NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Nabi Sulaiman: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Kisah di Baliknya

Doa Nabi Sulaiman yang terekam dalam Al-Quran ada dua: QS An-Naml ayat 19, doa syukur yang beliau panjatkan setelah mendengar perkataan semut, dan QS Shad ayat 35, doa yang memohon ampunan lebih dulu sebelum meminta kerajaan. Keduanya bukan doa pesugihan dan bukan doa penakluk jin. Perhatikan saja isinya: yang satu meminta kemampuan bersyukur dan beramal saleh, yang lain dibuka dengan permohonan ampun.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Doa Nabi Sulaiman: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Kisah di Baliknya

Doa Nabi Sulaiman yang terekam dalam Al-Quran ada dua, dan menariknya tidak satu pun berisi permintaan harta. Yang pertama ada pada QS An-Naml ayat 19, doa syukur yang beliau panjatkan sambil tersenyum setelah mendengar perkataan seekor semut. Yang kedua ada pada QS Shad ayat 35, doa yang dibuka dengan permohonan ampun sebelum meminta kerajaan. Keduanya perlu dipahami utuh, sebab nama Nabi Sulaiman termasuk yang paling sering dicatut untuk keperluan yang justru bertentangan dengan isi doanya sendiri. Artikel ini menyajikan lafal keduanya lengkap dengan arti, kisah di baliknya, penjelasan para mufasir sebagaimana dihimpun NU Online, serta meluruskan anggapan keliru bahwa ini doa kekayaan.

Dua Doa Nabi Sulaiman dalam Al-Quran

Ketika orang mencari "doa Nabi Sulaiman", yang sebenarnya mereka cari biasanya salah satu dari dua ayat berikut. Keduanya doa yang Allah abadikan langsung dalam Al-Quran, bukan riwayat yang diperdebatkan status haditsnya, sehingga keabsahannya tidak perlu dipersoalkan lagi.

1. Doa Syukur Nabi Sulaiman (QS An-Naml ayat 19)

Inilah doa yang paling masyhur, dipanjatkan tepat setelah Nabi Sulaiman mendengar seekor semut memperingatkan kawanannya:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

Latin: Fa tabassama dhaahikan min qaulihaa wa qaala rabbi auzi'nii an asykura ni'matakal latii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii 'ibaadikash shaalihiin.

Artinya: "Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'"

Bagian doanya sendiri dimulai dari kalimat rabbi auzi'nii. Kalau Anda ingin membacanya sebagai doa tanpa bagian narasi "Dia tersenyum", cukup mulai dari sana. Yang diminta cuma tiga hal: kemampuan bersyukur, kemampuan beramal saleh yang diridai, dan dimasukkan ke golongan hamba yang saleh. Tidak ada satu kata pun tentang harta.

2. Doa Memohon Ampunan dan Kerajaan (QS Shad ayat 35)

Doa kedua ini yang paling sering disalahpahami, padahal justru paling tegas mengoreksi salah paham itu lewat kata pertamanya:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Latin: Qaala rabbighfir lii wa hab lii mulkal laa yanbaghii li ahadin min ba'dii, innaka antal wahhaab.

Artinya: "Dia berkata, 'Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.'"

Poin Penting: Perhatikan urutan kata dalam QS Shad 35. Permintaan pertama bukan kerajaan, melainkan ampunan (rabbighfir lii). Kerajaan baru disebut setelahnya, dan ayat itu ditutup dengan pengakuan "Engkaulah Yang Maha Pemberi", bukan klaim bahwa beliau berhak atasnya. Susunan ini penting, dan akan kita bahas lagi di bagian pelurusan.

Kisah Nabi Sulaiman: Kerajaan, Bahasa Hewan, dan Angin

Untuk memahami kedua doa itu, kita perlu tahu siapa yang memanjatkannya. Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Dawud yang mewarisi kenabian sekaligus kerajaan ayahnya. Dalam QS An-Naml ayat 16, beliau berkata kepada manusia bahwa mereka telah diajari memahami bahasa burung dan dianugerahi segala sesuatu, lalu menutupnya dengan pengakuan bahwa semua itu benar-benar karunia yang nyata.

Menurut ulasan NU Online atas ayat tersebut, ada detail bahasa yang sering luput. Ayat itu memakai kata kerja pasif, "diajari" dan "diberikan". Keduanya menjadi bukti pengakuan Nabi Sulaiman bahwa kekuasaan yang ada dalam genggamannya adalah sebuah pemberian, bukan pencapaian. Ini bukan tafsir yang dibuat-buat; struktur kalimatnya memang begitu, dan itu menentukan cara kita membaca seluruh kisahnya.

Keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau memang di luar nalar. QS An-Naml ayat 17 menyebut bala tentaranya dikumpulkan dari kalangan jin, manusia, dan burung, lalu diatur dengan tertib. QS Shad ayat 36 menyebut Allah menundukkan angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki. QS Shad ayat 37 menyebut setan-setan yang ahli bangunan dan penyelam turut ditundukkan. QS Saba ayat 13 menggambarkan para jin bekerja membuat gedung-gedung tinggi dan periuk-periuk besar, lalu ayat itu ditutup dengan kalimat yang menohok: "Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur."

Sekali lagi, perhatikan siapa pelakunya dalam kalimat-kalimat itu. Bukan Sulaiman yang menundukkan angin, melainkan "Kami menundukkan kepadanya angin". Bukan Sulaiman yang mengumpulkan pasukan jin dengan mantra, melainkan "dikumpulkanlah untuk Sulaiman bala tentaranya". Allah yang bertindak, Sulaiman yang menerima. Detail tata bahasa ini yang nanti membuat seluruh gagasan "amalan penakluk jin ala Sulaiman" runtuh dengan sendirinya.

Dua episode paling terkenal melengkapi gambaran ini. Pertama, kisah lembah semut yang melahirkan doa QS An-Naml 19. Kedua, kisah Ratu Balqis dari negeri Saba, yang berakhir dengan Balqis berkata, sebagaimana QS An-Naml ayat 44, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." Kekuasaan sebesar itu ujungnya bukan menumpuk kekayaan, melainkan mengantar seorang ratu kepada tauhid.

Makna QS An-Naml 19: Doa Syukur, Bukan Doa Minta Harta

Peristiwanya terekam pada QS An-Naml ayat 18, tepat sebelum doa itu dipanjatkan:

حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Latin: Hattaa idzaa atau 'alaa waadin namli qaalat namlatun yaa ayyuhan namludkhuluu masaakinakum, laa yahthimannakum sulaimaanu wa junuuduhuu wa hum laa yasy'uruun.

Artinya: "hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, 'Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.'"

Bayangkan situasinya. Seorang raja dengan pasukan terbesar sepanjang sejarah mendengar seekor semut memperingatkan kawanannya agar tidak terinjak. Respons yang wajar bagi penguasa mana pun adalah tersinggung, atau paling ringan tidak peduli. Nabi Sulaiman justru tersenyum, lalu berdoa.

NU Online menyoroti respons ini sebagai cerminan yang layak dicontoh para pemimpin. Beliau tidak tersinggung ketika "dikritik" oleh golongan sekecil semut, tetapi menanggapinya dengan bersyukur lalu berdoa. Suara kaum yang terpinggirkan sering tidak didengar bahkan ditindas karena dinilai tidak pantas dan bukan prioritas, dan cara seperti itu ditampik oleh Nabi Sulaiman.

Imam Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, sebagaimana dikutip NU Online, menyebut peristiwa ini sebagai pengingat akan belas kasih dan keadilan Sulaiman yang menyeluruh terhadap setiap makhluk. Allah memberlakukannya kepada semut agar ia dapat mengetahui kemuliaan keadilan dan tidak meremehkan tempatnya, dan agar ketika penguasa berlaku adil, keadilannya akan menyebar ke segala sesuatu.

Sekarang perhatikan isi doanya sekali lagi. Dipicu oleh kesadaran betapa besar nikmat yang beliau terima, yang beliau minta justru bukan tambahan nikmat, melainkan kemampuan untuk mensyukurinya. Kata auzi'nii bermakna permohonan agar diilhami dan dimampukan. Ini pengakuan yang jujur: bersyukur itu sendiri ternyata butuh pertolongan Allah, tidak otomatis muncul dari banyaknya nikmat. Justru sering terjadi sebaliknya, makin banyak nikmat makin lupa.

Menariknya lagi, syukur itu tidak berhenti pada diri sendiri. Beliau menyebut nikmat "yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku". Seorang raja terbesar sepanjang masa tetap mengingat andil orang tuanya. Lalu permintaan ditutup dengan yang paling penting: dimasukkan ke dalam golongan hamba yang saleh. Bukan golongan raja yang kaya, bukan golongan penguasa yang ditakuti.

Key Takeaway: QS An-Naml 19 adalah doa yang isinya syukur dan permohonan amal saleh. Kalau seseorang membacanya dengan niat menarik kekayaan, ia sedang meminta hal yang tidak ada di dalam doa yang ia baca. Isi doa dan niat pembacanya berjalan ke arah yang berlawanan.

Makna QS Shad 35: Minta Ampun Dulu, Baru Kerajaan

Ayat ini punya konteks yang jarang diceritakan. QS Shad ayat 34 menyebut bahwa Allah benar-benar telah menguji Sulaiman dan menggeletakkannya di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah karena sakit, kemudian dia bertobat. Jadi doa pada ayat 35 itu bukan doa seorang raja yang sedang di puncak dan ingin menambah kekayaan. Itu doa seseorang yang baru saja diuji, menyadari kelemahannya, lalu kembali kepada Allah.

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Volume 12 halaman 144, sebagaimana dikutip NU Online, menjelaskan bahwa setelah melewati ujian dan menyadari kesalahan, Nabi Sulaiman merasa menyesal dan memohon ampunan kepada Allah. Permintaan kerajaan yang istimewa itu, kata beliau, bukanlah untuk menghalangi orang lain memperoleh kekuasaan, tetapi lebih sebagai permohonan agar dia dapat lebih berbakti kepada Allah dengan kekuasaan yang khusus itu, mungkin dalam bentuk mukjizat yang unik dan berbeda dari kekuasaan yang diberikan kepada penguasa sebelum dan sesudahnya.

Lalu apa maksud "kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahku"? Di sinilah kunci yang paling sering dilewatkan. Imam Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib Juz 26 halaman 394, dikutip NU Online, menegaskan bahwa kerajaan itu merupakan mukjizat yang menunjukkan kenabiannya. Alasannya lugas: syarat sebuah mukjizat adalah tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Sebagai utusan Allah yang sekaligus raja, Nabi Sulaiman perlu bukti kenabian, dan bentuk buktinya adalah kerajaan superior yang khusus diperuntukkan bagi beliau.

Imam Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir Juz 23 halaman 263 menambahkan bahwa permintaan itu justru menunjukkan Nabi Sulaiman tidak memiliki rasa iri atau dengki. Beliau iba bila ada orang berkuasa sebesar dirinya tanpa bimbingan kenabian, karena orang itu akan memikul beban berat yang memancing iri, dengki, pertikaian, dan sengketa. Itulah yang tidak beliau inginkan.

Ibnu Asyur juga menyoroti penutup ayat, "Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". Menurutnya kalimat ini menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Yang Maha Pemberi secara absolut, karena Allah bisa memberikan apa pun yang tidak seorang pun mampu memberikannya. Dari sinilah Sulaiman sadar bahwa kekuasaan adalah anugerah yang perlu dipertanggungjawabkan, bukan hak istimewa, melainkan kewajiban yang menuntut tanggung jawab.

Kesadaran itu terbukti konsisten sepanjang hidup beliau. Ketika singgasana Ratu Balqis berpindah dalam sekejap mata, respons beliau terekam pada QS An-Naml ayat 40:

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Latin: Qaalal ladzii 'indahuu 'ilmun minal kitaabi ana aatiika bihii qabla an yartadda ilaika tharfuk, falammaa raaahu mustaqirran 'indahuu qaala haadzaa min fadhli rabbii, liyabluwanii a asykuru am akfur, wa man syakara fa innamaa yasykuru linafsih, wa man kafara fa inna rabbii ghaniyyun kariim.

Artinya: "Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, 'Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.' Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.'"

Mukjizat sebesar itu terjadi di depan matanya, dan yang beliau pikirkan adalah: ini ujian, apakah aku bersyukur atau kufur. Bukan "hebat sekali kekuasaanku". Imam At-Thabari dalam Jami'ul Bayan Juz 19 halaman 468, dikutip NU Online, menjelaskan bahwa syukur pada akhirnya berimbas kepada orang yang bersyukur itu sendiri, begitu pula kekufuran akan menimpa pelakunya sendiri.

Meluruskan: Ini Bukan Doa Pesugihan atau Penakluk Jin

Bagian ini yang paling perlu ditulis terus terang, karena di sinilah letak bahaya terbesarnya. Nama Nabi Sulaiman dikaitkan dengan kekayaan melimpah dan penguasaan atas jin, sehingga "doa Nabi Sulaiman" beredar luas sebagai doa pesugihan, doa pelaris dagangan, doa penarik rezeki instan, sampai "amalan penakluk jin" atau pengisian khodam yang dijual dengan mahar tertentu. Redaksi perlu mengatakannya tanpa berputar-putar: itu penyalahgunaan total, dan sebagiannya menyerempet syirik.

Ada empat alasan yang membuat framing itu runtuh, dan tiga di antaranya datang dari ayatnya sendiri.

Pertama, isi doanya membantah niatnya. Ini argumen yang paling sederhana dan paling telak. Bacalah ulang QS An-Naml 19: yang diminta adalah kemampuan bersyukur, kemampuan beramal saleh, dan dimasukkan ke golongan hamba saleh. Tidak ada harta di situ. Bacalah ulang QS Shad 35: kata pertamanya rabbighfir lii, ampunilah aku. Orang yang membaca doa ini untuk memancing kekayaan sedang melafalkan permohonan ampun sambil membayangkan uang. Isi lisannya dan isi hatinya bertentangan.

Kedua, QS Shad 35 justru menutup pintu itu secara harfiah. Bunyinya "kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahku". Jadi orang yang mengamalkan ayat ini demi mendapat kekayaan seperti Nabi Sulaiman sedang meminta sesuatu yang ayat itu sendiri nyatakan tidak akan diberikan kepada siapa pun setelah beliau. Semakin rajin dibaca dengan niat begitu, semakin jelas ironinya.

Ketiga, kekuasaan Nabi Sulaiman itu mukjizat, dan mukjizat menurut definisinya tidak bisa ditiru. Sebagaimana penjelasan Ar-Razi yang dikutip NU Online di atas, syarat mukjizat adalah tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Mukjizat itu pemberian khusus Allah kepada nabi-Nya sebagai bukti kenabian, bukan hasil dari wirid, puasa tertentu, atau amalan yang bisa diwariskan ke orang lain. Berharap mendapat kekayaan atau penguasaan jin "ala Sulaiman" lewat amalan sama saja berharap membelah laut dengan tongkat karena Nabi Musa pernah melakukannya. Nabi Sulaiman tidak menaklukkan angin, jin, dan setan dengan mantra; Allah yang menundukkan semuanya kepada beliau, dan ayat-ayatnya menyebut Allah sebagai pelakunya.

