NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupArtikelUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Perjalanan Jauh: Bacaan Safar Lengkap, Adab, dan Rukhsahnya

Doa perjalanan jauh atau doa safar adalah rangkaian doa yang diajarkan Rasulullah ketika bepergian, inti bacaannya dimulai dengan "Allahumma inna nas'aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa". Doa ini memohon kebaikan, ketakwaan, kemudahan jalan, serta perlindungan bagi musafir dan keluarga yang ditinggalkan, dan biasa dibaca setelah doa keluar rumah serta doa naik kendaraan.

Doa Perjalanan Jauh: Bacaan Safar Lengkap, Adab, dan Rukhsahnya

Doa perjalanan jauh atau doa safar adalah rangkaian doa yang dituntunkan Rasulullah ketika hendak dan sedang bepergian. Inti bacaannya dimulai dengan lafal Allahumma inna nas'aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa, yaitu permohonan kebaikan, ketakwaan, kemudahan jalan, dan perlindungan bagi diri musafir maupun keluarga yang ditinggalkan. Doa ini bukan doa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari serangkaian bacaan yang lazim diamalkan seorang muslim mulai dari keluar rumah, naik kendaraan, hingga tiba kembali di tempat tujuan. Artikel ini menghimpun bacaan doa safar yang lengkap beserta arti, adab bepergian, dan keringanan syariat (rukhsah) bagi musafir, sebagaimana dihimpun oleh NU Online, Muhammadiyah, dan BAZNAS.

Bacaan Doa Perjalanan Jauh (Doa Safar)

Doa safar yang paling masyhur bersumber dari hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar. Rasulullah membacanya ketika sudah menaiki kendaraan dan hendak memulai perjalanan. Berikut lafal lengkapnya sebagaimana dimuat Quran NU Online:

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Latin: Allahumma inna nas'aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa, wa minal 'amali ma tardha. Allahumma hawwin 'alaina safarana hadza, wathwi 'anna bu'dahu. Allahumma antash shahibu fis safari, wal khalifatu fil ahli. Allahumma inni a'udzu bika min wa'tsais safari, wa ka'abatil manzhari, wa su'il munqalabi fil mali wal ahli.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan kami ini, serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah yang menyertai dalam perjalanan dan yang menjaga keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga."

Kalau diperhatikan, doa ini merangkum hampir semua kekhawatiran seseorang yang hendak bepergian jauh. Ada permohonan agar perjalanan diisi kebaikan dan ketakwaan, bukan sekadar sampai tujuan dengan selamat. Ada permohonan agar jarak yang jauh terasa dekat dan ringan. Ada penegasan tawakal bahwa Allah-lah yang menemani di jalan sekaligus menjaga keluarga yang ditinggal di rumah. Dan ada permintaan perlindungan dari tiga hal yang paling ditakuti musafir: beratnya perjalanan, pemandangan atau kabar yang menyedihkan, serta kepulangan yang membawa keburukan pada harta dan keluarga.

Pro Tip: Doa safar cukup panjang, jadi tidak perlu dipaksakan hafal sekaligus. Pecah menjadi tiga bagian: permohonan kebaikan (sampai ma tardha), permohonan kemudahan jalan (sampai fil ahli yang pertama), dan permohonan perlindungan (mulai a'udzu bika). Simpan juga catatan bacaannya di ponsel supaya bisa dibuka saat sudah duduk di kendaraan, sehingga Anda membaca dengan tenang, bukan tergesa-gesa.

Rangkaian Doa Sebelum Berangkat

Sebelum sampai pada doa safar, ada dua doa yang lebih dulu dibaca dalam urutan keberangkatan. Ngajia sudah memuat keduanya secara lengkap, sehingga di sini cukup diringkas beserta tautannya:

  • Doa keluar rumah. Ketika melangkah keluar dari pintu, dianjurkan membaca Bismillahi tawakkaltu 'alallahi wa la haula wa la quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Bacaan dan penjelasan lengkapnya ada di halaman doa keluar rumah.
  • Doa naik kendaraan. Setelah duduk di atas kendaraan, dianjurkan membaca Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun. Lafal ini diambil dari Al-Qur'an Surat Az-Zukhruf ayat 13 dan menjadi ungkapan syukur bahwa Allah-lah yang menundukkan kendaraan bagi manusia. Selengkapnya dapat dibaca di halaman doa naik kendaraan.

Urutan yang lazim diamalkan adalah: membaca doa keluar rumah saat meninggalkan pintu, lalu doa naik kendaraan begitu duduk di dalam mobil, motor, kereta, kapal, atau pesawat, kemudian dilanjutkan dengan doa safar yang panjang di atas ketika perjalanan benar-benar dimulai. Ketiganya menjadi satu kesatuan ibadah kecil yang mengantar seorang muslim dari rumah menuju jalan.

Dalam tuntunan yang lebih lengkap, sebagian ulama menambahkan doa untuk mengantar orang yang bepergian. Ketika melepas kepergian anggota keluarga atau sahabat, kita dapat mendoakannya dengan bacaan berikut yang juga dihimpun Quran NU Online:

اَللّٰهُمَّ ازْوِ لَهُ الْأَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْهِ السَّفَرَ

Latin: Allahumma izwi lahul ardla wa hawwin 'alaihis safar.

Artinya: "Ya Allah, lapangkanlah bumi untuknya dan mudahkanlah perjalanannya."

Doa mengantar ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kepergian seseorang bukan urusan pribadi semata. Orang yang ditinggal pun punya peran, yaitu mendoakan agar yang bepergian dimudahkan dan dijaga. Begitu pula sebaliknya, orang yang hendak berangkat dianjurkan berpamitan dan menitipkan keluarganya kepada Allah sebelum meninggalkan rumah.

Doa Selama di Perjalanan dan Saat Singgah

Doa dalam safar tidak berhenti di awal keberangkatan. Sepanjang perjalanan, terutama pada saat-saat tertentu, ada bacaan yang dituntunkan Rasulullah dan para sahabat.

Bertakbir saat mendaki, bertasbih saat menurun

NU Online Jatim, mengutip riwayat dari Ibnu Umar (HR Abu Dawud dengan sanad sahih), menjelaskan bahwa Nabi dan pasukannya bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) ketika menaiki jalan atau tempat yang tinggi, dan bertasbih (mengucapkan subhanallah) ketika menuruni tempat yang rendah. Kebiasaan ini relevan sekali bagi pemudik masa kini yang melewati tanjakan dan turunan, sebab dzikir tersebut sekaligus menjaga hati tetap terhubung dengan Allah pada medan jalan yang menuntut kewaspadaan.

Doa saat singgah di suatu tempat

Ketika berhenti untuk beristirahat, singgah di rumah makan, masjid, penginapan, atau tempat asing yang belum dikenal, dianjurkan membaca doa memohon perlindungan: A'udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan segala yang Dia ciptakan). Doa ini diriwayatkan Imam Muslim dan biasa dibaca tiga kali. Bacaan dan penjelasannya sudah tersedia di halaman doa memohon perlindungan, sehingga tidak perlu diulang di sini.

Catatan: Doa-doa perjalanan tidak memiliki jumlah pengulangan yang kaku, kecuali yang riwayatnya menyebut angka tertentu (seperti doa perlindungan tiga kali). Selebihnya, memperbanyak doa dan zikir selama perjalanan justru dianjurkan, karena perjalanan termasuk keadaan yang doanya diharapkan lebih dikabulkan. Anda bebas mengulang doa safar setiap kali hati merasa cemas atau saat memasuki tahap perjalanan yang baru.

Adab Bepergian menurut Sunnah

Doa akan lebih sempurna bila disertai adab yang benar. NU Online Jatim menghimpun sejumlah adab safar yang dicontohkan Rasulullah. Beberapa yang penting diketahui musafir masa kini antara lain:

  • Memilih waktu berangkat. Disunahkan memulai perjalanan pada hari Kamis dan pada pagi hari. Dasarnya adalah riwayat dari Ka'ab bin Malik (HR Bukhari dan Muslim), "Jarang sekali Rasulullah bepergian kecuali pada hari Kamis." Ini bukan anjuran mistis soal hari baik, melainkan meneladani kebiasaan Nabi, dan waktu pagi memang dikenal penuh keberkahan untuk memulai aktivitas.
  • Tidak bepergian sendirian. Dianjurkan mencari teman perjalanan dan tidak berangkat seorang diri jika memungkinkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa apabila tiga orang keluar untuk bersafar, hendaklah mereka menunjuk salah satunya sebagai pemimpin rombongan agar perjalanan lebih tertib.
  • Berpamitan dan menitipkan keluarga. Sebelum berangkat, seorang musafir dianjurkan berpamitan kepada keluarga dan menitipkan mereka kepada Allah. Praktik saling mendoakan antara yang pergi dan yang tinggal inilah yang tercermin dalam doa mengantar musafir di atas.
  • Menunaikan shalat sunah safar. NU Online menyebut anjuran melaksanakan shalat sunah dua rakaat sebelum bepergian. Dalam riwayat ath-Thabrani disebutkan, "Tidak ada sesuatu yang lebih utama ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya daripada dua rakaat yang ia kerjakan ketika hendak melakukan perjalanan." Keutamaannya, menurut NU Online, seorang musafir akan diselamatkan Allah dari segala bahaya yang mengancam selama perjalanan. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarhil Muhadzdzab menegaskan bahwa shalat safar ini disunahkan khusus bagi orang yang hendak bepergian.
  • Saling membantu dan menjaga etika. Adab lain meliputi membantu teman seperjalanan, serta menjaga etika saat berhenti, bermalam, dan tidur di tengah perjalanan. Intinya, safar tidak menggugurkan kewajiban berakhlak baik kepada sesama.

Menurut hemat redaksi, adab-adab ini menegaskan bahwa bepergian dalam Islam bukan sekadar berpindah tempat, tetapi tetap dibingkai sebagai ibadah. Memilih waktu yang baik, berjamaah dengan orang saleh, berpamitan, dan mendahului perjalanan dengan shalat serta doa membuat perjalanan sepanjang apa pun tetap terhubung dengan Allah.

Keringanan Syariat saat Safar (Rukhsah)

Islam memandang perjalanan sebagai keadaan yang menyulitkan, sehingga Allah memberi sejumlah keringanan (rukhsah) bagi musafir. Keringanan ini menegaskan bahwa syariat bersifat memudahkan, bukan menyusahkan, selama syaratnya terpenuhi dan tidak disalahgunakan. Bagian ini hanya merangkum pokok-pokoknya, karena masing-masing sudah dibahas tuntas di tempat lain, sehingga artikel ini tetap fokus pada doa dan adab perjalanan.

  • Qashar shalat. NU Online Jabar menjelaskan bahwa qashar adalah memperpendek atau meringkas rakaat shalat wajib, dari empat rakaat menjadi dua rakaat, sebagai keringanan bagi musafir. Qashar hanya berlaku pada shalat yang berjumlah empat rakaat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya. Dalilnya adalah firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 101 tentang bolehnya mengqasar shalat ketika bepergian di bumi.
  • Jamak shalat. Jamak adalah menggabungkan dua shalat untuk dikerjakan dalam satu waktu, yaitu Zuhur dengan Asar, serta Magrib dengan Isya. Bila dikerjakan di waktu shalat yang pertama disebut jamak taqdim, dan bila di waktu shalat yang kedua disebut jamak takhir. Niat dan tata caranya dapat dipelajari di halaman niat sholat jamak taqdim Dzuhur dan Ashar. Muhammadiyah pun menegaskan bahwa syariat memberikan rukhsah shalat jamak dan qasar bagi musafir sebagai bentuk kemudahan.
  • Keringanan tidak berpuasa. BAZNAS RI menjelaskan bahwa para ulama sepakat seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan niat safar diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama perjalanan, selama ia belum menetap di tempat tujuan. Puasa yang ditinggalkan itu tetap wajib diganti (qadha) di hari lain.
  • Tayamum. Bila di tengah perjalanan seorang musafir benar-benar tidak menemukan air untuk bersuci, ia boleh bertayamum dengan debu yang suci sebagai pengganti wudu, lalu tetap menunaikan shalat pada waktunya. Keringanan ini berlaku selama halangannya nyata, bukan sekadar malas mencari air.

Muhammadiyah menempatkan keringanan ini sebagai bentuk kemudahan dari Allah. Dalam penjelasan Majelis Tarjih, Allah dan Rasul-Nya tidak ingin memberatkan umat-Nya, sehingga Islam mensyariatkan rukhsah shalat jamak dan qasar bagi musafir. Meski begitu, qashar tetap memiliki syarat yang harus dipenuhi. NU Online Jabar menyebutkan bahwa syarat sahnya qashar ada sebelas, di antaranya shalat yang diringkas memang berjumlah empat rakaat, tempat tujuan perjalanan sudah jelas sehingga tidak berlaku bagi orang yang tidak punya tujuan pasti, serta perjalanannya berhukum mubah dan bukan perjalanan untuk bermaksiat. Karena rinciannya cukup panjang, sebaiknya ditelusuri pada bahasan khusus tentang qashar dan jamak.

Penting dicatat, rukhsah ini tidak berlaku mutlak untuk semua orang. NU Online menegaskan sebuah kaidah fikih, ar-rukhashu la tunathu bil ma'ashi (keringanan syariat tidak didapatkan dengan maksiat). Musafir yang sejak awal bepergian bertujuan maksiat (disebut al-'ashi bis-safar) tidak mendapat keringanan qashar maupun jamak sampai ia bertobat. NU Online juga mengutip pandangan bahwa jarak minimal safar yang membolehkan rukhsah adalah sekitar dua marhalah, yakni kira-kira 89 kilometer menurut hitungan Syekh Wahbah az-Zuhaili. Karena rincian syarat qashar dan jamak cukup panjang, silakan pelajari bahasan khususnya, dan artikel ini sengaja tidak memperluasnya.

Doa Ikhtiar Batin, Bukan Ganti Ikhtiar Lahir

Ada satu hal yang perlu diluruskan agar pemahaman kita seimbang. Doa perjalanan jauh adalah ikhtiar batin, dan ikhtiar batin tidak menggantikan ikhtiar lahir. Membaca doa safar dengan khusyuk tetap harus berjalan bersama persiapan yang nyata: memastikan kendaraan laik jalan, tidak mengemudi dalam keadaan mengantuk, tidak ugal-ugalan di jalan, mematuhi rambu lalu lintas, dan beristirahat cukup ketika lelah. Rasulullah sendiri menuntunkan doa sekaligus mencontohkan adab dan persiapan, bukan salah satunya saja.

Karena itu, tidak tepat memahami doa sebagai jaminan otomatis bahwa perjalanan pasti selamat tanpa syarat apa pun. Doa adalah bentuk tawakal, dan tawakal dalam Islam selalu didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Orang yang berdoa lalu tetap ceroboh di jalan sesungguhnya belum benar-benar bertawakal, ia baru berharap tanpa berusaha. Sebaliknya, orang yang menyiapkan segalanya dengan matang lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah lewat doa, itulah gambaran musafir yang seimbang. Dengan begitu, doa perjalanan jauh berfungsi menenangkan hati sekaligus mengingatkan bahwa keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan semata-mata pada kecanggihan kendaraan atau mulusnya jalan yang dilalui.

Agar amalan perjalanan Anda makin lengkap, pastikan shalat tetap tertunaikan tepat waktu dengan memantau jadwal sholat di kota tujuan, sekaligus memanfaatkannya untuk menghitung waktu jamak. Bila Anda menghadapi persoalan fikih pribadi seputar safar, misalnya perhitungan jarak, status perjalanan bisnis yang berulang, atau keraguan boleh tidaknya mengqasar dalam kondisi tertentu, sebaiknya ditanyakan langsung kepada ahlinya melalui halaman Tanya Ustadz atau ustadz setempat, agar jawabannya sesuai dengan situasi Anda.

Ringkasan: Doa perjalanan jauh (doa safar) inti bacaannya adalah Allahumma inna nas'aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa, dibaca setelah doa keluar rumah dan doa naik kendaraan. Sempurnakan dengan adab (berangkat hari Kamis dan pagi, tidak sendirian, berpamitan, shalat sunah safar) serta manfaatkan rukhsah (qashar, jamak, tidak puasa, tayamum) sesuai ketentuannya. Doa adalah ikhtiar batin yang tetap harus disertai ikhtiar lahir, bukan jaminan selamat tanpa usaha.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa perjalanan jauh

TApa bacaan doa perjalanan jauh yang diajarkan Rasulullah?

Inti doa safar adalah "Allahumma inna nas'aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa, wa minal 'amali ma tardha..." yang berarti permohonan kebaikan, ketakwaan, kemudahan jalan, serta perlindungan bagi musafir dan keluarga yang ditinggalkan. Lafalnya bersumber dari hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar.

TKapan doa safar dibaca?

Doa safar biasa dibaca ketika perjalanan mulai ditempuh, yaitu setelah doa keluar rumah dan doa naik kendaraan. Doa ini boleh diulang kapan saja selama perjalanan, terutama saat hati merasa cemas atau memasuki tahap perjalanan yang baru.

TApa doa yang dibaca saat naik kendaraan?

Doa naik kendaraan adalah "Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun", diambil dari Al-Qur'an Surat Az-Zukhruf ayat 13. Bacaan dan penjelasan lengkapnya tersedia di halaman doa naik kendaraan.

TApakah musafir boleh menjamak dan mengqashar shalat?

Boleh, karena keduanya termasuk rukhsah bagi musafir. Qashar meringkas shalat empat rakaat (Zuhur, Asar, Isya) menjadi dua rakaat, sedangkan jamak menggabungkan dua shalat dalam satu waktu. Namun rukhsah ini tidak berlaku bagi orang yang bepergian dengan tujuan maksiat sampai ia bertobat.

TBolehkah tidak berpuasa saat perjalanan jauh?

Menurut BAZNAS RI, para ulama sepakat musafir yang bepergian jauh dengan niat safar boleh tidak berpuasa selama perjalanan, selama ia belum menetap di tempat tujuan. Puasa yang ditinggalkan itu tetap wajib diganti (qadha) pada hari lain di luar Ramadhan.

TKapan waktu yang dianjurkan untuk memulai perjalanan?

Disunahkan memulai perjalanan pada hari Kamis dan pada pagi hari, meneladani kebiasaan Rasulullah. Dalam riwayat Ka'ab bin Malik (HR Bukhari dan Muslim) disebutkan, jarang sekali Rasulullah bepergian kecuali pada hari Kamis. Ini bukan soal hari baik yang mistis, melainkan mencontoh sunnah.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa