NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Umroh & Haji

Lebaran Haji (Idul Adha): Tanggal, Amalan, dan Ketentuan Kurban

Lebaran Haji 2026 atau Idul Adha adalah hari raya kurban yang jatuh setiap 10 Dzulhijjah, sehari setelah jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Penetapan tanggal masehinya mengikuti sidang isbat Kemenag, sedangkan puncak amalannya adalah memperbanyak takbir, menunaikan sholat Idul Adha, dan menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Lebaran Haji (Idul Adha): Tanggal, Amalan, dan Ketentuan Kurban

Lebaran Haji 2026, yang lebih dikenal sebagai Idul Adha atau hari raya haji, adalah hari raya besar umat Islam yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari itu umat Islam disunahkan memperbanyak takbir, menunaikan sholat Idul Adha, lalu menyembelih hewan kurban sebagai wujud syukur dan ketaatan kepada Allah. Karena bertepatan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci, tepatnya sehari setelah wukuf di Arafah, hari raya ini populer disebut Lebaran Haji. Artikel ini membahas pengertian Idul Adha, kapan tanggalnya jatuh, amalan sunnah yang dianjurkan, ketentuan hewan kurban, waktu penyembelihan, pembagian daging, sampai hari tasyrik, dihimpun dari laman resmi NU Online.

Apa Itu Lebaran Haji atau Idul Adha

Idul Adha adalah hari raya yang diperingati umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender hijriah. Hari ini juga disebut yaumun nahr, yaitu hari penyembelihan, karena pada hari itulah ibadah kurban mulai dilaksanakan. Secara bahasa, Idul Adha berarti kembalinya hari raya kurban, sehingga inti perayaannya bukan pada makanan atau pakaian baru, melainkan pada semangat berkurban dan berbagi dengan sesama.

Di Indonesia, Idul Adha lebih akrab disebut Lebaran Haji. Penyebutan ini muncul karena hari raya tersebut jatuh persis ketika jutaan jamaah haji dari seluruh dunia sedang menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Makkah. Sehari sebelumnya, yakni pada 9 Dzulhijjah, para jamaah melaksanakan wukuf di Padang Arafah. NU Online menjelaskan bahwa wukuf dilakukan pada 9 Dzulhijjah, sehari sebelum hari raya Idul Adha, dan wukuf inilah yang sering disebut sebagai puncak manasik haji sekaligus pembeda antara ibadah haji dan umrah. Bahkan ada penegasan dalam hadits bahwa inti haji adalah wukuf di Arafah.

Dari sinilah terlihat kaitan erat antara Idul Adha dan ibadah haji. Ketika jamaah haji bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina untuk melempar jumrah dan menyembelih hewan, umat Islam di berbagai negeri turut menyambut hari raya dengan takbir, sholat Ied, dan kurban. Jadi, meski tidak sedang berada di Tanah Suci, seorang muslim tetap bisa merasakan atmosfer dan keberkahan hari-hari haji melalui amalan-amalan yang dianjurkan pada Idul Adha. Bila Anda ingin memahami rangkaian ibadah haji lebih jauh, tersedia halaman khusus umroh dan haji di situs ini.

Perlu dicatat, Idul Adha adalah salah satu dari dua hari raya besar dalam Islam, bersama Idul Fitri. Keduanya sama-sama diawali sholat sunnah dua rakaat berjamaah dan menjadi momen mempererat silaturahmi. Namun keduanya punya karakter yang berbeda. Idul Fitri menutup ibadah puasa Ramadhan dan ditandai zakat fitrah, sedangkan Idul Adha menghidupkan syiar kurban dan mengenang keteladanan Nabi Ibrahim beserta putranya, Nabi Ismail, dalam menunaikan perintah Allah.

Key Takeaway: Idul Adha atau Lebaran Haji jatuh pada 10 Dzulhijjah, disebut juga hari nahr (hari penyembelihan). Namanya menjadi Lebaran Haji karena bertepatan dengan puncak ibadah haji, yaitu sehari setelah jamaah wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Kapan Lebaran Haji atau Idul Adha Jatuh

Dalam penanggalan Islam, Idul Adha selalu jatuh pada tanggal yang sama, yaitu 10 Dzulhijjah. Yang berbeda dari tahun ke tahun adalah padanannya dalam kalender masehi. Ini terjadi karena kalender hijriah berbasis peredaran bulan (lunar) yang jumlah harinya lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding kalender masehi yang berbasis matahari. Akibatnya, setiap tahun Idul Adha bergeser maju kira-kira sebelas hari lebih awal dibanding tahun sebelumnya.

