
Doa setelah membaca surat Al-Waqiah yang dimuat NU Online berisi tiga lafal permohonan agar dicukupkan rezeki dan dijauhkan dari meminta-minta kepada sesama makhluk. Ada satu hal yang perlu diketahui sejak awal, dan kami memilih menyampaikannya di paragraf pertama daripada menyembunyikannya di bawah: lafal doa ini bukan sabda Nabi Muhammad. NU Online Jabar secara terbuka menyebut bahwa teks doa tersebut dinukil dari kitab Abwabul Faraj karya Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani, artinya ia susunan ulama. Statusnya boleh diamalkan, tetapi tidak boleh dipromosikan seolah-olah hadits. Artikel ini menyajikan lafalnya lengkap dengan arti, menjelaskan keutamaan surat Al-Waqiah beserta status haditsnya secara apa adanya, waktu mengamalkannya, serta adab membaca Al-Quran yang sering terlewat.
Bacaan Doa Setelah Membaca Surat Al-Waqiah
Doa ini terdiri atas tiga bagian yang dibaca berurutan seusai menamatkan surat Al-Waqiah. Kami menyalin lafal Arabnya dari Quran NU Online pada halaman kumpulan doa membaca Al-Quran, bagian yang berjudul Doa Usai Baca Surat al-Waqi'ah.
Bagian pertama
اَللّٰهُمَّ صُنْ وُجُوْهَنَا بِالْيَسَارِ، وَلَا تُوْهِنَّا بِالْإِقْتَارِ، فَنَسْتَرْزِقَ طَالِبِيْ رِزْقِكَ وَنَسْتَعْطِفَ شِرَارَ خَلْقِكَ وَنَشْتَغِلَ بِحَمْدِ مَنْ أَعْطَانَا وَنُبْتَلَى بِذَمِّ مَنْ مَنَعَنَا وَأَنْتَ مِنْ وَرَاءِ ذٰلِكَ كُلِّهِ أَهْلُ الْعَطَاءِ وَالْمَنْعِ
Latin: Allâhumma shun wujûhanâ bil yasâr, walâ tûhinnâ bil iqtâr, fanastarziqa thâlibî rizqika wa nasta'thifa syirâra khalqika wa nasytaghila bihamdi man a'thânâ wa nubtalâ bi dzammi man mana'anâ wa anta min warâ-i dzâlika kullihî ahlul 'athâ-i wal man'i.
Artinya: "Ya Allah, jagalah wajah kami dengan kekayaan, dan jangan lemahkan kami dengan kemiskinan sehingga kami harus mencari rezeki dari para pencari rezeki-Mu, dan minta dikasihani oleh manusia ciptaan-Mu yang berperangai buruk, dan sibuk memuji orang yang memberi kami dan tergoda untuk mengecam yang tidak mau memberi kami. Padahal, Engkau di balik semua itu adalah yang berwenang untuk memberi atau tidak memberi."
Bagian kedua (dibaca tiga kali)
اَللّٰهُمَّ كَمَا صُنْتَ وُجُوْهَنَا عَنِ السُّجُوْدِ إِلَّا لَكَ فَصُنَّا عَنِ الْحَاجَةِ إِلَّا إِلَيْكَ بِجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ وَفَضْلِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Latin: Allâhumma kamâ shunta wujûhanâ 'anis sujûdi illâ laka fa shunnâ 'anil hâjati illâ ilaika bijûdika wa karamika wa fadhlika, yâ arhamar râhimîn. (dibaca 3 kali)
Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau menjaga wajah kami dari sujud kepada selain-Mu, jagalah pula kami dari keperluan selain kepada-Mu, dengan kedermawanan-Mu, kemurahan-Mu, dan karunia-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang."
Bagian ketiga
اَللّٰهُمَّ أَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Allâhumma aghninâ bi fadhlika 'amman siwâka, wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya: "Ya Allah, cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga tidak merasa butuh kepada siapa pun selain-Mu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada Baginda Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya."
Dari Mana Doa Ini Berasal? Ini Terus Terangnya
Pertanyaan yang jarang ditanyakan pembaca, padahal paling penting: apakah Rasulullah mengajarkan doa khusus untuk dibaca seusai surat Al-Waqiah?
