
Foto sampul: lorong permukiman di Kuala Tungkal, Jambi, dihias bendera warna-warni, lampion, dan lampu hias oleh warga untuk menyambut Ramadhan 1447 H. Foto oleh Thecrazywolf33, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons (dipotong dan diperkecil).
Doa menyambut Ramadhan yang diajarkan Rasulullah berbunyi Allahumma sallimni li Ramadhana, wa sallim Ramadhana li, wa sallimhu minni, sebuah permohonan agar Allah menyelamatkan kita hingga bertemu Ramadhan, menyelamatkan Ramadhan untuk kita, dan menjaga kita selama menjalaninya. Menyambut bulan suci ini memang tidak berhenti pada satu lafal doa. Ada rangkaian amalan yang dituntunkan, ada keutamaan yang menjadi alasan kenapa Ramadhan pantas dinanti, dan ada adab batin yang menjadikan sambutan itu bermakna. Artikel ini merangkum semuanya, doa beserta amalan dan adabnya, sebagaimana dihimpun NU Online dan sumber otoritatif lain, supaya Anda menyambut Ramadhan dengan siap lahir sekaligus batin.
Lafal Doa Menyambut Ramadhan dan Artinya
Salah satu doa menyambut Ramadhan yang paling kuat sandarannya adalah doa yang dibaca Rasulullah saat awal Ramadhan tiba. Berikut lafalnya:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ
Latin: Allahumma sallimni li Ramadhana, wa sallim Ramadhana li, wa sallimhu minni.
Artinya: "Ya Allah, selamatkanlah aku (dari penyakit dan uzur lain) demi (menjalani ibadah) bulan Ramadhan, selamatkanlah Ramadhan untukku, dan selamatkanlah aku (dari maksiat) di bulan Ramadhan."
Doa ini dikutip al-Hafizh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Ithafu Ahlil Islam bi Khususiyatis Shiyam halaman 108, sebagaimana dimuat NU Online. Isinya sederhana tetapi mengena. Kita meminta tiga hal sekaligus, yaitu agar disampaikan dengan selamat sampai bertemu Ramadhan, agar Ramadhan itu sendiri selamat untuk kita jalani, dan agar amal kita di dalamnya diterima. Ada kesadaran halus di balik permintaan ini, bahwa bertemu Ramadhan bukan sesuatu yang otomatis, melainkan karunia yang perlu dimohon.
NU Online juga menghimpun doa serupa dari riwayat Imam ath-Thabarani dalam Kitab al-Du'a, yang bersumber dari sahabat Ubadah bin ash-Shamit. Beliau menuturkan bahwa Rasulullah mengajari para sahabat sebuah bacaan untuk dilafalkan ketika Ramadhan datang, dengan redaksi yang mirip. Jadi bila Anda menemukan lafal yang sedikit berbeda dari yang di atas, tidak perlu bingung. Perbedaan redaksi semacam itu wajar dalam periwayatan, selama makna intinya sama, yaitu memohon keselamatan dan penerimaan amal di bulan Ramadhan.
Ada pelajaran halus dari susunan doa ini. Ia tidak meminta hal-hal duniawi, melainkan memohon keselamatan dalam beribadah dan diterimanya amal. Seolah kita diajari bahwa yang paling berharga dari Ramadhan bukan sekadar bisa menjalaninya, melainkan menjalaninya dengan selamat dari hal-hal yang merusak, lalu pulang membawa amal yang diterima. Membacanya sejak jauh hari menumbuhkan kerinduan, sekaligus mengingatkan bahwa umur sampai bertemu Ramadhan berikutnya bukan sesuatu yang bisa kita pastikan sendiri, melainkan pemberian yang layak dimohon dengan rendah hati.
Ringkasan Doa Seputar Menyambut Ramadhan
| Doa | Lafal latin | Arti | Kapan dibaca | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| Doa awal Ramadhan | Allahumma sallimni li Ramadhana, wa sallim Ramadhana li, wa sallimhu minni | Ya Allah, selamatkanlah aku demi Ramadhan, selamatkanlah Ramadhan untukku, dan selamatkanlah aku (dari maksiat) di bulan Ramadhan. | Saat Ramadhan tiba atau awal bulan Ramadhan ditetapkan | Ibnu Hajar al-Haitami, Ithafu Ahlil Islam hlm. 108; redaksi serupa dalam Kitab ad-Du'a ath-Thabarani dari Ubadah bin ash-Shamit (dihimpun NU Online) |
| Doa Rajab dan Sya'ban | Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhana | Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. | Sejak bulan Rajab sampai akhir Sya'ban | Riwayat Anas bin Malik, dikutip an-Nawawi dalam Al-Adzkar; status sanadnya diperselisihkan ulama (lihat doa bulan Rajab) |
| Doa melihat hilal | Allahumma ahlilhu 'alaina bil yumni wal iman, was salamati wal islam, rabbi wa rabbukallah | Ya Allah, terbitkanlah hilal ini atas kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. | Ketika melihat hilal awal bulan, termasuk hilal Ramadhan | HR at-Tirmidzi no. 3451 dari Thalhah bin Ubaidillah; at-Tirmidzi menilainya hasan gharib |
Tabel di atas membantu membedakan waktu baca ketiga doa tersebut. Doa Rajab dibaca jauh hari sebagai permohonan agar umur sampai ke Ramadhan, doa melihat hilal dibaca pada malam ketika bulan sabit pertama tampak, sedangkan doa awal Ramadhan dibaca ketika bulan puasa sudah benar-benar tiba. Tidak ada keharusan membaca ketiganya sekaligus, dan tidak ada jumlah bacaan tertentu yang ditetapkan.
Kenapa Ramadhan Layak Disambut
Menyambut sesuatu dengan penuh persiapan biasanya lahir dari pemahaman betapa berharganya yang dinanti. Karena itu, sebelum bicara amalan, ada baiknya kita ingat kembali kenapa Ramadhan begitu istimewa. NU Online menghimpun sejumlah keutamaannya yang bersandar pada dalil, bukan sekadar tradisi.
Pertama, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an (syahrul Qur'an). Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, karena pada bulan inilah Al-Qur'an pertama kali diturunkan. Sepatutnya interaksi kita dengan Al-Qur'an menjadi jauh lebih intens sepanjang bulan ini. Pembahasan malam istimewa itu kami rinci di artikel doa malam Lailatul Qadar.
Kedua, Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya bahwa Ramadhan telah datang sebagai bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Dalam riwayat lain yang dicatat NU Online, Rasulullah bersabda bahwa barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, Ramadhan adalah bulan berlipatnya pahala. Hadits yang sama menyebut bahwa siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, ia mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. Keutamaan-keutamaan seperti inilah yang membuat para ulama salaf menyambut Ramadhan bukan dengan cemas, melainkan dengan gembira dan penuh harap.
Menyadari deretan keutamaan ini mengubah cara kita memandang persiapan. Ramadhan bukan beban tahunan yang datang untuk menyulitkan, melainkan kesempatan yang dibuka lebar dan belum tentu terulang. Orang yang paham nilai seorang tamu agung akan menata rumahnya jauh sebelum tamu itu tiba. Begitu pula seorang muslim yang memahami keutamaan Ramadhan, ia tidak menunggu malam pertama tarawih untuk baru bersiap, tetapi sudah menata hati, ilmu, dan agendanya sejak beberapa pekan sebelumnya.
Amalan Menyambut Ramadhan
Setelah memahami keutamaannya, wajar bila muncul pertanyaan, apa yang sebaiknya dikerjakan untuk menyambut Ramadhan? NU Online menghimpun beberapa amalan yang bisa dijadikan pegangan, dan menariknya, sebagian besar bukan ibadah baru, melainkan menguatkan amal yang sudah ada.
- Memperbanyak doa. Selain lafal doa awal Ramadhan di atas, dianjurkan memperbanyak permohonan agar disampaikan ke Ramadhan dalam keadaan sehat dan diberi kekuatan menjalankannya. Doa adalah inti amalan menyambut, karena ia mengakui bahwa segala persiapan lahir tetap bergantung pada pertolongan Allah.
- Menghangatkan ibadah di bulan Sya'ban. Ramadhan tidak datang tiba-tiba. Bulan Sya'ban sebelumnya adalah masa pemanasan, saat banyak orang mulai memperbanyak puasa sunnah dan amal saleh sebagai latihan. Anda bisa mempelajari salah satu momennya di niat puasa Nisfu Sya'ban.
- Membekali diri dengan ilmu. NU Online menyebut salah satu persiapan penting adalah membaca kitab, buku, dan artikel tentang Ramadhan sebagai bekal keilmuan sebelum masuk bulan puasa, misalnya kajian rahasia puasa dalam Ihya Ulumiddin dan Lathaiful Ma'arif. Puasa yang dijalani dengan ilmu jelas berbeda dari puasa yang sekadar menahan lapar tanpa tahu adab dan hukumnya.
- Meneguhkan niat. Sebelum Ramadhan tiba, teguhkan niat untuk mengisinya dengan maksimal. Persiapkan pula pemahaman tentang tata caranya, termasuk niat puasa Ramadhan yang dibaca setiap malam dan sunnah doa sahur yang menyertai santap sebelum imsak.
- Memperbanyak sedekah dan tadarus. Menjelang dan selama Ramadhan, memperbanyak amalan sunnah seperti bersedekah dan tadarus Al-Qur'an akan mengiringi ibadah pokok. Kebiasaan ini idealnya sudah mulai dilatih sejak sebelum Ramadhan, bukan baru dimulai pada hari pertama.
Yang menarik, hampir semua amalan di atas bisa dimulai dari sekarang tanpa menunggu pengumuman awal Ramadhan. Memperbanyak doa, menghangatkan ibadah, dan menambah ilmu adalah pekerjaan yang justru paling terasa manfaatnya bila dicicil. Anggaplah pekan-pekan menjelang Ramadhan sebagai masa pemanasan, sehingga saat malam pertama tarawih tiba, tubuh dan hati sudah terbiasa dan tidak kaget dengan ritme ibadah yang meningkat.
Tradisi Menyambut Ramadhan di Indonesia
Di Indonesia, menyambut Ramadhan sudah lama menyatu dengan tradisi masyarakat. Sebagian bernilai ibadah yang jelas tuntunannya, sebagian lagi berupa kebiasaan budaya yang baik selama tidak dianggap sebagai syariat khusus. Penting membedakan keduanya agar kita tidak berlebihan, tetapi juga tidak buru-buru menyalahkan.
Saling memaafkan. NU Online menyebut saling memaafkan sebagai salah satu amalan menyambut Ramadhan. Mengingat Ramadhan adalah bulan suci, tradisi menyucikan diri menjadi sangat sesuai untuk dilakukan menjelangnya, baik menyucikan diri secara lahir seperti membersihkan rumah, pekarangan, dan tempat ibadah, maupun menyucikan hati dengan melepaskan ganjalan terhadap sesama. Memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih dari dendam jelas lebih ringan untuk beribadah.
Tahniah atau ucapan selamat. Mengucapkan selamat datang Ramadhan kepada sesama muslim termasuk kebiasaan yang baik. NU Online mengaitkannya dengan sikap Nabi Muhammad yang memberi kabar gembira kepada para sahabat atas datangnya Ramadhan. Ucapan ini menular, menumbuhkan suasana bahagia bersama menjelang bulan puasa.
Suasana kolektif inilah salah satu kekuatan masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut Ramadhan. Pasar menjadi lebih ramai oleh persiapan, masjid mulai berbenah, dan obrolan warga bergeser ke rencana ibadah. Selama energi kebersamaan itu diarahkan pada tujuan yang benar, yaitu meningkatkan ketakwaan, tradisi menyambut bersama justru menjadi modal sosial yang mendukung ibadah, bukan sekadar keramaian musiman yang berhenti begitu Ramadhan usai.
Bersih diri, ziarah, dan kumpul keluarga. Berbagai daerah punya nama sendiri untuk tradisi ini, seperti munggahan, nyekar atau ziarah kubur, hingga padusan. Selama tidak diyakini sebagai ibadah dengan tata cara baku dari syariat, dan tidak disertai keyakinan yang menyimpang, kebiasaan-kebiasaan ini masuk ranah adat ('urf) yang bisa menjadi wasilah kebaikan, misalnya mempererat silaturahmi dan mengingat kematian sebelum masuk Ramadhan. Yang perlu dijaga adalah niatnya tetap lurus, dan tradisi tidak menggeser ibadah yang justru dituntunkan.
Bila Anda punya pertanyaan spesifik tentang boleh tidaknya sebuah tradisi di daerah Anda, terutama yang menyangkut keyakinan, sebaiknya ditanyakan kepada ustadz yang memahami konteksnya, atau lewat halaman Tanya Ustadz.
Adab dan Sikap Batin Menyambut Ramadhan
Amalan lahir akan lebih bernilai jika ditopang sikap batin yang benar. Menurut NU Online, amalan terpenting dalam menyambut Ramadhan justru amalan hati, yaitu niat menyambutnya dengan lapang dada (ikhlas) dan gembira. Kegembiraan ini bukan kegembiraan yang dibuat-buat, melainkan buah dari kesadaran akan keutamaan yang sudah kita bahas di atas.
Di sinilah kita perlu jujur pada satu hal yang sering beredar. Sebagian orang menyebarkan ungkapan bahwa "barang siapa berbahagia dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya di atas api neraka". Ungkapan ini memang dimuat Syekh Usman al-Khaubawi dalam kitab Durratun Nashihin. Namun NU Online sendiri mencatat bahwa redaksi di kitab tersebut masih diperdebatkan, dengan pertanyaan wajar, mungkinkah hanya dengan rasa senang seseorang lepas dari api neraka. Karena itu, kami tidak menyodorkannya sebagai hadits sahih. Durratun Nashihin adalah kitab nasihat yang di dalamnya diketahui memuat sejumlah riwayat lemah, sehingga kutipan darinya perlu disikapi dengan hati-hati dan tidak dijadikan dasar klaim yang pasti.
Bagaimana pandangan Muhammadiyah? Dalam tulisan yang dimuat laman resminya, Muhammadiyah juga mengajak umat menyambut Ramadhan dengan gembira, dan menekankan agar bulan ini dimanfaatkan sebagai madrasah, yaitu sarana belajar dan mendidik diri terhadap hal-hal yang selama ini lalai kita perhatikan. Nadanya sejalan dengan rumusan yang lebih umum, bahwa menyambut Ramadhan sebaiknya diisi dengan memperkuat ibadah dan ilmu, bukan sekadar seremoni. Baik NU maupun Muhammadiyah bertemu pada satu titik, bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan mesti berujung pada kesungguhan beribadah, bukan berhenti pada suasana meriah semata.
Menariknya, sikap gembira ini punya efek berantai. Orang tua yang menyambut Ramadhan dengan wajah cerah akan menularkan semangat itu kepada anak-anaknya, sehingga puasa tidak diperkenalkan sebagai hukuman, melainkan sebagai sesuatu yang dinanti. Guru yang antusias akan membuat muridnya penasaran dengan keutamaan bulan ini. Karena itu, menjaga suasana hati saat menyambut Ramadhan bukan urusan pribadi semata, melainkan bagian dari mendidik lingkungan terdekat kita.
Kesalahan Umum saat Menyambut Ramadhan
Setelah tahu apa yang dianjurkan, ada baiknya kita kenali juga beberapa hal yang justru sering keliru dalam praktik menyambut Ramadhan. Menyadari ini akan membantu sambutan kita lebih tepat sasaran.
- Sibuk pada yang meriah, lupa pada yang inti. Persiapan menyambut Ramadhan kadang habis untuk urusan menu berbuka dan sahur, sementara persiapan ruhani dan ilmu terabaikan. Padahal, sebagaimana ditegaskan NU Online, amalan terpenting justru amalan hati dan pembekalan ilmu.
- Menyebarkan riwayat lemah sebagai hadits pasti. Ungkapan bermodel "gembira sedikit langsung bebas neraka" enak didengar, tetapi bila statusnya diperdebatkan, tidak layak dinyatakan sebagai sabda Nabi yang pasti. Sikap terbaik adalah mengambil yang jelas dalilnya dan tidak mempopulerkan yang lemah seolah-olah sahih.
- Menganggap tradisi budaya sebagai ibadah wajib. Munggahan, padusan, atau ziarah menjelang Ramadhan boleh dilakukan sebagai adat yang baik, tetapi keliru bila diyakini sebagai syariat khusus yang berdosa ditinggalkan. Membedakan adat dan ibadah menjaga kemurnian niat.
- Menunda pelunasan utang puasa. Sebagian orang lupa bahwa mereka masih menanggung qadha puasa Ramadhan tahun lalu. Menyambut Ramadhan baru dengan utang puasa lama yang belum diselesaikan sebaiknya dihindari, dan waktu menjelang Ramadhan adalah kesempatan melunasinya.
- Melupakan hal teknis yang menunjang ibadah. Hal sederhana seperti mengecek jadwal sholat dan awal waktu imsak untuk kota Anda ikut memperlancar ibadah. Ketahui pula perkiraan kapan puasa Ramadhan dimulai agar persiapan tidak mepet.
Semoga Ramadhan tahun ini menemukan kita dalam keadaan siap, sehat, dan bersungguh-sungguh. Menyambut Ramadhan pada akhirnya adalah soal kesiapan hati untuk berubah menjadi lebih baik. Doa, amalan, dan tradisi hanyalah pintu masuknya, sedangkan yang menentukan adalah kesungguhan kita mengisinya hari demi hari, dari sahur pertama sampai takbir Idul Fitri berkumandang. Bila ada persoalan fikih pribadi seputar puasa dan persiapannya, Anda bisa berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz.
Jam berbuka dan Subuh hari ini. Waktu berbuka puasa mengikuti Maghrib setempat. Cek jam Subuh sampai Isya di jadwal sholat Jakarta hari ini, disalin dari tabel resmi Kementerian Agama RI lengkap dengan tabel 30 hari, atau buka jadwal sholat kota lain.
Sumber Rujukan
- NU Online - Doa Menyambut Bulan Suci Ramadhan
- NU Online Jabar - Doa Awal Ramadhan yang Dibaca oleh Rasulullah SAW
- NU Online - Doa Awal Ramadhan yang Diajarkan Rasulullah
- NU Online Jateng - Berbagai Keutamaan Bulan Ramadhan
- NU Online Lampung - 10 Hadits Nabi tentang Keistimewaan Bulan Ramadhan
- NU Online Jatim - 3 Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
- NU Online - Amal Baik Sebelum Puasa: Saling Memaafkan dan Bahagia Menyambut Ramadhan
- NU Online - Jelang Ramadhan, Lakukan 7 Amalan Penting Ini
- Jami' at-Tirmidzi no. 3451 - Doa Melihat Hilal (sunnah.com)
- Wikimedia Commons - Lorong Setia Budi Kuala Tungkal menyambut Ramadhan (foto sampul, CC BY-SA 4.0)
- Muhammadiyah - Sambut Ramadhan dengan Gembira
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


