NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Dzikir Setelah Sholat Tahajud agar Doa Cepat Dikabulkan Allah SWT

Dzikir setelah sholat tahajud agar cepat dikabulkan oleh Allah SWT sering dipahami keliru sebagai mantra instan. Yang benar, wirid seperti istighfar, tasbih, tahmid, dan shalawat dibaca pada sepertiga malam terakhir, waktu yang paling mustajab, lalu hajat dipanjatkan dengan adab yang membuatnya lebih layak diijabah. Adapun cepat atau lambatnya pengabulan tetap menjadi hak Allah.

Dzikir Setelah Sholat Tahajud agar Doa Cepat Dikabulkan Allah SWT

Banyak orang mencari dzikir setelah sholat tahajud agar cepat dikabulkan oleh Allah SWT dengan harapan menemukan bacaan ajaib yang membuat hajat langsung terwujud. Islam memang mengajarkan bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu istimewa untuk berdoa, tetapi dzikir dan doa bukanlah mantra instan. Yang bisa kita usahakan hanyalah membaca wirid yang benar, memilih waktu yang mustajab, lalu memanjatkan hajat dengan adab yang membuat doa kita lebih layak dikabulkan. Soal cepat atau lambatnya pengabulan, itu sepenuhnya hak Allah.

Artikel ini merangkum rangkaian dzikir setelah tahajud, dalil kenapa sepertiga malam terakhir menjadi waktu mustajab, syarat dan adab berdoa, serta cara menyikapi keinginan agar doa cepat terkabul, semuanya berdasarkan keterangan yang dihimpun NU Online. Untuk panduan gerakan dan bacaan shalatnya sendiri, Anda bisa membaca lebih dulu doa sholat tahajud beserta niat dan tata caranya.

Kenapa Sepertiga Malam Terakhir Waktu Paling Mustajab

Keistimewaan berdoa setelah tahajud tidak berdiri di ruang kosong. Ia bersandar pada hadits masyhur yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah membuka pintu pengabulan doa selebar-lebarnya. NU Online mencantumkan lafalnya sebagai berikut:

يَنْزِلُ رَبُّنَا، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Latin: Yanzilu rabbunaa, tabaaraka wa ta'aalaa, kulla lailatin ilas samaa'id dunyaa hiina yabqaa tsulutsul lailil aakhiru, fayaquulu: man yad'uunii fa astajiiba lahu, man yas'alunii fa u'thiyahu, man yastaghfirunii fa aghfira lahu.

Artinya: "Tuhan kita Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni." (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan bahwa firman dalam hadits itu menyebut tiga hal berurutan: berdoa lalu dikabulkan, meminta lalu diberi, dan memohon ampun lalu diampuni. Inilah alasan para ulama menjadikan waktu sesudah tahajud sebagai saat terbaik untuk menggabungkan tiga amalan tadi, yaitu berdzikir, memohon ampun, dan menyampaikan hajat. Waktu ini bertepatan dengan keadaan hati yang paling jernih, jauh dari hiruk pikuk siang, sehingga permohonan lebih mudah dihadirkan dengan sepenuh kesadaran.

Tiga seruan dalam hadits sepertiga malam terakhir dan amalan yang sejalan
Seruan dalam haditsJanji AllahAmalan sesudah tahajud yang sejalan
Siapa yang berdoa kepada-KuNiscaya Aku kabulkan untuknyaBerdoa dengan hati yang hadir
Siapa yang meminta kepada-KuNiscaya Aku beriMenyampaikan hajat pribadi
Siapa yang memohon ampun kepada-KuNiscaya Aku ampuniMemperbanyak istighfar sebelum berdoa
Catatan Akidah: Ulama Ahlussunnah wal Jamaah menegaskan bahwa kata "turun" dalam hadits ini tidak boleh dipahami sebagai Allah bergerak atau berpindah tempat, sebab bergerak dan terikat tempat adalah ciri makhluk dan mustahil bagi Allah. NU Online menjelaskan ada dua sikap yang dibenarkan: menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah sambil menyucikan-Nya dari makna yang tidak layak (jalan mayoritas salaf), atau menakwilkannya ke arah yang pantas bagi Allah, misalnya turunnya rahmat dan perhatian-Nya (jalan sebagian ulama berikutnya). Keduanya sama-sama menjaga kesucian Allah dari penyerupaan dengan makhluk.
Perbandingan dua sikap ulama Ahlussunnah wal Jamaah terhadap kata turun dalam hadits sepertiga malam: menyerahkan maknanya kepada Allah yang dipilih mayoritas salaf, dan menakwilkannya ke makna yang layak bagi Allah yang banyak dipilih ulama sesudahnya
Dua jalan ini sama sah di kalangan Ahlussunnah, dan keduanya menolak makna Allah berpindah tempat. Sumber: NU Online, Makna Allah Turun ke Langit Dunia di Sepertiga Malam Terakhir, diagram oleh Ngajia.

Untuk memastikan Anda benar-benar berada di sepertiga malam terakhir, jangan berpatokan pada tebakan populer "pukul satu dini hari". Bukalah jadwal sholat kota Anda, catat waktu Maghrib malam ini dan Subuh besok pagi, lalu bagi rentang keduanya menjadi tiga bagian. Bagian ketiga itulah waktu paling utama untuk tahajud sekaligus berdoa.

Lebih dari sekadar waktu mustajab, shalat malam sendiri memiliki keutamaan besar. NU Online mengutip Al-Qadhi Iyadh yang menyebut shalat malam sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencegah diri dari perbuatan maksiat, sekaligus melebur dosa. Dengan begitu, dzikir dan doa yang kita panjatkan sesudahnya berdiri di atas fondasi ibadah yang sudah bernilai, bukan sekadar ritual untuk mengejar keinginan sesaat. Menyadari hal ini penting agar niat kita tidak menyempit menjadi semata-mata alat pengabul hajat, melainkan tetap dalam bingkai mendekatkan diri kepada Allah.

Rangkaian Dzikir dan Wirid Setelah Sholat Tahajud

Setelah salam pada rakaat terakhir tahajud, dianjurkan tidak langsung berdiri, melainkan duduk sejenak untuk berdzikir dan memohon ampun sebelum menyampaikan hajat. Tidak ada susunan tunggal yang wajib, tetapi urutan yang lazim diamalkan dan sejalan dengan isyarat hadits di atas kira-kira sebagai berikut:

  • Memperbanyak istighfar. Hadits sepertiga malam menyebut secara khusus "siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni", sehingga memperbanyak istighfar seperti astaghfirullaahal 'azhiim sangat pas dibaca lebih dulu. Istighfar membersihkan hati sebelum ia mengetuk pintu langit.
  • Tasbih, tahmid, dan takbir. Membaca subhaanallaah, alhamdulillaah, dan allaahu akbar, umumnya masing-masing sepuluh sampai tiga puluh tiga kali, menegaskan pujian dan pengagungan kepada Allah sebelum meminta. Bacaan tasbih ini sama dengan dzikir yang biasa dibaca sesudah shalat fardhu; lafal lengkapnya dapat Anda lihat pada halaman doa setelah sholat.
  • Membaca tahlil dan shalawat. Kalimat laa ilaaha illallaah serta shalawat kepada Nabi Muhammad menjadi perekat antara pujian dan permohonan. Para ulama menganjurkan membuka dan menutup doa dengan shalawat karena doa yang diapit shalawat lebih diharapkan naik dan diterima.
  • Membaca doa tahajud yang diajarkan Rasulullah. Sesudah dzikir di atas, bacalah doa panjang tahajud yang diawali Allaahumma rabbanaa lakal hamdu. Karena lafal Arab, latin, dan artinya sudah dimuat lengkap di halaman doa setelah sholat tahajud, kami tidak mengulangnya di sini agar Anda membacanya utuh langsung dari sumbernya.
  • Menyampaikan hajat pribadi. Barulah setelah itu Anda memohon apa yang menjadi kebutuhan, boleh dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Inti doa adalah kehadiran hati, bukan kefasihan lisan.

Perlu ditegaskan, angka hitungan dzikir seperti tiga puluh tiga atau seratus kali bukanlah tombol yang bila ditekan pasti mengeluarkan hasil. Bilangan itu membantu menjaga kekhusyukan dan keistiqamahan, bukan menakar besarnya "jaminan" pengabulan. Dzikir yang sedikit tetapi hadir hatinya jauh lebih berharga daripada hitungan besar yang diucapkan sambil mengantuk. Jika Anda ingin melanjutkan momentum spiritual sampai pagi, sambungkan amalan malam ini dengan dzikir pagi dan petang setelah Subuh.

Syarat dan Adab agar Doa Lebih Layak Dikabulkan

Kalau ada yang bisa kita ikhtiarkan agar doa lebih dekat kepada pengabulan, itu bukan mencari lafal rahasia, melainkan memenuhi syarat dan adab berdoa. NU Online menghimpun beberapa hal berikut sebagai kunci yang perlu diperhatikan:

  • Yakin akan dikabulkan. Orang yang berdoa harus yakin bahwa Allah mendengar dan mampu mengabulkan permohonannya. Mengutip Al-Munawi dalam Faidhul Qadir, NU Online menjelaskan bahwa keyakinan itu muncul saat seseorang berada dalam keadaan yang layak, yakni dengan niat yang tulus, hati yang hadir, ketaatan anggota badan, menjauhi larangan, dan membersihkan hati dari selain Allah. Berdoa tanpa keyakinan membuat harapan menjadi hampa.
  • Menjaga diri dari yang haram. Salah satu penghalang terkabulnya doa yang disebut NU Online adalah tidak menjaga diri dari perkara haram. Karena itu, memastikan makanan, minuman, dan penghasilan berasal dari sumber yang halal termasuk ikhtiar penting agar doa tidak terhalang.
  • Tidak meminta yang mengandung dosa atau memutus silaturahmi. Doa yang isinya keburukan, permusuhan, atau memutus tali persaudaraan berada di luar bingkai doa yang dijanjikan pengabulannya. NU Online menegaskan doa tidak boleh dipanjatkan dalam rangka meminta pemutusan tali kekerabatan dan kasih sayang antarsesama.
  • Tidak tergesa-gesa. Termasuk adab dasar berdoa adalah tidak tergesa-gesa. NU Online mengutip sabda Nabi bahwa doa seseorang akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu berhenti berdoa hanya karena merasa pengabulannya lama. Ketergesaan justru menjadi salah satu penghalang.
Poin Penting: Empat hal di atas bukan syarat sihir yang memaksa Allah, melainkan tanda kesungguhan seorang hamba. Memenuhinya membuat doa kita lebih layak dikabulkan, tetapi tetap tidak mengubah kenyataan bahwa keputusan akhir ada pada Allah, bukan pada kita.

Di antara adab itu, kehadiran hati adalah ruhnya. NU Online, masih mengutip Al-Munawi, mengingatkan bahwa hati yang lalai adalah hati yang tidak khusyuk, tidak sadar akan kebesaran Allah, dan tidak benar-benar berharap pada pengabulan. Karena itu, berdoalah sambil menghadirkan makna setiap kalimat, bukan sekadar melafalkannya. Menyebut hajat dengan bahasa sendiri kadang justru lebih menghadirkan hati daripada membaca teks panjang yang belum dipahami maknanya. Yang dicari bukan kefasihan, melainkan kejujuran seorang hamba yang benar-benar merasa membutuhkan Tuhannya.

Empat kunci doa menurut NU Online: yakin akan dikabulkan, menjaga diri dari yang haram, tidak meminta dosa atau pemutusan silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa
Empat hal ini membuat doa lebih layak dikabulkan, sementara keputusan akhirnya tetap pada Allah. Sumber: NU Online, Ini Syarat Doa agar Terkabul, diagram oleh Ngajia.

Dalam suasana malam yang tenang, adab-adab ini justru lebih mudah dihadirkan. Hati yang baru saja sujud cenderung lebih lembut, lebih jujur mengakui dosa, dan lebih tulus meminta. Bila hajat Anda berkaitan dengan urusan yang terasa berat, Anda bisa merangkainya dengan doa-doa yang lebih spesifik, seperti doa dimudahkan segala urusan ketika menghadapi persoalan yang menyempit, atau doa penenang hati dan pikiran saat batin sedang gelisah.

Meluruskan Anggapan Agar Cepat Dikabulkan

Sampai di sini kita perlu jujur pada satu hal: frasa "agar cepat dikabulkan" yang banyak dicari itu menyimpan harapan yang wajar, tetapi juga rawan disalahpahami. Dzikir dan doa bukan transaksi yang hasilnya bisa dipesan seketika. NU Online, mengutip Imam al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid, menjelaskan bahwa Allah mengabulkan permohonan hamba dengan tiga cara yang berbeda:

  • Dikabulkan segera sesuai dengan yang diminta dan dalam waktu cepat. Orang sakit meminta sembuh lalu segera sembuh, orang berutang meminta kelapangan lalu utangnya cepat lunas.
  • Dikabulkan sesuai permintaan tetapi ditunda karena ada kemaslahatan dan hikmah yang hanya Allah ketahui. Bisa jadi kesembuhan atau kelapangan itu baru datang setelah satu atau dua tahun, dan justru di situ letak kebaikannya.
  • Dikabulkan dalam bentuk yang lain, tidak persis seperti yang diminta, melainkan diganti dengan sesuatu yang menurut Allah lebih baik bagi hamba tersebut.

Dalam riwayat lain yang dikutip NU Online, tidak ada seorang muslim memanjatkan doa yang bebas dari dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga: doanya disegerakan pengabulannya di dunia, disimpan sebagai pahala baginya di akhirat, atau dipakai untuk menolak petaka yang semestinya menimpanya (HR Ath-Thabrani). Artinya, tidak ada doa yang sia-sia. Yang tampak "belum terkabul" boleh jadi sedang ditabung menjadi tabungan akhirat yang jauh lebih besar nilainya, atau diam-diam telah menyelamatkan kita dari keburukan yang tidak kita ketahui.

Perbandingan dua keterangan tentang pengabulan doa: menurut Imam al-Baijuri doa dikabulkan segera, ditunda, atau diganti bentuk lain; menurut riwayat Ath-Thabrani doa disegerakan di dunia, disimpan sebagai pahala akhirat, atau menolak petaka
Doa yang tampak belum terkabul tetap masuk salah satu bentuk pengabulan menurut kedua keterangan ini. Sumber: NU Online, Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa menurut Al-Baijuri, diagram oleh Ngajia.

Dengan cara pandang ini, dzikir setelah tahajud tetap layak diamalkan dengan semangat, tetapi tanpa membebani diri dengan tuntutan "harus cepat". Justru sikap tidak tergesa-gesa, sebagaimana disebut di bagian adab, adalah bagian dari doa yang benar. Berhenti berdoa karena hajat belum terwujud sama saja dengan menutup salah satu dari tiga pintu kebaikan tadi.

Contoh sederhananya begini. Seseorang yang setiap malam memohon dimudahkan rezekinya mungkin tidak langsung melihat perubahan angka di rekeningnya. Namun boleh jadi Allah menggantinya dengan ketenangan hati saat menghadapi kesulitan, menjauhkannya dari pengeluaran besar yang tidak terduga, atau membukakan jalan yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Semua itu tetap terhitung pengabulan, hanya saja bentuknya tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan. Dengan sudut pandang ini, kekecewaan yang sering muncul karena merasa doa tidak dikabulkan bisa berubah menjadi kesabaran yang justru menambah pahala.

Menyusun Waktu Dzikir dan Doa di Sepertiga Malam

Bagi banyak orang, kendala terbesar bukan tidak tahu bacaannya, melainkan tidak sempat atau tidak bangun. Padahal kunci amalan malam bukan waktu luang yang melimpah, melainkan pengaturan yang realistis. Berikut susunan sederhana yang bisa Anda coba:

  1. Tentukan target waktu dari jadwal sholat. Buka jadwal sholat kota Anda, lihat jam Subuh, lalu mundur sekitar satu setengah sampai dua jam. Itulah kira-kira awal sepertiga malam terakhir. Pasang alarm tepat di titik itu.
  2. Majukan jam tidur, bukan kurangi durasinya. Tidur pukul 21.30 lalu bangun pukul 03.30 memberi durasi istirahat yang setara dengan tidur larut, tetapi Anda mendapatkan waktu mustajab.
  3. Kerjakan tahajud secukupnya, lalu duduk berdzikir. Dua rakaat yang tenang sudah cukup untuk memulai. Setelah salam, jangan buru-buru bangkit; duduklah untuk istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan shalawat.
  4. Sampaikan hajat dengan hati yang hadir. Sebutkan kebutuhan Anda secara spesifik, akui dosa, dan mintalah dengan penuh harap. Boleh menangis, boleh berbisik, yang penting sadar sedang berbicara kepada Allah.
  5. Tutup dengan syukur, bukan tuntutan. Akhiri dengan pujian dan shalawat, lalu lanjutkan menuju Subuh. Serahkan hasilnya kepada Allah tanpa merasa Dia berutang mengabulkan.
Pro Tip: Siapkan "jalur cepat" sebelum tidur: letakkan alat shalat di dekat tempat tidur, sediakan segelas air, dan tulis satu atau dua hajat utama di kertas kecil agar tidak lupa saat berdoa. Persiapan sederhana ini sering menjadi pembeda antara niat yang menguap dan amalan yang benar-benar jalan.

Kesalahan Umum Seputar Dzikir dan Doa Tahajud

Semangat mengamalkan dzikir setelah tahajud kadang bercampur dengan keliru paham yang perlu diluruskan agar niat baik tidak berujung kecewa:

  • Memburu jumlah dzikir tertentu sebagai "resep" pengabulan. Sebagian orang meyakini ada angka ajaib yang bila dibaca sekian kali pasti mengabulkan hajat. Yang diajarkan adalah memperbanyak dzikir dengan hati hadir, bukan menakar pengabulan dengan bilangan.
  • Menganggap doa pasti cepat terwujud. Seperti dijelaskan Al-Baijuri, pengabulan bisa segera, ditunda, atau diganti bentuknya. Menuntut kepastian cepat adalah bentuk tergesa-gesa yang justru menjadi penghalang.
  • Berhenti berdoa saat merasa tidak dikabulkan. Menghentikan doa karena putus asa berarti melewatkan kemungkinan doa itu sedang ditabung untuk akhirat atau dipakai menolak bala.
  • Melalaikan sumber rezeki yang halal. Rajin tahajud tetapi tidak peduli halal haramnya penghasilan bertentangan dengan salah satu syarat terkabulnya doa. Ikhtiar lahir dan batin harus berjalan bersama.
  • Menjadikan tahajud sebagai alat menuntut, bukan mendekat. Tujuan utama amalan malam adalah bertambah dekat kepada Allah. Bila hajat belum terwujud, kedekatan itu sendiri sudah merupakan pemberian yang besar.
Perbandingan anggapan keliru seputar dzikir dan doa tahajud dengan yang diajarkan: angka dzikir ajaib lawan dzikir dengan hati hadir, doa pasti cepat lawan bisa segera ditunda atau diganti, berhenti berdoa lawan tidak tergesa-gesa, melalaikan halal lawan menjaga diri dari yang haram
Setiap anggapan keliru di kiri punya pelurusan yang sudah dibahas di bagian syarat, adab, dan bentuk pengabulan doa. Sumber: NU Online, Ini Syarat Doa agar Terkabul, diagram oleh Ngajia.
Ringkasan: Dzikir setelah tahajud (istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan shalawat) paling utama dibaca di sepertiga malam terakhir, waktu turunnya rahmat dan pengabulan. Agar doa lebih layak diijabah, penuhi adabnya: yakin, hati hadir, menjauhi yang haram, tidak meminta keburukan, dan tidak tergesa-gesa. Adapun cepat, ditunda, atau diganti bentuknya, itu sepenuhnya hak dan hikmah Allah.

Bila Anda punya pertanyaan pribadi seputar amalan malam atau hajat tertentu, jangan ragu berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz agar mendapat jawaban yang sesuai dengan keadaan Anda.

Waktu sholat hari ini. Jam Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya tersedia di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari. Untuk wilayah lain, buka jadwal sholat per kota.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar dzikir setelah sholat tahajud agar cepat dikabulkan oleh allah swt

TApa dzikir yang dibaca setelah sholat tahajud agar doa cepat dikabulkan?

Yang dianjurkan adalah memperbanyak istighfar, lalu tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (allahu akbar), tahlil (laa ilaaha illallah), dan shalawat, kemudian membaca doa tahajud yang diajarkan Rasulullah, baru menyampaikan hajat. Tidak ada dzikir tunggal yang menjamin pengabulan instan; yang penting hati hadir dan adabnya terpenuhi.

TKenapa sepertiga malam terakhir disebut waktu mustajab?

Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, pada sepertiga malam terakhir Allah membuka pengabulan doa, memberi kepada yang meminta, dan mengampuni yang beristighfar. Kata turun dalam hadits itu tidak dimaknai berpindah tempat, sebab hal itu mustahil bagi Allah, melainkan dipahami sebagai turunnya rahmat dan perhatian-Nya.

TApakah ada jumlah dzikir tertentu yang membuat doa pasti terkabul?

Tidak ada. Bilangan seperti 33 atau 100 kali membantu menjaga kekhusyukan dan istiqamah, bukan menjadi takaran jaminan pengabulan. Dzikir sedikit dengan hati hadir lebih baik daripada hitungan besar yang diucapkan sambil mengantuk.

TBagaimana agar doa lebih layak dikabulkan Allah?

NU Online menyebut beberapa syarat dan adab: yakin bahwa Allah mendengar dan mampu mengabulkan, menghadirkan hati, menjaga diri dari yang haram termasuk makanan dan penghasilan, tidak meminta keburukan atau pemutusan silaturahmi, serta tidak tergesa-gesa berhenti berdoa hanya karena merasa lama.

TKalau doa belum juga dikabulkan, apa artinya?

Menurut Imam al-Baijuri yang dikutip NU Online, pengabulan bisa berupa dikabulkan segera, ditunda karena hikmah tertentu, atau diganti dengan yang lebih baik. Dalam riwayat lain, doa yang belum terwujud bisa disimpan sebagai pahala di akhirat atau dipakai menolak petaka, sehingga tidak ada doa yang sia-sia.

TBolehkah berdoa dengan bahasa Indonesia setelah tahajud?

Boleh. Setelah membaca dzikir dan doa tahajud yang diajarkan Rasulullah, Anda dapat menyampaikan hajat pribadi dalam bahasa apa pun, karena inti doa adalah kehadiran hati di hadapan Allah, bukan kefasihan lisan.

TBagaimana cara mengetahui waktu sepertiga malam terakhir?

Jangan berpatokan pada tebakan populer pukul satu dini hari. Lihat jadwal sholat kota Anda, catat waktu Maghrib malam ini dan Subuh besok pagi, lalu bagi rentang keduanya menjadi tiga bagian. Bagian ketiga itulah waktu paling utama untuk tahajud sekaligus berdoa.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat