NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa agar Orang yang Menyakiti Kita Celaka? Ini Tuntunan Islam yang Benar

Banyak orang mencari doa agar orang yang menyakiti kita celaka saat hati sedang terluka, tetapi Islam tidak mengajarkan doa untuk mengutuk atau mencelakakan siapa pun. Yang dituntunkan Al-Qur'an adalah menahan amarah, memaafkan, menyerahkan urusan kepada Allah, membaca doa perlindungan dari kejahatan orang zalim, dan bagi yang benar-benar dizalimi memohon keadilan kepada Allah, bukan mengutuk kebinasaan.

Seorang pria berpeci tampak dari samping belakang membaca Al-Qur'an yang terbuka di atas rekal sambil menunjuk baris dengan pena

Seorang jamaah membaca Al-Qur'an saat iktikaf di Masjid Ubay bin Ka'ab, Jambi, pada malam ke-21 Ramadhan 1446 H. Ibadah yang tenang menolong hati lebih baik daripada menyimpan dendam. Foto: Muhamad Izzul Fiqih / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Mengetik doa agar orang yang menyakiti kita celaka di kolom pencarian biasanya lahir dari hati yang sedang terluka. Mungkin Anda difitnah, dikhianati sahabat, dizalimi atasan, atau disakiti orang yang justru pernah Anda percayai. Rasa ingin agar orang itu "kena batunya" adalah reaksi yang manusiawi. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu diletakkan dengan jujur di depan: Islam tidak mengajarkan doa untuk mengutuk, mencelakakan, atau membinasakan orang lain. Yang dituntunkan Al-Qur'an dan sunnah justru menahan diri, memaafkan, menyerahkan urusan kepada Allah, dan membentengi diri dengan doa perlindungan. Artikel ini menjawab pertanyaan Anda apa adanya, lalu mengarahkannya ke sikap yang benar dan menenangkan, dengan dalil yang bersumber jelas dari NU Online.

Bolehkah Mendoakan Orang yang Menyakiti agar Celaka?

Jawaban ringkasnya: mendoakan keburukan spesifik, kutukan, atau kebinasaan atas orang yang menyakiti adalah sikap yang tercela dan tidak dituntunkan. Doa dalam Islam adalah ibadah dan bentuk kedekatan dengan Allah, bukan senjata untuk melampiaskan dendam. Ketika hati dipenuhi keinginan agar orang lain celaka, yang sebenarnya sedang terjadi bukanlah ibadah, melainkan luapan amarah yang dibungkus kata-kata doa. Padahal Allah justru memuji hamba yang mampu menahan amarah dan memaafkan, bukan yang sibuk merancang kejatuhan orang lain.

Ada nuansa yang perlu dipahami supaya adil. Orang yang benar-benar dizalimi memang memiliki hak untuk mengadu kepada Allah dan memohon keadilan sesuai kadar kezaliman yang menimpanya. Kita akan membahas hak ini di bagian tersendiri karena Al-Qur'an sendiri menyinggungnya. Tetapi memohon keadilan kepada Allah sangat berbeda dari mengutuk agar seseorang binasa. Yang pertama menyerahkan perkara kepada Yang Maha Adil; yang kedua mengambil alih peran menghukum dengan hati yang penuh kebencian. Islam membuka pintu yang pertama dengan syarat ketat, dan menutup rapat yang kedua.

Karena itu, alih-alih mencari lafal untuk mencelakakan, arah yang jauh lebih menyembuhkan adalah bertanya: apa yang Allah tuntunkan ketika kita disakiti? Di situlah letak jawaban yang sesungguhnya, dan di situ pula hati menemukan ketenangan yang tidak pernah didapat dari dendam.

Key Takeaway: Islam tidak mengenal doa kutukan untuk mencelakakan orang yang menyakiti. Yang dituntunkan adalah menahan amarah, memaafkan, dan menyerahkan urusan kepada Allah. Orang yang dizalimi boleh memohon keadilan, tetapi bukan kebinasaan, dan memaafkan tetap lebih utama.

Yang Diajarkan Islam: Menahan Amarah dan Memaafkan

Alih-alih membalas, Al-Qur'an menempatkan kemampuan menahan amarah dan memaafkan sebagai ciri orang bertakwa yang dicintai Allah. Dalam Surat Ali Imran ayat 134, Allah menyifati penghuni surga dengan tiga sifat yang saling berkaitan:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Latin: Alladziina yunfiquuna fis sarraa-i wadh dharraa-i wal kaazhimiinal ghaizha wal 'aafiina 'anin naas, wallaahu yuhibbul muhsiniin.

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 134)

Perhatikan urutannya. Ayat ini tidak menyuruh kita berpura-pura tidak marah, sebab marah saat disakiti itu wajar. Yang diminta adalah mengendalikan kemurkaan itu, lalu naik satu tingkat lagi menjadi memaafkan orang. Dua langkah ini justru mustahil dilakukan sambil menyimpan doa agar orang lain celaka. Menahan amarah berarti tidak membiarkan luka mengubah kita menjadi orang yang balas menyakiti, sekalipun lewat lisan dan doa.

Al-Qur'an bahkan memberi kerangka yang lebih rinci tentang membalas. Dalam Surat Asy-Syura ayat 40, Allah berfirman:

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

Latin: Wa jazaa-u sayyi-atin sayyi-atum mitsluhaa, faman 'afaa wa ashlaha fa ajruhuu 'alallaah, innahuu laa yuhibbuzh zhaalimiin.

Artinya: "Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS Asy-Syura: 40)

Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir yang dihimpun Quran NU Online, ayat ini menyebut beberapa tingkatan sikap. Membalas keburukan dengan yang setimpal, tidak lebih dan tidak kurang, adalah tingkatan adil dan diperbolehkan. Namun memaafkan dan memperbaiki hubungan adalah tingkatan yang lebih utama, dan pahalanya dijamin langsung oleh Allah. Sebaliknya, membalas dengan melebihi kadar keburukan yang diterima justru berbalik menjadi kezaliman baru. Di sinilah letak bahaya doa kutukan: ia bukan lagi membalas setimpal, melainkan mengarahkan hati untuk menginginkan kehancuran seseorang, sesuatu yang jauh melampaui hak kita.

Tiga tingkatan sikap menurut tafsir Asy-Syura ayat 40: membalas melebihi kadar berbalik menjadi kezaliman baru, membalas setimpal adalah adil dan diperbolehkan, memaafkan dan memperbaiki hubungan lebih utama dan pahalanya dari Allah
Membalas setimpal diperbolehkan, tetapi memaafkan berada satu tingkat di atasnya. Sumber: Quran NU Online, Surat Asy-Syura Ayat 40.

Ayat berikutnya di surat yang sama, yaitu Asy-Syura ayat 43, menutup pembahasan dengan pujian bagi yang bersabar:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِࣖ

Latin: Wa laman shabara wa ghafara inna dzaalika lamin 'azmil umuur.

Artinya: "Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan." (QS Asy-Syura: 43)

Sabar dan memaafkan disebut sebagai 'azmil umuur, perkara yang menuntut keteguhan hati dan patut diutamakan. Ini menegaskan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Justru sebaliknya, ia menuntut kekuatan jiwa yang jauh lebih besar daripada sekadar melampiaskan amarah. Orang lemah mudah tergoda mendoakan keburukan; orang yang teguh memilih menyerahkan urusan kepada Allah sambil menjaga hatinya tetap bersih.

Doa Memohon Perlindungan dari Orang Zalim

Kalau bukan doa agar orang celaka, lalu apa yang sebaiknya kita baca ketika merasa terancam atau disakiti orang lain? Jawabannya adalah doa memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah. NU Online, melalui ijazah doa dari Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Sujadi, menganjurkan doa yang diambil dari Al-Qur'an Surat Al-Qashash ayat 21, yaitu doa Nabi Musa ketika berhadapan dengan kezaliman Firaun:

رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

Latin: Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

Artinya: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (bagian dari QS Al-Qashash: 21)

Menurut penjelasan yang dimuat NU Online, doa ini bisa diamalkan ketika seseorang sedang merasa terzalimi maupun untuk mengantisipasinya, dan boleh dibaca kapan saja, misalnya rutin selesai shalat. Perhatikan isi permohonannya: yang diminta adalah keselamatan diri, bukan kehancuran pihak lain. Inilah adab seorang mukmin, memindahkan beban dari pundaknya sendiri ke tangan Allah yang Maha Kuasa, tanpa perlu mengotori hati dengan kutukan.

