
Menjelang persalinan, banyak calon ibu mencari doa maryam agar mudah melahirkan dengan hati yang berdebar. Yang beredar dengan nama itu sebenarnya adalah kutipan Surat Maryam ayat 23 sampai 26, yaitu kisah Sayyidah Maryam melahirkan Nabi Isa di bawah pohon kurma. Penting diluruskan sejak awal: potongan ayat itu adalah kisah yang Allah abadikan dalam Al-Quran, bukan doa khusus yang diajarkan Rasulullah untuk dibaca saat melahirkan. Meski begitu, kandungannya sangat relevan bagi ibu yang sedang berjuang, dan sebagian tradisi menganjurkan membacanya sebagai penenang hati dan teladan tawakal. Artikel ini menyajikan kisahnya lengkap dengan ayat, latin, dan arti, menjelaskan status bacaan ini secara jujur, lalu menghimpun amalan ibu hamil menurut NU Online yang berjalan seiring ikhtiar medis, bukan menggantikannya.
Kisah Maryam Melahirkan dalam Surat Maryam
Kisah ini terletak di pertengahan Surat Maryam. Ketika saatnya melahirkan tiba, Sayyidah Maryam berada seorang diri, jauh dari keluarga, menahan sakit yang memuncak. Al-Quran menggambarkan detik itu dengan sangat manusiawi pada ayat 23:
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
Latin: Fa ajâ'ahal makhâdhu ilâ jidz'in nakhlah, qâlat yâ laitanî mittu qabla hâdzâ wa kuntu nasyam mansiyyâ.
Artinya: "Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, 'Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).'" (Surat Maryam ayat 23)
Kalimat Maryam itu jujur sekali. Ia tidak berpura-pura kuat, ia mengeluh, bahkan sempat berharap tidak pernah ada dalam keadaan seberat itu. Al-Quran tidak menyembunyikan sisi ini, dan justru di situ letak penghiburannya: seorang wanita salihah pilihan Allah pun boleh merasa takut dan lelah saat menghadapi persalinan. Lalu datang pertolongan berupa seruan yang menenangkan pada ayat 24:
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
Latin: Fa nâdâhâ min tahtihâ allâ tahzanî qad ja'ala rabbuki tahtaki sariyyâ.
Artinya: "Dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, 'Janganlah engkau bersedih. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.'" (Surat Maryam ayat 24)
Setelah menenangkan, seruan itu memberi Maryam sebuah perintah untuk bertindak. Inilah bagian yang paling sering dikutip sebagai "doa Maryam", padahal ia adalah perintah menggoyang pohon, yaitu ayat 25:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ
Latin: Wa huzzî ilaiki bijidz'in nakhlati tusâqith 'alaiki ruthaban janiyyâ.
Artinya: "Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu." (Surat Maryam ayat 25)
Dalam Tafsir Tahlili yang dimuat Quran NU Online, dijelaskan bahwa Jibril menyuruh Maryam menggoyang pohon kurma yang semula telah kering, lalu dengan kehendak Allah pohon itu menjadi hijau, subur, dan menjatuhkan buah kurma masak sebagai rezeki untuknya. Kurma segar dikenal sebagai penguat tenaga, dan di sinilah pertolongan itu terasa. Rangkaian ini ditutup pada ayat 26 dengan perintah menikmati rezeki tersebut dan menenangkan diri:
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ
Latin: Fa kulî wasyrabî wa qarrî 'ainâ, fa immâ tarayinna minal basyari ahadan fa qûlî innî nadzartu lir rahmâni shauman falan ukallimal yauma insiyyâ.
Artinya: "Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.'" (Surat Maryam ayat 26)
Status Doa Maryam: Ayat Kisah, Bukan Doa Khusus Persalinan
Bagian ini perlu ditegaskan supaya tidak terjadi salah paham yang menyesatkan. Empat ayat di atas adalah kisah, yaitu Al-Quran menceritakan apa yang dialami dan diperintahkan kepada Maryam pada saat itu. Ia bukan lafal doa yang Rasulullah ajarkan dan perintahkan untuk dibaca setiap kali ada perempuan yang hendak melahirkan. Ini penting dibedakan, karena banyak konten yang menyebutnya sebagai "doa yang diajarkan Nabi untuk melahirkan", padahal Al-Quran maupun sumber-sumber NU yang membahas amalan persalinan tidak merumuskannya seperti itu.
Lalu, bolehkah membacanya? Boleh. Membaca dan menghayati ayat Al-Quran, termasuk kisah Maryam ini, adalah amal yang baik. Sebagian orang membacanya menjelang persalinan sebagai bentuk tadabbur, penenang hati, dan peneladanan atas sikap Maryam. Yang tidak tepat bukan membacanya, melainkan mengubah statusnya menjadi doa warid yang seolah punya tata cara dan janji khusus dari Nabi. Menempatkan sesuatu melebihi kedudukannya justru menjauhkan kita dari kejujuran beragama.
Menariknya, ketika NU Online menghimpun bacaan yang memang dianjurkan menjelang persalinan, yang disebut adalah Ayat Kursi, Surat Al-A'raf ayat 54, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas, sebagaimana dibahas pada bagian amalan di bawah. Surat Maryam tidak berada dalam daftar bacaan khusus yang diriwayatkan itu. Jadi menyebut kisah Maryam sebagai teladan dan penenang sudah tepat, sementara mengklaimnya sebagai resep persalinan yang diajarkan Nabi tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Hikmah Maryam Menggoyang Pohon Kurma
Ada satu pelajaran yang sangat pas untuk ibu menjelang persalinan, dan justru datang dari perintah pada ayat 25. Perhatikan bahwa Allah tidak menjatuhkan kurma itu begitu saja ke pangkuan Maryam. Allah memerintahkan Maryam menggoyang pangkal pohon kurma lebih dahulu, baru buahnya berjatuhan. Padahal, dalam keadaan lemah menahan sakit melahirkan, menggoyang pohon kurma yang besar jelas bukan pekerjaan yang sanggup ia lakukan sampai buahnya rontok dengan tenaganya sendiri.
Di sinilah letak keteladanannya. Maryam tetap diminta mengambil sebab, meski sebab itu tampak tidak sebanding dengan hasilnya. Ia menggerakkan tangannya sebagai bentuk ikhtiar, dan Allah yang menjatuhkan buahnya sebagai bentuk pertolongan. Cara pandang ini sejalan dengan bagaimana NU Online menjelaskan kedudukan ikhtiar secara umum, yaitu bahwa usaha lahir yang kita lakukan hanyalah sarana, sedangkan hasilnya tetap anugerah dari Allah. Doa dan tawakal mengurus sisi yang tidak sanggup kita pegang, sementara usaha mengurus sisi yang memang diserahkan kepada kita.
Menurut hemat redaksi, inilah "pesan tersembunyi" yang paling berharga dari kisah ini bagi ibu yang akan melahirkan. Bukan sekadar "bacalah ayatnya", melainkan "teladani sikapnya": tetap berusaha sekuat yang mampu, sekalipun terasa kecil, sambil memasrahkan hasil kepada Allah. Diterapkan hari ini, menggoyang pohon kurma itu bentuknya adalah mengikuti pemeriksaan kehamilan, mempersiapkan fisik dan mental, memilih tempat bersalin yang aman, dan menaati anjuran bidan atau dokter. Pembahasan lebih lengkap tentang bagaimana doa dan usaha berjalan seiring bisa Anda baca pada artikel doa dimudahkan segala urusan.
Amalan dan Doa Ibu Hamil Menjelang Persalinan menurut NU
Selain menghayati kisah Maryam, ada bacaan yang memang dianjurkan bagi ibu hamil dan menjelang persalinan menurut sumber-sumber NU. NU Online mengutip doa yang dibaca ibu hamil untuk buah hatinya, salah satunya berisi permohonan agar dimudahkan dan diselamatkan saat melahirkan. Doa berikut dinukil dari kompilasi Imam al-Habib Husain al-Khirid sebagaimana dimuat NU Online:
اللَّهُمَّ أَخْرِجُهُ مِنْ بَطْنِي وَقتَ وِلادَتِي سَهْلًا وَسَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَاءَ نَبِيِّكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Latin: Allâhumma akhrijhu min bathnî waqta wilâdatî sahlan wa salîman fid dunyâ wal âkhirah. Wa taqabbal du'â'anâ kamâ taqabbalta du'â'a nabiyyika wa rasûlika Muhammadin shallallâhu 'alaihi wa sallam.
Artinya: "Ya Allah, keluarkanlah ia dari perutku waktu melahirkan dengan mudah dan selamat di dunia dan akhirat, dan kabulkanlah doa kami sebagaimana Engkau kabulkan doa Nabi dan Rasul-Mu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam."
Adapun untuk bacaan menjelang detik-detik persalinan, NU Online meriwayatkan sebuah teladan dari keluarga Nabi. Menjelang persalinan Sayidatina Fathimah, Rasulullah memanggil Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsyin, lalu meminta keduanya membaca Ayat Kursi dan Surat Al-A'raf ayat 54 di dekat Fathimah, ditambah Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas. NU Online menjelaskan bahwa bacaan-bacaan ini bukan hanya memohon kemudahan persalinan, tetapi juga bertujuan menenangkan hati ibu hamil yang tengah cemas menjelang bersalin.
Perhatikan bahwa fungsi yang ditonjolkan adalah ketenangan. Ketakutan dan panik justru dapat menyulitkan ibu saat bersalin, sementara hati yang tenang membantunya lebih fokus mengikuti arahan penolong persalinan. Di sinilah doa dan zikir mengambil perannya yang paling nyata: bukan sebagai kekuatan gaib yang memaksa proses menjadi tanpa sakit, melainkan sebagai penopang ketenangan dan tawakal. Untuk membiasakan hati tetap tenang selama masa penantian, Anda bisa merutinkan dzikir pagi dan petang serta membaca doa selamat untuk keselamatan diri dan bayi.
Doa Menyertai Ikhtiar Medis, Bukan Menggantikannya
Bagian ini tidak boleh dilewati oleh siapa pun yang membaca artikel ini karena sedang menunggu persalinan. Dalam Islam, doa berjalan beriringan dengan usaha lahir, bukan menggantikannya. NU Online, ketika membahas berobat dalam pandangan Islam, menegaskan bahwa para ulama memandang berobat sebagai perkara yang disunahkan bagi orang yang membutuhkan penyembuhan. Usaha berobat yang dilakukan seseorang adalah ikhtiar seorang hamba untuk meraih anugerah kesembuhan dari Allah, sedangkan obat yang ia gunakan hanyalah sarana belaka.
Prinsip yang sama berlaku pada persalinan. Melahirkan adalah proses medis yang nyata dan berisiko, dan ikhtiar lahir bagi ibu bersalin berarti memeriksakan kehamilan secara rutin, memilih tempat bersalin yang memadai, serta mengikuti arahan bidan dan dokter. Doa Maryam maupun doa-doa lain yang dibahas di sini adalah ikhtiar batin yang menyertai ikhtiar lahir tersebut, bukan alasan untuk menundanya atau meninggalkannya. Menolak pertolongan tenaga kesehatan dengan alasan cukup berdoa bukanlah bentuk tawakal yang diajarkan.
Perlu kami sampaikan secara terbuka: pada topik yang menyangkut nyawa ibu dan bayi, kami sengaja tidak menyajikan anjuran apa pun yang bisa ditafsirkan sebagai izin mengesampingkan pertolongan persalinan medis, sekalipun ada nuansa klasik yang berbicara tentang keutamaan pasrah. Alasannya sederhana, artikel ini dibaca orang yang sedang cemas dan rentan, dan keselamatan ibu serta bayi adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Doa memuliakan ikhtiar, bukan meniadakannya.
Doa Suami dan Keluarga untuk Ibu yang Bersalin
Persalinan bukan hanya perjuangan sang ibu. Suami dan keluarga punya peran, salah satunya dengan memperbanyak doa. NU Online menyebut bahwa saat istri menjalani proses melahirkan, suami dianjurkan memperbanyak membaca doa untuk kemudahan dan keselamatan. Mengutip keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, NU Online merinci bahwa ketika detik-detik persalinan berlangsung, sang suami sambil menunggu kelahiran dianjurkan membaca Ayat Kursi, Surat Al-A'raf ayat 54, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas, lalu memperbanyak doa berikut:
لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم
Latin: Lâ ilâha illallâhul 'azhîmul halîm. Lâ ilâha illallâhu rabbul 'arsyil 'azhîm. Lâ ilâha illallâhu rabbus samâwâti wal ardhi wa rabbul 'arsyil 'azhîm.
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah Yang Mahaagung lagi Mahabijaksana. Tiada Tuhan selain Allah Pemilik Arasy yang Agung. Tiada Tuhan selain Allah Pemilik langit dan bumi dan Arasy yang agung."
Lafal ini sebenarnya adalah zikir tauhid yang masyhur dibaca saat menghadapi kesulitan dan kegentingan. Isinya mengagungkan Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, sehingga pas dijadikan pegangan hati keluarga yang menunggu di luar ruang bersalin. Selain melafalkannya, kehadiran yang tenang dari suami dan keluarga sendiri sudah menjadi penguat besar bagi ibu yang sedang berjuang. Membangun kesiapan dan kehangatan rumah tangga seperti ini juga bagian dari ikhtiar, sebagaimana dibahas dalam ulasan membangun keluarga sakinah.
Bagi yang ingin memohon kesembuhan atau kekuatan untuk ibu yang kondisinya lemah setelah bersalin, lafal-lafal doa untuk kesembuhan dapat menjadi tambahan. Rujukannya sudah dibahas pada artikel doa untuk orang sakit yang juga menegaskan bahwa doa mendampingi pengobatan, bukan menggantikannya.
Hal yang Sering Keliru soal Doa Maryam
Karena kata kunci ini ramai dicari oleh ibu yang cemas, ikut ramai pula konten yang keliru menyajikannya. Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari:
- Menyebutnya doa yang diajarkan Nabi untuk melahirkan. Surat Maryam ayat 23 sampai 26 adalah kisah dalam Al-Quran, bukan lafal doa yang diperintahkan Nabi khusus untuk persalinan. Membacanya sebagai tadabbur dan penenang itu baik, tetapi mengubah statusnya menjadi resep warid tidak berdasar.
- Percaya pada jaminan hasil. Klaim "dijamin lancar", "pasti tidak sakit", atau "cukup baca sekian kali" bukan berasal dari sumber yang sahih. Persalinan tetap proses yang butuh pertolongan dan bisa penuh tantangan, dan doa bukan transaksi yang memaksa takdir.
- Meninggalkan pertolongan medis. Ini kekeliruan yang paling berbahaya. Berdoa lalu menolak pemeriksaan, menunda ke fasilitas kesehatan, atau mengabaikan anjuran bidan dan dokter bukanlah tawakal, melainkan meninggalkan sebab yang justru diperintahkan agama.
- Berpaling ke jalan mistik. Ketika cemas, godaan mencari jimat, susuk, atau perantara berbau klenik bisa muncul. Ini bertentangan dengan akidah dan justru membatalkan makna tawakal kepada Allah yang menjadi inti kisah Maryam.
- Menyalahkan diri jika prosesnya berat. Persalinan yang sulit atau menyakitkan bukan tanda kurang berdoa atau kurang saleh. Maryam sendiri, wanita mulia pilihan Allah, tetap merasakan sakit dan berat saat melahirkan. Kesulitan adalah bagian dari ujian, bukan hukuman.
Untuk persoalan pribadi seputar ibadah ibu hamil dan bersalin, misalnya tata cara shalat dan bersuci dalam kondisi tertentu, silakan berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz atau bertanya kepada ustadz setempat, dan untuk urusan medisnya kepada bidan atau dokter yang menangani. Agar amalan harian tetap terjaga selama masa penantian, Anda juga bisa memantau jadwal sholat kota Anda supaya ibadah wajib tetap tepat waktu.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - Surat Maryam (ayat 23-26 beserta tafsirnya)
- NU Online - Doa-Doa yang Dibaca Ibu Hamil untuk Buah Hati dalam Kandungan
- NU Online - Doa yang Dibaca saat Proses Persalinan
- NU Online - Ini Doa Jelang Persalinan Ibu Hamil
- NU Online Lampung - Bacaan Doa untuk Suami yang Menunggui Istri Proses Melahirkan
- NU Online - Berobat dalam Pandangan Islam
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


