
Doa sholat taubat adalah rangkaian istighfar dan permohonan ampun yang dibaca setelah menunaikan sholat sunnah taubat dua rakaat, dimulai dengan niat Ushalli sunnatat taubati. Kalau Anda sedang membaca artikel ini karena merasa dosa sudah menumpuk dan bingung harus mulai dari mana, ada satu hal yang perlu didahulukan sebelum membahas lafal: kesadaran untuk kembali itu sendiri sudah merupakan karunia. Pintu taubat tidak pernah dikunci selama seorang hamba masih hidup dan mau kembali. Artikel ini menyajikan niat, tata cara, waktu pelaksanaan, bacaan istighfar setelahnya, dan syarat taubat nasuha, seluruhnya dirujuk pada penjelasan NU Online serta Majelis Tarjih Muhammadiyah.
Apa Itu Sholat Taubat dan Dalilnya
Sholat taubat adalah sholat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika seseorang hendak bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan. Syekh Nawawi Banten menuturkan dalam kitab Nihayatuz Zain:
وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة
Artinya: "Termasuk shalat sunah adalah shalat taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat shalat sunnah taubat."
Dari keterangan ini, NU Online menyimpulkan bahwa sholat taubat terdiri dari dua rakaat dan dikerjakan sebelum seseorang bertaubat. Meski begitu, Syekh Nawawi juga menganggap sah sholat taubat yang dikerjakan setelah orang yang bersangkutan bertaubat, bukan sebelumnya. Jadi Anda tidak perlu cemas kalau tadi sudah terlanjur beristighfar dulu baru sholat. Urutannya bukan penghalang.
Dasar anjuran ini adalah hadits Nabi yang di antaranya diriwayatkan Imam Tirmidzi, dari sahabat Ali bin Abi Thalib, dari sahabat Abu Bakar As-Shiddiq, bahwa Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ لَهُ
Artinya: "Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya."
Perhatikan bahwa hadits ini menyebut tiga langkah berurutan, yaitu bersuci, sholat, lalu beristighfar. Sholat taubat bukanlah ritual yang berdiri sendiri, melainkan pembuka bagi istighfar dan perubahan sikap yang menyusul sesudahnya.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa berbuat salah adalah watak dasar manusia, dan yang membedakan adalah kemauan untuk kembali:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya: "Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat." (HR Ibnu Majah)
Karena taubat merupakan kewajiban bagi orang yang bersalah, Syekh Nawawi Banten dalam Nihayatuz Zain (halaman 106) menegaskan bahwa menunda taubat dari satu kesalahan justru merupakan dosa baru yang juga mesti ditaubati. Ini bukan kalimat untuk menakut-nakuti, melainkan alasan untuk tidak menunggu "sampai merasa cukup pantas". Tidak ada seorang pun yang pernah merasa cukup pantas.
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Bagaimana pandangan Muhammadiyah? Dalam Himpunan Putusan Tarjih Jilid I, sholat taubat mulanya tidak dicantumkan sebagai bagian dari sholat sunnah, karena dasar utamanya bersandar pada hadits Ali bin Abi Thalib yang dalam sanadnya terdapat perawi bernama Asma bin Al-Hakam yang kesahihannya diperselisihkan ahli hadits. Namun pada Musyawarah Nasional Tarjih XXX di Makassar, Majelis Tarjih dan Tajdid kembali membahasnya dan menetapkan bahwa sholat taubat memiliki dasar yang lebih kuat berdasarkan hadits dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kesimpulannya, sholat taubat disyariatkan dan dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam, terutama setelah seseorang menyadari kesalahannya. Dua organisasi besar di Indonesia ini sama-sama mengakui sholat taubat, sehingga Anda tidak perlu ragu mengamalkannya.
Niat dan Tata Cara Sholat Taubat Langkah demi Langkah
Kabar baiknya, pelaksanaan sholat taubat tidak berbeda dengan sholat sunnah pada umumnya. Tidak ada surat khusus yang wajib dibaca, tidak ada gerakan tambahan, dan tidak ada jumlah rakaat yang rumit. Adapun niat sholat taubat sebagaimana disebutkan NU Online adalah:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ
Latin: Ushalli sunnatat taubati.