Jawaban jujurnya: kami tidak menemukan lafal doa khusus setelah surat Al-Waqiah yang bersumber dari sabda Nabi di laman-laman NU yang kami buka. Yang ada justru keterangan yang berbeda, dan NU sendiri menuliskannya secara terbuka. Di penghujung halaman doa tersebut, NU Online Jabar mencantumkan satu kalimat yang menentukan segalanya: teks doa di atas dinukil dari kitab Abwabul Faraj karya Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Artinya lafal ini adalah susunan ulama, bukan riwayat dari Nabi. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki sendiri adalah ulama Makkah kontemporer yang wafat pada 2004, jadi rangkaian doa ini jelas jauh lebih muda daripada masa kenabian.
Perlu ditegaskan supaya tidak salah tangkap: status sebagai susunan ulama itu bukan aib, dan tidak membuatnya terlarang. Berdoa dengan kalimat yang disusun manusia adalah hal yang lumrah dalam Islam. Anda berdoa dengan bahasa Indonesia sendiri seusai shalat pun sah dan berpahala, selama isinya tidak melanggar syariat. Doa susunan ulama justru punya keunggulan praktis: susunannya rapi, adabnya terjaga, dan maknanya sudah ditimbang oleh orang yang paham.
Yang bermasalah bukan mengamalkannya, melainkan salah melabelinya. Ketika sebuah doa susunan ulama disebarkan dengan bungkus "doa yang diajarkan Rasulullah", di situ terjadi penisbatan yang tidak berdasar kepada Nabi, dan itu perkara serius. Karena itu kami menuliskannya apa adanya di sini, meskipun terus terang semacam ini kurang menjual dibandingkan judul yang menjanjikan.
Kalau Anda sekadar ingin berdoa seusai membaca Al-Quran tanpa terikat lafal tertentu, itu pun sudah cukup. Tidak ada kewajiban membaca rangkaian di atas. Anda boleh memohon dengan bahasa sendiri, atau memakai doa Qur'ani yang ringkas dan memang paling sering dibaca Rasulullah seperti doa sapu jagat.
Keutamaan Surat Al-Waqiah dan Status Haditsnya
Inilah bagian yang paling sering dipelintir, jadi mari kita periksa pelan-pelan.
Surat Al-Waqiah adalah surat ke-56 dalam Al-Quran, terdiri atas 96 ayat, dan termasuk golongan Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah. Namanya diambil dari kata pembuka pada ayat pertamanya:
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ
Latin: Idzâ waqa'atil-wâqi'ah.
Artinya: "Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi),"
Perhatikan isinya. Profesor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Jilid XIV halaman 541, sebagaimana dikutip NU Online, menjelaskan bahwa tema utama surat Al-Waqiah adalah uraian tentang hari kiamat, apa yang akan terjadi di bumi, kenikmatan yang diperoleh orang-orang bertakwa, serta apa yang dialami para pendurhaka. Mengutip Al-Biqa'i, ia juga menerangkan bahwa surat ini memerinci tiga golongan manusia kelak. Jadi tema pokok surat ini adalah akhirat, bukan kas dagangan.
Hadits masyhur itu dan status sebenarnya
Keutamaan yang membuat surat ini terkenal bersandar pada riwayat berikut, yang dimuat NU Online lengkap dengan penilaian sanadnya:
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله يقول: من قرأ سورة الواقعة في كل ليلة ؛ لم تصبه فاقة». رواه البيهقي وإسناده ضعيف، لكنه يعمل به في الفضائل.
"Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran.'" (HR Baihaqi dan sanadnya dhaif, namun diamalkan untuk fadhilah amal)
Bacalah kembali kurungan di ujungnya, karena di situlah letak kejujuran yang sering dibuang orang saat mengutip: sanadnya dhaif. Penilaian itu bukan tuduhan kami, melainkan tertulis di dalam teks Arab yang dimuat NU Online sendiri, dan kalimat yang sama muncul di dua laman NU yang berbeda, yaitu islam.nu.or.id dan NU Online Jabar.
NU Online menerangkan konsekuensinya dengan gamblang: riwayat ini memiliki tingkat kelemahan, sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum yang kuat. Meskipun demikian, masih diperbolehkan mengamalkannya demi mendapatkan manfaatnya, sebab riwayat yang lemah bukan berarti haditsnya palsu.
Dua kalimat itu perlu dipegang utuh, jangan dipilih sebelah. Yang memilih separuh pertama saja akan terlalu keras menyalahkan orang yang mengamalkannya. Yang memilih separuh kedua saja akan mengutip hadits ini seolah sahih dan menjanjikan hal yang tidak dijamin. Sikap NU ada di tengah, dan itu posisi yang jernih: silakan amalkan sebagai fadhilah, jangan jadikan dasar hukum, dan jangan jual sebagai jaminan.
Keterangan senada dinukil NU Online dari Sayyid Alawi Al-Maliki dalam kitab Madza fi Sya'ban halaman 34, bahwa di antara keutamaan surat Al-Waqiah adalah membantu menghindarkan dari kefakiran dan kemiskinan. Sementara itu dalam Fadhailul Qur'an li Ibni ad-Dharis halaman 103 terdapat riwayat lain yang lebih menyentuh: Utsman bin Affan menjenguk Abdullah bin Mas'ud yang sedang sakit dan menawarkan agar ia berwasiat, sebab jika ia wafat dan meninggalkan anak-anak perempuan, mereka akan dipelihara sepeninggalnya. Ibnu Mas'ud menjawab bahwa ia telah mengajari anak-anak perempuannya surat Al-Waqiah, seraya menyebut sabda Nabi tentang orang yang membacanya setiap malam akan terhindar dari kemiskinan.
Waktu Mengamalkan Surat Al-Waqiah dan Doanya
Di sini kami harus berhati-hati, sebab ini bagian yang paling banyak diisi karangan oleh berbagai situs.
Satu-satunya patokan waktu yang benar-benar tertulis dalam riwayat di atas adalah setiap malam (fi kulli lailatin). Itu saja. Adapun anjuran yang beredar luas bahwa surat Al-Waqiah harus dibaca ba'da Ashar, atau harus ba'da Maghrib, atau pada jam tertentu, tidak kami temukan patokannya pada sumber NU yang kami rujuk. Kami memilih tidak mengarang ketentuan yang tidak ada, meskipun bagian ini jadi terlihat lebih sepi daripada artikel sebelah yang berani memastikan jamnya.
Yang bisa dipegang adalah kaidah umum tentang waktu membaca Al-Quran. Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an, sebagaimana dikutip NU Online, menegaskan bahwa membaca Al-Quran itu dianjurkan secara mutlak, kapan dan di mana saja, kecuali pada beberapa kondisi tertentu yang dilarang syara':
اعلم أن قراءة القرآن محبوبة على الإطلاق إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها
"Ketahuilah, aktivitas membaca Al-Qur'an dianjurkan secara mutlak (kapan dan di mana saja) kecuali pada beberapa kondisi tertentu yang diterangkan larangannya oleh syara'." (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an, halaman 93)
Imam An-Nawawi kemudian memerinci waktu dan keadaan yang sebaiknya dihindari karena makruh, di antaranya: saat rukuk, saat sujud, saat tasyahud, saat rukun shalat selain berdiri, membaca selain Al-Fatihah ketika makmum sedang mendengarkan imam pada shalat jahar (Maghrib, Isya, Subuh), saat berada di toilet, saat mengantuk, saat tidak cakap membacanya, dan saat khutbah.
Perhatikan poin saat mengantuk, karena justru itu yang paling relevan dengan amalan malam. An-Nawawi menganjurkan orang menghentikan sejenak bacaannya ketika kantuk datang. Ini nasihat yang membumi: membaca Al-Waqiah sambil terkantuk-kantuk demi mengejar setoran harian bukanlah bentuk kesungguhan, dan justru berlawanan dengan adab yang beliau ajarkan.
Maka kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan begini. Waktu yang disebut riwayat adalah malam hari, tanpa penentuan jam. Selebihnya silakan pilih waktu yang membuat Anda bisa membaca dengan sadar dan tenang, sebab tidak ada dalil yang mengunci Anda pada satu jam tertentu. Kalau Anda ingin merangkai amalan harian yang waktunya memang berpatokan jelas, panduan dzikir pagi petang bisa jadi pelengkap yang baik.
Adab Membaca Al-Quran Sebelum Sampai ke Doanya
Sering terjadi orang sibuk mengejar doa penutupnya, padahal yang bernilai justru bacaan Al-Qurannya sendiri. Ada beberapa adab yang layak diperhatikan.
Mulai dengan ta'awudz dan basmalah. NU Online menerangkan bahwa dalam mengawali bacaan Al-Quran, seorang qari dianjurkan memulai dengan isti'adzah (ta'awudz) dan basmalah, sebab keduanya berhubungan sangat erat, ibarat dua sisi mata uang. Ibnu Jarir Ath-Thabari, sebagaimana dikutip Al-Allusy, menyebut bahwa ayat pertama yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad pun disertai isti'adzah dan basmalah. Ta'awudz adalah permohonan agar dihindarkan dari godaan setan, sedangkan basmalah adalah pujian dan pengagungan kepada Dzat Yang Maha Kasih dan Penyayang. Selain sebagai anjuran memulai bacaan, keduanya adalah adab dalam berinteraksi dengan kalam ilahi.
Baca dengan tartil, jangan dikebut. Inilah adab yang paling sering dikorbankan oleh orang yang mengamalkan Al-Waqiah sebagai rutinitas pengejar rezeki. NU Online mengutip perkataan Ibnu Abbas, "Satu surat yang aku baca dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca seluruh Al-Quran tanpa tartil." Anas bin Malik bahkan mengatakan, "Banyak sekali orang yang membaca Al-Quran, namun Al-Quran sendiri melaknatnya." Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca asal-asalan tanpa adab.
Sadari nilai tiap hurufnya. Dalam hadits riwayat Abdullah bin Mas'ud disebutkan bahwa siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh semisalnya. Nabi menegaskan bahwa alif lâm mîm bukan satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf (HR At-Tirmidzi). NU Online juga menyebut riwayat bahwa membaca Al-Quran termasuk ibadah paling utama, dan bahwa Al-Quran akan datang memberi syafaat pada hari Kiamat bagi pembacanya (HR Ahmad).
Meluruskan Salah Paham: Ibadah, Bukan Pelaris
Bagian ini perlu ditulis paling tegas, sebab di sinilah surat Al-Waqiah paling sering diselewengkan.
Al-Waqiah kerap dipasarkan sebagai penglaris dagangan, ditulis lalu ditempel di kasir, dijadikan wafak atau jimat, dijual sebagai "amalan pembuka rezeki" bermahar sekian rupiah, atau disertai janji bahwa membacanya sekian kali dalam sekian malam pasti mendatangkan uang pada tanggal tertentu. Semua praktik itu tidak berdasar, dan sebagiannya sudah menyentuh persoalan akidah, bukan sekadar perbedaan fikih yang bisa ditawar.
Alasannya bisa Anda periksa sendiri dari dua arah. Pertama, dari isi suratnya. Al-Waqiah bicara tentang hari kiamat, surga, neraka, dan tiga golongan manusia. Ia tidak berisi satu pun perintah kepada benda, alam, atau makhluk. Menjadikannya mantra berarti membalik total arah bicaranya, dari pengingat akhirat menjadi alat pengejar dunia.
Kedua, dari isi doanya sendiri. Ini yang paling ironis. Doa setelah membaca surat Al-Waqiah justru memohon agar kita tidak sampai mengiba kepada makhluk, tidak sibuk memuji orang karena diberi, dan tidak tergoda mengecam orang karena tidak diberi. Puncaknya ada di bagian ketiga: Allâhumma aghninâ bi fadhlika 'amman siwâka, ya Allah cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga tidak merasa butuh kepada siapa pun selain-Mu. Orang yang menjadikan doa ini jimat pelaris sedang melakukan persis kebalikan dari apa yang ia ucapkan sendiri: ia menggantungkan hati pada rangkaian bunyi dan selembar kertas, padahal kalimat yang ia baca meminta agar hatinya tidak bergantung kepada selain Allah.
Lalu bagaimana cara Islam memandang rezeki? NU Online dalam khutbah bertajuk Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal menjelaskan urutannya dengan rapi, berangkat dari Surat Ar-Ra'd ayat 11 bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri. Dari ayat itu ditarik kesimpulan bahwa siapa yang menginginkan perubahan nasib, rezeki, ilmu, atau kesehatan, ia harus melakukan usaha yang aktif dan nyata, dan inilah yang disebut ikhtiar atau usaha lahiriah.
NU Online menegaskan dengan kalimat yang tidak bisa ditawar: berikhtiar adalah wajib. Siapa yang berikhtiar, ikhtiarnya dicatat sebagai ibadah. Bila ikhtiarnya berhasil, ia memperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu pahala dan manfaat dari usahanya. Bila belum berhasil, ia tetap memperoleh pahala, dan bila ia bersabar, pahalanya berlipat.
Doa ditempatkan sebagai usaha batiniah yang melengkapi ikhtiar lahiriah, bukan menggantikannya. Fungsinya, menurut keterangan yang sama, mendekatkan kita kepada Allah sekaligus menjaga kita dari kesombongan mengklaim keberhasilan sebagai hasil jerih payah sendiri tanpa campur tangan Allah. Barulah setelah ikhtiar dan doa, datang tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah membulatkan tekad, sebagaimana Surat Ali Imran ayat 159.
Perhatikan urutannya baik-baik, sebab ia berlawanan dengan cara banyak orang memperlakukan Al-Waqiah. Membaca surat dan doanya adalah bagian dari usaha batiniah. Ia tidak menggantikan memperbaiki kualitas dagangan, menagih piutang, menambah keterampilan, melamar pekerjaan, atau merapikan pengeluaran. Orang yang membaca Al-Waqiah setiap malam sambil tetap berdagang dengan curang sedang meminta buah dari pohon yang tidak pernah ia tanam. Prinsip yang sama berlaku pada ayat lain yang juga sering dilabeli pembuka rezeki, sebagaimana kami uraikan dalam pembahasan doa seribu dinar, dan berlaku pula pada doa apa pun yang dianggap penjamin keselamatan seperti doa selamat.
Bila Anda punya persoalan pribadi seputar pengamalan ini, misalnya pernah terlanjur menebus "amalan Al-Waqiah" bermahar tertentu, atau ragu apakah rutinitas Anda selama ini sudah pada tempatnya, silakan berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda secara utuh.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - Kumpulan Doa Doa Baca Al-Quran (bagian Doa Usai Baca Surat al-Waqi'ah, Arab-Latin-Terjemah)
- NU Online Jabar - Doa Setelah Membaca Surat Al Waqi'ah Lengkap Disertai Artinya (atribusi kitab Abwabul Faraj karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki)
- NU Online - Keutamaan Membaca Surat Al-Waqi'ah: Selamat dari Kefakiran (status sanad dhaif, Madza fi Sya'ban, Fadhailul Qur'an li Ibni ad-Dharis, Tafsir Al-Misbah)
- NU Online Jabar - Inilah Keutamaan Membaca Surat Al-Waqi'ah (cross-check status sanad dhaif)
- NU Online - Waktu-waktu yang Tidak Baik untuk Membaca Al-Qur'an (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an)
- NU Online - Keutamaan Membaca Al-Qur'an dalam Hadits Rasulullah (tartil, Ibnu Abbas, satu huruf sepuluh kebaikan)
- NU Online - Empat Metode Membaca Ta'awudz-Basmalah yang Disusul Ayat (adab mengawali bacaan Al-Quran)
- NU Online - Khutbah Jumat: Trilogi Usaha, Doa, dan Tawakal (ikhtiar wajib, doa sebagai usaha batiniah, tawakal)
- Quran NU Online - Surat Al-Waqiah (teks ayat via backend konten.nu.or.id/api/surah/56)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


