
Tumpeng dinikmati bersama pada ulang tahun harian Kompas di Jakarta, 28 Juni 2018. Berbagi jamuan adalah salah satu wujud syukur dengan perbuatan. Foto: Gunawan Kartapranata / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Doa syukur nikmat yang paling masyhur diriwayatkan langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu lafal Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat. Doa ini pendek, mudah dihafal, dan sarat makna: ia mengembalikan setiap kebaikan yang kita nikmati kepada Allah sebagai pemberi nikmat. Artikel ini menyajikan bacaannya secara lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan arti, menjelaskan dua riwayat lafalnya beserta sumber haditsnya, memaparkan tata cara sujud syukur, lalu melengkapinya dengan penjelasan tiga bentuk syukur menurut NU Online supaya syukur kita tidak berhenti di lisan saja.
Bacaan Doa Syukur Nikmat dan Artinya
Ketika seseorang menerima kabar gembira, mendapat rezeki, sembuh dari sakit, atau melihat sesuatu yang menyenangkan hatinya, ada satu lafal yang diajarkan Rasulullah untuk diucapkan sebagai tanda syukur. Inilah bacaan yang dimuat NU Online pada halaman "Doa Lihat Kebaikan dan Keburukan":
الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Latin: Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat.
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna."
Perhatikan pilihan katanya, sebab di situlah letak keindahannya. Lafal ini tidak berbunyi "segala puji bagi Allah yang telah memberiku ini dan itu", melainkan menegaskan bahwa bi ni'matihi, dengan nikmat Allah, segala kebaikan menjadi sempurna. Ada pengakuan yang halus di sana: setiap kebaikan yang berhasil kita raih, sekecil apa pun, sebenarnya tidak akan pernah sempurna tanpa sokongan nikmat Allah. Keahlian yang kita punya adalah nikmat, kesehatan untuk bekerja adalah nikmat, bahkan kesempatan dan waktu yang mengantar pada keberhasilan pun nikmat. Maka orang yang membaca doa ini sedang menempatkan dirinya pada posisi yang benar, yaitu sebagai penerima, bukan sebagai satu-satunya sebab.
Kata tatimmush shalihat secara harfiah berarti "kebaikan-kebaikan menjadi sempurna" atau "menjadi paripurna". Sebagian ulama memaknainya luas: mencakup kebaikan dunia sekaligus kebaikan akhirat. Dengan begitu, doa ini pas dibaca bukan hanya saat mendapat nikmat besar, melainkan juga saat urusan kecil berjalan lancar, karena keduanya sama-sama bagian dari kebaikan yang disempurnakan Allah.
Dua Riwayat Lafal dan Sumber Haditsnya
Kalau Anda menelusuri berbagai laman NU Online, Anda akan menemukan bahwa doa syukur ini beredar dalam dua lafal yang mirip namun tidak sama persis. Ini bukan kesalahan tik, melainkan dua riwayat yang sama-sama tercatat. Selain lafal bi ni'matihi di atas, NU Online Jawa Timur memuat lafal berikut pada halaman "Doa yang Dibaca ketika Permintaan Terwujud":
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِعِزَّتِهِ وَجَلَالِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Latin: Alhamdulillahilladzi bi 'izzatihi wa jalalihi tatimmush shalihat.
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya kebaikan-kebaikan itu menjadi sempurna."
Perbedaannya hanya pada satu frasa. Riwayat pertama memakai bi ni'matihi (dengan nikmat-Nya), riwayat kedua memakai bi 'izzatihi wa jalalihi (dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya). Ujung kalimatnya sama, tatimmush shalihat, dan arah maknanya pun sama: memuji Allah karena Dialah yang menyempurnakan segala kebaikan. Menariknya, keduanya bermuara pada takhrij yang sama.
Sayyid Muhammad az-Zabidi dalam kitab Ithafus Sadatil Muttaqin (syarah Ihya Ulumiddin), sebagaimana dikutip NU Online, menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Sayyidatina Aisyah radhiyallahu 'anha dan juga oleh Ibnu Majah. Menurut az-Zabidi, doa ini merupakan pujian kepada Allah ketika hajat seseorang terkabul. Jadi status keabsahannya jelas dan sumbernya tercatat dalam kitab-kitab hadits yang diakui.
