NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Sholat

Doa Sholat Dhuha: Niat, Tata Cara, Bacaan, dan Keutamaannya

Doa sholat dhuha yang paling dikenal dibaca setelah salam dan diawali dengan kalimat Allaahumma innadh dhahaa'a dhahaa'uka, yaitu permohonan agar rezeki yang jauh didekatkan dan yang sulit dimudahkan. Bacaan ini bukan lafal hadis, melainkan doa yang dihimpun ulama Mazhab Syafii dalam kitab I'anatut Thalibin, Tuhfatul Muhtaj, dan Hasyiyatul Jamal, sebagaimana dikutip NU Online. Sholat dhuha sendiri dikerjakan dua rakaat sekali salam pada rentang waktu antara matahari naik setinggi tombak sampai menjelang zuhur.

Jamaah laki-laki berpeci duduk di atas sajadah merah hijau di dalam masjid berpilar emas, terlihat dari balik celah dinding gelap

Jamaah duduk berdoa selepas shalat di Masjid Nurul Iman, Kuala Tungkal, difoto dari balik celah dinding. Foto ini diambil seusai tarawih, bukan saat dhuha. Foto: Thecrazywolf33 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Doa sholat dhuha yang paling luas diamalkan di Indonesia dibaca setelah salam, dibuka dengan kalimat Allaahumma innadh dhahaa'a dhahaa'uka dan ditutup dengan permohonan agar rezeki yang berada di langit diturunkan, yang di bumi dikeluarkan, yang sulit dimudahkan, dan yang jauh didekatkan. Perlu diketahui sejak awal bahwa bacaan ini bukan lafal yang berasal dari hadis Nabi. NU Online menyebutkan bahwa doa ini ditemukan dalam kitab-kitab fikih Mazhab Syafii, yaitu I'anatut Thalibin, Tuhfatul Muhtaj, dan Hasyiyatul Jamal. Statusnya adalah doa pilihan para ulama, bukan bacaan yang wajib dan bukan pula syarat sahnya sholat dhuha. Artikel ini memuat niat, tiga rangkaian doa setelah sholat dhuha, waktu pelaksanaan, jumlah rakaat beserta perbedaan pandangan NU dan Muhammadiyah, tata cara, dan keutamaan yang dalilnya sahih, semuanya dirujuk ke laman resmi NU Online dan Muhammadiyah.

Apa Itu Sholat Dhuha dan Hukumnya

Secara bahasa, kata dhuha adalah nama untuk awal siang hari atau pagi hari. Dalam pembahasan fikih, sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha, yaitu sejak matahari terbit seukuran satu tombak sampai waktu zawal, saat matahari tergelincir ke arah barat. Rumusan ini dikutip NU Online dari Hasyiyah I'anatut Thalibin karya Al-Bakri bin as-Sayyid Muhammad Syattha ad-Dimyathi juz I halaman 253 dan Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi juz IV halaman 36.

Hukum sholat dhuha adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Istilah ini penting dipahami dengan benar. Muakkadah berarti Rasulullah menjaga dan menganjurkannya secara kuat, sehingga meninggalkannya berarti kehilangan keutamaan yang besar. Namun statusnya tetap sunnah, bukan wajib, sehingga orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa. Pemahaman ini menjaga keseimbangan: tidak meremehkan, tetapi juga tidak menjadikannya beban yang membuat seseorang merasa bersalah berlebihan ketika kesibukan membuatnya terlewat.

Sholat dhuha punya tempat khusus dalam kebiasaan muslim Indonesia. Ia dikerjakan di sela-sela jam kerja, di musala kantor, di masjid sekolah, atau di rumah setelah anak-anak berangkat. Banyak orang mengaitkannya dengan pembuka rezeki, dan kaitan itu memang muncul dari isi doanya yang secara eksplisit menyebut rezeki. Meski demikian, penting menempatkan sholat dhuha pada posisi yang benar, yaitu sebagai ibadah dan bentuk kepasrahan, bukan sebagai mantra pemanggil harta. Rezeki tetap datang lewat jalan ikhtiar yang wajar, dan doa adalah bagian dari ikhtiar itu, bukan penggantinya.