Karena itu, tanggal masehi Lebaran Haji 2026 tidak bisa dipastikan hanya dari hitungan di atas kertas. Penetapan awal bulan Dzulhijjah, yang menentukan kapan tepatnya 10 Dzulhijjah, mengikuti hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama dengan mempertimbangkan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) dan hisab (perhitungan astronomis). Selama pemerintah belum mengumumkan hasilnya, tanggal masehinya belum bisa dianggap pasti. Portal ini memilih untuk tidak menebak tanggal, dan menyarankan pembaca menunggu pengumuman resmi menjelang bulan Dzulhijjah.

Satu hal yang perlu dipahami dengan lapang dada, terkadang terjadi perbedaan sehari dalam penetapan Idul Adha. Sebagian ormas Islam seperti Muhammadiyah menetapkan tanggal berdasarkan metode hisab hakiki, sehingga bisa mengumumkan tanggalnya jauh hari sebelum pelaksanaan. Sementara pemerintah dan Nahdlatul Ulama menggabungkan rukyat dengan hisab melalui sidang isbat. Bila hasilnya berbeda, perbedaan itu adalah bagian dari keragaman metode yang sama-sama memiliki dasar ilmiah dan syar'i, bukan alasan untuk saling menyalahkan.

Yang juga menarik, karena 9 Dzulhijjah adalah hari Arafah, penentuan Idul Adha berkaitan erat dengan penentuan hari puasa Arafah. Bagi yang ingin mencocokkan kalender ibadah sepanjang tahun, termasuk membandingkannya dengan penentuan awal Ramadhan, Anda bisa membaca ulasan kapan puasa Ramadan yang membahas mekanisme serupa antara rukyat dan hisab.

Catatan: Jangan menyalin tanggal masehi Idul Adha dari ingatan atau artikel tahun lalu. Yang tetap dan pasti adalah 10 Dzulhijjah. Tanggal masehinya untuk tahun berjalan, termasuk 2026, mengikuti penetapan sidang isbat Kemenag, dan bisa berbeda sehari dengan ketetapan Muhammadiyah.

Amalan Sunnah Hari Raya Idul Adha

Ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan menghidupkan hari raya Idul Adha. Yang paling menonjol adalah takbir, sholat Ied, dan penyembelihan kurban. Selain itu, seperti dihimpun NU Online, dianjurkan pula mandi sebelum berangkat sholat Ied, memakai wewangian, memotong kuku dan rambut, mengenakan pakaian terbaik yang bersih dan suci, serta berjalan kaki menuju tempat sholat bila memungkinkan.

Memperbanyak takbir

Takbir mulai dikumandangkan sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Adha. Menurut Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim asy-Syafi'i dalam Fathul Qarib al-Mujib sebagaimana dikutip NU Online, takbir hari raya terbagi menjadi dua macam. Takbir mursal boleh dilafalkan kapan pun dan di mana pun, dibaca mulai terbenamnya malam Id hingga imam melakukan takbiratul ihram sholat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Adapun takbir muqayyad memiliki waktu khusus, yaitu dibaca setelah sholat fardhu dan sholat sunnah, mulai selesai sholat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai selesai sholat Ashar di akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah).

Lafal takbir yang paling ringkas dibaca tiga kali:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar.

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar."

Adapun lafal takbir yang paling masyhur dan biasa dikumandangkan masyarakat adalah sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd.

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala puji."

Takbir tersebut kerap dilengkapi dengan lafal yang lebih panjang berisi tambahan pujian:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Latin: Allaahu akbar kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa. Laa ilaaha illallaahu wa laa na'budu illaa iyyaah, mukhlishiina lahud diin, wa lau karihal kaafiruun. Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.

Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Tidak ada tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci. Tidak ada tuhan selain Allah semata, yang benar janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, dan yang menghancurkan pasukan sekutu dengan sendirian. Tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."

Sholat Idul Adha dan perbedaannya dengan Idul Fitri

Sholat Idul Adha dikerjakan dua rakaat secara berjamaah pada pagi hari raya, dilanjutkan khutbah. Tata caranya secara umum sama dengan sholat Idul Fitri, termasuk tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Karena tata caranya mirip, Anda bisa mempelajari panduan lengkap gerakan dan bacaannya pada artikel sholat Idul Fitri.

Ada satu perbedaan penting terkait adab makan. Pada Idul Fitri, seorang muslim disunahkan makan lebih dahulu sebelum berangkat sholat Ied. Sebaliknya, pada Idul Adha justru disunahkan tidak makan sebelum sholat, dan menyantap makanan setelah pulang dari sholat, idealnya dari daging hewan kurban. NU Online menyandarkan hal ini pada riwayat dari sahabat Buraidah bahwa Nabi Muhammad tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan lebih dulu, dan pada hari raya Idul Adha beliau tidak makan sampai kembali dari sholat. Hikmahnya, sedekah dan penyembelihan kurban pada Idul Adha memang dianjurkan dilaksanakan setelah sholat, sehingga umat diajak menikmati hidangan bersama setelah daging kurban dibagikan.

Ketentuan Hewan Kurban yang Sah

Menurut penjelasan NU Online, hukum asal berkurban adalah sunnah kifayah yang bersifat kolektif. Artinya, bila dalam satu keluarga sudah ada satu orang yang berkurban, tuntutan itu dianggap gugur bagi anggota keluarga yang lain, meski masing-masing yang mampu tetap dianjurkan melakukannya. Hukum ini bisa berubah menjadi wajib apabila seseorang menazarkannya, misalnya bernazar akan berkurban bila cita-citanya tercapai. Anjuran berkurban ini bersandar pada surat Al-Kautsar ayat 2 yang memerintahkan menunaikan sholat dan menyembelih (berkurban) sebagai wujud syukur atas nikmat Allah.

Agar kurban sah, hewannya harus memenuhi sejumlah ketentuan yang bersifat tetap dari masa ke masa. Ketentuan inilah, bukan harga dalam rupiah, yang perlu dipegang lebih dulu.

Jenis dan umur hewan

Hewan kurban harus berupa hewan ternak (bahimatul an'am), yaitu unta, sapi atau kerbau, kambing, dan domba. Dasarnya adalah surat Al-Hajj ayat 34 tentang penyembelihan binatang ternak. Adapun umur minimalnya, sebagaimana dirinci NU Online, adalah sebagai berikut:

  • Domba (dha'n): minimal berumur satu tahun, atau sudah berganti giginya (poel), yang dalam istilah fikih disebut telah mencapai al-jadza'.
  • Kambing kacang (ma'z): harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.
  • Sapi dan kerbau: harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.
  • Unta: harus mencapai usia lima tahun atau lebih.
Umur minimal dan jumlah peserta hewan kurban menurut rincian NU Online
HewanUmur minimalJumlah peserta
Domba (dha'n)1 tahun, atau sudah poel (al-jadza')1 orang
Kambing kacang (ma'z)2 tahun lebih1 orang
Sapi atau kerbau2 tahun lebih7 orang patungan
Unta5 tahun atau lebih7 orang patungan

Soal jumlah peserta, seekor kambing atau domba hanya untuk kurban satu orang. Sementara seekor sapi, kerbau, atau unta boleh diniatkan sebagai kurban untuk tujuh orang secara patungan.

Bebas dari cacat

Selain cukup umur, hewan kurban harus sehat dan bebas dari cacat yang mengurangi kelayakannya. NU Online menyebut empat jenis cacat yang menyebabkan hewan tidak sah dijadikan kurban, yaitu hewan yang jelas buta sebelah (picek), yang sakit secara nyata, yang pincang secara jelas, dan yang sangat kurus tanpa lemak. Sebaliknya, ada cacat ringan yang tidak membatalkan keabsahan kurban, misalnya hewan yang dikebiri atau yang tanduknya pecah, karena tidak mengurangi kualitas dagingnya. Adapun hewan yang telinga atau ekornya terputus tetap tidak sah untuk kurban, sebab cacat ini dianggap mengurangi bagian dagingnya.

Pro Tip: Saat memilih hewan kurban, periksa langsung kondisi fisiknya. Pastikan matanya jernih, tidak pincang saat berjalan, badannya berisi dan tidak terlalu kurus, serta gigi atau umurnya sudah memenuhi syarat. Membeli beberapa hari sebelum hari raya memberi waktu untuk mengganti bila ternyata hewan sakit, dan pastikan penjual bisa menunjukkan perkiraan umurnya.

Waktu Penyembelihan dan Pembagian Daging Kurban

Penyembelihan hewan kurban tidak boleh sembarang waktu. Menurut NU Online, waktunya dimulai setelah pelaksanaan sholat Idul Adha pada 10 Dzulhijjah dan berakhir saat terbenamnya matahari pada 13 Dzulhijjah, yaitu hari terakhir dari hari tasyrik. Dengan demikian, rentang waktu penyembelihan berlangsung selama empat hari, yakni tanggal 10 dan hari tasyrik 11, 12, serta 13 Dzulhijjah. Bila menyembelih di luar rentang itu, sembelihannya tidak sah dihitung sebagai kurban.

Waktu yang paling utama adalah pada hari pertama, yaitu 10 Dzulhijjah, sebelum matahari tergelincir, agar memperoleh keutamaan menyegerakan ibadah. Proses penyembelihannya sendiri harus mengikuti syariat, di antaranya menggunakan pisau atau golok yang tajam agar hewan tidak tersiksa, serta menyebut nama Allah saat menyembelih.

Pembagian daging kurban

Setelah disembelih, daging kurban dibagikan dengan ketentuan tertentu. Ulama menganjurkan membaginya menjadi tiga bagian: sebagian dimakan oleh orang yang berkurban (shohibul kurban), sebagian dihadiahkan kepada kerabat dan tetangga, dan sebagian lagi disedekahkan kepada fakir miskin dalam bentuk daging segar. NU Online menegaskan bahwa orang yang berkurban sunnah dianjurkan memakan sebagian dagingnya, dengan batas maksimal sepertiga, dan lebih utama bila ia hanya memakan beberapa suap untuk mengambil keberkahan lalu menyedekahkan sisanya.

Ada dua catatan penting yang sering terlewat. Pertama, orang yang berkurban tidak boleh menjual bagian apa pun dari hewan kurbannya, termasuk kulit dan kepalanya, karena semuanya adalah bagian dari ibadah yang disedekahkan. Kedua, ketentuan ini berbeda untuk kurban wajib yang berasal dari nazar. Pada kurban nazar, orang yang berkurban justru haram memakannya sedikit pun, dan wajib menyedekahkan seluruh bagian hewannya. Larangan ini juga berlaku bagi orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggungannya, seperti anak dan istri.

Semangat berbagi dalam kurban ini punya paralel yang indah dengan zakat fitrah. Sebagaimana zakat fitrah menggembirakan kaum fakir pada Idul Fitri, kurban menggembirakan mereka pada Idul Adha. Bila Anda ingin mendalami ibadah berbagi yang menyertai Idul Fitri, tersedia pembahasan lengkap tentang zakat fitrah di situs ini.

Ringkasan: Waktu menyembelih kurban adalah 10 sampai 13 Dzulhijjah, empat hari, dimulai setelah sholat Idul Adha. Dagingnya idealnya dibagi tiga: untuk shohibul kurban (maksimal sepertiga dan tidak boleh dijual), untuk hadiah kerabat, dan untuk sedekah fakir miskin. Khusus kurban nazar, seluruhnya wajib disedekahkan.

Hari Tasyrik dan Larangan Berpuasa

Rangkaian Idul Adha tidak berhenti pada 10 Dzulhijjah. Tiga hari sesudahnya, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, disebut sebagai hari tasyrik. NU Online menjelaskan bahwa penamaan tasyrik berasal dari kebiasaan mengeringkan atau menjemur daging kurban agar awet dan bisa dikonsumsi dalam waktu lama. Pada hari-hari itu umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban, dan takbir muqayyad masih dikumandangkan setiap selesai sholat fardhu.

Hari tasyrik ditetapkan sebagai hari makan, minum, dan memperbanyak zikir. Konsekuensinya, umat Islam dilarang berpuasa pada tiga hari tasyrik tersebut. Larangan berpuasa ini juga berlaku pada hari raya Idul Adha itu sendiri, yaitu 10 Dzulhijjah. Jadi, sepanjang tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah, seorang muslim tidak diperbolehkan berpuasa, karena hari-hari itu adalah waktu untuk menikmati hidangan, termasuk daging kurban, dan bersyukur atas nikmat Allah.

Menariknya, larangan ini justru menegaskan betapa istimewanya hari-hari sebelum Idul Adha. Berbeda dengan 10 sampai 13 Dzulhijjah yang haram dipuasai, sepuluh hari pertama Dzulhijjah (tanggal 1 sampai 9) justru sangat dianjurkan diisi dengan puasa sunnah, terutama puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah bahkan memiliki keutamaan menghapus dosa dua tahun. Pembahasan tuntas soal niat, waktu, dan keutamaannya bisa Anda baca di artikel niat puasa Tarwiyah.

Dengan memahami keseluruhan rangkaian ini, dari wukuf di Arafah, takbir, sholat Ied, kurban, sampai hari tasyrik, seorang muslim bisa menyambut Lebaran Haji dengan lebih bermakna, tidak sekadar sebagai hari libur, melainkan sebagai momentum syukur, ketaatan, dan kepedulian sosial. Bila ada pertanyaan fikih yang spesifik dengan kondisi Anda, misalnya soal patungan kurban, kurban untuk orang yang sudah wafat, atau tata cara penyembelihan, jangan ragu berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz atau bertanya kepada ustadz tepercaya di lingkungan Anda.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar lebaran haji 2026

TApa itu Lebaran Haji atau Idul Adha?

Lebaran Haji atau Idul Adha adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada 10 Dzulhijjah, disebut juga yaumun nahr atau hari penyembelihan. Disebut Lebaran Haji karena bertepatan dengan puncak ibadah haji, yaitu sehari setelah jamaah wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah. Amalan utamanya adalah takbir, sholat Idul Adha, dan menyembelih hewan kurban.

TLebaran Haji 2026 tanggal berapa?

Idul Adha selalu jatuh pada 10 Dzulhijjah, tetapi tanggal masehinya tidak boleh ditebak karena ditentukan lewat sidang isbat Kemenag yang mempertimbangkan rukyatul hilal dan hisab. Untuk tahun 2026, ikuti pengumuman resmi menjelang bulan Dzulhijjah. Ketetapan pemerintah dan Muhammadiyah kadang berbeda sehari karena perbedaan metode.

TApa saja amalan sunnah pada hari raya Idul Adha?

Amalan sunnah Idul Adha meliputi memperbanyak takbir sejak malam hari raya, mandi sebelum sholat Ied, memakai wewangian, memotong kuku dan rambut, mengenakan pakaian terbaik, berjalan kaki ke tempat sholat, menunaikan sholat Idul Adha, lalu menyembelih hewan kurban bagi yang mampu.

TApa perbedaan adab makan sholat Idul Adha dan Idul Fitri?

Pada Idul Fitri disunahkan makan lebih dahulu sebelum berangkat sholat Ied, sedangkan pada Idul Adha justru disunahkan tidak makan sebelum sholat dan baru makan setelah pulang, idealnya dari daging kurban. Dasarnya adalah riwayat bahwa Nabi Muhammad tidak makan pada Idul Adha sampai kembali dari sholat.

TApa syarat hewan kurban yang sah?

Hewan kurban harus berupa hewan ternak (unta, sapi atau kerbau, kambing, atau domba), cukup umur, dan bebas cacat. Umur minimalnya: domba satu tahun atau sudah poel, kambing kacang dua tahun lebih, sapi dan kerbau dua tahun lebih, serta unta lima tahun. Hewan yang jelas buta, sakit, pincang, atau sangat kurus tidak sah dijadikan kurban.

TKapan waktu penyembelihan hewan kurban?

Waktu penyembelihan kurban dimulai setelah sholat Idul Adha pada 10 Dzulhijjah sampai terbenamnya matahari pada 13 Dzulhijjah, yaitu selama empat hari termasuk tiga hari tasyrik. Waktu paling utama adalah hari pertama sebelum matahari tergelincir. Menyembelih di luar rentang itu tidak sah dihitung sebagai kurban.

TMengapa haram berpuasa saat Idul Adha dan hari tasyrik?

Umat Islam dilarang berpuasa pada 10 Dzulhijjah (Idul Adha) dan tiga hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) karena hari-hari itu ditetapkan sebagai hari makan, minum, dan zikir, termasuk menikmati daging kurban. Sebaliknya, tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah justru dianjurkan diisi puasa sunnah seperti Tarwiyah dan Arafah.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar umroh & haji