Kapan Doa Syukur Nikmat Dibaca
Waktu paling tepat membaca doa ini adalah ketika kita melihat atau menerima sesuatu yang menyenangkan. NU Online menjelaskan bahwa Rasulullah membiasakan lafal syukur ini justru pada momen kebaikan datang, bukan menunggu kondisi khusus. Sebaliknya, ada pasangan doa untuk situasi yang berkebalikan. Ketika melihat hal yang tidak menyenangkan, Rasulullah mengajarkan bacaan Alhamdulillahi 'ala kulli hal yang berarti "Segala puji bagi Allah atas segala keadaan". Pasangan ini mengajarkan sikap yang seimbang: memuji Allah baik saat senang maupun saat susah.
NU Online Jawa Timur menambahkan konteks yang membumi. Doa syukur ini layak dibaca setiap kali hajat atau harapan kita terwujud. Contohnya beragam sesuai keadaan masing-masing orang, misalnya mulai sembuh dari penyakit, proses operasi yang berjalan lancar, tiba di lokasi tujuan setelah perjalanan panjang dengan selamat, atau berbagai hajat lain yang akhirnya terkabul. Momen-momen semacam itu sering berlalu begitu saja tanpa kita sadari sebagai nikmat. Padahal justru pada saat harapan terwujud itulah kita paling dianjurkan untuk memuji Allah, sebagai bentuk terima kasih atas karunia yang diterima dan sebagai penanda bahwa kita bukan hamba yang mengingkari nikmat.
Satu hal yang perlu ditegaskan dengan jujur: sumber-sumber NU yang memuat doa ini tidak menetapkan jumlah bacaan tertentu, tidak mematok waktu khusus, dan tidak menjanjikan hasil apa pun. Jadi kalau ada yang menganjurkan "baca sekian kali maka rezeki pasti bertambah sekian", ketentuan angka dan jaminan itu bukan berasal dari sumber doa ini. Bacalah sewajarnya, dengan hati yang hadir, tiap kali nikmat datang.
| Keadaan | Bacaan | Sumber |
|---|---|---|
| Melihat atau menerima sesuatu yang menyenangkan | Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat | NU Online |
| Hajat terwujud, misalnya sembuh dari sakit atau tiba dengan selamat | Alhamdulillahilladzi bi 'izzatihi wa jalalihi tatimmush shalihat | NU Online Jawa Timur |
| Melihat hal yang tidak menyenangkan | Alhamdulillahi 'ala kulli hal | NU Online |
| Nikmat datang mendadak atau terhindar dari bahaya | Sujud syukur dengan bacaan Sajada wajhiya | Al-Iqna' dan Fathul Mu'in, dikutip NU Online |
Sujud Syukur: Tata Cara dan Bacaannya
Selain diucapkan dengan lisan, syukur atas nikmat besar juga bisa diwujudkan dengan sujud syukur. NU Online menjelaskan bahwa sujud syukur adalah sujud yang dilakukan ketika seseorang mengetahui atau mendapatkan kabar gembira, atau merasa telah menerima nikmat besar dari Allah. Rasulullah sendiri pernah bersujud syukur ketika datang kepadanya hal yang menggembirakan, sehingga para ulama menetapkannya sebagai amalan sunnah saat seseorang mendapat nikmat.
Al-Khatib asy-Syirbini dalam kitab Al-Iqna', sebagaimana dikutip NU Online, menyebutkan beberapa sebab yang memicu sujud syukur, yaitu datangnya nikmat secara mendadak, terhindar dari bahaya, atau melihat orang yang tertimpa musibah maupun orang fasik yang terang-terangan berbuat maksiat. Untuk dua sebab terakhir, sujud dilakukan sebagai syukur karena kita diselamatkan dari musibah atau maksiat serupa.
Karena sujud syukur terhitung ibadah, syaratnya sama dengan syarat sujud di dalam shalat: suci badan, pakaian, dan tempat, menutup aurat, serta menghadap kiblat. Pelaksanaannya cukup sekali sujud di luar shalat, dan sebagian ulama menyamakan bacaannya dengan bacaan sujud tilawah, sebagaimana keterangan Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu'in:
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ
Latin: Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam'ahu wa basharahu bi haulihi wa quwwatihi fa tabarakallahu ahsanul khaliqin.
Artinya: "Diriku bersujud kepada Zat yang menciptakan dan membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Mahasuci Allah, sebaik-baik pencipta."
Menariknya, NU Online juga menukil anjuran para ulama agar sujud syukur diikuti dengan sedekah, sebagaimana disebut dalam kitab Al-Majmu'. Dengan begitu syukur mengambil dua bentuk sekaligus, badaniah lewat sujud dan maliah lewat sedekah. Ini gambaran yang indah tentang bagaimana rasa terima kasih kepada Allah sebaiknya turun menjadi kebaikan yang nyata, bukan berhenti sebagai perasaan.
Sujud syukur berbeda dari sujud yang dikerjakan di dalam shalat untuk menambal kelupaan. Kalau yang Anda cari adalah bacaan sujud karena lupa rakaat atau gerakan, panduannya ada di artikel doa sujud sahwi.
Tiga Bentuk Syukur: Hati, Lisan, dan Perbuatan
Doa dan sujud adalah pintu masuk, tetapi syukur yang utuh sebenarnya melibatkan tiga unsur sekaligus. NU Online, dalam pembahasan tiga cara mengungkapkan syukur kepada Allah, merinci ketiganya dengan jelas.
Pertama, syukur dengan hati. Inilah fondasinya. Syukur dengan hati diwujudkan dalam bentuk keyakinan dan pengakuan bahwa kehidupan, kesehatan, dan segala kemampuan yang kita miliki adalah mutlak anugerah Allah, bukan hasil kehebatan diri semata. Buahnya adalah perasaan senang, ikhlas, dan rela dengan apa yang sudah ada. Tanpa unsur hati ini, ucapan di lisan hanya menjadi bunyi tanpa jiwa.
Kedua, syukur dengan lisan. Bentuk minimalnya adalah mengucapkan "alhamdulillah" atau hamdalah setiap kali menerima nikmat. Namun NU Online mengingatkan bahwa syukur lisan tidak berhenti di situ. Orang yang benar-benar bersyukur akan menjaga lisannya dari ucapan yang menyakiti, tidak berat meminta maaf atas kesalahannya, dan mudah memaafkan orang lain. Kepada Allah, ia bersegera memohon ampun. Jadi lisan yang bersyukur adalah lisan yang terjaga, bukan sekadar lisan yang rajin mengucap.
Ketiga, syukur dengan perbuatan. Ini wujud syukur yang paling terlihat. Bisa berupa berbagi kepada sesama, seperti membagi rezeki, ilmu, dan kegembiraan, misalnya lewat syukuran yang menjamu tamu, dan jamuan itu bernilai sedekah. Bisa pula berupa peningkatan ibadah untuk diri sendiri. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam saja, yang sudah dijamin surga, tetap rajin beribadah hingga kedua kakinya bengkak sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang beliau terima. Karena itu, membiasakan sedekah dan memperbanyak amal adalah cara syukur yang membumi.
Prof. Quraish Shihab, sebagaimana dimuat NU Online, meringkasnya menjadi tiga aspek yang sebangun: pertama, merasakan dengan hati bahwa kita telah menerima suatu kebaikan; kedua, menyadari nikmat itu anugerah Tuhan sehingga terucaplah pujian kepada Allah; dan ketiga, melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pemberian anugerah tersebut. Beliau menegaskan, jika syukur hanya diwujudkan dengan ucapan, itu belum termasuk syukur yang sempurna.
Janji Allah dan Doa Syukur dalam Al-Qur'an
Perintah bersyukur bukan anjuran kosong. Allah menyertainya dengan janji yang tegas dalam Surat Ibrahim ayat 7, bahwa siapa yang bersyukur akan Allah tambah nikmatnya, dan siapa yang mengingkari nikmat, sesungguhnya azab Allah amat pedih. Ayat ini sering dijadikan pengingat dalam kajian, termasuk pada salah satu contoh kultum singkat yang membahas keutamaan bersyukur. Perlu dicatat, "tambahan nikmat" yang dijanjikan tidak selalu berupa tumpukan harta. Ia bisa hadir sebagai keberkahan, ketenangan hati, kesehatan yang terjaga, atau iman yang menguat, yaitu bentuk kekayaan yang sering justru lebih berharga daripada angka di rekening.
Al-Qur'an juga mengabadikan doa syukur para nabi sebagai teladan. Yang paling terkenal adalah doa syukur Nabi Sulaiman dalam Surat An-Naml ayat 19, rabbi auzi'ni an asykura ni'matak. Yang menarik, di puncak kekuasaan dan kekayaan, Nabi Sulaiman justru tidak meminta tambahan harta, melainkan memohon dimampukan untuk bersyukur dan beramal saleh. Ini pengakuan yang jujur bahwa bersyukur itu sendiri butuh pertolongan Allah, tidak muncul otomatis dari banyaknya nikmat. Pembahasan lengkap doa ini bisa Anda baca pada artikel doa Nabi Sulaiman.
Prof. Quraish Shihab menambahkan satu perspektif yang layak direnungkan, yaitu perbedaan antara "syukur nikmat" dan "nikmat syukur". Syukur nikmat adalah kita mensyukuri karunia yang diterima. Sedangkan nikmat syukur adalah kelezatan dan ketenangan batin yang justru dirasakan ketika kita mampu bersyukur. Menurut beliau, orang yang mampu bersyukur sejatinya telah lebih dulu memperoleh karunia Tuhan, sebab kemampuan berbuat baik itu sendiri tidak mungkin ada tanpa kehendak dan restu-Nya. Maka kemampuan bersyukur adalah nikmat yang berlapis.
Meluruskan: Syukur Bukan Sekadar Ucapan di Lisan
Karena kata seperti "doa syukur nikmat" ramai dicari, ikut beredar pula pemahaman yang keliru. Ada dua kekeliruan yang paling perlu diluruskan. Pertama, menganggap syukur cukup dengan mengucap "alhamdulillah" di lisan lalu selesai. Sebagaimana ditegaskan Prof. Quraish Shihab tadi, syukur yang hanya berhenti di ucapan belum termasuk syukur yang sempurna. Syukur menuntut hati yang mengakui dan perbuatan yang membuktikan. Lisan yang mengucap syukur sambil tangan enggan berbagi dan hati masih merasa kurang belum benar-benar bersyukur.
Kekeliruan kedua adalah memperlakukan doa syukur seperti jimat atau mantra penarik rezeki. Sebagian orang membacanya dengan target agar kekayaannya bertambah dalam jumlah dan waktu tertentu. Pola salah paham semacam ini bukan hal baru. Hal serupa terjadi pada doa seribu dinar yang kerap dipasarkan sebagai penglaris dagangan, padahal ia sejatinya ayat tentang takwa dan tawakal. Ciri khasnya selalu sama: doa atau lafal yang sah dicabut dari maknanya, lalu dijadikan alat, bukan ibadah. Doa syukur nikmat adalah pengakuan dan pujian, bukan tombol otomatis penambah harta.
Menurut hemat redaksi, ada ironi yang menarik direnungkan. Justru orang yang membaca doa syukur demi memancing tambahan kekayaan sedang melewatkan inti doanya sendiri, yaitu pengakuan bahwa nikmat yang sudah ada saja sudah lebih dari cukup untuk disyukuri. Sikap yang lebih sehat adalah membiasakan syukur atas nikmat yang kecil dan yang sudah di tangan, bukan menunggu nikmat besar yang belum tentu datang. Orang yang tidak bisa mensyukuri yang sedikit biasanya juga sulit mensyukuri yang banyak.
Kalau Anda punya pertanyaan lebih spesifik seputar lafal, status riwayat, atau tata cara sujud syukur di kondisi tertentu, silakan bertanya kepada ustadz setempat atau lewat halaman Tanya Ustadz. Untuk memperkaya amalan harian, Anda juga bisa menelusuri kumpulan doa harian lain yang lafalnya dirujuk dari sumber otoritatif.
Sumber Rujukan
- NU Online - Doa Lihat Kebaikan dan Keburukan (lafal Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat dan alhamdulillahi 'ala kulli hal)
- NU Online Jatim - Doa yang Dibaca ketika Permintaan Terwujud (riwayat bi 'izzatihi wa jalalihi, takhrij az-Zabidi dari Al-Hakim, Aisyah, dan Ibnu Majah)
- NU Online Jatim - Bila Harapan Terwujud, Sempatkan Membaca Doa Ini
- NU Online - Doa Sujud Syukur (bacaan Sajada wajhiya, Fathul Mu'in)
- NU Online Lampung - Tata Cara Sujud Syukur dan Doanya (Al-Iqna', Al-Majmu')
- NU Online - Tiga Cara Mengungkapkan Syukur kepada Allah (hati, lisan, perbuatan)
- NU Online - Prof Quraish Jelaskan Perbedaan Nikmat Syukur dan Syukur Nikmat
- Wikimedia Commons - Tumpeng Kompas 3 (foto sampul, CC BY-SA 4.0)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


