NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Seribu Dinar: Bacaan, Asal Ayat, Arti, dan Cara Mengamalkannya

Doa seribu dinar adalah sebutan populer untuk Surat At-Talaq ayat 2 dan 3, yang berisi janji Allah bahwa siapa yang bertakwa akan dibukakan jalan keluar dan dianugerahi rezeki dari arah yang tidak diduga. Ia bukan mantra pelaris atau jimat kekayaan, melainkan ayat Al-Quran tentang takwa dan tawakal yang justru menuntut ikhtiar nyata.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Doa Seribu Dinar: Bacaan, Asal Ayat, Arti, dan Cara Mengamalkannya

Doa seribu dinar adalah sebutan populer untuk Surat At-Talaq ayat 2 dan 3, yang berisi janji Allah bahwa siapa yang bertakwa akan dibukakan jalan keluar dan dianugerahi rezeki dari arah yang tidak diduga. Ia bukan mantra pelaris atau jimat kekayaan, melainkan ayat Al-Quran tentang takwa dan tawakal yang justru menuntut ikhtiar nyata. NU Online menyebut kedua ayat ini sebagai anjuran Al-Quran untuk menjalani hidup dengan dua sikap, yaitu takwa dan tawakal. Artikel ini menyajikan lafalnya lengkap dengan arti, menjelaskan dari mana nama "seribu dinar" berasal dan sejauh mana kisah itu bisa dipertanggungjawabkan, lalu menguraikan cara mengamalkannya secara benar.

Bacaan Doa Seribu Dinar dan Ayat Aslinya

Yang biasa dibaca orang sebagai "doa seribu dinar" sebenarnya adalah potongan dari dua ayat, yaitu penghujung Surat At-Talaq ayat 2 yang bersambung ke awal ayat 3. Berikut potongan yang lazim dilafalkan:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Latin: Wa may yattaqillâha yaj'al lahû makhrajâ, wa yarzuq-hu min haitsu lâ yahtasib.

Artinya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga."

Supaya tidak sepotong, ada baiknya Anda mengenali ayat utuhnya. Inilah Surat At-Talaq ayat 2 selengkapnya sebagaimana dimuat Quran NU Online:

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِۗ ذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ

Latin: Fa idzâ balaghna ajalahunna fa amsikûhunna bima'rûfin au fâriqûhunna bima'rûfiw wa asy-hidû dzawai 'adlim mingkum wa aqîmusy-syahâdata lillâh, dzâlikum yû'adhu bihî mang kâna yu'minu billâhi wal-yaumil-âkhir, wa may yattaqillâha yaj'al lahû makhrajâ.

Artinya: "Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, rujuklah dengan mereka secara baik atau lepaskanlah mereka secara baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil dari kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Yang demikian itu dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya."

Dan inilah ayat 3 selengkapnya:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Latin: Wa yarzuq-hu min haitsu lâ yahtasib, wa may yatawakkal 'alallâhi fa huwa hasbuh, innallâha bâlighu amrih, qad ja'alallâhu likulli syai'ing qadrâ.

Artinya: "Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu."

Poin Penting: Perhatikan bahwa kalimat "jalan keluar" dan "rezeki tak terduga" itu bukan kalimat berdiri sendiri. Keduanya adalah anak kalimat yang menempel pada satu syarat, yaitu wa may yattaqillâha (siapa yang bertakwa kepada Allah). Janji itu tidak digantungkan pada berapa kali ayatnya dibaca, melainkan pada takwa orang yang membacanya.

Asal-Usul Nama Seribu Dinar dan Status Kisahnya

Pertanyaan yang paling sering muncul: kenapa disebut "seribu dinar", padahal di dalam ayatnya tidak ada satu pun kata dinar, uang, atau angka seribu?

Jawaban jujurnya: nama itu bukan berasal dari Al-Quran. Al-Quran menyebut rangkaian ini sebagai Surat At-Talaq ayat 2 dan 3, tidak lebih. Sebutan "doa seribu dinar" adalah label yang tumbuh di tengah masyarakat, dan label itu melekat lewat sebuah kisah yang beredar turun-temurun.

Kisah yang beredar itu umumnya bercerita tentang seorang saudagar atau pedagang saleh yang rutin membaca ayat ini, lalu memperoleh uang seribu dinar dari jalan yang sama sekali tidak ia perhitungkan. Versinya bermacam-macam. Ada yang menyebut ia bermimpi lebih dahulu, ada yang menyebut ia menerimanya dari orang tak dikenal, ada pula yang menambahkan bumbu lain sesuai daerah penuturnya.