Perbandingan doa perlindungan dan doa kutukan: doa perlindungan seperti Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin meminta keselamatan diri dan menyerahkan urusan kepada Allah, sedangkan doa kutukan meminta kecelakaan orang lain dan tidak dituntunkan
Isi permohonannya yang membedakan: keselamatan diri, bukan kehancuran orang lain. Sumber: NU Online, Ingin Terhindar dari Kezaliman Orang Lain? Baca Doa Ini.

NU Online juga menyebutkan bahwa doa ini bisa dipadukan dengan doa Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan, sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Anbiya ayat 87. Karena lafal lengkap doa Nabi Yunus sudah kami bahas tuntas di artikel tersendiri, kami tidak mengulanginya di sini. Anda bisa membaca dan menghayati maknanya pada artikel doa Nabi Yunus. Selain itu, sandaran hati yang masyhur ketika menghadapi orang yang membenci kita adalah kalimat tawakal Hasbunallahu wa ni'mal wakil, yang lafal dan maknanya kami uraikan pada artikel doa penenang hati dan pikiran. Untuk himpunan doa perlindungan harian lainnya, tersedia pula halaman doa memohon perlindungan.

Pro Tip: Ketika dada terasa sesak karena disakiti, jangan mulai dengan menyusun daftar keburukan orang itu. Mulailah dengan satu kalimat pendek, "Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin", lalu tarik napas. Doa perlindungan menenangkan karena ia mengembalikan kendali kepada Allah, sedangkan doa kutukan justru mengikat hati kita lebih erat pada orang yang menyakiti dan pada rasa sakit itu sendiri.

Hak Orang yang Dizalimi: Memohon Keadilan, Bukan Kutukan

Islam adil dan tidak menuntut korban kezaliman untuk berpura-pura tidak terluka. Al-Qur'an memberi kelonggaran khusus bagi orang yang benar-benar dizalimi. Dalam Surat An-Nisa ayat 148, Allah berfirman:

۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا

Latin: Laa yuhibbullaahul jahra bis suu-i minal qauli illaa man zhulim, wa kaanallaahu samii'an 'aliimaa.

Artinya: "Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS An-Nisa: 148)

Ayat ini penting dipahami dengan seimbang. Ia menunjukkan bahwa orang yang teraniaya boleh menyuarakan keluhannya, mengadukan kezaliman yang menimpanya, dan memohon keadilan kepada Allah sesuai kadar kezaliman itu. Ia tidak dituntut diam seolah tidak terjadi apa-apa. Namun keringanan ini tetap dibingkai adab: yang diizinkan adalah menyuarakan kebenaran atas apa yang benar-benar dialami, bukan mengarang tuduhan, bukan menyebar aib, dan bukan mengutuk agar orangnya binasa. Batasnya jelas, yaitu sesuai kadar yang dizalimi, tidak melampaui.

Kekuatan doa orang yang dizalimi memang nyata. Rasulullah memperingatkan kita untuk tidak menzalimi siapa pun karena doa korban kezaliman sangat dekat dengan pengabulan. Sebagaimana dihimpun NU Online, beliau bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Latin: Wattaqi da'watal mazhluumi fa innahu laisa bainahaa wa bainallaahi hijaab.

Artinya: "Takutlah dan waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sering disalahpahami sebagai lampu hijau untuk mengutuk. Padahal maknanya justru sebaliknya. Ia terutama ditujukan kepada pelaku kezaliman agar takut menzalimi orang lain, dan pada saat yang sama ia mengingatkan korban bahwa pengaduannya didengar Allah tanpa penghalang. Justru karena doa itu begitu dekat dengan pengabulan, orang yang dizalimi perlu semakin berhati-hati menjaga lisannya. Bila ia sampai mendoakan keburukan melebihi kadar kezaliman yang menimpanya, ia berpotensi berbalik menjadi pihak yang melampaui batas. Maka jalan yang paling aman dan mulia adalah mengadukan perkara kepada Allah sambil memohon keadilan-Nya, lalu membiarkan Dia yang menentukan cara dan waktu penyelesaiannya.

Tiga hal yang dijauhi orang yang dizalimi saat mengadu dan memohon keadilan: mengarang tuduhan yang tidak benar, mendoakan kebinasaan atau kecelakaan spesifik, dan melampaui kadar kezaliman yang menimpa
Keringanan bagi yang dizalimi tetap dibingkai adab dan kadar yang dialami. Sumber: Quran NU Online, Surat An-Nisa Ayat 148.
Catatan Penting: Boleh memohon keadilan kepada Allah atas kezaliman yang nyata Anda alami, tetapi jauhilah tiga hal: mengarang tuduhan yang tidak benar, mendoakan kebinasaan atau kecelakaan spesifik, dan melampaui kadar kezaliman yang menimpa Anda. Mengadu kepada Allah adalah ibadah; mengutuk dengan dendam adalah pintu yang justru bisa menyeret kita ikut berbuat zalim.

Membalas Keburukan dengan Kebaikan Lebih Utama

Puncak akhlak yang diajarkan Al-Qur'an ketika disakiti bukan sekadar menahan diri, melainkan membalas keburukan dengan kebaikan. Ini terdengar berat, tetapi justru di sinilah letak kekuatan yang mengubah keadaan. Allah berfirman dalam Surat Fussilat ayat 34:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Latin: Wa laa tastawil hasanatu wa las sayyi-ah, idfa' billatii hiya ahsanu fa idzalladzii bainaka wa bainahuu 'adaawatun ka-annahuu waliyyun hamiim.

Artinya: "Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia." (QS Fussilat: 34)

Ayat ini menawarkan hasil yang tidak mungkin dicapai lewat dendam: musuh bisa berubah menjadi teman akrab. Doa agar orang celaka, seandainya pun dikabulkan, tidak pernah menyembuhkan luka yang kita rasakan; ia hanya menambah rantai permusuhan. Sebaliknya, membalas dengan kebaikan memang berat di awal, tetapi ia melucuti permusuhan dari akarnya dan, yang tidak kalah penting, membebaskan hati kita sendiri dari beban kebencian.

Teladan tertinggi ada pada Rasulullah. Dalam Surat Ali Imran ayat 159, Allah mengaitkan kelembutan hati beliau dengan perintah memaafkan dan memohonkan ampun bagi orang yang menyakiti, "fa'fu 'anhum wastaghfir lahum" (maka maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka). Beliau, yang paling banyak disakiti, adalah yang paling pemaaf. Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan sifat orang yang tidak punya pilihan, melainkan pilihan sadar orang yang berjiwa besar.

Dalil dan tuntunannya saat disakiti
DalilIsi pokokSikap yang dituntunkan
QS Ali Imran: 134Pujian bagi yang mengendalikan kemurkaan dan memaafkanMenahan amarah, lalu memaafkan
QS Asy-Syura: 40Balasan setimpal boleh, memaafkan pahalanya dari AllahTidak melampaui kadar, memilih maaf
QS Asy-Syura: 43Sabar dan memaafkan termasuk perkara yang patut diutamakanTeguh hati, bukan lemah
QS Al-Qashash: 21Doa Nabi Musa memohon selamat dari kaum zalimMembaca doa perlindungan
QS An-Nisa: 148Orang yang dizalimi boleh menyuarakan keluhannyaMengadu sesuai kadar, tanpa mengarang
QS Fussilat: 34Tolaklah kejahatan dengan perilaku yang lebih baikMembalas keburukan dengan kebaikan

Menurut hemat redaksi, sikap paling menyembuhkan ketika disakiti adalah menggabungkan tiga hal. Pertama, menahan diri untuk tidak membalas dengan keburukan, termasuk lewat doa. Kedua, membentengi diri dengan doa perlindungan dan menyerahkan urusan kepada Allah. Ketiga, sedapat mungkin melangkah menuju maaf, meski bertahap. Sikap tenang dan tidak gemar menuduh ini pula yang kami tekankan dalam pembahasan menghadapi gangguan orang lain pada artikel doa terhindar dari ain, dan dalam adab menjaga hubungan dengan sesama pada halaman adab bertetangga dalam Islam. Untuk beban batin yang terasa berat atau konflik yang rumit, tidak ada salahnya berkonsultasi kepada ustadz yang amanah melalui halaman Tanya Ustadz, agar Anda dibimbing menyikapinya dengan benar dan hati kembali tenang.

Tiga langkah ketika disakiti: menahan diri dari membalas dengan keburukan termasuk lewat doa, membentengi diri dengan doa perlindungan dan menyerahkan urusan kepada Allah, lalu melangkah menuju maaf secara bertahap
Tiga langkah ini dirangkum redaksi dari tuntunan di atas, bukan urutan yang ditetapkan dalil. Diagram oleh Ngajia dari isi artikel ini.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa agar orang yang menyakiti kita celaka

TBolehkah membaca doa agar orang yang menyakiti kita celaka?

Islam tidak mengajarkan doa untuk mengutuk atau mencelakakan orang lain. Yang dituntunkan Al-Qur'an adalah menahan amarah dan memaafkan (QS Ali Imran 134), menyerahkan urusan kepada Allah, dan membaca doa perlindungan. Orang yang benar-benar dizalimi boleh memohon keadilan kepada Allah, tetapi memaafkan tetap lebih utama.

TApa doa saat menghadapi orang yang menyakiti atau menzalimi kita?

NU Online menganjurkan doa Nabi Musa dalam QS Al-Qashash ayat 21, 'Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin' (Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim). Doa ini memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah, bukan mengutuk orang yang menyakiti.

TApakah doa orang yang dizalimi pasti dikabulkan?

Rasulullah mengingatkan kita untuk takut terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah (HR al-Bukhari dan Muslim). Namun keistimewaan ini bukan izin untuk mengutuk. Ia mengajak kita berhati-hati agar tidak menzalimi orang lain, dan mengingatkan yang dizalimi untuk memohon keadilan, bukan kebinasaan.

TKalau sudah terlanjur sakit hati, apakah boleh mengadukan orang yang menzalimi?

Boleh. QS An-Nisa ayat 148 menyebut Allah tidak menyukai ucapan buruk yang terang-terangan, kecuali dari orang yang dizalimi. Artinya orang yang teraniaya boleh menyuarakan keluhannya dan memohon keadilan sesuai kadar kezaliman yang menimpanya, tanpa mengarang tuduhan atau melampaui batas.

TMana yang lebih utama, membalas atau memaafkan?

Memaafkan lebih utama. QS Asy-Syura ayat 40 menyebut membalas keburukan yang setimpal itu boleh, tetapi memaafkan dan memperbaiki hubungan pahalanya dijamin Allah. QS Asy-Syura ayat 43 menyebut sabar dan memaafkan termasuk perkara yang patut diutamakan.

TBagaimana kalau saya tidak sanggup memaafkan?

Wajar jika hati masih terluka. Mulailah dengan menahan diri dari membalas, memperbanyak istighfar, dan menyerahkan urusan kepada Allah lewat doa perlindungan. Memaafkan adalah proses, bukan sekali jadi. Untuk beban batin yang berat atau konflik yang serius, konsultasikan kepada ustadz yang amanah melalui Tanya Ustadz, dan bila perlu kepada tenaga profesional.

TKapan doa Nabi Musa untuk perlindungan dari orang zalim dibaca?

Menurut penjelasan yang dimuat NU Online, doa 'Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin' bisa diamalkan ketika merasa terzalimi maupun untuk mengantisipasinya, dan boleh dibaca kapan saja, misalnya rutin selesai shalat. NU Online juga menyebut doa ini bisa dipadukan dengan doa Nabi Yunus dalam Surat Al-Anbiya ayat 87.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa