
Banyak orang mencari doa sahur dengan harapan menemukan satu bacaan khusus yang wajib dilafalkan sebelum atau sesudah makan sahur. Perlu dijelaskan sejak awal dengan jujur: tidak ada satu lafal doa sahur khusus yang berdiri sendiri dari hadits sahih. Yang sebenarnya diamalkan para ulama di waktu sahur ada dua, yaitu niat puasa yang dibaca menjelang fajar, dan doa serta istighfar di sepertiga malam terakhir yang termasuk waktu mustajab. Sahur sendiri adalah sunnah Rasulullah yang penuh keberkahan. Artikel ini menyusun apa yang benar-benar dituntunkan seputar sahur, mulai dari yang dibaca, keberkahannya, waktu terbaiknya, hingga adabnya, dengan rujukan NU Online dan Quran NU Online.
Apa yang Sebenarnya Dibaca saat Sahur
Istilah "doa sahur" begitu populer di mesin pencari, tetapi penting diluruskan agar tidak keliru. Dalam kitab-kitab hadits dan fikih, tidak ditemukan satu redaksi doa baku yang secara khusus dinamai doa sahur dan diwajibkan dibaca saat menyantap hidangan sahur. NU Online dalam laman berjudul Doa Sahur pun menjelaskan bahwa sahur adalah menyantap hidangan menjelang Subuh sebagai sunnah Rasulullah untuk kepentingan puasa, lalu menyajikan hadits-hadits keutamaan sahur, bukan sebuah lafal doa yang harus dihafal.
Lalu apa yang sebenarnya dibaca? Pertama, yang paling penting dibaca saat sahur adalah niat puasa. Karena puasa Ramadhan termasuk puasa wajib, niatnya harus dilakukan pada malam hari, yaitu sejak terbenam matahari sampai sebelum terbit fajar, dan waktu sahur berada persis di rentang itu. Karena itulah banyak orang menjadikan momen sahur sebagai penanda untuk memantapkan niat. Bacaan lengkap dan ketentuannya sudah kami bahas tersendiri, silakan pelajari pada artikel niat puasa ramadhan. Bagi yang sedang membayar utang puasa, niat yang dibaca saat sahur adalah niat qadha, sebagaimana diuraikan di artikel niat puasa ganti.
Kedua, waktu sahur adalah kesempatan emas untuk berdoa dan beristighfar, karena ia bertepatan dengan sepertiga malam terakhir yang oleh Al-Quran dan hadits disebut sebagai waktu penuh ampunan. Inilah yang sebagian orang maksudkan ketika mencari doa sahur, yaitu memanfaatkan waktu sahur untuk memohon kepada Allah. Bagian ini kami bahas khusus di bawah. Ada pula doa ringan yang biasa dibaca saat menyantap sahur, yang akan dijelaskan pada bagian adab.
Keberkahan Sahur dan Dalilnya
Meski sahur bukan syarat sah puasa, Rasulullah sangat menganjurkannya karena di dalamnya terdapat keberkahan. Dalil utamanya adalah hadits dari sahabat Anas bin Malik yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً
Latin: Tasahharu fa inna fis sahuri barakah.
Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan." (HR Bukhari dan Muslim).
Kata pada hadits ini dalam sebagian penulisan NU Online dibaca as-sahur yang bermakna hidangan sahurnya, dan dalam sebagian penulisan lain dibaca as-suhur yang bermakna aktivitas bersahurnya. Keduanya sama-sama dikenal di kalangan ulama dan tidak mengubah pesan hadits, yaitu ajakan untuk bersahur karena keberkahan yang menyertainya.
Apa maksud keberkahan di sini? Menurut para ulama yang dikutip NU Online, keberkahan sahur mencakup beberapa hal sekaligus. Secara jasmani, sahur memberi kekuatan badan dan menjaga semangat selama menjalani puasa seharian, sehingga ibadah tidak terganggu oleh rasa lemas yang berlebihan. Secara ruhani, sahur adalah bentuk meneladani sunnah Rasulullah, dan setiap ittiba' kepada beliau bernilai ibadah tersendiri. Sahur juga membuka pintu waktu mustajab, karena pelakunya bangun di penghujung malam, saat doa dan istighfar lebih diperhatikan. Karena itu, orang yang bangun untuk sahur sesungguhnya mendapat lebih dari sekadar bekal makan.
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, sebagaimana dikutip NU Online, meringkas keutamaan sahur menjadi dua hal utama. Pertama, sahur menambah energi fisik untuk menjalani puasa, sehingga tubuh tidak cepat lemas dan ibadah di siang hari tetap terjaga. Kedua, sahur menjadi pembeda antara cara puasa umat Islam dan puasa umat sebelumnya dari kalangan ahli kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, yang tidak mengenal anjuran makan menjelang fajar. Dari sudut pandang ini, bersahur bukan sekadar urusan perut, melainkan bagian dari identitas ibadah umat Islam yang membedakannya dari umat lain. Maka menyempatkan diri untuk bersahur, sesibuk apa pun, adalah cara sederhana namun bermakna untuk menghidupkan sunnah sekaligus menegaskan jati diri sebagai umat Nabi Muhammad.
Perlu ditegaskan bahwa hukum sahur adalah sunnah, bukan wajib. Puasa seseorang tetap sah meskipun ia tidak sempat sahur, misalnya karena ketiduran atau tidak berselera makan. Yang hilang bukanlah keabsahan puasanya, melainkan keberkahan dan keutamaan yang seharusnya bisa ia raih. Karena itu, meninggalkan sahur tanpa alasan sebenarnya sebuah kerugian, bukan sebuah pelanggaran. Justru di sinilah menariknya: seseorang yang tetap kuat berpuasa tanpa sahur mungkin terlihat lebih tangguh, tetapi Rasulullah mengarahkan umatnya untuk mengambil keberkahan sahur, bukan mengejar kesan tangguh.
Waktu Terbaik Sahur dan Batas Akhirnya
Sahur boleh dilakukan sejak lewat tengah malam, tetapi waktu yang paling utama adalah mengakhirkannya hingga mendekati waktu Subuh. NU Online menjelaskan bahwa Rasulullah menganjurkan umat Islam mengakhirkan sahur, dan hal ini menjadi salah satu ciri kebaikan umat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Mengakhirkan sahur memberi manfaat praktis, yaitu energi bertahan lebih lama saat berpuasa, sekaligus manfaat ruhani karena pelakunya berada di penghujung malam yang penuh keberkahan.
Seberapa dekat sahur boleh diakhirkan? Gambaran dari zaman Nabi cukup jelas. Sahabat Zaid bin Tsabit pernah ditanya oleh Anas bin Malik mengenai jarak antara selesai sahur dan pelaksanaan shalat Subuh. Zaid menjawab kira-kira selama waktu yang cukup untuk membaca lima puluh ayat (HR Bukhari). Artinya, Rasulullah dan para sahabat menyelesaikan sahur pada waktu yang sangat dekat dengan azan Subuh, tanpa jeda panjang.
Anjuran mengakhirkan sahur ini bahkan disebut sebagian ulama sebagai bagian dari fitrah. Menurut Abu Bakar Al-Kalabazi yang dikutip NU Online, maksud mengakhirkan sahur adalah menyantapnya di sepertiga terakhir malam. Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa tujuan mengakhirkan sahur bukan semata makan dan minum, melainkan agar pelakunya berada di waktu utama untuk diiringi ibadah lain seperti shalat, dzikir, dan doa. Dengan begitu, waktu paling baik untuk sahur adalah di sepertiga terakhir malam, terutama menjelang waktu Subuh, sehingga makan sahur dan ibadah malam menyatu dalam satu kesempatan yang sama. Cara pandang ini mengubah sahur dari sekadar rutinitas mengisi perut menjadi pintu masuk untuk menghidupkan penghujung malam.
Di sinilah perlu dibedakan antara imsak dan batas akhir sahur. Secara hukum, batas akhir sahur adalah terbitnya fajar, yang ditandai dengan masuknya waktu Subuh atau berkumandangnya azan Subuh, bukan saat imsak. Waktu imsak yang biasanya ditetapkan sekitar sepuluh menit sebelum Subuh bukanlah batas haram makan, melainkan penanda kehati-hatian. Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Al-Umm menganjurkan orang yang hendak berpuasa agar berhenti makan menjelang fajar sebagai bentuk kehati-hatian. NU Online menyebut imsak berfungsi sebagai alarm bahwa waktu sahur tinggal sedikit, sekaligus sarana mengikuti sunnah mengakhirkan sahur. Jadi, seseorang yang masih makan ketika alarm imsak berbunyi tidak otomatis batal puasanya, selama fajar belum benar-benar terbit.
Agar tidak keliru menentukan kapan Subuh masuk, sebaiknya berpegang pada jadwal yang terpercaya untuk kota Anda. Anda bisa memantaunya melalui halaman jadwal sholat. Bagi yang ingin mengetahui kapan Ramadhan dimulai sehingga bisa bersiap sahur sejak malam pertama, penjelasannya ada di artikel kapan puasa Ramadhan.
Doa dan Istighfar di Waktu Sahur
Salah satu keistimewaan sahur adalah waktunya yang bertepatan dengan sepertiga malam terakhir. Menurut penjelasan yang dikutip NU Online, mengakhirkan sahur membuat pelakunya berada di sepertiga terakhir malam, waktu yang di dalamnya ada doa yang dikabulkan dan istighfar yang diterima. Al-Quran secara khusus memuji orang-orang bertakwa yang menghidupkan waktu ini. Allah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 18:
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Latin: Wa bil-ashari hum yastaghfirun.
Artinya: "Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)." (QS Adz-Dzariyat: 18).
Kata al-ashar pada ayat ini adalah bentuk jamak dari sahar, yaitu waktu menjelang fajar, waktu sahur itu sendiri. Ayat ini menggambarkan kebiasaan orang bertakwa yang menutup malamnya dengan istighfar, bukan sekadar mengisi perut. Maka, saat Anda bangun untuk sahur, sesungguhnya Anda sudah berada di waktu yang Allah sebut sebagai waktu memohon ampun. Sayang sekali bila kesempatan itu hanya dihabiskan untuk makan lalu kembali tidur.
Keistimewaan waktu sahar ini diperkuat keterangan yang dikutip NU Online bahwa pada sepertiga terakhir malam, doa, permohonan ampun, dan hajat lebih diperhatikan untuk dikabulkan Allah. Karena itu, sangat dianjurkan agar sahur tidak berhenti pada aktivitas makan, tetapi disempurnakan dengan shalat malam, dzikir, dan doa selama masih ada waktu sebelum fajar. Bahkan orang yang sedang tidak berpuasa pun tetap bisa menghidupkan waktu ini dengan istighfar dan munajat. Inilah salah satu alasan mengapa orang saleh terdahulu begitu menjaga waktu sahur, bukan hanya demi bekal berpuasa, tetapi demi momen kedekatan dengan Allah yang sulit didapat di waktu lain. Bila Anda terbiasa hanya bangun, makan, lalu tidur lagi, cobalah sisakan beberapa menit untuk duduk beristighfar, dan rasakan bedanya ketika hari dimulai dengan permohonan ampun.
Tidak ada redaksi istighfar khusus yang wajib di waktu sahur. Anda cukup memperbanyak astaghfirullahal 'azhim, memohon ampun atas dosa, lalu memanjatkan hajat dan doa apa pun yang baik, untuk diri, keluarga, dan kaum muslimin. Karena ini termasuk waktu mustajab, doa yang tulus lebih diharapkan dikabulkan, meskipun perlu diingat bahwa doa adalah bentuk ikhtiar dan kepasrahan, bukan jaminan transaksi yang pasti terpenuhi sesuai keinginan.
Adapun saat menyantap hidangan sahur, sebagian ulama menyebut kebiasaan Rasulullah mendoakan orang yang bersahur. Diriwayatkan bahwa beliau bersabda bahwa sebaik-baik hidangan sahur adalah kurma, lalu berdoa, "Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya bagi mereka yang bersahur." Karena tidak ada lafal wajib, Anda boleh membaca doa makan pada umumnya, lalu menutup rangkaian ibadah puasa harian dengan doa berbuka pada waktunya nanti, sebagaimana dibahas di halaman doa berbuka puasa.
Adab dan Menu Makan Sahur
Karena sahur adalah ibadah sunnah, ada sejumlah adab yang menjadikannya lebih bernilai. Berikut beberapa hal yang dituntunkan dan dianjurkan para ulama:
- Jangan meninggalkan sahur meski sedikit. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pada sahur terdapat keberkahan seluruhnya, maka jangan ditinggalkan walau seseorang hanya meminum seteguk air. Ini menunjukkan bahwa sahur tidak harus berupa hidangan besar. Sekadar air putih atau sepotong kurma sudah cukup untuk meraih kesunahan dan keberkahannya.
- Utamakan menu yang menguatkan. Rasulullah menyebut kurma sebagai sebaik-baik hidangan sahur. Secara umum, pilihlah makanan yang mengenyangkan dan menyediakan energi bertahan lama, dilengkapi air yang cukup agar tidak mudah lemas dan haus di siang hari.
- Tidak berlebihan. Meski dianjurkan, sahur tidak berarti makan sebanyak-banyaknya. Makan berlebihan justru membuat tubuh berat, mengantuk, dan malah melalaikan shalat Subuh. Secukupnya adalah yang paling seimbang.
- Mantapkan niat puasa. Manfaatkan momen sahur untuk memastikan niat sudah ada di hati sebelum fajar, karena niat pada malam hari adalah syarat sahnya puasa wajib.
- Sambung dengan ibadah menuju Subuh. Setelah sahur, isi waktu tersisa dengan istighfar dan doa, lalu bersiap menunaikan shalat Subuh berjamaah, jangan kembali tidur hingga terlewat waktunya.
Menurut hemat redaksi, cara terbaik memaknai sahur adalah memandangnya bukan sekadar rutinitas makan tengah malam, melainkan paket ibadah yang lengkap: ada sunnah makan yang berkah, ada niat yang menjadi syarat puasa, dan ada waktu mustajab untuk berdoa. Bila ketiganya dijaga, satu kali bangun sahur bisa bernilai jauh lebih besar daripada sekadar mengisi perut sebelum menahan lapar.
Kesalahan Umum seputar Sahur
Beberapa kekeliruan sering terjadi di masyarakat seputar sahur. Memahaminya membantu kita beribadah dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan:
- Mengira ada lafal doa sahur yang wajib. Seperti dijelaskan di awal, tidak ada satu doa baku berlabel doa sahur dari hadits sahih. Yang dituntunkan adalah niat puasa dan memperbanyak istighfar serta doa di waktu sahur.
- Mengira sahur wajib. Sahur adalah sunnah. Puasa tetap sah tanpa sahur, meski pelakunya kehilangan keberkahan yang besar.
- Berhenti makan tepat saat imsak karena mengira itu batas haram. Batas hukum sahur adalah terbit fajar atau azan Subuh. Imsak hanyalah jeda kehati-hatian, sehingga makan sedikit setelah alarm imsak selama fajar belum terbit tidak membatalkan puasa.
- Menyegerakan sahur terlalu awal. Sebagian orang sahur tepat setelah tengah malam lalu tidur lagi. Padahal yang lebih utama adalah mengakhirkannya mendekati Subuh, mengikuti praktik Nabi dan para sahabat.
- Sahur lalu meninggalkan shalat Subuh. Kesalahan paling merugikan adalah bangun sahur, makan, lalu tidur pulas hingga Subuh terlewat. Sahur semestinya menjadi jembatan menuju Subuh, bukan sebab meninggalkannya.
Bila Anda memiliki pertanyaan khusus tentang kondisi pribadi, misalnya terbangun terlambat, ragu apakah fajar sudah terbit, atau situasi tertentu lainnya, jangan menebak-nebak. Tanyakan kepada ustadz yang dipercaya, termasuk melalui layanan Tanya Ustadz, agar amalan sahur dan puasa Anda tertunaikan dengan benar dan hati menjadi tenang.
Sumber Rujukan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


