
Niat sholat Idul Fitri dibaca di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, dan lafalnya berbeda tipis antara yang menjadi imam, makmum, atau sholat sendiri. Sholat Idul Fitri sendiri hukumnya sunnah muakkadah, dikerjakan dua rakaat pada pagi 1 Syawal dengan tambahan tujuh takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua. Amaliyah ini dikenal luas sebagai sholat ied atau sholat Id. Artikel ini menyajikan lafal niat lengkap, tata cara, bacaan di antara takbir, waktu, khutbah, dan sunnah sebelum berangkat, dengan rujukan dari NU Online dan Muhammadiyah.
Hukum Sholat Idul Fitri dan Waktunya
Para ulama sepakat bahwa sholat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan. NU Online menjelaskan bahwa sejak disyariatkan pada tahun kedua hijriah, Rasulullah tidak pernah meninggalkan sholat Id sampai beliau wafat. Sebagian ulama Syafi'iyah bahkan menyebutnya fardhu kifayah (kewajiban kolektif), tetapi pendapat yang masyhur dan dipegang mayoritas adalah sunnah muakkadah. Karena statusnya sunnah, orang yang berhalangan hadir tidak berdosa, namun sangat rugi jika melewatkannya tanpa uzur.
Soal waktu, ulama mazhab Syafi'i sepakat bahwa akhir waktu sholat Id adalah ketika matahari tergelincir (masuk waktu Zuhur). Adapun awal waktunya, pendapat yang paling sahih menurut Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab adalah sejak terbitnya matahari. Meski begitu, yang lebih utama justru sedikit diakhirkan sampai matahari naik kira-kira setinggi satu tombak (sekitar 3,36 meter dari ufuk). Mengerjakan sholat Id sebelum matahari naik seukuran itu bahkan dihukumi makruh, karena ada ulama yang tidak menyahkannya.
Niat Sholat Idul Fitri: Imam, Makmum, Sendiri
Niat sholat Idul Fitri diletakkan di dalam hati dan dianjurkan dilafalkan pelan sebelum takbiratul ihram untuk membantu kekhusyukan. Berikut tiga lafal niat sesuai posisi, sebagaimana dihimpun NU Online dari kitab Irsyadul Anam dan Perukunan Melayu.
1. Niat sebagai imam:
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا للهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an imaaman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat, tunai, sebagai imam karena Allah ta'ala."
2. Niat sebagai makmum:
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an ma'muuman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat, tunai, sebagai makmum karena Allah ta'ala."
3. Niat sholat sendiri (munfarid):
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan li 'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta'ala."
Perbedaan ketiganya hanya pada satu kata: imam menambahkan imaaman, makmum menambahkan ma'muuman, dan yang sholat sendiri tidak memakai keduanya. Jika ragu apakah akan menjadi imam atau makmum saat berangkat, Anda cukup memantapkan niat sesuai kenyataan begitu barisan shaf terbentuk.
Tata Cara Sholat Idul Fitri Dua Rakaat
Secara umum, sholat Idul Fitri sama dengan sholat sunnah lain: dua rakaat, tanpa azan dan iqamah (cukup seruan bilal), lalu ditutup salam. Yang membedakan hanyalah adanya takbir zawaid, yakni takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah. Berikut urutannya:
- Berdiri, membaca niat, lalu takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah.
- Bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama (di luar takbiratul ihram) sambil mengangkat tangan pada setiap takbir. Di antara dua takbir dianjurkan membaca dzikir pendek.
- Membaca surat Al-Fatihah, lalu disunnahkan membaca surat Al-A'la.
- Rukuk, sujud, dan seterusnya seperti sholat biasa hingga berdiri ke rakaat kedua.
- Pada rakaat kedua, sebelum Al-Fatihah, bertakbir lima kali (di luar takbir bangkit dari sujud) dengan dzikir yang sama di sela-selanya.
- Membaca Al-Fatihah, lalu disunnahkan membaca surat Al-Ghasyiyah. Rukuk, sujud, tasyahud, salam.
NU Online menegaskan bahwa hukum takbir tambahan ini (tujuh pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua) adalah sunnah, sehingga jika lupa mengerjakannya, keabsahan sholat Id tidak gugur. Jadi tidak perlu panik atau mengulang jika jumlah takbir tidak pas.
Dua varian dzikir di antara takbir
Inilah bagian yang sering ditanyakan: bacaan apa yang dibaca di sela takbir zawaid? Menariknya, laman-laman NU sendiri menyajikan lebih dari satu redaksi. Kami tampilkan keduanya apa adanya agar Anda bisa memilih yang paling mudah, karena semuanya sama-sama sah.
Varian pertama (NU Online nasional dan Jatim), dua pilihan:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Latin: Allaahu akbar kabiiraa, wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang."
Atau boleh juga membaca:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Latin: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Varian kedua (NU Online Jabar) memakai redaksi yang mirip pilihan kedua di atas, tetapi menambahkan kalimat hawqalah di akhirnya:
سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Latin: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim.
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."
Perbedaan NU dan Muhammadiyah
Dua ormas Islam terbesar di Indonesia sebenarnya sepakat pada inti sholat Id: sama-sama dua rakaat, dengan tujuh takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua. Muhammadiyah menyandarkannya pada hadits Aisyah bahwa Rasulullah bertakbir tujuh kali dan lima kali pada sholat Idul Fitri dan Idul Adha, di luar takbir rukuk. Jadi jumlah takbirnya identik dengan yang diamalkan warga NU. Perbedaannya ada pada beberapa hal teknis dan penekanan:
- Dzikir di antara takbir. NU menganjurkan membaca dzikir pendek di sela takbir (lihat dua varian di atas). Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa tidak ada tuntunan dari Nabi tentang bacaan khusus di antara dua takbir, sehingga yang dilakukan cukup mengangkat tangan setinggi telinga tanpa bacaan tertentu. Keduanya berangkat dari dalil dan metode yang berbeda, bukan saling menyalahkan.
- Tempat. Muhammadiyah menekankan sholat Id di tanah lapang mengikuti praktik Nabi, kecuali ada halangan. Dalam mazhab Syafi'i yang jadi rujukan NU, sholat di masjid lebih utama bila daya tampungnya memadai, dan lapangan lebih utama bila masjid sempit.
- Surat yang dibaca. Sama-sama menganjurkan Al-A'la pada rakaat pertama dan Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua, dengan alternatif surat Qaf dan Al-Qamar.
- Penetapan tanggal. Muhammadiyah menetapkan awal Syawal melalui hisab jauh-jauh hari, sedangkan pemerintah bersama NU menetapkannya lewat rukyatul hilal yang diputuskan dalam sidang isbat Kemenag. Karena metodenya berbeda, kadang tanggal 1 Syawal keduanya sama, kadang selisih satu hari.
Khutbah Idul Fitri dan Hukum Mendengarkannya
Setelah salam, jamaah dianjurkan untuk tidak buru-buru pulang, melainkan tetap duduk mendengarkan khutbah Id sampai selesai. Berbeda dengan sholat Jumat yang khutbahnya menjadi syarat sah, khutbah Idul Fitri statusnya sunnah, sama seperti sholat Idnya sendiri. Artinya, sholat Id tetap sah meski tanpa khutbah, misalnya ketika seseorang sholat Id sendirian di rumah. Namun bagi yang berjamaah, mendengarkan khutbah termasuk kesunnahan yang dianjurkan.
Dari sisi urutan, khutbah Id dilaksanakan setelah sholat, kebalikan dari sholat Jumat yang khutbahnya sebelum sholat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman semuanya sholat Id sebelum khutbah. Rukun khutbah Id tidak berbeda dari khutbah Jumat: memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat takwa, membaca ayat Al-Qur'an pada salah satu khutbah, dan mendoakan kaum muslimin pada khutbah kedua. Khutbah dilakukan dua kali dengan duduk sejenak di antara keduanya.
Ada satu ciri khas khutbah Id: khatib disunnahkan membuka khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan khutbah kedua dengan takbir tujuh kali. Jamaah diminta tenang dan menyimak dengan saksama selama khutbah berlangsung. Karena hukum mendengarkannya sunnah, jamaah yang terpaksa pergi lebih dulu tidak berdosa, tetapi kehilangan keutamaannya.
Sunnah Sebelum Berangkat Sholat Id
Sebelum menuju tempat sholat, ada rangkaian sunnah yang menjadikan Idul Fitri terasa lengkap. NU Online menghimpunnya dari kitab-kitab Syafi'iyah seperti Tuhfah al-Muhtaj dan Mughni al-Muhtaj:
- Mandi. Disunnahkan mandi Id bagi siapa saja, laki-laki maupun perempuan, termasuk yang sedang haid atau nifas dan yang tidak menghadiri sholat Id. Waktunya dimulai sejak tengah malam 1 Syawal sampai tenggelamnya matahari keesokan harinya, dan lebih utama dilakukan setelah terbit fajar.
- Makan lebih dahulu. Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri disunnahkan makan sebelum berangkat, mengikuti sunnah Nabi. Yang lebih utama adalah kurma dalam jumlah ganjil, satu, tiga, dan seterusnya.
- Berhias dan memakai pakaian terbaik. Dianjurkan membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian paling bagus, lebih utama yang berwarna putih. Dari sini pula tradisi memakai baju baru saat Lebaran menemukan dasarnya.
- Berjalan kaki. Berangkat ke tempat sholat dengan berjalan kaki hukumnya sunnah, berdasarkan riwayat dari Sayyidina Ali. Yang tidak mampu berjalan boleh berkendara.
- Berbeda jalan pergi dan pulang. Dianjurkan menempuh rute berangkat yang berbeda dari rute pulang, mengikuti riwayat al-Bukhari, dengan hikmah memperbanyak jejak langkah menuju ibadah.
- Memperbanyak takbir. Malam dan pagi Id dihidupkan dengan kumandang takbir.
Lafal takbiran Idul Fitri
Takbir Idul Fitri disunnahkan sejak terbenam matahari pada malam 1 Syawal hingga imam takbiratul ihram bagi yang berjamaah, atau hingga seseorang takbiratul ihram sendiri bagi yang sholat sendirian. Bentuk pendeknya adalah takbir tiga kali:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar."
Adapun redaksi yang lebih lengkap yang lazim dikumandangkan:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Latin: Allaahu akbar kabiiraa, wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu wa laa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud diina wa lau karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Tiada tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan untuk-Nya meski orang-orang kafir membencinya. Tiada tuhan selain Allah semata, yang benar janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, dan yang menghancurkan sendiri pasukan sekutu. Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Beda dengan Idul Adha dan Catatan Penting
Sholat Idul Fitri dan Idul Adha bagai saudara kembar dengan sedikit perbedaan. Tata caranya sama persis, dua rakaat dengan tujuh dan lima takbir. Yang membedakan terutama tiga hal. Pertama, lafal niatnya mengganti "'idil fithri" menjadi "'idil adhha". Kedua, urusan makan: pada Idul Fitri disunnahkan makan sebelum berangkat, sedangkan pada Idul Adha justru dianjurkan menunda makan sampai selesai sholat. Ketiga, penekanan waktu: sholat Idul Adha disunnahkan disegerakan agar penyembelihan kurban lebih longgar, sementara Idul Fitri sedikit diakhirkan agar sempat menunaikan zakat fitrah. Pembahasan Idul Adha kami uraikan pada artikel tersendiri.
Beberapa catatan praktis agar sholat Id Anda lebih tenang:
- Datang terlambat? Jika Anda mendapati imam sudah mulai membaca Al-Fatihah, ikuti saja imam. Takbir zawaid yang terlewat tidak perlu diqada dan sholat tetap sah.
- Lupa jumlah takbir. Karena takbir tambahan itu sunnah, kelebihan atau kekurangan hitungan tidak membatalkan sholat, dan tidak perlu sujud sahwi karena bukan sunnah ab'adh.
- Jangan berdebat. Perbedaan cara antara satu masjid dan masjid lain, atau antara NU dan Muhammadiyah, adalah ranah khilafiyah yang lapang. Semuanya berpijak pada dalil.
Agar rangkaian ibadah Ramadhan sampai Syawal Anda utuh, pelajari juga kapan puasa Ramadhan dimulai dan segarkan hafalan bacaan sholat untuk rukuk, sujud, dan tasyahud. Bila ada persoalan fikih pribadi seputar sholat Id, seperti mengqada bagi yang tertinggal atau hukum bagi musafir, silakan bertanya melalui halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat.
Sumber Rujukan
- NU Online - Panduan Lengkap Shalat Idul Fitri Disertai Niat dan Bacaan di Sela-sela Takbir
- NU Online - Niat Shalat Idul Fitri Berjamaah dan Sendirian
- NU Online Jabar - Panduan Sholat Idul Fitri Lengkap dengan Niat dan Jumlah Bacaan Takbir
- NU Online - Kapan Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Idul Fitri?
- NU Online - Tata Cara Khutbah Idul Fitri Lengkap
- NU Online Lampung - 9 Amalan Sunnah saat Lebaran Idul Fitri
- NU Online - Bacaan Takbiran Idul Fitri Arab, Latin, dan Artinya
- Muhammadiyah - Tata Cara Salat Idul Fitri di Lapangan
- Muhammadiyah - Ketentuan Tentang Takbir dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.
Pertanyaan seputar niat sholat idul fitri
TBagaimana lafal niat sholat Idul Fitri untuk makmum?
Niat makmum adalah "Ushalli sunnatan li 'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an ma'muuman lillaahi ta'aalaa", artinya "Aku berniat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat, tunai, sebagai makmum karena Allah ta'ala." Untuk imam, kata ma'muuman diganti imaaman, dan yang sholat sendiri tidak memakai keduanya.
TBerapa jumlah takbir dalam sholat Idul Fitri?
Ada takbir tambahan (takbir zawaid) sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama sebelum Al-Fatihah, dan lima kali pada rakaat kedua sebelum Al-Fatihah. Jumlah ini di luar takbiratul ihram dan takbir perpindahan gerakan, dan disepakati baik oleh NU maupun Muhammadiyah.
TKapan waktu sholat Idul Fitri?
Waktunya dimulai sejak matahari terbit hingga tergelincir (masuk waktu Zuhur). Menurut mazhab Syafi'i, lebih utama sedikit diakhirkan sampai matahari naik kira-kira setinggi satu tombak. Mengerjakannya sebelum matahari naik seukuran itu dihukumi makruh.
TApakah sholat Idul Fitri sah tanpa mendengarkan khutbah?
Sah. Khutbah Idul Fitri hukumnya sunnah, bukan syarat sah seperti khutbah Jumat, dan dilaksanakan setelah sholat. Jamaah dianjurkan tetap duduk mendengarkan khutbah sampai selesai, tetapi sholat Id tetap sah meski dikerjakan sendiri tanpa khutbah.
TApa bacaan di antara takbir sholat Idul Fitri?
Menurut NU dianjurkan membaca dzikir pendek seperti "Allaahu akbar kabiiraa, wal hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa" atau "Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar". Sebagian laman NU menambahkan hawqalah di akhirnya. Muhammadiyah berpendapat tidak ada tuntunan bacaan khusus di sela takbir.
TApa saja sunnah sebelum berangkat sholat Idul Fitri?
Di antaranya mandi Id, makan lebih dahulu (lebih utama kurma dalam jumlah ganjil), memakai wewangian dan pakaian terbaik, berjalan kaki, menempuh jalan pulang yang berbeda dari jalan pergi, serta memperbanyak takbir. Jangan lupa menunaikan zakat fitrah sebelum berangkat.
TApa beda sholat Idul Fitri dan Idul Adha?
Tata caranya sama, dua rakaat dengan tujuh dan lima takbir. Bedanya pada niat (li 'idil fithri vs li 'idil adhha), anjuran makan (Idul Fitri makan dahulu, Idul Adha menunda makan sampai selesai sholat), dan penekanan waktu (Idul Adha disegerakan, Idul Fitri sedikit diakhirkan untuk zakat fitrah).
Bacaan lain seputar sholat
SholatBacaan Sholat Lengkap: Dari Takbiratul Ihram sampai Salam
Bacaan sholat lengkap dari takbiratul ihram sampai salam dalam tulisan Arab, latin, dan artinya, plus penjelasan mana yang wajib dan mana yang sunnah menurut NU Online.
SholatDoa Iftitah dan Maknanya
Bacaan doa iftitah Arab, latin, dan artinya, lengkap dengan macam-macam redaksi sahih, hukum, keutamaan, serta ketentuannya bagi makmum masbuq menurut NU Online.
SholatDoa Qunut: Bacaan, Arti, dan Kapan Dibaca
Bacaan doa qunut subuh lengkap dalam Arab, latin, dan artinya, serta kapan qunut dibaca (subuh, witir, nazilah) menurut mazhab Syafi'i dan Muhammadiyah.