
Foto sampul: Kotak barang temuan (lost and found) berisi topi, syal, dan buku yang menunggu diambil pemiliknya. Foto oleh Paul Gorbould, CC BY 2.0, melalui Wikimedia Commons (dipotong dan diperkecil).
Doa mencari barang hilang yang diajarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama bersumber dari kitab Maslakul Akhyar karya Sayid Utsman bin Yahya, yaitu memohon kepada Allah Yang mengumpulkan seluruh manusia agar kita dipertemukan kembali dengan barang yang hilang dalam kebaikan dan afiat. Namun sebelum sampai pada lafal doa, ada urutan sikap yang sebaiknya diletakkan lebih dulu, yakni mengucapkan istirja, menenangkan hati, lalu mencari dengan sungguh-sungguh. Doa di sini mengiringi ikhtiar, bukan menggantikannya, dan sama sekali bukan alasan untuk lari ke dukun atau paranormal. Artikel ini merangkum doa, adab, serta dasar-dasarnya sebagaimana dihimpun NU Online.
Doa Mencari Barang Hilang dan Sumbernya
NU Online memuat satu doa yang dianjurkan dibaca ketika seseorang kehilangan barang. Doa ini dinukil dari kitab Maslakul Akhyar fil Ad'iyah wal Adzkar karya ulama Betawi, Sayid Utsman bin Yahya, sebagaimana dijelaskan Alhafiz Kurniawan di dua tulisan NU Online. Bunyi latin dan artinya sebagai berikut:
Latin: Allaahumma yaa jaami'an naasi liyaumin laa raiba fiih, ijma' bainii wa baina dlaallatii fii khairin wa 'aafiyah.
Artinya: "Ya Allah, wahai Zat yang mengumpulkan seluruh manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya, pertemukanlah antara aku dan barangku yang hilang dalam kebaikan dan afiat."
Perlu disampaikan dengan jujur soal kedudukannya. NU menyandarkan lafal ini kepada kitab doa Maslakul Akhyar, jadi ia adalah doa yang disusun dan dianjurkan ulama, bukan hadis dengan sanad khusus yang menyebut Rasulullah mengajarkannya kata per kata. Kedudukan semacam ini tetap sah diamalkan karena isinya murni permohonan kepada Allah tanpa kandungan yang bertentangan dengan syariat. Membaca doa yang bersumber jelas seperti ini jauh lebih baik daripada mengamalkan wafak, mantra, atau rapalan tak jelas asalnya yang banyak beredar dan sering dicampur unsur mistik.
Sayid Utsman bin Yahya sendiri dikenal sebagai ulama sekaligus mufti di Betawi yang menyusun banyak kitab doa dan panduan ibadah untuk masyarakat awam. Karena itu, doa yang beliau himpun dalam Maslakul Akhyar memang ditujukan agar mudah diamalkan sehari-hari. Saat membacanya, hendaknya dalam keadaan tenang, menghadirkan hati, dan yakin bahwa yang mampu mempertemukan kita dengan barang yang hilang hanyalah Allah, bukan lafal itu sendiri. Doa bukan jampi berkekuatan otomatis, melainkan sarana merendahkan diri dan menaruh harap kepada Yang Maha Mengetahui.
Lafal Arab lengkap doa ini beserta harakatnya sudah kami muat di artikel doa tolak bala, sehingga di halaman ini kami cukup menyajikan versi latin dan artinya agar tidak menduplikasi teks yang sama. Yang lebih penting untuk dipahami adalah kapan doa itu dibaca dan sikap apa yang menyertainya, karena di situlah letak adab yang sebenarnya.
Istirja: Kalimat Pertama Saat Kehilangan
Sebelum sibuk mencari, hal pertama yang dituntunkan ketika seorang muslim tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan, termasuk kehilangan barang, adalah membaca istirja, yaitu kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Kalimat ini bukan hanya untuk musibah besar seperti kematian atau bencana. Al-Qur'an mengaitkannya dengan segala bentuk ujian dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 sampai 156, ketika Allah menyebut orang-orang sabar sebagai mereka yang saat ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja tersebut.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 sampai 156, Allah menyebutkan bahwa ujian bisa datang dalam banyak bentuk, mulai dari rasa takut, kelaparan, sampai berkurangnya harta, jiwa, dan buah-buahan. Kehilangan harta benda, termasuk barang sehari-hari, jelas termasuk dalam cakupan "berkurangnya harta" itu. Ayat tersebut lalu memuji orang-orang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah justru mengucapkan kalimat istirja. Jadi membaca istirja saat kehilangan barang bukan sikap mengada-ada, melainkan persis yang dituntunkan Al-Qur'an bagi orang yang ingin digolongkan sebagai penyabar.
