya tidak mau memberi, melainkan karena ia ingin anaknya mencuci tangan lebih dulu supaya makanan itu tidak berdampak buruk. Begitu pula penundaan Allah atas permohonan hamba-Nya.
Perhatikan implikasinya, karena di sinilah letak kejujuran yang perlu dipegang. Ketiga kemungkinan di atas menutup ruang bagi klaim bahwa membaca doa tertentu akan membuat urusan pasti lancar sesuai keinginan dan sesuai jadwal kita. Yang dijamin adalah bahwa Allah menjawab, dan bahwa pada cara Allah menjawab itu pasti ada kebaikan. Yang tidak pernah dijanjikan adalah bahwa jawabannya akan selalu berupa "ya, sekarang juga, persis seperti yang kamu bayangkan". NU Online menutup pembahasannya dengan rumusan yang pas: keyakinan bahwa doa akan dikabulkan Allah adalah suatu keharusan, sedangkan bagaimana cara Allah mengabulkannya, pastilah di sana ada kebaikan.
Bagi yang sedang berada di fase menunggu dan hatinya lelah, membaca doa selamat atau merutinkan dzikir pagi dan petang bisa membantu menjaga hati tetap tenang selama proses berjalan.
Kesalahan Umum Memahami Doa Ini
Keyword seperti "doa dimudahkan segala urusan" ramai dicari, dan sayangnya ikut ramai pula konten yang menjualnya sebagai jalan pintas. Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari:
- Memperlakukan doa sebagai mantra. Mantra bekerja karena lafalnya, doa bekerja karena Yang diminta. Doa lâ sahla illâ mâ ja'altahu sahlan justru secara harfiah menyatakan bahwa kemudahan itu Allah yang menjadikan, bukan kalimatnya yang berdaya. Salah paham ini membalik makna doanya sendiri.
- Percaya pada hitungan yang dijamin. Anjuran semacam "baca sekian kali selama sekian hari maka pasti terkabul" tidak berasal dari halaman NU yang memuat doa ini. Sumbernya diam soal jumlah, dan ketika sumber diam, kita tidak berhak mengisinya dengan angka.
- Meninggalkan ikhtiar. Ini yang paling merugikan secara nyata. Berdoa agar dimudahkan lalu berhenti mengurus sebabnya bukan tawakal, dan sudah dijawab langsung oleh sabda "ikatlah untamu, lalu bertawakallah".
- Menuntut hasil sesuai keinginan dan jadwal sendiri. Melihat penjelasan al-Baijuri di atas, doa yang belum tampak hasilnya belum tentu tidak dijawab. Bisa jadi sedang ditunda, bisa jadi dijawab dalam bentuk lain yang belum kita kenali sebagai jawaban.
- Berpaling ke jalan mistik. Ketika urusan terasa buntu, godaan mencari penglaris, susuk, atau perantara berbau klenik bisa muncul. Ini bertentangan dengan inti doa tadi, yang justru menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadikan sesuatu mudah. Meminta kemudahan kepada selain Allah berarti membatalkan makna doa yang sedang dibaca.
- Menganggap doa hanya untuk urusan besar. Sebaliknya, para ulama justru mengajarkan agar seseorang meminta kepada Allah dalam segala hal, bahkan dalam urusan yang sangat remeh sekalipun. NU Online menyebut adanya hadits yang mengajarkan agar seseorang meminta kepada Allah segala kebutuhannya, sampai ketika tali sandal jepitnya putus pun ia meminta kepada Allah.
Kalau Anda sedang menghadapi persoalan yang berat dan butuh pertimbangan yang lebih personal, misalnya menyangkut keputusan keluarga, utang, atau pekerjaan, jangan menggantungkan semuanya pada satu bacaan. Silakan berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau bertanya kepada ustadz setempat yang mengenal duduk perkara Anda. Untuk memperbaiki sisi adab sehari-hari yang menurut Imam Nawawi justru paling menentukan, Anda bisa membaca juga pembahasan adab islami.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bacaan doa dimudahkan segala urusan?
Bacaannya adalah Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzâ syi'ta sahlan, yang artinya, "Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali Engkau jadikan perkara itu menjadi mudah dan Engkau jadikan kesulitan menjadi kemudahan, jika Engkau menghendaki." Doa ini diajarkan Rasulullah dan dicatat Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar halaman 238.
Berapa kali doa ini harus dibaca agar terkabul?
Sumber NU Online yang memuat doa ini tidak mematok jumlah hitungan tertentu, tidak menetapkan waktu khusus, dan tidak menjanjikan hasil. Anjuran seperti "baca sekian kali maka dijamin terkabul" tidak berasal dari sumber tersebut. Bacalah sewajarnya ketika menghadapi kesulitan, disertai usaha lahir yang semestinya.
Apakah doa dimudahkan segala urusan menjamin urusan pasti lancar?
Tidak ada jaminan hasil sesuai keinginan dan jadwal kita. Menurut Imam al-Baijuri sebagaimana dikutip NU Online, Allah mengabulkan doa dengan tiga cara: dikabulkan segera sesuai permintaan, dikabulkan tetapi ditunda karena ada hikmah, atau dikabulkan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat. Yang pasti adalah Allah menjawab, dan pada cara-Nya menjawab itu ada kebaikan.
Apa arti kata hazn dalam doa ini?
Menurut Imam Nawawi sebagaimana dikutip NU Online, lafal hazn dalam doa ini diartikan sebagai tanah keras berikut tanaman yang tumbuh di atasnya. Dalam terjemahan Indonesia, kata ini dirender sebagai "kesulitan", sehingga kesulitan digambarkan seperti tanah keras yang sukar digarap dan dimohonkan agar Allah menjadikannya mudah dilalui.
Apakah cukup berdoa tanpa berusaha?
Tidak. NU Online menjelaskan bahwa tawakal adalah ikhtiar batin yang memasrahkan segala hal kepada Allah, sedangkan ikhtiar adalah upaya lahiriah, dan keduanya berjalan seiring. Rasulullah menjawab sahabat yang hendak melepas untanya dengan alasan tawakal, "Ikatlah untamu. Tawakallah." Perintah tawakal tidak menggugurkan kewajiban melakukan sebab atau ikhtiar.
Apa adab yang paling penting agar doa dikabulkan?
Dari sepuluh adab berdoa yang dikutip dari Imam al-Ghazali, Imam Nawawi menyebut adab kesepuluh sebagai yang terpenting dan paling mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda kepada mereka yang teraniaya, dan menghadap Allah dengan mematuhi aturan agama. Adab lain meliputi menghadap kiblat, mengangkat tangan, membuka doa dengan pujian dan shalawat, serta memilih waktu mulia.
Sumber Rujukan
- NU Online - Doa saat Terjebak dalam Situasi Sulit
- NU Online - Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa menurut Al-Baijuri
- NU Online - Hubungan Tawakal dan Ikhtiar dalam Sunnah Rasul
- NU Online Lampung - 10 Adab Berdoa Menurut Imam Al-Ghazali agar Cepat Dikabulkan
- Quran NU Online - Surat Al-Baqarah Ayat 186
- Quran NU Online - Surat Thaha Ayat 25
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