Satu hal yang kerap ditanyakan adalah apakah sholat dhuha boleh dikerjakan begitu matahari terbit. Laman resmi Muhammadiyah menjawabnya dengan mengutip riwayat dari Abu Ramlah al-Azdi dari Ali, bahwa Ali pernah melihat orang-orang mengerjakan sholat dhuha tepat ketika matahari terbit, lalu ia berkata mengapa mereka tidak menunggu sampai matahari setinggi satu atau dua tombak, karena itulah sholat kaum awwabin. Riwayat ini dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah. Jadi yang dimaksud waktu dhuha bukan detik ketika matahari muncul di ufuk, melainkan setelah matahari naik cukup tinggi.

Perlu ditegaskan pula bahwa sholat dhuha tidak menggantikan kewajiban apa pun. Ia tidak menggugurkan sholat fardu yang tertinggal dan tidak menutupi kelalaian dalam kewajiban lain. Urutannya jelas: tunaikan yang wajib lebih dulu, baru tambahkan yang sunnah. Orang yang rajin dhuha tetapi sering menunda sholat zuhur sampai lewat waktunya berarti sedang menukar yang pokok dengan yang tambahan, dan itu bukan cara beribadah yang benar.

Niat Sholat Dhuha dan Cara Melafalkannya

Niat sholat dhuha wajib hadir di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Dalam mazhab Syafi'i, sebagaimana dijelaskan NU Online, melafalkannya dengan lisan sebelum takbir hukumnya sunnah, fungsinya membantu mengingatkan hati agar benar-benar sadar sedang mengerjakan sholat apa. Jadi yang menentukan sah atau tidaknya adalah niat di hati, bukan bunyi kalimat di lisan. Berikut lafal niat yang dicantumkan NU Online:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushallii sunnatadh dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Saya niat sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala."

Catatan kecil untuk pembaca yang teliti: NU Online menuliskan transliterasi lafal ini sebagai Ushalli sunnatad dhaha, sedangkan teks Arabnya berharakat damah pada huruf dhad, sehingga bacaan yang sesuai dengan tulisan Arabnya adalah adh-dhuhaa. Perbedaan ini hanya menyangkut penulisan latin, tidak mengubah lafal Arab maupun keabsahan niatnya. Kami menyalin teks Arabnya apa adanya dan menyesuaikan latinnya dengan teks Arab tersebut.

Bila Anda berniat mengerjakan lebih dari dua rakaat, niat tetap dibaca untuk setiap dua rakaat, karena sholat dhuha dikerjakan dua rakaat sekali salam. Jadi seseorang yang ingin mengerjakan delapan rakaat sebenarnya sedang mengerjakan empat kali sholat dua rakaat, masing-masing dengan niat dan salamnya sendiri. Lafal niat lengkap untuk berbagai sholat sunnah lain bisa Anda lihat pada halaman niat sholat dhuha yang kami sediakan sebagai rujukan singkat.

Key Takeaway: Yang menentukan sahnya sholat adalah niat di dalam hati saat takbiratul ihram, bukan pelafalan lisannya. Dalam mazhab Syafi'i, melafalkan niat itu sunnah dan berfungsi mengingatkan hati, sehingga orang yang lupa melafalkannya tetapi hatinya sadar sedang sholat dhuha, sholatnya tetap sah.

Bacaan Doa Sholat Dhuha Arab, Latin, dan Artinya

NU Online mencantumkan tiga bacaan yang dianjurkan setelah selesai sholat dhuha, dikutip dari Hasyiyah I'anatut Thalibin juz I halaman 255. Ketiganya dibaca berurutan setelah salam. Berikut doa pertama, yang paling dikenal masyarakat dan biasanya disebut sebagai doa sholat dhuha:

اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَآءَ ضَحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِيْ مَآ أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Latin: Allaahumma innadh dhahaa'a dhahaa'uka, wal bahaa'a bahaa'uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal 'ishmata 'ishmatuka. Allaahumma in kaana rizqii fis samaa'i fa anzilhu, wa in kaana fil ardhi fa akhrijhu, wa in kaana mu'saran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa thahhirhu, wa in kaana ba'iidan fa qarribhu, bi haqqi dhahaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa atayta 'ibaadakash shaalihiin.

Artinya: "Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika tercampur tanpa sengaja dengan yang haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah kepadaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh."

Setelah itu dianjurkan membaca doa kedua yang lebih ringkas:

اَللّٰهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكُ أُقَاتِلُ

Latin: Allaahumma bika ushaawilu, wa bika uhaawilu, wa bika uqaatilu.

Artinya: "Dengan-Mu aku menerjang, dengan-Mu aku berupaya, dan dengan-Mu aku berjuang."

Rangkaian ditutup dengan istighfar berikut, yang menurut keterangan NU Online dibaca sebanyak empat puluh kali atau seratus kali bila memungkinkan:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Latin: Rabbighfir lii warhamnii wa tub 'alayya innaka antat tawwaabur rahiim.

Artinya: "Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, dan terimalah tobatku. Sungguh Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Ada dua catatan kejujuran yang perlu kami sampaikan tentang teks di atas. Pertama, pada doa kedua, dua halaman NU Online sama-sama menuliskan kata ketiga dengan harakat damah, sedangkan transliterasi latin di halaman yang sama membacanya dengan fathah. Karena bentuk itu seragam di seluruh halaman yang kami periksa, teks Arabnya kami salin apa adanya tanpa kami perbaiki, sementara latinnya kami tulis mengikuti transliterasi NU Online sendiri. Kedua, pada doa pertama, halaman NU Online yang berjudul Tata Cara Shalat Dhuha memberi harakat fathah pada kata dhahaa', sedangkan halaman NU Online berjudul Doa Shalat Dhuha memberinya harakat damah sehingga terbaca dhuhaa'. Keduanya konsisten dengan transliterasi di halamannya masing-masing dan maknanya sama, jadi tidak ada yang keliru; kami memilih versi halaman pertama dan mencantumkan keduanya sebagai rujukan.

Catatan: Doa-doa di atas bukan lafal hadis Nabi, melainkan doa yang disusun dan dihimpun ulama Mazhab Syafii. Karena itu, membacanya tidak menjadi syarat sah sholat dhuha, dan orang yang berdoa dengan bahasanya sendiri sesudah sholat tetap sah serta tetap berpahala. Bacaan lengkap doa setelah sholat sunnah lain bisa Anda telusuri pada halaman doa setelah sholat dhuha.
Urutan tiga bacaan setelah salam sholat dhuha: doa panjang berisi permohonan rezeki, doa ringkas, lalu istighfar empat puluh atau seratus kali
Urutan bacaan setelah salam, dirangkum dari NU Online. Lafal lengkap ada di atas.

Waktu Sholat Dhuha dan Jam yang Paling Utama

Rentang waktu sholat dhuha dimulai ketika matahari sudah naik seukuran satu tombak, yang dijelaskan NU Online setara tujuh hasta atau sekitar 2,5 meter dari garis ufuk, dan berakhir menjelang matahari tergelincir ke barat atau masuknya waktu zuhur. Dalam praktik sehari-hari, patokan yang mudah adalah menunggu sekitar lima belas sampai tiga puluh menit setelah waktu terbit atau syuruq di kota Anda, lalu berhenti beberapa menit sebelum azan zuhur. Anda bisa memastikan dua batas ini lewat jadwal sholat kota Anda, karena waktu terbit dan zuhur berbeda tiap kota dan tiap tanggal.

Di dalam rentang itu ada waktu yang lebih utama. NU Online menyebut rumus fikihnya sebagai saat setelah melewati seperempat siang yang dihitung dari awal subuh, kira-kira mulai sekitar pukul sembilan pagi, yaitu ketika terik matahari sudah mulai terasa panas. Dasarnya adalah riwayat berikut:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي اللهُ عنه: أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى، فَقَالَ: أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ في غَيْرِ هذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ؟ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ (رواه مسلم)

Artinya: "Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, sungguh ia pernah melihat segolongan orang melakukan sholat Dhuha, lalu ia berkata: 'Tidakkah kalian tahu bahwa sholat dalam waktu ini lebih utama? Sungguh Rasulullah bersabda: Sholat kaum awwabin adalah saat kaki anak-anak unta merasakan panasnya bumi karena terik matahari.'" Riwayat ini dinilai sahih dan diriwayatkan Imam Muslim, sebagaimana dikutip NU Online dari Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim juz VI halaman 30.

Muhammadiyah sampai pada kesimpulan praktis yang senada. Dalam artikel Tatacara Shalat Dhuha, disebutkan bahwa waktu paling afdal adalah ketika matahari sudah meninggi dan panasnya mulai terasa, kira-kira pukul delapan sampai sembilan pagi, meskipun sholat dhuha tetap boleh dikerjakan sejak matahari naik sampai menjelang zawal. Artikel yang sama mencatat bahwa Kalender Hijriyah terbitan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah D.I. Yogyakarta menuliskan jadwal dhuha dimulai satu jam setelah syuruq, sedangkan sebagian ulama lain menyebut angka lima belas atau dua puluh menit setelah terbit.

Perbedaan angka menit itu bukan pertentangan dalil, melainkan cara berbeda menerjemahkan ukuran satu tombak ke dalam satuan waktu modern. Karena itu, sikap yang aman dan tidak berlebihan adalah mengambil jarak yang jelas dari waktu terbit, misalnya tiga puluh menit sesudah syuruq, sehingga Anda pasti sudah melewati saat matahari baru terbit yang menurut penjelasan Muhammadiyah memang belum terhitung waktu dhuha.

NU Online juga menyebutkan hikmah di balik keutamaan waktu tersebut, yang dikutip dari Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani halaman 102: agar setiap seperempat siang tidak kosong dari sholat. Seperempat pertama diisi sholat Subuh, seperempat kedua diisi sholat Dhuha, seperempat ketiga diisi sholat Zuhur, dan seperempat keempat diisi sholat Asar. Penjelasan ini memberi gambaran bahwa dhuha bukan ibadah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ritme hari seorang muslim.

Garis waktu sholat dhuha dari matahari naik satu tombak, waktu lebih utama sekitar pukul sembilan, sampai menjelang zuhur
Rentang waktu dhuha menurut NU Online. Jam yang tertulis hanya perkiraan, patokannya tetap jadwal sholat kota Anda.

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha dan Beda Pandangan Ulama

Sholat dhuha dikerjakan dua rakaat sekali salam. Yang berbeda adalah batas maksimalnya, dan di sinilah pembaca perlu tahu duduk perkaranya agar tidak bingung ketika menemukan angka yang tidak sama di berbagai sumber.

Halaman NU Online berjudul Tata Cara Shalat Dhuha dan Keutamaannya menyebut batas minimal dua rakaat dan batas maksimal dua belas rakaat, mengikuti Hasyiyah I'anatut Thalibin juz I halaman 255. Menariknya, halaman NU Online lain yang berjudul Doa Shalat Dhuha menyebut batas maksimalnya delapan rakaat. Kedua angka ini beredar di lingkungan Mazhab Syafii dan bersumber dari perbedaan riwayat tentang berapa rakaat yang pernah dikerjakan Rasulullah.

Muhammadiyah mengambil kesimpulan yang berbeda lagi. Dalam artikel Tatacara Shalat Dhuha di laman resminya, disebutkan bahwa menurut pendapat yang paling kuat, jumlah minimal adalah dua rakaat sedangkan jumlah maksimalnya tanpa batas. Dasarnya adalah riwayat Aisyah dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah mengerjakan sholat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya. Artikel itu juga mengutip al-Iraqi dalam Syarah at-Tirmidzi yang menyatakan tidak menemukan seorang pun sahabat atau tabiin yang membatasi dhuha pada dua belas rakaat, serta as-Shanani dalam Subulus Salam juz 2 halaman 19 yang menilai bahwa hadis-hadis yang menyebut dua belas rakaat tidak ada yang lepas dari cacat.

Jumlah rakaat sholat dhuha menurut dua rujukan yang berbeda
RujukanMinimalMaksimalDasar yang disebut
NU Online, Tata Cara Shalat Dhuha dan Keutamaannya2 rakaat12 rakaatHasyiyah I'anatut Thalibin juz I halaman 255
NU Online, Doa Shalat Dhuha2 rakaat8 rakaatKitab fikih Mazhab Syafii
Muhammadiyah, Tatacara Shalat Dhuha2 rakaatTanpa batasRiwayat Aisyah dalam Shahih Muslim, al-Iraqi, as-Shanani

Bagaimana menyikapinya secara praktis? Ketiga pandangan itu sepakat pada satu hal, yaitu dua rakaat sudah sah dan sudah meraih kesunnahan dhuha. Perbedaannya hanya pada batas atas, dan batas atas ini tidak pernah menjadi syarat sah. Jadi seorang muslim yang mengerjakan dua, empat, delapan, atau dua belas rakaat, semuanya berada di dalam ruang yang dibenarkan salah satu pandangan ulama, dan tidak perlu saling menyalahkan.

Adapun surat yang sunnah dibaca setelah al-Fatihah, NU Online menyebut surat asy-Syams dan adh-Dhuha, atau al-Kafirun dan al-Ikhlas. Yang lebih utama adalah menggabungkannya: rakaat pertama membaca asy-Syams dan al-Kafirun, rakaat kedua membaca adh-Dhuha dan al-Ikhlas, lalu untuk rakaat-rakaat berikutnya cukup al-Kafirun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua. Bacaan wajib dan sunnah di dalam sholat selengkapnya bisa Anda pelajari pada artikel bacaan sholat.

Perbandingan jumlah rakaat sholat dhuha menurut dua halaman NU Online dan laman Muhammadiyah
Angka rakaat dari NU Online, halaman doa NU Online, dan Muhammadiyah.

Tata Cara Sholat Dhuha dari Awal sampai Doa

Tata cara sholat dhuha sama dengan sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Berikut urutannya menurut penjelasan NU Online:

  • Pastikan waktunya sudah masuk, yaitu matahari sudah naik cukup tinggi dan belum tergelincir ke barat. Kalau ragu, cek waktu terbit dan zuhur pada jadwal sholat kota Anda.
  • Berwudu dan menghadap kiblat, lalu berdiri dengan tenang tanpa tergesa-gesa.
  • Berniat di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Melafalkan niat sebelum takbir hukumnya sunnah.
  • Membaca al-Fatihah lalu surat pilihan, misalnya asy-Syams dan al-Kafirun pada rakaat pertama, kemudian adh-Dhuha dan al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  • Menyempurnakan rukuk, iktidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud dengan tumakninah, yaitu berhenti sejenak sampai anggota badan benar-benar tenang.
  • Tasyahud akhir lalu salam pada rakaat kedua. Bila ingin menambah rakaat, ulangi dari niat untuk dua rakaat berikutnya.
  • Membaca doa setelah salam, yaitu tiga bacaan yang sudah dicantumkan di atas, ditutup dengan istighfar empat puluh atau seratus kali bila memungkinkan.

Sesudah itu, Anda bisa menyambungnya dengan zikir dan doa harian sebagaimana kebiasaan setelah sholat fardu. Susunan zikir yang biasa dibaca dapat dilihat pada artikel doa setelah sholat, sedangkan wirid pagi yang sering dirangkai dengan dhuha ada pada artikel dzikir pagi dan petang.

Beberapa adab yang membuat dhuha lebih terjaga: kerjakan di tempat yang tenang agar tidak terburu-buru, jangan menjadikannya alasan menunda pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Anda, dan jangan memaksakan jumlah rakaat besar bila waktunya sempit sehingga sholat menjadi tergesa. Dua rakaat yang khusyuk lebih baik daripada dua belas rakaat yang dikejar-kejar jam kerja.

Pro Tip: Bila jadwal Anda padat, letakkan sholat dhuha pada jeda yang sudah pasti ada, misalnya sesaat setelah sampai di kantor atau setelah mengantar anak sekolah. Kebiasaan yang menempel pada rutinitas yang sudah ada jauh lebih tahan lama daripada niat yang bergantung pada waktu luang yang belum tentu datang.
Tujuh langkah sholat dhuha dari cek waktu, wudu, niat, bacaan, rukun, salam, sampai doa
Ringkasan langkah dari penjelasan NU Online.

Keutamaan Sholat Dhuha Menurut Hadis

Berbeda dengan lafal doanya yang berasal dari kitab fikih, keutamaan sholat dhuha justru bersandar pada hadis-hadis yang kuat. NU Online menyebutkan beberapa di antaranya. Yang pertama, dua rakaat dhuha mencukupi sedekah yang semestinya ditunaikan oleh seluruh persendian tubuh manusia setiap pagi:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. (رواه مسلم)

Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Dzar, dari Nabi, beliau bersabda: 'Ada sedekah yang hendaknya dilakukan atas seluruh tulang salah seorang dari kalian. Karena itu setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan dua rakaat sholat Dhuha mencukupi semuanya itu.'" Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim, sehingga derajatnya sahih.

Keutamaan kedua, sholat dhuha disebut sebagai sholatnya kaum awwabin, yaitu orang-orang yang kembali dan bertobat kepada Allah. NU Online mengutip riwayat dari Abu Hurairah bahwa tidak ada yang menjaga sholat Dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan bertobat, dan bahwa sholat Dhuha adalah sholat orang-orang yang bertobat. Riwayat ini dikeluarkan al-Hakim, dan al-Hakim sendiri menilainya sebagai hadis sahih sesuai syarat Imam Muslim.

Keutamaan ketiga menyangkut jumlah rakaat. NU Online mengutip riwayat dari Abdullah bin Amr melalui Abu Dzar bahwa orang yang sholat dhuha dua rakaat tidak dicatat sebagai golongan yang lalai, empat rakaat dicatat sebagai golongan yang berbuat baik, enam rakaat sebagai golongan yang taat, delapan rakaat sebagai golongan yang beruntung, sepuluh rakaat membuat hari itu tidak dicatatkan dosa baginya, dan dua belas rakaat membuat Allah membangunkan sebuah rumah untuknya di surga. Riwayat ini dikeluarkan al-Baihaqi. Perlu dicatat bahwa derajat riwayat al-Baihaqi ini tidak setara dengan dua riwayat sebelumnya, dan seperti sudah disinggung di bagian jumlah rakaat, as-Shanani menilai hadis-hadis yang menyebut dua belas rakaat tidak lepas dari cacat. Karena itu, keutamaan berjenjang tersebut layak dipandang sebagai motivasi, bukan sebagai patokan hukum yang mengikat.

Cara paling sehat membaca deretan keutamaan ini adalah memahami bahwa nilai sholat dhuha terletak pada kesinambungan, bukan pada angka rakaat. Riwayat tentang kaum awwabin menyebut orang yang menjaganya, bukan orang yang sesekali mengerjakannya dalam jumlah besar. Dua rakaat setiap hari yang dikerjakan dengan sadar lebih menggambarkan sikap kembali kepada Allah daripada dua belas rakaat yang dikerjakan sekali dalam sebulan.

Terakhir, karena isi doanya banyak menyebut rezeki, wajar bila sholat dhuha sering dikaitkan dengan kelapangan penghidupan. Yang perlu dijaga adalah pemahamannya. Doa adalah permohonan kepada Allah, bukan transaksi yang menjamin hasil dalam jumlah dan waktu tertentu. Dari seluruh riwayat yang dikutip NU Online dan Muhammadiyah pada halaman-halaman yang kami rujuk di artikel ini, tidak ada satu pun yang menyebut jumlah atau nominal rezeki tertentu. Yang disebut adalah ampunan, pahala sedekah seluruh persendian, dan status sebagai hamba yang kembali kepada-Nya. Bila Anda ingin memperluas ikhtiar batin dalam soal rezeki, artikel doa pembuka rezeki membahasnya lebih jauh, dan artikel doa sholat tahajud membahas sholat malam yang keutamaannya juga sangat besar. Untuk pertanyaan yang menyangkut kondisi pribadi Anda, silakan bertanya kepada ustaz tepercaya melalui Tanya Ustadz. Semoga dhuha yang kita jaga setiap pagi menjadi sebab turunnya keberkahan pada seluruh hari kita.

Waktu sholat hari ini. Jam Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya tersedia di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari. Untuk wilayah lain, buka jadwal sholat per kota.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa sholat dhuha

TApa bacaan doa sholat dhuha?

Doa yang paling dikenal dibaca setelah salam dan dibuka dengan Allaahumma innadh dhahaa'a dhahaa'uka, berisi permohonan agar rezeki yang di langit diturunkan, yang di bumi dikeluarkan, yang sulit dimudahkan, yang haram disucikan, dan yang jauh didekatkan. NU Online mencantumkannya dari kitab Hasyiyah I'anatut Thalibin juz I halaman 255.

TApakah doa sholat dhuha berasal dari hadis Nabi?

Tidak. NU Online menyebutkan bahwa doa ini ditemukan dalam kitab-kitab fikih Mazhab Syafii, yaitu I'anatut Thalibin, Tuhfatul Muhtaj, dan Hasyiyatul Jamal, jadi statusnya doa pilihan ulama, bukan lafal hadis. Karena itu membacanya bukan syarat sah sholat dhuha, dan berdoa dengan bahasa sendiri sesudah sholat tetap sah.

TJam berapa waktu sholat dhuha?

Mulai ketika matahari sudah naik seukuran satu tombak, sekitar lima belas sampai tiga puluh menit setelah waktu terbit, sampai menjelang masuk waktu zuhur. Waktu paling utama adalah ketika panas matahari mulai terasa, kira-kira pukul sembilan pagi menurut NU Online, atau sekitar pukul delapan sampai sembilan menurut penjelasan Muhammadiyah.

TBerapa rakaat sholat dhuha minimal dan maksimal?

Minimalnya dua rakaat menurut semua rujukan. Batas maksimalnya berbeda: NU Online pada halaman Tata Cara Shalat Dhuha menyebut dua belas rakaat, pada halaman Doa Shalat Dhuha menyebut delapan rakaat, sedangkan Muhammadiyah menyebut tanpa batas karena riwayat Aisyah menyatakan Nabi sholat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya.

TApakah sholat dhuha bisa membuka pintu rezeki?

Isi doanya memang memuat permohonan rezeki, dan itulah sebabnya sholat dhuha lekat dengan tema rezeki. Namun tidak ada riwayat sahih yang menjanjikan jumlah atau waktu tertentu. Doa adalah permohonan, bukan transaksi, sehingga tetap perlu diiringi ikhtiar yang wajar dan halal.

TApakah sholat dhuha harus dua rakaat sekali salam?

Ya. Sholat dhuha dikerjakan dua rakaat setiap salam. Jika ingin delapan rakaat, berarti dikerjakan empat kali sholat dua rakaat, masing-masing dengan niat dan salamnya sendiri, bukan delapan rakaat sekaligus dalam satu salam.

TApakah boleh sholat dhuha tanpa membaca doa khusus?

Boleh dan tetap sah. Doa setelah dhuha hukumnya anjuran, bukan rukun. Orang yang hanya sholat dua rakaat lalu berzikir dan berdoa dengan bahasanya sendiri sudah meraih kesunnahan sholat dhuha.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar sholat