NU Online mengutip hadis masyhur dari Ummu Salamah yang dicatat Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin. Rasulullah mengajarkan bahwa siapa pun yang tertimpa musibah lalu membaca istirja dan menyambungnya dengan doa Allaahumma'jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa (Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik), niscaya Allah memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik. Menariknya, Imam Ibnu Allan dalam Dalilul Falihin menegaskan bahwa keutamaan besar itu hanya diperoleh orang yang mengucapkannya dengan hati yang jujur dan rida, bukan sambil menggerutu atau berkeluh kesah menentang takdir.
Doa Ummu Salamah ini punya kisah yang menguatkan. Ia membacanya ketika berduka atas wafatnya sang suami, Abu Salamah, lalu Allah menggantikan dengan yang jauh lebih mulia, yakni Rasulullah sendiri menjadi suaminya. NU Online menjelaskan bahwa "yang lebih baik" tidak selalu berarti ganti yang lebih besar secara materi. Bisa jadi gantinya berupa keimanan yang menguat, pintu keberkahan yang terbuka, ketenangan hati, atau hikmah yang baru tampak pada waktunya. Pemahaman ini penting agar kita tidak berdoa dengan pamrih sempit, seolah barang yang hilang wajib diganti persis dengan yang setara atau lebih mahal.
Kehilangan telepon genggam, kunci motor, dompet, atau perhiasan memang terasa berat, apalagi jika nilainya besar. Namun dengan istirja, hati diarahkan untuk mengakui bahwa semua yang kita miliki sejatinya titipan Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sikap ini menahan kita dari panik berlebihan dan menyiapkan hati untuk mencari dengan kepala dingin. Lafal Arab lengkap istirja dan doa musibah ini juga sudah tersedia di artikel doa tolak bala.
Agar tidak tertukar, berikut tiga bacaan yang dibahas sejauh ini beserta kedudukan sumbernya masing-masing:
| Bacaan | Kapan dibaca | Sumber | Kedudukan |
|---|---|---|---|
| Istirja (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun) | Pertama kali menyadari barang hilang | QS Al-Baqarah ayat 155 sampai 156 | Kalimat orang sabar yang dipuji Al-Qur'an |
| Doa musibah (Allaahumma'jurnii fii mushiibatii) | Disambung setelah istirja | Hadis Ummu Salamah dalam Riyadhus Shalihin, dikutip NU Online | Doa yang diajarkan Rasulullah untuk setiap musibah |
| Doa Allaahumma yaa jaami'an naas | Mengiringi pencarian | Kitab Maslakul Akhyar karya Sayid Utsman bin Yahya, dinukil NU Online | Doa susunan ulama, bukan hadis dengan sanad khusus |
Adab dan Sikap Hati Saat Kehilangan Barang
Menurut NU Online, kehilangan barang bisa disebabkan banyak hal, mulai dari terjatuh, terlupa tempat meletakkannya, tertinggal di suatu tempat, dipinjam orang lain, sampai kemungkinan dicuri. Karena sebabnya beragam, respons yang tepat bukan menyimpulkan buruk lebih dulu, melainkan menata sikap. Ada beberapa adab yang perlu dijaga:
- Tenang, jangan panik. Reaksi yang lazim saat kehilangan adalah panik, berteriak, atau uring-uringan. Padahal kepanikan justru mengaburkan ingatan tentang di mana barang terakhir kali diletakkan. Menenangkan diri adalah langkah awal yang paling menolong pencarian.
- Jangan berprasangka buruk dan menuduh. NU Online mengingatkan bahwa segala upaya mencari itu sah selama tidak disertai prasangka buruk, apalagi menuduh orang lain tanpa bukti. Menuduh anggota keluarga, tetangga, atau rekan kerja sebagai pencuri hanya karena barang hilang adalah kezaliman yang bisa merusak hubungan dan menambah dosa.
- Sabar dan rida terhadap takdir. Barang yang hilang sudah menjadi bagian dari ketetapan Allah. Sabar bukan berarti pasrah tanpa berbuat, tetapi menerima kenyataan dengan lapang sambil tetap berusaha.
- Ikhlas jika belum ditemukan. NU menyebut bahwa doa saat kehilangan sekurang-kurangnya membantu mengurangi kepenatan pencarian dan menumbuhkan keikhlasan terhadap barang yang belum juga ditemukan.
Menariknya, sebagian sebab kehilangan justru bukan karena barang benar-benar raib. NU Online menyebut kemungkinan barang sedang dipinjam tetangga atau dibenahi orang lain di rumah, lalu kita lupa. Karena itu, sebelum berkesimpulan bahwa barang dicuri, ada baiknya bertanya baik-baik kepada orang serumah dan menelusuri kembali aktivitas terakhir. Banyak kasus kehilangan berakhir dengan barang yang ternyata ada di tempat yang sudah kita lewati, hanya karena saat pertama mencari, pikiran sedang kalut. Ketelitian dan ketenangan sering kali lebih menentukan daripada seberapa keras kita menggerutu.
Adab-adab ini menempatkan kehilangan bukan sekadar soal untung rugi materi, melainkan latihan mengelola hati. Bila hati sudah tenang dan bersih dari prasangka, pencarian pun cenderung lebih jernih dan terarah. Jika kegelisahan masih menekan, membaca doa penenang hati dan pikiran bisa membantu memulihkan ketenangan sebelum kembali mencari.
Mencari dengan Sungguh-Sungguh, lalu Tawakal
Poin yang sering disalahpahami adalah menganggap doa sebagai jalan pintas yang menggantikan usaha. NU Online justru menegaskan urutan yang benar: orang yang kehilangan barang harus meningkatkan upaya pencarian, sementara hasilnya diserahkan kepada Allah. Kalimatnya lugas, tugas kita hanyalah berusaha, dan doa dibaca untuk mengiringi usaha itu, bukan untuk menggantikannya.
Dengan kata lain, membaca doa mencari barang hilang sambil hanya duduk berharap barang muncul sendiri bukanlah tawakal, melainkan salah paham tentang tawakal. Tawakal yang benar adalah berusaha semaksimal mungkin dengan sebab-sebab yang halal, baru menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Dalam kisah Nabi Yusuf, ayahnya Nabi Ya'qub tetap menyuruh anak-anaknya pergi menelusuri dan mencari kabar, tidak sekadar berdiam diri, dan itu menjadi teladan bahwa ikhtiar dan tawakal berjalan seiring, bukan saling meniadakan.
Menyerahkan hasil kepada Allah juga berarti siap menerima dua kemungkinan. Barang bisa ditemukan kembali, atau memang belum atau tidak ditemukan. Keduanya tetap dalam pengaturan Allah yang terbaik bagi hamba-Nya. Bila ternyata belum ketemu, di situlah keikhlasan diuji, dan NU menyebut bahwa doa saat kehilangan sekurang-kurangnya membantu menumbuhkan keikhlasan itu. Sikap ini menyelamatkan seseorang dari terus-menerus dirundung kekesalan, apalagi sampai mengambil jalan yang dilarang demi memaksakan barang harus kembali.
Agar setiap urusan termasuk pencarian ini dimudahkan, banyak orang juga menyertainya dengan doa agar dimudahkan segala urusan dan memperbanyak doa memohon perlindungan kepada Allah. Semua itu tetap dalam kerangka yang sama, memadukan usaha nyata dengan penyerahan hasil kepada Allah.
Mengapa Tidak Boleh ke Dukun atau Paranormal
Saat barang berharga hilang dan pencarian belum membuahkan hasil, sebagian orang tergoda mendatangi dukun, orang pintar, atau paranormal yang mengaku bisa menunjukkan letak barang. Godaan ini justru paling relevan dibahas dalam topik kehilangan, sebab dalam kajian fikih orang semacam itu punya istilah khusus. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim membedakan kahin dan 'arraf, dan keterangannya sangat tepat sasaran: 'arraf adalah orang yang mengklaim bisa mengetahui keberadaan barang yang dicuri, sesuatu yang hilang, dan hal-hal semacamnya. Artinya, praktik "menerawang barang hilang" persis yang dimaksud dengan 'arraf yang dilarang.
NU Online, mengutip al-Qadhi Iyadh, merinci bahwa dukun (kahin) terbagi menjadi beberapa jenis. Ada yang dahulu mengaku memiliki pembantu dari kalangan jin yang mencuri dengar perbincangan tentang perkara gaib, dan jenis ini disebut sudah tidak ada sejak Nabi Muhammad diutus. Ada pula yang mengaku bisa menginformasikan hal yang tak terjangkau manusia biasa, seperti keberadaan barang yang hilang karena dicuri; jenis ini kadang benar dan sering berdusta, tetapi tetap terlarang dipercayai dan masih banyak dijumpai. Selain itu ada ahli nujum, dan 'arraf termasuk dalam kelompok ini. Setelah merinci semuanya, al-Qadhi Iyadh menegaskan bahwa semua jenis dukun bertentangan dengan syariat dan haram untuk dipercayai.
Kunci masalahnya ada pada keyakinan terhadap perkara gaib. Sekalipun ada peramal yang tebakannya sesekali tepat, NU menjelaskan bahwa itu bisa jadi serpihan informasi jin yang dicampur dengan banyak kebohongan, sehingga sama sekali tidak layak dijadikan pegangan. Larangan ini bersandar pada sabda Rasulullah. Yang pertama, tentang orang yang sekadar mendatangi dan bertanya:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Artinya: "Barang siapa mendatangi seorang peramal ('arraf) lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari." (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maksud "tidak diterima" di sini adalah tidak mendapat pahala shalat selama empat puluh hari, bukan berarti shalatnya batal. Statusnya tetap sah sehingga tidak wajib diulang atau diqadha, mirip orang yang shalat di tempat hasil rampasan: sah, tetapi kehilangan pahala. Jadi mendatangi peramal saja sudah menggugurkan pahala shalat sekian lama, sekalipun kita belum sampai memercayainya.
Yang kedua lebih berat, yakni ketika seseorang bukan hanya bertanya tetapi sampai membenarkan ucapan sang peramal:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Artinya: "Barang siapa mendatangi dukun (kahin) atau peramal ('arraf) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." Membenarkan ramalan tentang perkara gaib berarti menandingi keyakinan bahwa hanya Allah yang mengetahui yang gaib. Karena itu, betapa pun mendesaknya kebutuhan menemukan barang, pintu perdukunan tetap tertutup. Kalaupun ada peramal yang "tebakannya" kebetulan benar, NU menjelaskan itu bisa saja informasi jin yang mencuri dengar dan dicampur banyak kedustaan, sehingga sama sekali tidak boleh dijadikan sandaran.
Kesalahan Umum Saat Kehilangan Barang
Bayangkan pagi hari yang sibuk, Anda sudah telat berangkat, lalu menyadari kunci kendaraan raib entah ke mana. Situasi seperti ini rawan memunculkan reaksi keliru. Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Langsung menuduh orang lain. Menyalahkan istri, anak, pembantu, atau tetangga tanpa bukti adalah kezaliman. NU menekankan pencarian tidak boleh dibarengi prasangka buruk.
- Lari ke dukun atau paranormal. Seperti dijelaskan di atas, ini menggugurkan pahala shalat empat puluh hari, dan jika sampai memercayainya termasuk dosa besar.
- Menganggap doa sebagai jimat pengganti usaha. Doa mengiringi ikhtiar, bukan menggantikan pencarian yang serius dan sistematis.
- Percaya rapalan atau wafak tak jelas sumbernya. Lebih baik berpegang pada doa yang bersumber jelas seperti yang dinukil NU dari kitab Maslakul Akhyar.
- Putus asa dan menyalahkan takdir. Kehilangan adalah ujian; sikap yang dituntunkan adalah sabar, rida, dan tetap berusaha, bukan berkeluh kesah menentang ketetapan Allah.
Pada akhirnya, kehilangan barang adalah ujian kecil yang sering datang dan pergi dalam hidup. Cara seorang muslim menyikapinya justru memperlihatkan kualitas imannya: apakah ia buru-buru menuduh, panik, dan lari ke jalan yang dilarang, atau justru tenang, beristirja, berikhtiar, lalu bertawakal. Doa dari kitab Maslakul Akhyar yang dinukil NU menjadi penuntun yang menenangkan sekaligus mengarahkan hati pada tempat bergantung yang benar, yaitu Allah semata.
Bila persoalan kehilangan menyangkut hal yang lebih rumit, misalnya dugaan pencurian, sengketa barang, atau harta yang dititipkan, sebaiknya ditempuh jalur yang benar dan bila perlu ditanyakan hukumnya. Anda dapat berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz untuk kasus yang bersifat pribadi dan spesifik.
Sumber Rujukan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