Keempat, meminta bantuan jin itu sendiri terlarang. Ini perlu ditegaskan terpisah, karena bagian "penakluk jin" adalah yang paling berbahaya. NU Online, dalam pembahasan hukum meminta bantuan jin, menyimpulkan bahwa meminta pertolongan dan bantuan kepada jin, setan, dan makhluk gaib yang lain hukumnya tidak diperbolehkan dalam Islam, dan pelakunya berdosa karena melakukan perbuatan haram. Landasannya QS Al-Jinn ayat 6, yang menyebut ada orang-orang dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada jin, tetapi jin itu justru menjadikan mereka bertambah sesat.

NU Online menukil Sayyid Murtadha az-Zabidi dalam Ithafussadatil Muttaqin Juz II halaman 285 bahwa tidak boleh meminta pertolongan pada jin dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, tidak boleh pula mengikuti perintah-perintahnya dan kabar-kabarnya tentang perkara gaib. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Fatawa Mu'ashirah halaman 342 juga menegaskan bahwa meminta pertolongan kepada jin dalam bentuk bantuan apa pun hukumnya haram. Akar masalahnya dijelaskan lewat kutipan Syekh Ali al-Qari dalam Mirqatul Mafatih Juz VIII halaman 310, bahwa selain Allah tidak memiliki manfaat dan petaka bagi dirinya sendiri, tidak pula memiliki mati, hidup, ataupun kebangkitan.

Artinya, keyakinan bahwa jin bisa mendatangkan rezeki adalah keliru sejak fondasinya, bukan sekadar keliru caranya. Yang memberi rezeki hanya Allah. Menggantungkan harapan kepada makhluk yang tidak punya daya apa-apa, lalu memberinya nama "amalan Nabi Sulaiman", adalah menempelkan nama seorang nabi pada praktik yang beliau sendiri tidak pernah ajarkan.

Catatan Redaksi: Kalau ada yang menawari Anda "amalan Nabi Sulaiman" untuk kekayaan, pelarisan, penundukan jin, atau pengisian khodam, apalagi dengan mahar sekian rupiah, tolak saja. Doa Nabi Sulaiman yang benar-benar ada di Al-Quran cuma dua, gratis, terbuka untuk siapa pun, dan isinya syukur serta permohonan ampun. Tidak ada yang perlu dibeli, tidak ada yang perlu dirahasiakan. Untuk kasus pribadi yang sudah terlanjur, silakan berkonsultasi lewat kanal Tanya Ustadz atau ustadz setempat.

Pola salah paham seperti ini bukan hal baru. Hal serupa terjadi pada doa seribu dinar yang kerap dipasarkan sebagai penglaris dagangan, padahal ia adalah ayat tentang takwa dan tawakal. Juga pada doa tolak bala yang kadang diperlakukan seperti jimat. Ciri khasnya selalu sama: ayat atau doa yang sah dicabut dari maknanya, lalu dipakai sebagai alat, bukan sebagai ibadah.

Cara Mengamalkan Doa Nabi Sulaiman

Setelah tahu apa yang bukan, mari bicara apa yang benar. Kedua doa ini adalah ayat Al-Quran, jadi membacanya bernilai ibadah sekaligus tilawah. Tidak ada tuntunan khusus yang mengikat waktu atau bilangannya, dan justru di situlah kemudahannya.

  1. Pahami artinya sebelum menghafal lafalnya. Ini bukan urutan yang biasa kita lakukan, tetapi untuk doa ini penting. Inti QS An-Naml 19 adalah syukur, inti QS Shad 35 adalah tobat. Tanpa memahami itu, yang tersisa hanya bunyi di lisan.
  2. Baca QS An-Naml 19 saat menerima nikmat, bukan saat kekurangan. Inilah momen paling tepat dan paling sering terlewat. Saat gaji cair, saat anak lahir sehat, saat usaha mulai jalan, saat lulus. Justru di titik itulah manusia paling rawan lupa, dan justru di titik itulah Nabi Sulaiman memanjatkan doanya.
  3. Baca QS Shad 35 dengan menyadari konteksnya. Ayat ini dipanjatkan setelah ujian dan tobat. Kalau Anda sedang mengemban amanah, entah sebagai atasan, ketua RT, guru, orang tua, atau pemilik usaha kecil, mulailah dengan memohon ampun sebagaimana urutan dalam ayat itu, lalu mintalah kemampuan menunaikan amanah dengan baik.
  4. Jangan menargetkan hasil duniawi yang spesifik dari bacaan ini. Doa adalah ikhtiar dan bentuk penghambaan, bukan transaksi. Tidak ada seorang pun yang berhak menjanjikan bahwa bacaan tertentu pasti mendatangkan sejumlah uang.
  5. Iringi dengan ikhtiar nyata. Nabi Sulaiman mengelola kerajaan dengan kerja, keadilan, dan sistem yang tertib. Rezeki tetap dijemput lewat usaha, keterampilan, dan kejujuran, bukan lewat wirid yang menggantikan pekerjaan.
  6. Selipkan ke rutinitas yang sudah ada. Kalau Anda sudah terbiasa dengan dzikir pagi dan petang, letakkan doa syukur ini di sana. Kebiasaan kecil yang menempel pada rutinitas lama jauh lebih awet daripada target besar yang berdiri sendiri.
Pro Tip: Coba latihan sederhana selama sepekan. Setiap kali Anda hendak mengeluh tentang sesuatu, berhenti sejenak, sebutkan satu nikmat yang Anda terima hari itu, lalu baca rabbi auzi'nii an asykura ni'matak. Doa ini memang meminta dimampukan bersyukur, jadi mengamalkannya bersamaan dengan melatih syukur itu sendiri terasa jauh lebih nyambung daripada membacanya sambil menghitung target penghasilan.

Pelajaran dari Doa Nabi Sulaiman

Ada beberapa hikmah yang bisa kita bawa pulang dari dua doa ini:

  • Kekuasaan dan kekayaan adalah pemberian, bukan pencapaian. Ayat-ayat tentang Nabi Sulaiman konsisten memakai bentuk pasif: diajari, diberikan, ditundukkan, dikumpulkan. Menurut ulasan NU Online, ini adalah pengakuan Sulaiman sendiri bahwa semuanya anugerah. Orang yang paling berhak menyombongkan diri justru yang paling tidak melakukannya.
  • Syukur itu perlu dimintakan, tidak datang otomatis. Nabi Sulaiman yang dianugerahi "segala sesuatu" masih perlu memohon agar dimampukan bersyukur. QS Saba 13 menutup dengan "sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur", dan itu peringatan untuk kita semua.
  • Amanah menuntut tanggung jawab, bukan memberi hak istimewa. Sebagaimana Ibnu Asyur, kesadaran Nabi Sulaiman adalah bahwa kekuasaan itu kewajiban yang menuntut pertanggungjawaban.
  • Rendah hati diukur dari cara memperlakukan yang terkecil. Ukuran kepemimpinan Nabi Sulaiman bukan luas wilayahnya, melainkan responsnya terhadap seekor semut. Beliau tersenyum, bukan tersinggung.
  • Ampunan lebih didahulukan daripada kekuasaan. Urutan dalam QS Shad 35 adalah pelajaran adab berdoa: bereskan dulu hubungan dengan Allah, baru ajukan permintaan.
  • Nikmat besar adalah ujian, bukan piala. Reaksi Nabi Sulaiman terhadap singgasana Balqis dalam QS An-Naml 40 adalah teladan langsung soal ini.

Menurut hemat redaksi, ada ironi yang menarik direnungkan. Nabi Sulaiman adalah tokoh paling sering dicatut untuk urusan pesugihan, padahal beliau justru sosok yang paling gigih menolak menganggap kekayaannya sebagai milik atau prestasi pribadi. Orang mencari "rahasia kekayaan Sulaiman", sementara Sulaiman sendiri sibuk mencari cara agar tidak kufur atas kekayaan itu. Kalau ada yang benar-benar ingin meneladani beliau, tempat memulainya bukan mencari amalan penarik rezeki, melainkan belajar bersyukur atas rezeki yang sudah ada.

Pola doanya pun sebangun dengan doa nabi lain yang juga terekam dalam Al-Quran. Perhatikan doa Nabi Yunus: sama-sama tidak berisi permintaan eksplisit atas hal duniawi, sama-sama dibuka dengan mengagungkan Allah dan mengakui posisi diri. Dua nabi, dua situasi yang bertolak belakang (satu di puncak kekuasaan, satu di dasar lautan), tetapi struktur adab berdoanya serupa. Itu bukan kebetulan, itu pelajaran.

Baca juga: Kumpulan kisah teladan para nabi dan orang saleh untuk mengambil hikmah, serta kumpulan doa harian yang lafalnya dirujuk dari sumber otoritatif.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa nabi sulaiman

TApa bacaan doa Nabi Sulaiman?

Ada dua yang terekam dalam Al-Quran. Pertama, doa syukur pada QS An-Naml ayat 19: 'Rabbi auzi'nii an asykura ni'matakal latii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii 'ibaadikash shaalihiin.' Kedua, doa pada QS Shad ayat 35: 'Rabbighfir lii wa hab lii mulkal laa yanbaghii li ahadin min ba'dii, innaka antal wahhaab.'

TApakah doa Nabi Sulaiman bisa dipakai untuk pesugihan atau menarik kekayaan?

Tidak. Anggapan itu keliru dan berbahaya. Perhatikan isi doanya: QS An-Naml 19 meminta kemampuan bersyukur dan beramal saleh, tanpa menyebut harta sama sekali, sedangkan QS Shad 35 dimulai dengan permohonan ampun (rabbighfir lii) sebelum menyebut kerajaan. Doa adalah ibadah dan ikhtiar, bukan transaksi, dan tidak ada yang boleh menjanjikan hasil.

TApakah ada amalan Nabi Sulaiman untuk menaklukkan jin atau mengisi khodam?

Tidak ada dalam Al-Quran. Ayat-ayatnya justru menyebut Allah sebagai pelaku yang menundukkan angin, jin, dan setan kepada Nabi Sulaiman, jadi itu pemberian khusus, bukan teknik yang bisa ditiru. NU Online juga menegaskan bahwa meminta pertolongan kepada jin, setan, dan makhluk gaib lain hukumnya tidak diperbolehkan dalam Islam berdasarkan QS Al-Jinn ayat 6.

TMengapa Nabi Sulaiman meminta kerajaan yang tidak dimiliki siapa pun sesudahnya?

Menurut Imam Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib sebagaimana dikutip NU Online, kerajaan itu berfungsi sebagai mukjizat yang menunjukkan kenabiannya, dan syarat mukjizat memang tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Prof. Quraish Shihab menambahkan bahwa permintaan itu agar beliau dapat lebih berbakti kepada Allah, bukan untuk menghalangi orang lain berkuasa.

TDi surat dan ayat berapa doa Nabi Sulaiman disebutkan?

Doa syukur Nabi Sulaiman ada pada QS An-Naml ayat 19, dipanjatkan setelah beliau mendengar perkataan semut pada ayat 18. Doa memohon ampunan dan kerajaan ada pada QS Shad ayat 35, yang didahului konteks ujian pada ayat 34.

TKapan sebaiknya doa Nabi Sulaiman dibaca?

Tidak ada tuntunan yang mematok waktu atau bilangan khusus. Namun melihat konteksnya, QS An-Naml 19 sangat relevan dibaca saat menerima nikmat, sebab isinya memohon dimampukan bersyukur, sedangkan QS Shad 35 cocok dibaca saat sedang mengemban amanah atau setelah menyadari kesalahan, karena dibuka dengan permohonan ampun.

TKenapa Nabi Sulaiman tersenyum mendengar perkataan semut?

Menurut ulasan NU Online, respons itu menunjukkan beliau tidak tersinggung dikritik oleh golongan kecil, tetapi justru bersyukur lalu berdoa. Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menyebut peristiwa itu sebagai pengingat akan belas kasih dan keadilan Sulaiman yang menyeluruh terhadap setiap makhluk.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa