
Sholat Idul Adha adalah sholat sunnah muakkadah dua rakaat yang dikerjakan berjamaah pada pagi 10 Dzulhijjah, lalu diikuti dua khutbah. Kalau Anda sudah pernah sholat Idul Fitri, gerakannya akan terasa akrab: dua rakaat, tujuh takbir tambahan di rakaat pertama, lima di rakaat kedua, tanpa azan dan iqamah. Karena itu artikel ini tidak mengulang panduan gerakan dari nol. Fokusnya pada hal yang justru sering keliru, yaitu titik-titik yang membuat Idul Adha berbeda dari Idul Fitri: lafal niatnya, waktunya, adab makannya, dan takbirannya. Panduan gerakan selengkapnya tetap bisa Anda baca di artikel sholat Idul Fitri.
Empat Hal yang Membedakannya dari Idul Fitri
Banyak orang menyangka dua sholat Id itu identik dan cukup mengganti satu kata di niat. Anggapan itu benar untuk urusan gerakan, tetapi meleset untuk urusan rangkaian di sekitarnya. Berikut empat perbedaan yang nyata, dan tiga di antaranya justru berada di luar sholatnya sendiri:
- Lafal niat. Yang diganti adalah 'iidil fithri menjadi 'iidil adh-haa. Ini satu-satunya perbedaan di dalam sholat.
- Waktu. Idul Adha dianjurkan disegerakan, sedangkan Idul Fitri justru dianjurkan sedikit diakhirkan. Alasannya bukan selera, melainkan ada penyembelihan kurban yang menunggu setelahnya.
- Adab makan. Ini kebalikan penuh. Pada Idul Fitri disunnahkan makan lebih dahulu sebelum berangkat, pada Idul Adha disunnahkan tidak makan sampai sholat selesai.
- Takbiran. Idul Fitri hanya mengenal takbir mursal yang berhenti saat imam takbiratul ihram. Idul Adha punya tambahan takbir muqayyad yang mengiringi sholat fardhu selama lima hari, jauh melewati hari rayanya sendiri.
Niat Sholat Idul Adha: Imam, Makmum, Sendiri
Niat tempatnya di dalam hati dan bersamaan dengan takbiratul ihram. Melafalkannya pelan sebelum takbir hukumnya sunnah, bukan syarat. NU Online mengutip Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj: melafalkan niat dianjurkan agar lisan membantu hati, agar terhindar dari waswas, dan untuk keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkannya. Jadi kalau Anda lupa melafalkannya tetapi hati sudah mantap hendak sholat Idul Adha, sholat Anda tetap sah.
1. Niat sebagai imam:
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا للهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil adh-haa rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an imaaman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat, tunai, sebagai imam karena Allah ta'ala."
2. Niat sebagai makmum:
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil adh-haa rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an ma'muuman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat, tunai, sebagai makmum karena Allah ta'ala."
3. Niat sholat sendiri (munfarid):
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً للهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil adh-haa rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta'ala."
Polanya persis seperti niat Idul Fitri: imam menambahkan imaaman, makmum menambahkan ma'muuman, dan yang sholat sendirian tidak memakai keduanya. NU Online merumuskannya dengan ringkas, bahwa lafal dasarnya adalah ushalli sunnatan li 'iidil adh-haa rak'ataini untuk yang sholat sendirian, lalu ditambah imaaman bila menjadi imam dan ma'muuman bila menjadi makmum.
Perlu diketahui, laman-laman NU tidak seragam dalam menuliskan lafal niat ini. Sebagian menampilkan versi pendek tanpa mustaqbilal qiblati, dan sebagian menuliskan imam serta makmum dalam satu kurung. Redaksi memilih versi lengkap dari NU Online Jabar karena paling utuh unsurnya dan paling bersih penulisannya. Kalau Anda menemukan lafal yang sedikit berbeda di masjid atau buku panduan, tidak perlu bingung: yang wajib itu maksud di dalam hati, sedangkan lafal hanyalah alat bantu.
Waktu Sholat Idul Adha dan Alasan Diawalkan
Rentang waktunya sama dengan Idul Fitri: dimulai sejak matahari terbit pada 10 Dzulhijjah dan berakhir ketika matahari tergelincir alias masuk waktu Zuhur. Ulama Syafi'iyah sepakat soal batas akhir ini. Untuk awal waktu, pendapat paling sahih menurut Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' adalah sejak terbitnya matahari, meski yang lebih utama ditangguhkan sampai matahari naik kira-kira setinggi satu tombak. Muhammadiyah merumuskan rentang yang senada, yaitu dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal.
Yang khas Idul Adha adalah anjuran menyegerakan di dalam rentang itu. NU Online Jabar menyebut pelaksanaan sholat Idul Adha dianjurkan mengawalkan waktu demi memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendak melaksanakan ibadah kurban selepas sholat. Muhammadiyah menjelaskan hal yang sama dengan sandaran yang lebih rinci. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zadul Ma'ad menyatakan bahwa Nabi biasa mengakhirkan sholat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan sholat Idul Adha. Sebabnya, menurut Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, pada hari Adha umat Islam akan sibuk memotong hewan kurban.
Menariknya, dua ormas besar Indonesia berangkat dari jalur berbeda tetapi tiba di kesimpulan yang sama. NU Online juga mencatat bahwa Abu Hanifah, asy-Syafi'i, dan Ahmad sama-sama menyunahkan waktu sholat Idul Fitri diakhirkan dan waktu Idul Adha disegerakan, dengan hikmah yang simetris: melambatkan Idul Fitri memperluas waktu menunaikan zakat fitrah, dan menyegerakan Idul Adha memperluas waktu menyembelih tanpa memberatkan orang.
Sunnah Tidak Makan Sebelum Sholat Idul Adha
Inilah perbedaan yang paling terasa di rumah. Pagi Idul Fitri identik dengan opor dan ketupat sebelum berangkat. Pagi Idul Adha justru sebaliknya: dianjurkan menahan diri dari makan sampai sholat selesai. Dasarnya adalah hadits dari Buraidah yang dikutip Muhammadiyah dari riwayat at-Tirmidzi:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
Latin: 'An 'Abdillaahi bni Buraidata 'an abiihi qaala: kaanan nabiyyu shallallaahu 'alaihi wa sallama laa yakhruju yaumal fithri hattaa yath'ama, wa laa yath'amu yaumal adh-haa hattaa yushalliya.
Artinya: "Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sehingga selesai sholat." (HR at-Tirmidzi)
Ada dua redaksi riwayat Buraidah yang beredar di laman resmi dan keduanya perlu Anda ketahui. Redaksi di atas berbunyi "tidak makan sampai beliau sholat". Redaksi lain, yang dikutip NU Online Lampung dan juga oleh Muhammadiyah pada tulisannya yang berbeda, berbunyi "tidak makan sampai beliau kembali (ke rumah)", lalu beliau menyantap hasil sembelihannya. Dalam praktik keduanya bertemu di titik yang sama: makan dilakukan setelah sholat, dan idealnya yang disantap adalah daging kurban. Muhammadiyah menegaskan kesunahan itu, yaitu agar sesuatu yang dimakan setelah sholat Idul Adha adalah daging kurban. NU Online Lampung menambahkan, alangkah lebih baik jika yang dimakan adalah kurma sebagaimana kebiasaan Rasulullah.
Mengapa aturannya justru dibalik? NU Online menjelaskan logikanya dengan rapi. Pada Idul Fitri, sedekah berupa zakat fitrah ditunaikan sebelum sholat, sehingga orang miskin sudah punya makanan dan kita dianjurkan ikut menikmati hidangan bersama mereka sejak pagi. Sebaliknya pada Idul Adha, sedekahnya sunnah dilaksanakan setelah sholat, dibuktikan oleh penyembelihan hewan kurban yang memang tidak dilaksanakan sebelum sholat. Menahan makan sampai sholat usai berarti menyelaraskan perut kita dengan jadwal berbaginya.
Takbiran Idul Adha: Mursal dan Muqayyad
Di sinilah Idul Adha melangkah paling jauh dari Idul Fitri. Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim asy-Syafi'i dalam Fathul Qarib al-Mujib, sebagaimana dikutip NU Online Jatim, membagi takbir hari raya menjadi dua macam:
- Takbir mursal: takbir yang waktunya tidak terikat sholat. Boleh dikumandangkan kapan saja dan di mana saja, sejak terbenam matahari pada malam Id sampai imam takbiratul ihram sholat Id. Jenis ini ada pada Idul Fitri maupun Idul Adha.
- Takbir muqayyad: takbir yang terikat sholat, dibaca setiap selesai sholat, baik fardhu maupun sunnah. Waktunya dimulai setelah sholat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai selesai sholat Ashar pada akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah). Jenis ini khas Idul Adha.
NU Online meringkasnya begini: takbir muqayyad dilaksanakan usai sholat dalam rentang lima hari, yaitu 9 sampai 13 Dzulhijjah. Artinya takbir Idul Adha justru dimulai sehari sebelum hari rayanya dan masih berlanjut tiga hari sesudahnya. Bandingkan dengan Idul Fitri yang takbirnya sudah tuntas begitu imam mengangkat tangan untuk takbiratul ihram.
Di titik ini ada perbedaan yang menarik antara dua ormas, dan bukan pada rentang waktunya. Muhammadiyah menganjurkan memperbanyak takbir pada rentang yang sama, yaitu sejak Subuh hari Arafah hingga Ashar hari terakhir di Mina (13 Zulhijah), berdasarkan Putusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976. Bedanya, Muhammadiyah menyatakan takbir pada rentang itu tidak hanya pada waktu-waktu tertentu seperti setelah sholat fardhu, tetapi dapat dibaca setiap waktu, dengan sandaran riwayat al-Bukhari bahwa Sayyidina Umar bertakbir di kubahnya di Mina. Jadi rentangnya disepakati, yang berbeda adalah apakah takbir itu terikat pada momen selesai sholat atau lepas sepanjang hari.
Adapun lafal takbirnya sendiri tidak berbeda antara mursal dan muqayyad, dan tidak ada lafal khusus yang hanya berlaku untuk salah satunya. Bacaan takbir Idul Adha yang lengkap beserta Arab, latin, dan artinya sudah kami muat terpisah di artikel Lebaran Haji (Idul Adha) agar tidak berulang di sini. Perlu dicatat pula, sebagaimana lafal takbir, redaksi dzikir di sela takbir zawaid pun punya lebih dari satu versi di laman NU. Halaman NU Online nasional dan Lampung memakai redaksi Allaahu akbar kabiiraa atau subhaanallaahi wal hamdu lillaah, sementara NU Online Jabar menambahkan hawqalah di akhirnya. Keduanya sah dan sudah kami sandingkan di artikel sholat Idul Fitri, karena bacaan ini identik di kedua hari raya.
Tata Cara Ringkas dan Khutbah Idul Adha
Karena gerakannya sama persis dengan Idul Fitri, cukup kami ringkas: dua rakaat tanpa azan dan iqamah, dibuka niat lalu takbiratul ihram, doa iftitah, tujuh takbir tambahan di rakaat pertama dengan dzikir di antaranya, Al-Fatihah lalu Surat Al-A'la, rukuk hingga sujud seperti biasa, kemudian rakaat kedua dengan lima takbir tambahan, Al-Fatihah lalu Surat Al-Ghasyiyah, dan ditutup salam. Rincian tiap bacaan, termasuk urutan takbir zawaid dan posisi tangan, ada pada panduan sholat Idul Fitri, sedangkan bacaan wajib dalam sholat secara umum bisa Anda dalami di bacaan sholat.
Khutbahnya juga bertumpu pada aturan yang sama. NU Online Jatim menjelaskan bahwa berbeda dari sholat Jumat, khutbah pada sholat Id dilaksanakan setelah sholat dua rakaat usai. Hukum khutbah Id adalah sunnah, tetapi ketika dikerjakan harus memenuhi rukun khutbah, yang tidak berbeda dari rukun khutbah Jumat: memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat takwa, membaca ayat Al-Qur'an pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum muslimin pada khutbah kedua. Khatib disunahkan berdiri bila mampu dan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar. Khutbah pertama dibuka dengan takbir sembilan kali dan khutbah kedua dengan takbir tujuh kali.
Satu hal yang jarang disorot tetapi relevan pada hari kurban: NU Online Jatim menegaskan bahwa perempuan yang sedang haid pun bisa turut keluar merayakan hari raya, meski terpisah dari tempat sholat, dan mereka berhak mendengarkan khutbah, melantunkan takbir, doa, atau dzikir lainnya. Rujukannya hadits riwayat Imam Bukhari nomor 928. Jadi tidak hadir di saf bukan berarti kehilangan seluruh hari rayanya.
Menurut hemat redaksi, godaan terbesar pada Idul Adha justru terjadi persis setelah salam: jamaah mulai beringsut pulang atau bergegas ke lokasi penyembelihan sebelum khatib selesai. Padahal, seperti akan kita lihat di bagian berikut, terburu-buru itu tidak menguntungkan siapa pun.
Setelah Sholat: Kurban, Kuku dan Rambut, Hari Tasyrik
Sholat Idul Adha bukan penutup, melainkan pintu masuk. NU Online menjelaskan bahwa awal waktu penyembelihan kurban masuk setelah matahari terbit pada hari nahar dan setelah berlalu sekira pelaksanaan sholat dua rakaat serta dua khutbah ringan, yaitu sekadar durasi minimal pelaksanaan keduanya. Kalau seseorang menyembelih sebelum itu, sembelihannya tidak sah sebagai kurban dan hanya terhitung daging biasa. Inilah alasan paling praktis untuk tidak bubar sebelum khutbah tuntas, sekaligus alasan mengapa waktu sholatnya disegerakan sejak awal. Ketentuan hewan, pembagian daging, dan batas akhir penyembelihan kami uraikan di artikel Lebaran Haji (Idul Adha).
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul dan kerap terdengar bertabrakan: bukankah berhias dan memotong kuku itu sunnah sebelum sholat Id? Betul, itu berlaku umum. Tetapi khusus bagi orang yang hendak berkurban, NU Online menyajikan masalah ini sebagai khilafiyah berdasarkan hadits Ummu Salamah. Mula al-Qari dalam Mirqatul Mafatih menyimpulkan: menurut Imam Malik dan Imam Syafi'i, disunahkan bagi orang yang hendak berkurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya sampai selesai penyembelihan, dan bila dipotong hukumnya makruh. Abu Hanifah menilainya mubah, tidak makruh dan tidak sunnah. Adapun Imam Ahmad mengharamkannya. Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebut hikmah kesunahan itu adalah agar seluruh anggota tubuh tetap utuh dan terbebas dari api neraka.
Jadi tidak ada pertentangan. Bagi Anda yang tidak berkurban, berhias dan merapikan kuku sebelum berangkat tetap sunnah. Bagi Anda yang berkurban dan mengikuti mazhab Syafi'i, menahannya sampai hewan disembelih itulah yang dianjurkan. Kalau terlanjur memotong, kurban Anda tetap sah karena ini soal kesunahan, bukan syarat.
Rangkaiannya belum berhenti pada 10 Dzulhijjah. Tiga hari sesudahnya, yaitu 11 sampai 13 Dzulhijjah, disebut hari tasyrik, dan pada hari-hari itu umat Islam haram berpuasa karena masih dalam suasana makan dan minum hasil kurban. Di situlah takbir muqayyad tadi terus mengiringi setiap sholat fardhu sampai Ashar 13 Dzulhijjah. Sebaliknya, sebelum hari raya ada rangkaian puasa sunnah sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang bisa Anda pelajari di niat puasa Dzulhijjah dan niat puasa Tarwiyah.
Sumber Rujukan
- NU Online Jabar - Tuntunan Lengkap Sholat Idul Adha dari Niat sampai Salam
- NU Online - Lafal Niat Shalat Idul Adha
- NU Online - Panduan Shalat Idul Adha: dari Niat, Bacaan di Antara Takbir, hingga Salam
- NU Online Lampung - Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Shalat Id?
- NU Online - Idul Fitri dan Tafsir Kemanusiaan (waktu Idul Fitri diakhirkan, Idul Adha disegerakan)
- NU Online - Alasan Disunahkan Makan sebelum Shalat Idul Fitri (dan alasan diakhirkan pada Idul Adha)
- NU Online Lampung - 6 Amalan Sunnah Dianjurkan pada Hari Raya Idul Adha
- NU Online Jatim - Memahami Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri (mursal dan muqayyad)
- NU Online - Sampai Kapan Takbir Idul Adha Dikumandangkan?
- NU Online Jatim - Berikut Ketentuan Khutbah saat Idul Adha
- NU Online - Waktu Penyembelihan Kurban ketika Shalat Idul Adha Ditiadakan
- NU Online - Hukum Potong Kuku dan Rambut Ketika Kurban
- Muhammadiyah - Tuntunan Menyambut dan Melaksanakan Shalat Idul Adha
- Muhammadiyah - 5 Amalan Sunah Sebelum dan Sesudah Salat Id di Lapangan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