Artinya: "Saya berniat shalat sunnah taubat."
Perlu dicatat, dalam fikih, tempat niat sesungguhnya ada di hati dan bersamaan dengan takbiratul ihram. Melafalkannya dengan lisan hanyalah sarana untuk membantu hati menghadirkan maksud tersebut. Jadi kalau Anda belum hafal lafal Arabnya, sholat Anda tidak lantas batal. Hadirkan saja di hati bahwa Anda sedang mengerjakan sholat sunnah taubat, lalu bertakbir.
Berikut urutan pelaksanaannya:
- Bersuci lebih dahulu. Berwudhu seperti biasa, atau mandi wajib bila Anda dalam keadaan junub. Hadits Abu Bakar di atas secara eksplisit menyebut fayatathahharu (lalu ia bersuci) sebelum sholat, sehingga langkah ini bukan sekadar formalitas.
- Berdiri menghadap kiblat dan berniat. Hadirkan niat sholat sunnah taubat di dalam hati, lalu bertakbiratul ihram.
- Kerjakan rakaat pertama seperti biasa. Membaca doa iftitah, Surat Al-Fatihah, lalu surat atau ayat mana pun yang Anda hafal. Tidak ada ketentuan surat khusus, jadi surat pendek yang Anda kuasai sudah memadai.
- Rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kedua dengan tuma'ninah seperti sholat pada umumnya.
- Berdiri untuk rakaat kedua dan kerjakan dengan tata cara yang sama.
- Duduk tasyahud akhir, lalu salam. Genap dua rakaat.
- Beristighfar dan bertaubat setelah salam. NU Online menegaskan, setelah selesai sholat dua rakaat kemudian dilanjutkan bertaubat dengan membaca istighfar yang disertai penyesalan, tekad kuat untuk menjauhkan diri dari perilaku dosa, dan tidak akan mengulanginya lagi. Inilah inti acaranya, dan bacaannya kami rinci pada bagian berikutnya.
Waktu yang Dianjurkan dan Waktu Terlarang untuk Sholat
Bagian ini sering luput dibahas, padahal cukup menentukan. Dalam kajian fikih Syafi'i yang dimuat NU Online, sholat sunnah yang berkaitan dengan sebab dibagi tiga: sebab mutaqaddim (sebab yang mendahului, seperti tahiyatul masjid dan sholat sunnah wudhu), sebab muqarin (sebab yang membarengi, seperti sholat gerhana dan istisqa), dan sebab muta'akhir (sebab yang muncul belakangan). Sholat taubat, bersama sholat hajat dan sholat istikharah, tergolong kategori ketiga.
Konsekuensinya penting: sholat dengan sebab mutaqaddim dan muqarin boleh dikerjakan kapan saja, bahkan pada waktu terlarang. Sementara sholat dengan sebab muta'akhir, termasuk sholat taubat, menurut kutipan NU Online dari Syekh Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqhu 'ala Madzahibil Arba'ah (juz I, halaman 336), tidak sah dikerjakan pada waktu-waktu terlarang. Alasannya, waktu pelaksanaannya longgar sehingga sebabnya tidak akan hilang bila ditunda sebentar.
Adapun lima waktu yang diharamkan untuk sholat, sebagaimana disebutkan Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam Safinatun Naja dan dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja, adalah:
- Setelah sholat Subuh hingga terbit matahari.
- Saat terbit matahari hingga ia naik kira-kira setinggi satu tombak.
- Saat matahari tepat berada di atas kepala (istiwa) hingga tergelincir ke arah barat, kecuali pada hari Jumat.
- Setelah sholat Ashar hingga terbenam matahari.
- Saat matahari menguning menjelang terbenam hingga terbenam sempurna.
Dasarnya antara lain sabda Rasulullah: la shalata ba'das subhi hatta tartafi'as syamsu, wa la shalata ba'dal 'ashri hatta taghibas syamsu, yang artinya "Tak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari meninggi dan tak ada shalat setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam." (HR Bukhari). NU Online juga mencatat bahwa larangan lima waktu ini tidak berlaku di tanah suci Makkah.
Di luar lima waktu tersebut, sholat taubat dapat dikerjakan kapan saja, siang maupun malam. Untuk mengetahui secara pasti kapan Subuh, Ashar, dan Maghrib di kota Anda, silakan cek jadwal sholat agar tidak salah memilih waktu.
Lalu kapan waktu terbaiknya? NU Online menyebut, demi menuai keutamaan pada sholat-sholat yang menyangkut permohonan seorang hamba kepada Allah seperti sholat hajat dan sholat istikharah, waktu malam terutama sepertiga terakhirnya merupakan waktu terbaik berdasarkan beberapa hadits. Karena itu banyak orang memilih mengerjakan sholat taubat pada malam hari, berdekatan dengan sholat tahajud, ketika suasana lebih hening dan hati lebih mudah jujur pada diri sendiri.
Perlu dicatat pula bahwa Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan sholat taubat dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam, terutama setelah seseorang menyadari kesalahannya. Majelis Tarjih juga menegaskan tidak ada dalil yang secara khusus mengistimewakan pelaksanaannya pada malam tertentu, misalnya malam Nisfu Syaban. Jadi silakan mengamalkannya kapan pun, tanpa meyakini keistimewaan malam tertentu yang tidak berdalil.
Doa dan Istighfar Setelah Sholat Taubat
Setelah salam, inilah saat yang dimaksud hadits dengan tsumma yastaghfirullaha (kemudian ia beristighfar). Bacalah istighfar sebanyak yang Anda mampu, misalnya astaghfirullahal 'azhim, lalu lanjutkan dengan doa-doa pengakuan dosa berikut. Semua lafal di bawah ini dihimpun NU Online dan bersumber dari riwayat yang sahih.
Doa taubat yang diajarkan kepada Abu Bakar As-Shiddiq
Rasulullah mengajarkan lafal pengakuan dosa ini kepada Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq. Ulama menganjurkan membacanya setelah tasyahud akhir dan sebelum salam, sehingga sangat pas dirangkai dengan sholat taubat Anda:
اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا, وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ, فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ, وَارْحَمْنِي, إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ
Latin: Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran (tercatat "kabiran" pada sebagian riwayat), wa la yaghfirudz dzunuba illa anta, faghfir li maghfiratan min 'indika, warhamni, innaka antal ghafurur rahimu.
Artinya: "Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diri sendiri dengan penganiayaan yang banyak (sebagian riwayat 'yang besar'). Tiada yang dapat mengampuninya kecuali Engkau. Anugerahkanlah ampunan dari sisi-Mu. Rahmatilah aku. Sungguh, Kau maha pengampun, lagi maha penyayang." (HR Bukhari dan Muslim)
Sayyidul istighfar, lafal istighfar yang paling utama
Sayyidul istighfar disebut sebagai lafal istighfar paling utama karena memuat pengakuan atas nikmat, pengakuan atas dosa, sekaligus pengakuan status penciptaan sekaligus. Bacaannya:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Latin: Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta khalaqtani. Wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'udzu bika min syarri ma shana'tu. Abu'u laka bini'matika 'alayya. Wa abu'u bidzanbi. Faghfirli. Fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.
Artinya: "Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau."
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah menyebut ganjaran khusus bagi yang mengamalkan sayyidul istighfar pagi dan sore. Imam An-Nawawi memasukkannya ke dalam doa harian yang dianjurkan dibaca pagi dan petang dalam kitab Al-Adzkar. Penjelasan lengkap beserta keutamaannya bisa Anda baca pada halaman sayyidul istighfar.
Lafal taubat Nabi Adam dan Nabi Yunus
Dua lafal berikut adalah pengakuan kesalahan yang diabadikan Al-Quran dan bisa Anda rangkai dalam munajat setelah sholat taubat. Lafal taubat Nabi Adam dan Siti Hawa dalam Surat Al-A'raf ayat 23:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Latin: Rabbana zhalamna anfusana. Wa illam taghfir lana wa tarhamna, lanakunanna minal khasirina.
Artinya: "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk hamba-Mu yang merugi."
Adapun lafal pertaubatan Nabi Yunus di dalam tiga kegelapan, yaitu kegelapan malam, kegelapan di bawah permukaan laut, dan kegelapan di dalam perut ikan, tercantum dalam Surat Al-Anbiya ayat 87:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Latin: La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minaz zhalimina.
Artinya: "Tiada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Anda juga boleh menambahkan doa lain yang biasa dibaca setelah sholat fardhu. Kumpulan bacaannya bisa dilihat pada artikel doa setelah sholat.
Syarat Taubat yang Diterima (Taubat Nasuha)
Ini bagian yang paling menentukan, dan sekaligus yang paling sering dilewati. Sholat dua rakaat itu mudah. Yang menuntut kesungguhan adalah memenuhi syarat taubatnya. Dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah, yang lazim dikaji di pesantren, disebutkan:
شرط التوبة حتى تصح ثلاثة اشياء: الندم على ما عمل من المخالفات، و ترك الزلة في الحال، و العزم على ان لا يعود إلى مثل ما عمل من المعاصي. فهذه الاركان لا بد منها، حتى تصح توبته
Artinya: "Bahwa syarat sampai diakui sebagai tobat yakni melingkupi tiga hal. Pertama, menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Kedua, meninggalkan kesalahan dalam keadaan apapun dan ketiga menetapkan atau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat serupa. Maka rukun-rukun ini adalah wajib, agar tobatnya menjadi sah." (Imam Abi al-Qasim al-Qusyairy, Al-Risalah al-Qusyairiyah, Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2011, halaman 127)
Mari kita urai satu per satu:
- Berhenti dari perbuatan dosa itu sekarang juga. Taubat tidak bisa dijalankan sambil terus melakukan maksiat yang sama. Ini konsekuensi logis, bukan syarat yang dibuat-buat.
- Menyesali perbuatan yang telah lalu. Rasulullah bersabda an-nadmu taubatun (penyesalan adalah tobat). Penyesalan inilah ruh dari taubat, yang membedakannya dari sekadar berhenti karena bosan atau karena takut ketahuan.
- Bertekad tidak mengulangi. Yang diminta adalah tekad yang jujur pada saat bertaubat. Kalau di kemudian hari Anda kembali terjatuh, itu bukan berarti taubat yang dahulu palsu. Yang perlu dilakukan adalah bertaubat lagi, tanpa merasa kehabisan jatah.
Selain tiga syarat di atas, Syekh Abu Bakar Syatha dalam Kifayah al-Atqiya' (halaman 46) menambahkan satu syarat yang sangat penting dan sering terlupa:
و البراءة من جميع حقوق الآدميين
Artinya: "Seseorang harus bebas dari semua hak-hak adami (hak sesama manusia)."
Artinya, kalau dosa Anda menyangkut hak orang lain, misalnya utang yang belum dibayar, barang yang diambil tanpa izin, harta yang dicurangi, nama baik yang dirusak lewat fitnah atau gunjingan, maka sholat taubat dan istighfar saja tidak mencukupi. Ada kewajiban yang tetap melekat: mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya, membayar utangnya, atau meminta maaf dan meminta kerelaan orang yang Anda zalimi. Ini bukan tambahan opsional, melainkan bagian dari sahnya taubat itu sendiri.
Bagaimana kalau pemilik haknya sudah tidak bisa ditemukan? NU Online lewat rubrik Bahtsul Masail pernah menjawab kasus serupa. Prinsip asalnya, cara bertaubat dari mengambil hak orang lain adalah dengan mengembalikan fisik materi dari hak itu. Bila pihak yang layak menerima benar-benar tidak ditemukan untuk dimintai kerelaannya, solusinya adalah melakukan amal kebaikan, misalnya bersedekah kepada masyarakat minimal senilai barang yang diambil, sesuai hadits wa atbi'is sayyiatal hasanata tamhuha (iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik sebagai peleburnya). NU Online menegaskan bahwa jalan ini memang belum sempurna, sebab pelebur yang sempurna tetaplah mengembalikan hak, tetapi ia adalah sarana paling realistis dibanding tidak berbuat apa-apa sama sekali. Kaidahnya, ma la yudraku kulluh, la yutraku kulluh, yaitu sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya jangan lantas ditinggalkan seluruhnya.
Terakhir, jangan bebani diri dengan target menjadi manusia tanpa dosa. Rasulullah yang terjaga dari dosa (maksum) dan sudah dijamin surga saja mencontohkan istighfar setiap hari: tubu ilallah fa inni atubu ilaihi kulla yaumin mi'ata marratin, "Bertobatlah kalian semua kepada Allah. Maka sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." Kalau beliau saja demikian, maka bertaubat berulang kali bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda seseorang masih hidup dan masih berjalan pulang.
Pertanyaan Umum Seputar Sholat Taubat
Ada beberapa hal praktis yang kerap ditanyakan dan layak diluruskan sejak awal:
- Menganggap jumlah rakaatnya harus banyak. Sumber NU Online yang merujuk Nihayatuz Zain menyebut sholat taubat adalah dua rakaat. Anda boleh menambah sholat sunnah lain sesudahnya, tetapi tidak perlu memaksakan hitungan tertentu yang tidak berdasar.
- Mencari surat khusus yang "wajib" dibaca. Tidak ada ketentuan surat khusus dalam keterangan tersebut. Bacalah surat yang Anda hafal dengan tenang, karena kekhusyukan lebih berharga daripada panjangnya bacaan.
- Mengira sholat taubat menghapus kewajiban kepada sesama. Sebagaimana dijelaskan di atas, hak adami tetap harus ditunaikan. Sholat taubat tidak melunasi utang Anda kepada tetangga.
- Merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Surat Az-Zumar ayat 53 secara tegas melarang berputus asa dari rahmat Allah, dan Syekh Nawawi Banten menyebut taubat yang benar melebur dosa meskipun dosa besar. Perasaan "tidak pantas" itu manusiawi, tetapi ia bukan fatwa.
- Menunggu momen istimewa. Majelis Tarjih Muhammadiyah menegaskan tidak ada dalil khusus yang mengistimewakan malam tertentu untuk sholat taubat. Waktu terbaik untuk memulai adalah waktu yang tersedia sekarang, di luar lima waktu terlarang.
Kalau persoalan Anda bersifat khusus dan pribadi, misalnya menyangkut utang dalam jumlah besar, hak orang yang sudah meninggal, atau kasus yang sulit dijelaskan dalam satu artikel, sebaiknya konsultasikan kepada ustadz yang Anda percayai di lingkungan setempat, atau ajukan pertanyaan lewat halaman Tanya Ustadz. Fikih memiliki banyak perincian yang bergantung pada duduk perkara masing-masing orang, dan artikel umum seperti ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan bimbingan personal seorang guru.
Semoga Allah menerima taubat kita semua, memudahkan langkah untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan menutupi apa yang sudah tidak sanggup kita kembalikan. Wallahu a'lam bish shawab.
Sumber Rujukan
- NU Online - Tata Cara Pelaksanaan Shalat Taubat (niat, dalil, dan Nihayatuz Zain)
- NU Online - Kategori dan Pembagian Waktu Shalat Sunah (shalat tobat sebagai sebab muta'akhir)
- NU Online - Lima Waktu yang Diharamkan Shalat
- NU Online - Ini Lafal Pengakuan Dosa dan Kekhilafan
- NU Online Jatim - 3 Syarat yang Harus Dipenuhi agar Tobat Diterima
- NU Online Jabar - Sayidul Istighfar: Lafal Arab Latin dan Keutamaan Membacanya
- NU Online - Bahtsul Masail: Ingin Bertobat tapi Tak Menemukan Pemiliknya (hak adami)
- NU Online Lampung - Keutamaan dan Tata Cara Shalat Taubat
- Quran NU Online - Surat Az-Zumar Ayat 53 (Arab, Latin, Terjemah, dan Tafsir)
- Muhammadiyah - Apakah Salat Hajat dan Salat Taubat Dilaksanakan Setiap Malam Nisfu Syaban? (putusan Munas Tarjih XXX)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


