NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Puasa

Puasa Ramadhan 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Penetapan 1447 H dan Metodenya

Puasa Ramadhan 2026 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026 menurut penetapan pemerintah lewat sidang isbat Kemenag dan Nahdlatul Ulama, sedangkan Muhammadiyah memulainya sehari lebih awal, 18 Februari 2026. Perbedaan sehari itu lahir dari metode: Muhammadiyah memakai Kalender Hijriah Global Tunggal, sementara pemerintah dan NU memakai rukyatul hilal dengan kriteria imkan rukyat MABIMS. Ramadhan 1447 H kini sudah berlalu, dan Ramadhan berikutnya (1448 H) diperkirakan mulai 8 Februari 2027.

Puasa Ramadhan 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Penetapan 1447 H dan Metodenya

Puasa Ramadhan 2026 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026 menurut penetapan resmi pemerintah dan Nahdlatul Ulama, sementara Muhammadiyah memulainya sehari lebih awal pada 18 Februari 2026. Ramadhan 2026 ini bertepatan dengan tahun 1447 Hijriah. Karena artikel ini Anda baca setelah bulan tersebut berlalu, tulisan ini menyajikan dua fungsi sekaligus: mencatat secara jujur tanggal Ramadhan 1447 H yang sudah dijalani, sekaligus menjelaskan cara kerja penetapannya agar Anda paham mengapa tanggalnya kadang berbeda antar-ormas, dan bagaimana memperkirakan Ramadhan berikutnya. Semua tanggal di sini dikutip dari penetapan resmi Kementerian Agama, maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan penjelasan Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, bukan dari kalender kira-kira.

Puasa Ramadhan 2026 Jatuh Tanggal Berapa

Jawaban ringkasnya ada dua, dan keduanya sah. Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini diputuskan dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar. Nahdlatul Ulama, yang kriterianya sejalan dengan pemerintah, juga memulai puasa pada tanggal yang sama. Sementara itu, Muhammadiyah lewat maklumat resminya menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, alias sehari lebih dulu.

Supaya gambarannya utuh, berikut rangkaian tanggal penting Ramadhan 1447 H versi masing-masing:

  • Awal puasa versi pemerintah dan NU: Kamis, 19 Februari 2026 (1 Ramadan 1447 H).
  • Awal puasa versi Muhammadiyah: Rabu, 18 Februari 2026 (1 Ramadan 1447 H).
  • Idulfitri versi pemerintah dan NU: Sabtu, 21 Maret 2026 (1 Syawal 1447 H). Puasa berjalan genap 30 hari.
  • Idulfitri versi Muhammadiyah: Jumat, 20 Maret 2026 (1 Syawal 1447 H).

Jadi selisih sehari itu muncul di dua ujung sekaligus: di awal puasa maupun di hari raya. Warga yang mengikuti Muhammadiyah menjalani puasa dari 18 Februari sampai 19 Maret 2026, lalu berlebaran pada 20 Maret. Warga yang mengikuti pemerintah dan NU berpuasa dari 19 Februari sampai 20 Maret 2026, lalu berlebaran pada 21 Maret. Keduanya sama-sama berpuasa genap 30 hari, hanya tanggal mulainya yang bergeser satu hari.

Perbandingan tanggal Ramadhan 1447 H: pemerintah dan NU memulai puasa Kamis 19 Februari 2026 dan berlebaran Sabtu 21 Maret 2026, Muhammadiyah memulai Rabu 18 Februari 2026 dan berlebaran Jumat 20 Maret 2026
Dua tanggal awal puasa dan dua tanggal Idulfitri pada 1447 H, masing-masing sesuai pengumuman resmi lembaganya. Sumber: Setneg, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H, NU Online, ikhbar awal Ramadhan PBNU, dan Maklumat PP Muhammadiyah 1447 H, diagram oleh Ngajia.

Tabel di bawah merangkum tiga penetapan penting tahun 1447 H dari tiga pihak, lengkap dengan Zulhijah. Menariknya, untuk Iduladha ketiganya justru serentak, karena pada sore 29 Zulkaidah hilal sudah cukup tinggi dan berhasil dilihat di beberapa lokasi di Indonesia.

Tanggal penting 1447 H menurut pemerintah, NU, dan Muhammadiyah (semua sudah ditetapkan dan sudah berlalu)
PenetapanPemerintah (sidang isbat Kemenag)NU (ikhbar PBNU)Muhammadiyah (maklumat PP)
1 Ramadan 1447 H (awal puasa)Kamis, 19 Februari 2026Kamis, 19 Februari 2026Rabu, 18 Februari 2026
1 Syawal 1447 H (Idulfitri)Sabtu, 21 Maret 2026Sabtu, 21 Maret 2026Jumat, 20 Maret 2026
1 Zulhijah 1447 HSenin, 18 Mei 2026Senin, 18 Mei 2026Senin, 18 Mei 2026
10 Zulhijah 1447 H (Iduladha)Rabu, 27 Mei 2026Rabu, 27 Mei 2026Rabu, 27 Mei 2026
Dasar penetapan awal puasaHisab dan tidak adanya laporan rukyat dari 96 titik pengamatanRukyatul hilal di 45 lokasi tidak berhasil melihat hilal, Syakban digenapkan 30 hariHisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Sumber tabel: Setneg (1 Ramadan), Kemenag Sulsel (1 Syawal), NU Online (sidang isbat Iduladha), ikhbar PBNU awal Ramadhan, ikhbar PBNU Idul Fitri, ikhbar PBNU Idul Adha, dan Maklumat PP Muhammadiyah.

Key Takeaway: Puasa Ramadhan 2026 (1447 H) jatuh pada 19 Februari 2026 menurut pemerintah dan NU, dan 18 Februari 2026 menurut Muhammadiyah. Karena bulan ini sudah berlalu, siapa pun yang kini mencari "kapan puasa" sebenarnya sedang menuju Ramadhan 1448 H pada awal 2027. Perbedaan sehari di 2026 bukan tanda salah satu keliru, melainkan buah dari dua metode penetapan yang sama-sama berdasar ilmu falak.

Perlu ditegaskan sejak awal supaya tidak menyesatkan: saat artikel ini terbit pada Oktober 2026, seluruh rangkaian Ramadhan 1447 H sudah lewat. Data di atas berstatus catatan sejarah yang bersumber, bukan prediksi. Bagi Anda yang justru sedang mencari jadwal puasa yang akan datang, langsung saja ke bagian Ramadhan berikutnya di bawah, atau baca ulasan hitung mundurnya di artikel kapan puasa Ramadan berikutnya.

Dua Metode Penetapan: Wujudul Hilal dan Rukyatul Hilal

Untuk memahami kenapa tanggalnya bisa berbeda, kita perlu mengenal dua pendekatan yang dipakai di Indonesia. Keduanya berangkat dari perintah yang sama dan sama-sama memakai ilmu astronomi, tetapi berbeda pada titik mana perhitungan dianggap cukup untuk menetapkan tanggal.

Muhammadiyah: dari wujudul hilal ke Kalender Hijriah Global Tunggal

Muhammadiyah tidak menjadikan pengamatan hilal sebagai penentu, melainkan memakai hisab (perhitungan astronomis). Selama bertahun-tahun metode yang dipakai adalah Hisab Hakiki Wujudul Hilal: bulan baru dimulai apabila pada hari ke-29 saat matahari terbenam telah terjadi ijtimak (konjungsi bulan dan matahari), ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan piringan atas bulan masih berada di atas ufuk, berapa pun tingginya.

Untuk tahun 1447 H, dasarnya berganti. Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebut awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H dihitung berdasarkan prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 2024 yang ditanfidzkan dengan Keputusan PP Muhammadiyah Nomor 86/KEP/I.0/B/2025. Bedanya mendasar: KHGT memakai satu tanggal untuk seluruh dunia. Bulan baru dimulai bila pada saat matahari terbenam di hari ijtimak ada wilayah mana pun di muka bumi yang mencatat tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC. Ada pula parameter kedua: lewat pukul 24.00 UTC, parameter yang sama boleh terpenuhi di daratan Amerika asalkan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Karena seluruhnya berbasis hitungan, Muhammadiyah tetap bisa menyusun kalender bertahun-tahun ke depan.

Pemerintah dan NU: rukyatul hilal plus imkan rukyat

Pemerintah dan Nahdlatul Ulama memakai pendekatan yang menggabungkan hisab dengan pengamatan langsung. Titik beratnya pada rukyatul hilal, yaitu pengamatan bulan sabit pertama saat matahari terbenam pada hari ke-29. Hisab tetap dipakai, tetapi kedudukannya sebagai pemandu ke mana teleskop diarahkan, bukan sebagai keputusan final. Keputusan baru dianggap sah setelah diverifikasi lewat rukyat.

Agar hisab dan rukyat sinkron, dipakai kriteria imkan rukyat MABIMS, kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria ini menetapkan hilal dianggap mungkin terlihat apabila tinggi hilal minimal 3 derajat di atas ufuk dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Nahdlatul Ulama memakai angka yang sama lewat kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama, sehingga posisi NU dan pemerintah praktis sejalan. Jika pada hari ke-29 posisi hilal belum mencapai ambang tersebut dan tidak ada laporan rukyat yang diterima, bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Proses penggenapan ini disebut istikmal.

Sejak 2026, pelaksanaan sidang isbat pemerintah punya payung hukum tersendiri, yaitu Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Sidang Isbat, yang mengatur integrasi hisab dan rukyatulhilal serta kriteria imkanur rukyat MABIMS. Untuk Ramadhan 1447 H, sidang isbat digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Syakban.

Perbandingan kriteria: MABIMS yang dipakai pemerintah dan NU menuntut tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di Indonesia lalu diverifikasi rukyat, sedangkan Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah memakai tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di wilayah mana pun di dunia
Ambang MABIMS lebih rendah, tetapi harus terpenuhi di Indonesia dan dibuktikan dengan rukyat. Ambang KHGT lebih tinggi, tetapi cukup terpenuhi di satu wilayah mana pun di dunia. Sumber: Bimas Islam Kemenag dan Maklumat PP Muhammadiyah 1447 H, diagram oleh Ngajia.

Kenapa Awal Ramadhan 2026 Berbeda Sehari

Sekarang kedua metode itu kita tempelkan pada peristiwa nyata di penghujung Syakban 1447 H. Menurut paparan Kemenag, ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB (12.01 UTC), atau sesudah matahari terbenam di sebagian besar wilayah Indonesia. Saat matahari terbenam sore itu, tinggi hilal di seluruh Indonesia berkisar antara minus 2 derajat 24 menit sampai 0 derajat 55 menit, dengan elongasi sekitar 0 derajat 56 menit sampai 1 derajat 53 menit. Di banyak tempat bulan bahkan masih di bawah ufuk.

Dari peristiwa astronomis yang sama itu, dua metode mengambil kesimpulan berbeda, dan keduanya konsisten dengan aturannya sendiri:

  • Bagi pemerintah dan NU: posisi hilal jauh dari kriteria MABIMS (3 derajat dan elongasi 6,4 derajat). Hasil hisab itu terkonfirmasi di lapangan: tidak ada laporan hilal terlihat dari 96 titik pengamatan Kemenag, dan tim Lembaga Falakiyah PBNU di 45 lokasi juga tidak berhasil melihatnya. Syakban digenapkan 30 hari (istikmal), sehingga 1 Ramadan jatuh Kamis, 19 Februari 2026.
  • Bagi Muhammadiyah: yang dilihat adalah seluruh muka bumi. Sebelum pukul 24.00 UTC belum ada wilayah yang memenuhi ambang KHGT, tetapi sesudahnya parameter itu terpenuhi di daratan Amerika (maklumat menyebut tinggi bulan 5 derajat 23 menit dan elongasi 8 derajat 0 menit di salah satu titiknya), sementara ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Maka 1 Ramadan ditetapkan Rabu, 18 Februari 2026 untuk seluruh dunia.

Jadi, berbeda dengan anggapan yang sering beredar, selisih tahun ini tidak muncul karena hilal di langit Indonesia sudah tampak tipis lalu diperdebatkan. Hilal di Indonesia pada 17 Februari belum mungkin terlihat, dan semua pihak sepakat soal data itu. Perbedaannya ada pada wilayah acuan: pemerintah dan NU berpatokan pada langit Indonesia yang dibuktikan dengan rukyat, sedangkan KHGT berpatokan pada wilayah mana pun di dunia. Bahkan Lembaga Falakiyah PBNU sendiri mencatat bahwa hanya warga NU di Amerika Serikat dan Kanada yang berpotensi memulai puasa pada 18 Februari, karena di Amerika bagian utara hilal sudah memenuhi kriteria NU sore itu.

Bulan sabit tipis di langit senja di atas siluet bangunan dan menara air, difoto sesudah matahari terbenam pada 18 Februari 2026 di Maroko
Hilal Ramadhan 1447 H yang terlihat sesudah matahari terbenam pada Rabu, 18 Februari 2026, di desa Tiyiout, Provinsi Tiznit, Maroko. Sehari sebelumnya hilal belum dapat dilihat di Indonesia, sehingga pemerintah dan NU memulai puasa Kamis, 19 Februari. Foto: Essaidib2 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 (dipotong).

Itulah mengapa selisihnya persis satu hari, tidak lebih. Perbedaan seperti ini tidak terjadi setiap tahun. Pada Zulhijah 1447 H, misalnya, hilal di Indonesia sudah memenuhi kriteria MABIMS dan berhasil dilihat, sehingga pemerintah, NU, dan Muhammadiyah serentak menetapkan Iduladha pada Rabu, 27 Mei 2026.

Catatan Redaksi: Perbedaan awal puasa adalah perbedaan pada wilayah ijtihad, bukan pada pokok akidah. Keduanya sama-sama berangkat dari perintah puasa yang sama dan sama-sama memakai ilmu falak, hanya berbeda pada di titik mana perhitungan dianggap cukup untuk menetapkan tanggal. Puasa orang yang mengikuti Muhammadiyah sah, puasa yang mengikuti pemerintah dan NU juga sah. Sikap yang sehat adalah menjalankan keyakinan masing-masing dengan tenang, tanpa merasa perlu mengoreksi tetangga yang berbeda sehari, apalagi menjadikannya bahan perdebatan panas menjelang sahur pertama.

Menariknya, argumen di balik masing-masing metode juga masuk akal. Muhammadiyah menilai kelemahan rukyat adalah umat sulit menyusun kalender jauh ke depan karena tanggal baru hanya bisa dipastikan pada H-1. Sebaliknya, kalangan yang berpegang pada rukyat menekankan bahwa penetapan waktu ibadah sebaiknya diverifikasi dengan pembuktian di lapangan, bukan semata perhitungan. Dalam rumusan ini, hisab berfungsi memperkirakan, sedangkan rukyat hilal menjadi pembuktiannya.

Cara Mengetahui Tanggal Resmi Puasa

Setiap menjelang Ramadhan, pola yang sama berulang: tangkapan layar kalender beredar di grup keluarga, disertai klaim tanggal pasti, lalu muncul perdebatan. Padahal cara memastikan tanggal resmi sebenarnya sederhana asal Anda tahu sumber mana yang berwenang untuk apa.

  1. Untuk tanggal versi pemerintah, tunggu sidang isbat Kemenag. Inilah satu-satunya penetapan resmi negara. Sidang digelar pada hari ke-29 bulan sebelumnya, memadukan pemaparan data hisab para ahli falak dengan laporan rukyat dari puluhan hingga ratusan titik di seluruh Indonesia, lalu diumumkan lewat konferensi pers malam itu juga. Karena bergantung pada hasil rukyat, keputusannya memang baru turun sangat dekat dengan hari H.
  2. Untuk tanggal versi Muhammadiyah, cek maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Karena berbasis hisab, Muhammadiyah bisa merilis maklumat resmi jauh-jauh hari, lengkap dengan tanggal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah sekaligus. Untuk 1447 H, maklumatnya sudah terbit pada 2025.
  3. Perlakukan kalender cetak sebagai perkiraan, bukan kepastian. Tanggal Hijriah di kalender dinding, aplikasi ponsel, atau kalender apa pun adalah hasil hisab yang bersifat prediktif. Untuk penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, versi pemerintah tetap menunggu verifikasi rukyat lewat sidang isbat, sehingga wajar bila tanggal di kalender akhirnya bergeser sehari.
Alur sidang isbat 17 Februari 2026: data hisab menunjukkan tinggi hilal minus 2 derajat sampai 0 derajat 55 menit, rukyat di 96 titik tidak melihat hilal, Syakban digenapkan 30 hari, lalu 1 Ramadan ditetapkan Kamis 19 Februari 2026
Urutan yang terjadi pada sidang isbat awal Ramadhan 1447 H: hisab dipaparkan lebih dulu, lalu dikonfirmasi laporan rukyat, baru tanggal diputuskan dan diumumkan malam itu juga. Sumber: Setneg, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, diagram oleh Ngajia.

Dengan kata lain, jangan pernah percaya klaim tanggal pasti dari sumber yang tidak jelas, apalagi yang beredar berbulan-bulan sebelum sidang isbat. Selama sidang isbat belum digelar, tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan tanggal awal Ramadan versi pemerintah. Yang beredar sebelum itu, sekalipun tampak meyakinkan, statusnya tetap perkiraan.

Pro Tip: Kalau tujuan Anda memantau jadwal ibadah harian selama puasa, yang benar-benar Anda butuhkan bukan sekadar tanggal 1 Ramadan, melainkan waktu Subuh (batas imsak dan mulai puasa) serta Maghrib (waktu berbuka) untuk kota Anda. Keduanya bisa dicek setiap hari lewat jadwal sholat. Simpan halaman itu sejak sekarang supaya saat Ramadhan tiba Anda tidak lagi menebak-nebak jam sahur dan berbuka.

Puasa Ramadhan Berikutnya: 1448 H pada 2027

Karena Ramadhan 1447 H sudah berlalu, pertanyaan "kapan puasa" kini mengarah ke Ramadhan 1448 H. Kalender Hijriah bergerak sekitar 11 hari lebih awal setiap tahun Masehi, sehingga Ramadhan terus bergeser maju. Kalau Ramadhan 1447 H mengambil porsi besar Februari sampai Maret 2026, Ramadhan 1448 H diperkirakan sepenuhnya masuk Februari 2027.

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diterbitkan Muhammadiyah, 1 Ramadan 1448 H diperkirakan jatuh pada Senin, 8 Februari 2027. Terhitung sejak artikel ini terbit pada awal Oktober 2026, itu berarti kurang lebih empat bulan lagi, atau sekitar 125 hari. Sekali lagi, angka ini adalah hasil perhitungan Muhammadiyah dengan metodenya sendiri, bukan tanggal yang sudah disepakati semua pihak. Tanggal resmi versi pemerintah baru akan ditetapkan lewat sidang isbat Kemenag di penghujung Syakban 1448 H, yaitu sekitar awal Februari 2027.

Apakah pemerintah, NU, dan Muhammadiyah akan seragam atau berbeda sehari pada 1448 H? Itu belum bisa dipastikan sekarang, karena bergantung pada posisi hilal saat 29 Syakban 1448 H nanti, persis seperti mekanisme yang sudah kita bahas di atas. Kalau posisi hilal saat itu sudah cukup tinggi atau justru masih di bawah ufuk, besar kemungkinan semua pihak seragam. Kalau kebetulan berada di zona abu-abu seperti 1447 H kemarin, selisih sehari bisa kembali muncul, dan sekali lagi itu bukan tanda ada yang keliru. Untuk hitung mundur yang lebih rinci beserta persiapan menjelang Ramadhan, silakan simak artikel kapan puasa Ramadan berikutnya yang secara khusus membahas jadwal 1448 H dan cara sidang isbat bekerja.

Amalan Menyambut Ramadhan dan Cara Menyiapkannya

Jarak beberapa bulan menuju Ramadhan berikutnya justru anugerah yang sering disia-siakan. Alih-alih sibuk memperdebatkan tanggal yang belum tentu, waktu selapang ini lebih berguna dipakai untuk persiapan yang nyata. Beberapa hal yang bisa dicicil dari sekarang:

  • Lunasi utang puasa lebih dulu. Bagi yang tahun lalu meninggalkan puasa karena haid, nifas, sakit, hamil, menyusui, atau safar, utang itu wajib diganti pada hari lain di luar Ramadhan. Menundanya sampai mepet Ramadhan justru bisa menambah kewajiban. Bacaan dan ketentuannya ada di halaman niat puasa qadha.
  • Segarkan kembali rukun dan niat puasa. Para ulama sepakat niat termasuk rukun puasa, sehingga puasa wajib tidak sah tanpa niat yang dilakukan pada malam hari. Pelajari ulang lafal dan ketentuannya di niat puasa Ramadhan, dan kenali batasan-batasannya lewat rukun puasa.
  • Kenali amalan malam Ramadhan. Salah satu ciri khas malam Ramadhan adalah shalat Tarawih berjamaah. Niatnya bisa Anda siapkan lewat halaman niat sholat tarawih.
  • Siapkan bacaan harian sahur dan berbuka. Agar tidak sekadar rutinitas, hafalkan lebih dulu doa sahur dan doa berbuka puasa, lalu amalkan setiap hari selama sebulan penuh.
Jamaah laki-laki dan perempuan bergerak dalam shalat berjamaah di atas karpet merah Masjid Istiqlal Jakarta, difoto dengan pencahayaan lambat sehingga gerakan tampak kabur
Shalat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada malam 21 Februari 2026, pekan pertama Ramadhan 1447 H. Suasana malam seperti ini yang layak disiapkan sejak jauh hari. Foto: Arifmuttaqin / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Selain itu, jeda panjang ini pas untuk merapikan urusan harta. Zakat mal punya perhitungan haul sendiri dan tidak harus menunggu Ramadhan, meski banyak yang memilih menunaikannya di bulan tersebut karena keutamaannya. Anda bisa menghitung estimasinya lebih dulu lewat kalkulator zakat agar tidak terburu-buru nanti.

Menurut hemat redaksi, memahami tanggal Ramadhan 2026 yang sudah berlalu sebaiknya menjadi bekal, bukan sekadar catatan. Kita jadi tahu bahwa perbedaan sehari itu hal biasa, bahwa tanggal resmi berasal dari sidang isbat, dan bahwa kalender cetak cuma perkiraan. Dengan bekal itu, saat Ramadhan 1448 H diumumkan nanti, Anda tinggal masuk ke bulan puasa dengan tenang, tanpa ikut ribut soal tanggal. Bila ada persoalan fikih pribadi seputar puasa atau qadha, Anda bisa berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat.

Jam berbuka dan Subuh hari ini. Waktu berbuka puasa mengikuti Maghrib setempat. Cek jam Subuh sampai Isya di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari, atau buka jadwal sholat kota lain.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar puasa ramadhan 2026 jatuh pada tanggal

TPuasa Ramadhan 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Puasa Ramadhan 2026 (1447 H) jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 menurut penetapan pemerintah lewat sidang isbat Kemenag dan Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah memulainya sehari lebih awal, yaitu Rabu, 18 Februari 2026. Keduanya berpuasa genap 30 hari.

TKenapa Muhammadiyah mulai puasa 18 Februari, sedangkan pemerintah 19 Februari?

Karena wilayah acuannya berbeda. Untuk 1447 H Muhammadiyah memakai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang memulai bulan baru bila tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat tercapai di wilayah mana pun di dunia; pada 17 Februari 2026 syarat itu terpenuhi di daratan Amerika. Pemerintah dan NU memakai kriteria MABIMS (tinggi 3 derajat, elongasi 6,4 derajat) di Indonesia yang dibuktikan dengan rukyat. Di Indonesia hilal belum memenuhi ambang itu dan tidak terlihat, sehingga Syakban digenapkan 30 hari.

TKapan Idulfitri atau Lebaran 2026 setelah puasa Ramadhan?

Pemerintah dan NU menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, setelah Ramadan digenapkan 30 hari. Muhammadiyah menetapkannya sehari lebih awal, yaitu Jumat, 20 Maret 2026, sesuai maklumat resminya.

TApakah puasa Ramadhan 2026 sudah lewat sekarang?

Sudah. Ramadhan 1447 H dijalani pada Februari sampai Maret 2026 dan telah berakhir dengan Idulfitri pada 20 sampai 21 Maret 2026. Jika Anda kini mencari jadwal puasa yang akan datang, yang dimaksud adalah Ramadhan 1448 H pada awal 2027.

TBagaimana cara mengetahui tanggal resmi awal Ramadhan?

Untuk versi pemerintah, tunggu hasil sidang isbat Kemenag yang digelar pada hari ke-29 bulan sebelumnya dan diumumkan malam itu juga. Untuk versi Muhammadiyah, cek maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang biasanya terbit jauh hari. Tanggal di kalender cetak berstatus perkiraan hisab, sehingga bisa bergeser sehari setelah verifikasi rukyat.

TKapan puasa Ramadhan berikutnya setelah 2026?

Ramadhan berikutnya adalah 1448 H. Menurut Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah, 1 Ramadan 1448 H diperkirakan jatuh pada Senin, 8 Februari 2027. Tanggal resmi versi pemerintah baru ditetapkan lewat sidang isbat Kemenag menjelang hari H, sekitar awal Februari 2027.

TKapan Iduladha 2026, apakah juga berbeda?

Tidak berbeda. Pemerintah lewat sidang isbat, PBNU lewat ikhbarnya, dan Muhammadiyah lewat maklumatnya sama-sama menetapkan 1 Zulhijah 1447 H pada Senin, 18 Mei 2026, sehingga Iduladha jatuh serentak pada Rabu, 27 Mei 2026. Saat itu hilal di Indonesia sudah memenuhi kriteria dan berhasil dilihat.

TBerapa titik pengamatan hilal saat penetapan awal Ramadhan 2026?

Kemenag menerima laporan dari 96 titik pengamatan di seluruh provinsi, dan tidak ada satu pun yang melaporkan hilal terlihat. Secara terpisah, tim rukyatul hilal Lembaga Falakiyah PBNU mengamati di 45 lokasi dengan hasil yang sama.

TApakah Muhammadiyah masih memakai wujudul hilal?

Untuk 1447 H tidak lagi. Maklumat PP Muhammadiyah menyebut awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H dihitung berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal, keputusan Munas Tarjih XXXII di Pekalongan tahun 2024. Wujudul hilal adalah metode hisab yang dipakai Muhammadiyah sebelumnya.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar puasa