Di sinilah redaksi perlu berterus terang. Kisah tersebut berstatus cerita yang beredar di masyarakat, bukan hadits sahih. Kami tidak menemukan riwayat yang kuat dan bersambung yang menetapkan asal-usul penamaan itu, dan variasi ceritanya yang berbeda-beda justru menjadi tanda bahwa ia berkembang sebagai tradisi lisan. Karena itu kisah tersebut kami sajikan apa adanya sebagai cerita yang beredar, bukan sebagai dalil, dan tidak boleh dijadikan dasar untuk mengharapkan hasil yang serupa.

Perlu ditegaskan bahwa tidak sahihnya kisah penamaan itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan ayatnya. Ayat 2 dan 3 Surat At-Talaq adalah firman Allah yang kesahihannya mutlak, dan keutamaannya tidak bergantung pada cerita seribu dinar mana pun. Yang bermasalah bukan ayatnya, melainkan cara sebagian orang memahami namanya.

Justru nama "seribu dinar" ini menyimpan risiko yang perlu disadari. Nama itu menggeser fokus dari takwa, yang merupakan syarat sebenarnya di dalam ayat, kepada nominal uang, yang tidak pernah disebut oleh ayat itu sama sekali. Akibatnya banyak orang mengejar angkanya dan melewatkan syaratnya.

Asbabun Nuzul yang Bersumber: Kisah Auf bin Malik

Menariknya, ayat ini punya latar belakang turun (asbabun nuzul) yang benar-benar dirujuk para ulama tafsir, dan isinya sangat berbeda dari cerita saudagar seribu dinar.

NU Online, mengutip Hasyiyatush Shawi, menerangkan bahwa mayoritas ulama tafsir menyatakan ayat ini turun berkaitan dengan sahabat Auf bin Malik al-Asyja'i. Anaknya ditawan oleh orang-orang musyrik. Auf lalu mendatangi Rasulullah dan mengadukan kesulitan serta kefakiran yang menimpanya.

Yang menarik adalah jawaban Nabi. Beliau tidak memberinya sebuah lafal ajaib untuk diulang sekian ratus kali. Nabi bersabda kepadanya:

"Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, dan aku memerintahkanmu dan istrimu untuk memperbanyak membaca: Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh." (Hasyiyatush Shawi, Juz IV, halaman 204 sampai 205)

Auf pun menjalankan nasihat itu bersama istrinya. Menurut keterangan NU Online, akhirnya mereka memperoleh jalan keluar serta rezeki yang tidak terduga.

Bandingkan baik-baik dua kisah ini. Dalam cerita rakyat seribu dinar, yang ditonjolkan adalah nominal yang didapat. Dalam asbabun nuzul yang bersumber, yang ditonjolkan adalah sikap yang diperintahkan, yaitu takwa, sabar, dan menyandarkan diri kepada Allah lewat hauqalah. Rezeki datang belakangan sebagai karunia, bukan sebagai target yang dikejar dengan hitungan bacaan.

NU Online juga mengutip Imam Ash-Shawi yang menjelaskan bahwa meskipun ayat ini muncul di tengah pembahasan hukum yang berkaitan dengan perempuan dan perceraian, maksudnya bersifat umum dan tidak khusus pada urusan perempuan. Artinya, pesan takwa dan tawakal dalam ayat ini berlaku untuk seluruh aspek kehidupan dan semua golongan, baik laki-laki maupun perempuan.

Makna Ayat: Takwa dan Tawakal, Bukan Mantra

NU Online merumuskan kandungan Surat At-Talaq ayat 2 dan 3 sebagai anjuran menjalani hidup dengan dua sikap: takwa dan tawakal. Keduanya berbeda, dan keduanya punya konsekuensi praktis.

Takwa sebagai syarat

Takwa dijelaskan sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Menurut NU Online, takwa adalah kunci pertama dalam menghadapi segala masalah, dan Allah menjanjikan bahwa siapa pun yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dari kesulitannya. Takwa bukan hanya jalan menuju ketenangan, tetapi juga pembuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Konsekuensinya tegas dan sering diabaikan. Kalau seseorang membaca ayat ini ribuan kali sambil tetap berdagang dengan curang, memakan hasil yang haram, atau menzalimi orang lain, ia sedang meminta buah dari sebuah pohon yang tidak pernah ia tanam. Syaratnya takwa, dan takwa itu urusan perbuatan sehari-hari, bukan urusan jumlah bacaan.

Tawakal setelah ikhtiar

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami. NU Online menegaskan bahwa tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Dalam Islam kita justru diajarkan untuk bekerja, belajar, dan berusaha maksimal sambil meyakini bahwa hasilnya sepenuhnya di tangan Allah.

Imam As-Showi menyatakan dalam Hasyiyatush Shawi:

"Melakukan suatu sebab tidak bertentangan dengan sifat tawakal karena hal itu diperintahkan, tetapi jangan sampai bergantung hati terhadap sebab." (Hasyiyatush Shawi, Juz IV, halaman 204 sampai 205)

Kalimat itu menempatkan segalanya pada porsinya. Bekerja, melamar pekerjaan, memperbaiki produk, menambah keterampilan, semuanya adalah sebab yang diperintahkan. Yang dilarang bukan mengambil sebab, melainkan menyandarkan hati kepada sebab itu seolah-olah dialah yang menentukan hasil.

Syekh Sya'rawi menegaskan hal senada dalam tafsirnya, bahwa seseorang yang mempercayai adanya Tuhan justru akan bersungguh-sungguh mengerahkan segala upayanya dengan maksimal, sehingga ia menemukan jalan keluar dan kemudahan dari kesulitan yang berada di luar batas kemampuannya (Tafsir Asy-Sya'rawi, Juz 11, halaman 7056).

Perhatikan arah logikanya, karena ia berlawanan dengan anggapan umum. Iman tidak membuat orang berhenti berusaha lalu menunggu keajaiban. Iman justru membuat orang berusaha lebih keras, sebab ia tahu usahanya tidak akan sia-sia dan hasilnya dijamin oleh Zat yang tidak pernah keliru.

Key Takeaway: Ayat ini menyebut dua syarat (takwa dan tawakal) dan dua janji (jalan keluar dan rezeki tak terduga). Tidak ada satu pun kata di dalamnya tentang hitungan bacaan, waktu khusus, benda, atau mahar. Siapa pun yang menambahkan syarat-syarat itu sedang menambahkan sesuatu yang tidak ada di dalam ayatnya.

Cara Mengamalkan Doa Seribu Dinar

Karena lafal ini adalah ayat Al-Quran, mengamalkannya sebetulnya sederhana dan tidak memerlukan ritual khusus. Berikut cara yang sejalan dengan keterangan sumber.

  1. Baca dan pahami artinya. Membaca Al-Quran itu berpahala, dan ayat ini boleh dibaca kapan saja tanpa batasan waktu. Namun membacanya sambil memahami bahwa isinya adalah syarat takwa jauh lebih bermanfaat daripada mengulangnya sebagai bunyi.
  2. Jadikan doa dengan bahasa Anda sendiri. Setelah membacanya, mintalah kepada Allah jalan keluar atas masalah yang sedang Anda hadapi dengan kalimat yang Anda mengerti. Ayat ini menuntun harapan, dan permohonan boleh disampaikan dengan bahasa apa pun.
  3. Kerjakan syaratnya, bukan hanya lafalnya. Inilah inti pengamalan. Perbaiki yang selama ini bertentangan dengan takwa: sumber penghasilan, cara berdagang, kewajiban shalat, hak orang lain yang belum ditunaikan. Tanpa ini, pembacaan berulang kehilangan pijakannya.
  4. Ikuti teladan asbabun nuzulnya. Nabi menasihati Auf bin Malik dengan tiga hal: bertakwa, bersabar, dan memperbanyak hauqalah Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Paket inilah yang tercatat dalam rujukan, dan ia jauh lebih layak diikuti daripada resep hitungan yang beredar.
  5. Teruskan ikhtiar nyata. Sesuai keterangan Imam As-Showi, mengambil sebab adalah perintah. Membaca ayat ini tidak menggantikan melamar pekerjaan, memperbaiki kualitas dagangan, menagih piutang, atau mengatur pengeluaran.

Bagaimana dengan waktu terbaik membacanya? Sumber yang memuat ayat ini tidak mematok waktu khusus untuk pembacaannya, dan kami tidak akan mengarang ketentuan yang tidak ada. Yang ada adalah adab berdoa secara umum. NU Online Lampung, mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali dan Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, menyebut sepuluh adab berdoa, di antaranya menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir malam, dan waktu sahur, serta menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa. Silakan pahami ini sebagai adab doa pada umumnya, bukan sebagai aturan khusus doa seribu dinar.

Adab lain yang penting adalah kehadiran hati. Rasulullah bersabda, "Berdoalah kepada Allah Ta'ala dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah" (HR Ath-Thabrani dalam Ad-Du'a, jilid I, halaman 39). Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar jilid II halaman 351 menjelaskan bahwa orang yang berdoa seyogianya sadar sepenuhnya akan apa yang ia pinta dan kepada siapa ia berdoa. Membaca ayat ini sambil pikiran melayang jelas bukan itu.

Pro Tip: Kalau tujuan Anda adalah rezeki yang lapang, jangan berhenti pada satu ayat. Rangkaikan tiga hal sekaligus: perbaiki satu perkara takwa yang selama ini Anda tunda, tambah satu ikhtiar konkret pekan ini (melamar, menawarkan jasa, belajar keterampilan baru), lalu iringi keduanya dengan doa. Susunan inilah yang tergambar dalam kisah Auf bin Malik, dan urutannya memang begitu: sikap dahulu, usaha jalan terus, hasil diserahkan kepada Allah.

Meluruskan Salah Paham: Ini Ayat, Bukan Jimat Pelaris

Bagian ini perlu ditulis paling terus terang, sebab di sinilah letak bahaya terbesar dari nama "seribu dinar".

Ayat ini kerap dipasarkan sebagai penglaris dagangan, ditulis di kertas lalu ditempel di kasir atau etalase, dijadikan wafak, dijual sebagai "amalan pembuka rezeki" bermahar tertentu, atau disertai janji bahwa membacanya sekian kali dalam sekian malam akan mendatangkan uang. Semua praktik itu tidak berdasar pada ayatnya, dan sebagiannya menyentuh persoalan akidah, bukan sekadar perbedaan fikih yang bisa ditawar.

Alasannya jelas dan ada di dalam teks ayat itu sendiri. Ayat ini tidak berisi satu pun perintah kepada alam, benda, atau makhluk. Isinya adalah pemberitaan tentang Allah: Dialah yang membukakan jalan keluar, Dialah yang menganugerahkan rezeki, Dialah yang mencukupkan orang yang bertawakal, dan Dialah yang menuntaskan urusan-Nya. Menjadikannya mantra berarti membalik total maknanya, dari penyandaran diri kepada Allah menjadi ketergantungan pada rangkaian bunyi atau selembar kertas. Padahal ayat penutupnya justru menegaskan innallâha bâlighu amrih, sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya.

Perlu diluruskan pula anggapan bahwa rezeki bisa "dipancing" keluar dari jatah orang lain. NU Online dalam khutbah bertema rezeki menegaskan bahwa rezeki setiap manusia telah ditetapkan Allah dan tidak akan tertukar dengan milik orang lain, dan keyakinan itu menjadi bekal bagi seorang mukmin untuk tetap berikhtiar, menjauhi rasa iri, serta bertawakal kepada Allah dengan hati yang tenang. Perhatikan bahwa buah dari keyakinan itu adalah tetap berikhtiar dan hati tenang, bukan berhenti bekerja sambil menunggu keajaiban.

Lalu bagaimana kalau sudah membaca, sudah bertakwa semampunya, sudah berikhtiar, tetapi rezeki terasa belum juga lapang? Di sinilah penutup ayat 3 menjadi penting: qad ja'alallâhu likulli syai'ing qadrâ, sungguh Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu. Ada takaran dan ada waktunya. Ayat ini menjanjikan jalan keluar dan kecukupan bagi orang bertakwa, tetapi tidak pernah menjanjikan bahwa bentuknya harus berupa uang, dan tidak pernah menyebut kapan ia datang. Menuntut Allah memenuhi janji dalam bentuk dan jadwal yang kita tentukan sendiri bukanlah tawakal.

Menurut hemat redaksi, cara paling sehat memperlakukan ayat mulia ini adalah dengan meninggalkan nama pasarannya dan kembali ke isinya. Sebutlah ia Surat At-Talaq ayat 2 dan 3. Baca, pahami, kerjakan syaratnya, lalu bekerja seperti biasa dengan hati yang bersandar kepada Allah. Doa memang ikhtiar, bukan transaksi, dan prinsip ini berlaku sama untuk semua doa, sebagaimana kami uraikan juga dalam pembahasan doa selamat.

Ringkasan: Doa seribu dinar adalah Surat At-Talaq ayat 2 dan 3, bukan mantra dan bukan jimat. Nama "seribu dinar" berasal dari cerita yang beredar di masyarakat dan tidak berstatus hadits sahih, sedangkan asbabun nuzul yang dirujuk ulama adalah kisah Auf bin Malik yang dinasihati Nabi agar bertakwa, bersabar, dan memperbanyak hauqalah. Syaratnya takwa dan tawakal, bukan hitungan bacaan, dan tawakal itu sendiri baru bermakna sesudah ikhtiar.

Untuk melengkapi amalan harian Anda, bacaan pagi dan sore punya tempatnya sendiri dan bisa Anda pelajari di panduan dzikir pagi petang. Bila yang Anda cari adalah doa ringkas yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat sekaligus, doa sapu jagat adalah pilihan yang lafalnya Qur'ani dan paling sering dibaca Rasulullah. Adapun bila kesulitan yang sedang Anda hadapi berkaitan dengan sakit, panduannya tersedia di halaman doa untuk orang sakit. Untuk persoalan pribadi seputar pengamalan ayat ini, misalnya bila Anda pernah terlanjur menebusnya sebagai amalan bermahar, silakan berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa seribu dinar

TDoa seribu dinar itu surat apa dan ayat berapa?

Doa seribu dinar adalah Surat At-Talaq (surat ke-65) ayat 2 dan 3. Potongan yang lazim dibaca adalah penghujung ayat 2 sampai awal ayat 3, yaitu "wa may yattaqillâha yaj'al lahû makhrajâ, wa yarzuq-hu min haitsu lâ yahtasib", yang artinya siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak dia duga.

TKenapa disebut doa seribu dinar padahal tidak ada kata dinar di ayatnya?

Karena nama itu bukan berasal dari Al-Quran, melainkan label yang tumbuh di masyarakat lewat kisah yang beredar tentang seseorang yang rutin membaca ayat ini lalu memperoleh seribu dinar dari jalan tak terduga. Kisah tersebut berstatus cerita yang beredar dan tidak berdasar hadits sahih, sehingga tidak boleh dijadikan dalil. Al-Quran sendiri hanya menyebutnya Surat At-Talaq ayat 2 dan 3.

TApakah membaca doa seribu dinar bisa membuat cepat kaya atau melariskan dagangan?

Tidak ada janji semacam itu di dalam ayatnya. Ayat ini menggantungkan janji jalan keluar dan rezeki pada syarat takwa, bukan pada jumlah bacaan. Menjadikannya penglaris, jimat, atau wafak menyimpang dari makna ayat yang justru menyandarkan segalanya kepada Allah. Ayat ini juga tidak pernah menyebut bahwa rezeki yang dijanjikan harus berbentuk uang.

TBerapa kali doa seribu dinar harus dibaca agar terkabul?

Tidak ada ketentuan hitungan dalam ayat maupun rujukan yang memuatnya. Klaim bahwa membaca sekian kali dalam sekian malam akan mendatangkan uang tidak berdasar. Yang disebut ayat sebagai syarat adalah takwa dan tawakal, dan tawakal sendiri menurut NU Online bermakna berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar, bukan pasrah tanpa usaha.

TApa asbabun nuzul Surat At-Talaq ayat 2-3 yang sebenarnya?

Menurut NU Online yang mengutip Hasyiyatush Shawi, mayoritas ulama tafsir menyebut ayat ini turun berkaitan dengan sahabat Auf bin Malik al-Asyja'i yang anaknya ditawan orang musyrik. Ketika ia mengadukan kesulitannya, Rasulullah menasihatinya untuk bertakwa, bersabar, dan memperbanyak membaca "Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh" bersama istrinya. Mereka akhirnya memperoleh jalan keluar dan rezeki tak terduga.

TAyat ini turun soal talak, apakah tetap berlaku untuk urusan rezeki?

Ya. NU Online mengutip Imam Ash-Shawi yang menjelaskan bahwa meskipun ayat ini muncul di tengah pembahasan hukum yang berkaitan dengan perempuan dan perceraian, maksudnya bersifat umum dan tidak terbatas pada urusan perempuan. Pesan takwa dan tawakal di dalamnya berlaku untuk seluruh aspek kehidupan dan semua golongan, baik laki-laki maupun perempuan.

TKalau sudah membaca dan berikhtiar tetapi rezeki belum lapang, apakah doanya gagal?

Tidak. Penutup ayat 3 justru menegaskan "qad ja'alallâhu likulli syai'ing qadrâ", sungguh Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu, sehingga ada takaran dan waktunya. NU Online juga menegaskan bahwa rezeki setiap orang telah ditetapkan dan tidak akan tertukar, dan keyakinan itu mestinya membuat seorang mukmin tetap berikhtiar, menjauhi rasa iri, serta bertawakal dengan hati tenang.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa