NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Puasa

Niat Puasa Daud: Bacaan, Cara Menjalankan, dan Keutamaannya

Niat puasa Daud dibaca pada malam hari dengan lafal "Nawaitu shauma dawuda lillahi ta'ala", yang berarti saya berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Taala. Puasa Daud dikerjakan selang-seling, yaitu sehari berpuasa lalu sehari tidak, begitu seterusnya. Hukumnya sunnah, dan Nabi menyebutnya puasa yang paling dicintai Allah.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Niat Puasa Daud: Bacaan, Cara Menjalankan, dan Keutamaannya

Niat puasa Daud dibaca pada malam hari dengan lafal Nawaitu shauma dâwuda lillâhi ta'âlâ, yang berarti saya berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Taala. Puasa Daud adalah puasa sunnah yang dikerjakan dengan pola selang-seling: sehari berpuasa, lalu sehari tidak, begitu seterusnya sepanjang waktu. Nabi Muhammad menyebutnya sebagai puasa yang paling dicintai Allah. Menariknya, puasa ini justru lahir dari sebuah teguran, ketika Nabi menahan seorang sahabat yang semangat ibadahnya melampaui batas. Artikel ini menyajikan bacaan niatnya dalam Arab, latin, dan arti, cara menjalankan polanya termasuk ketika bertabrakan dengan hari yang haram dipakai berpuasa, keutamaannya, serta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda memulainya. Semua ketentuan di bawah dirujuk ke NU Online.

Apa Itu Puasa Daud dan Dalilnya

Puasa Daud adalah puasa yang dinisbatkan kepada Nabi Dawud alaihissalam, karena beliaulah yang menjalankan pola ini. NU Online menjelaskan bahwa puasa Dawud merupakan puasa yang dilakukan dengan waktu selang-seling, yaitu satu hari puasa dan satu hari tidak. Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili (w. 2015 M), ulama sepakat bahwa hukum puasa Dawud adalah sunnah. Artinya, jika dilakukan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya tidak mendapat dosa (Az-Zuhaili, Fiqhul Islami wa Adillatuhu, juz 3, halaman 1640).

Kata "sepakat" di situ penting. Berbeda dengan sebagian amalan lain yang statusnya diperdebatkan, kedudukan puasa Daud sebagai sunnah tidak diperselisihkan. Yang berbeda-beda justru pertanyaan turunannya, misalnya bagaimana kalau bentrok dengan puasa sunnah lain, dan sampai batas mana seseorang boleh mengejarnya. Dua hal itu akan kita bahas di bagian tersendiri.

Dasar utamanya adalah sabda Rasulullah berikut, yang dinukil NU Online:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Latin: Inna ahabbash shiyâmi ilallâhi shiyâmu dâwuda, wa ahabbash shalâti ilallâhi shalâtu dâwuda 'alaihis salâm, kâna yanâmu nishfal laili wa yaqûmu tsulutsahu wa yanâmu sudusahu, wa kâna yashûmu yauman wa yufthiru yauman.

Artinya: "Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikan bahwa hadits ini tidak hanya berbicara tentang puasa. Ia menyebut pola tidur Nabi Dawud secara rinci: tidur di paruh pertama malam, bangun pada sepertiganya, lalu tidur lagi pada seperenam terakhir. Artinya yang dipuji bukan sekadar rasa laparnya, melainkan sebuah pola hidup yang tertata dan berkelanjutan. Nabi Dawud tetap tidur, tetap makan, dan tetap menunaikan tugasnya sebagai nabi sekaligus raja. Ini konteks yang sering hilang ketika puasa Daud dibayangkan semata-mata sebagai lomba menahan lapar.

Bagaimana bentuk praktisnya? NU Online Jateng memberi contoh yang gamblang: yang dimaksud puasa Dawud adalah puasa setiap dua hari sekali. Jika hari ini berpuasa, maka besok pagi tidak berpuasa, dan baru berpuasa lagi pada hari berikutnya. Sebagai contoh, jika hari Senin berpuasa, maka pada hari Selasa tidak. Kemudian Rabu berpuasa, Kamis tidak. Begitu seterusnya.

Satu pertanyaan yang sering muncul: apakah puasa Daud harus dengan ijazah dari seorang guru terlebih dahulu? NU Online Jateng menjawabnya melalui kanal Kiai NU Menjawab. Kesimpulannya, tidak menjadi masalah pengamalan puasa Dawud tanpa ijazah karena dasarnya sudah jelas, yakni hadits Rasulullah. Namun sangat baik apabila ada yang membimbing sehingga bisa memberikan arahan bagaimana puasa Dawud dapat diamalkan secara benar dan baik serta dengan niat ikhlas beribadah kepada Allah. Pandangan ini disandarkan pada keterangan pakar tasawuf KHM Luqman Hakim bahwa dalam melaksanakan sebuah amalan sebaiknya ada yang membimbing, karena sebuah amalan perlu wadah, seberapa, kapan, atau di mana diterapkan, sehingga bisa menjadi washilah pengantar seorang hamba kepada Allah.

Bacaan Niat Puasa Daud

Sebagaimana puasa pada umumnya, waktu niat puasa Daud adalah pada malam hari, yakni sejak terbenamnya matahari sampai terbit fajar. Berikut lafal niatnya sebagaimana ditulis NU Online:

نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدَ سَنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma dâwuda lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Saya berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah ta'ala."

Ada satu hal yang perlu kami sampaikan terbuka soal lafal di atas, supaya Anda tidak bingung ketika membandingkannya dengan sumber lain. Pada kata terakhir sebelum lillâhi ta'âlâ, NU Online menuliskan harakat fathah, sementara transliterasi latin yang NU Online pasangkan sendiri tidak menyertakan kata tersebut, dan terjemahannya membacanya sebagai "sunnah". Kami menyalin lafal Arabnya persis sebagaimana tertulis di sumber dan tidak mengubah harakatnya, karena mengoreksi teks Arab berdasarkan dugaan sendiri sama saja dengan mengarang lafal. Yang jelas, maksud kata tersebut menurut terjemahan NU Online sendiri adalah penegasan bahwa puasa ini berstatus sunnah.

Karena puasa Daud adalah puasa sunnah, ada kelonggaran yang tidak dimiliki puasa wajib. NU Online menjelaskan bahwa bagi orang yang lupa niat pada malam hari, boleh niat siang harinya, yakni dari pagi hari sampai sebelum tergelincirnya matahari (waktu zuhur), selagi ia belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Berikut lafal niat ketika siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ دَاوُدَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnati dâwuda lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Dawud hari ini karena Allah ta'ala."

Key Takeaway: Kalau Anda bangun kesiangan dan belum sempat berniat semalam, puasa Daud Anda hari itu belum tentu batal. Selama sejak subuh Anda belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa, Anda masih bisa berniat sampai sebelum matahari tergelincir ke barat. Kelonggaran ini khusus puasa sunnah dan tidak berlaku untuk puasa wajib seperti niat puasa Ramadhan, yang niatnya harus dilakukan pada malam hari.

Perlu diingat bahwa niat pada dasarnya adalah pekerjaan hati. Melafalkannya dengan lisan adalah anjuran untuk memantapkan hati, bukan syarat sah. Jadi bila seseorang sudah berketetapan hati untuk berpuasa Daud tetapi lupa mengucapkannya, puasanya tetap sah.

Cara Menjalankan Pola Selang-Seling

Durasi puasa Daud sama seperti puasa pada umumnya, yaitu mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Selama durasi tersebut seseorang mesti mencegah diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sebagaimana puasa-puasa lain. Yang membedakan hanyalah iramanya: satu hari puasa, satu hari tidak, dan begitu seterusnya tanpa dibatasi bulan tertentu.

Kalau hari puasanya jatuh di hari yang haram berpuasa

Inilah pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya tegas. NU Online menerangkan bahwa waktu pelaksanaan puasa Dawud bisa kapan saja, kecuali pada hari-hari yang diharamkan puasa. Hari-hari tersebut adalah:

  • Hari raya Idul Fitri (1 Syawal).
  • Hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).
  • Hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
  • Separuh terakhir dari bulan Sya'ban.
  • Hari yang diragukan (30 Sya'ban, saat orang telah membicarakan ru'yatul hilal atau ada kesaksian orang melihat hilal yang tidak bisa diterima, seperti kesaksian seorang anak kecil).

Jadi ketika giliran puasa Anda jatuh pada 1 Syawal atau 10 Dzulhijjah, jawabannya bukan "tetap puasa demi menjaga pola", melainkan tidak berpuasa. Larangan pada hari-hari itu lebih kuat kedudukannya daripada kesunahan menjaga irama puasa Daud. Semangat beribadah tidak boleh melangkahi larangan. Setelah hari terlarang itu lewat, Anda tinggal melanjutkan polanya kembali seperti biasa.

Catatan Penting: Puasa Daud adalah amalan sunnah, sedangkan berpuasa pada hari raya dan hari tasyrik adalah perkara yang dilarang. Ketika keduanya bertemu, yang dilarang selalu didahulukan untuk ditinggalkan. Melewatkan satu giliran karena hari itu memang haram dipakai berpuasa bukan berarti Anda gagal atau harus mengulang dari nol. Rangkaian hari terlarang di bulan Dzulhijjah kami bahas lebih rinci pada artikel niat puasa Ayyamul Bidh.

Kalau hari liburnya jatuh di Senin, Kamis, atau ayyamul bidh

Kasus sebaliknya juga sering ditanyakan: bagaimana kalau jadwal tidak puasa dalam pola Daud justru jatuh pada hari yang dianjurkan berpuasa, seperti Senin atau Kamis? Apakah lebih baik tetap tidak puasa demi menjaga pola, atau berpuasa demi meraih keutamaan Senin-Kamis?

NU Online menjawabnya lewat kanal Bahtsul Masail dengan menukil jawaban Imam ar-Ramli:

وَسُئِلَ الشِّهَابُ (م ر) عَمَّنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا فَوَافَقَ يَوْمُ فِطْرِهِ يَوْمًا مِمَّا يُطْلَبُ صَوْمُهُ كَيَوْمِ الِاثْنَيْنِ أَوِ الْخَمِيسِ هَلْ فِطْرُهُ أَفْضَلُ أَمْ صَوْمُهُ وَلَا يَخْرُجُ بِذَلِكَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ وَفِطْرِ يَوْمٍ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّ الْأَفْضَلَ صَوْمُهُ وَلَا يَخْرُجُ بِهِ عَمَّا ذُكِرَ

Artinya: "Asy-Syihab (Muhammad ar-Ramli) ditanya mengenai seseorang yang melakukan sehari puasa, sehari berbuka (puasa Daud) lalu bertepatan hari jadwal tidak puasanya dengan hari yang dianjurkan untuk berpuasa, seperti hari Senin atau Kamis. Apakah lebih utama baginya untuk tetap tidak puasa ataukah berpuasa? Dan apakah jika ia berpuasa (pada hari tersebut), ia tetap dianggap tidak keluar dari pola puasa 'sehari puasa sehari berbuka'? Maka beliau menjawab bahwasanya yang lebih utama adalah berpuasa, dan dengan tetap berpuasa tersebut ia tidak dianggap keluar dari (keutamaan) pola puasa yang telah disebutkan (puasa Daud)." (Hasyiyah al-Bujairimi 'ala al-Khatib, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1996, juz III, halaman 156)

Jawaban ini melegakan sekaligus mengajarkan sesuatu. Melegakan, karena artinya Anda boleh tetap berpuasa pada hari libur yang bertepatan dengan Senin atau Kamis, dan pahala puasa Senin Kamis tetap Anda raih tanpa dianggap merusak pola Daud. Mengajarkan, karena di sini terlihat bahwa yang dijaga syariat adalah substansi ibadahnya, bukan kerapian jadwal di atas kertas. NU Online menyimpulkan bahwa dengan demikian kita mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis sekaligus tetap tercatat menjalankan pola puasa Daud yang paling dicintai Allah tersebut.

Keutamaan dan Sebab Disebut Paling Utama

Selain disebut sebagai puasa yang paling dicintai Allah dalam riwayat Bukhari dan Muslim di atas, puasa Daud juga dinyatakan sebagai puasa yang paling utama. Lafal ini kami dapati byte demi byte sama pada dua halaman NU yang berbeda, yaitu NU Online pusat dan NU Online Jateng:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Latin: Afdhalush shiyâmi shiyâmu dâwuda 'alaihis salâm, kâna yashûmu yauman wa yufthiru yauman.

Artinya: "Puasa yang paling utama adalah puasanya Nabi Dawud alaihissalam, ia berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari." (HR an-Nasa'i)

Lalu apa sebabnya pola selang-seling ini dinilai lebih utama daripada puasa sunnah lain? NU Online menjelaskan bahwa alasannya adalah karena seorang yang melakukan puasa Dawud akan melakukan apa yang disenanginya satu hari dan berpisah pada satu hari berikutnya. Syekh Abdurra'uf al-Munawi (w. 1621) dalam kitab Faidhul Qadir menerangkan:

لِكَوْنِهِ أَشَقَّ عَلَى النَّفْسِ بِمُصَادَفَةِ مَأْلُوفِهَا يَوْمًا وَمُفَارَقَتِهِ يَوْمًا

Latin: Likaunihi asyaqqa 'alan nafsi bimushâdafati ma'lûfihâ yauman wa mufâraqatihi yauman.

Artinya: "Karena puasa Dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disenangi jiwa sehari, lalu sehari kemudian meninggalkannya." (Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarah Jami' ash-Shaghir, juz 1, halaman 171)

Ada logika yang menarik di sini, dan NU Online menyajikannya dengan gamblang. Seandainya puasa Daud dibandingkan dengan puasa setiap hari, maka puasa Daud tetap lebih utama. Alasannya, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali, orang yang berpuasa setiap hari tidak akan merasakan begitu berat karena sudah terbiasa di tiap harinya. Sementara puasa Dawud yang dilakukan selang-seling akan mengalami naik turun syahwat dan kondisi tubuh yang tidak stabil karena satu hari puasa dan satu hari tidak.

Menurut hemat redaksi, penjelasan al-Ghazali ini justru membalik anggapan umum. Banyak orang mengira semakin banyak hari berpuasa, semakin tinggi nilainya, sehingga puasa setiap hari terdengar lebih hebat daripada puasa selang-seling. Ternyata bukan begitu cara menakarnya. Yang dihargai adalah perjuangan melawan kebiasaan diri, dan itu justru paling terasa ketika jiwa berulang kali harus berpindah dari kondisi boleh menikmati ke kondisi menahan diri. Puasa Daud sulit bukan karena hari puasanya banyak, melainkan karena tidak pernah berubah menjadi rutinitas yang mati rasa.

Dalam riwayat Imam al-Bukhari yang dihimpun kanal hadits NU Online, ada pula keterangan tambahan tentang hikmah pola Nabi Dawud. Ketika Nabi Muhammad menjelaskan caranya, beliau bersabda bahwa Nabi Dawud alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka sehari sehingga dia tidak akan kabur ketika berjumpa dengan musuh. Jadi jeda sehari itu bukan kelemahan, melainkan bagian dari desainnya: ia menjaga kekuatan tubuh supaya tetap sanggup menunaikan tugas-tugas besar.

Sekalipun keutamaannya besar, keutamaan ini perlu diletakkan pada tempatnya. Puasa Daud tetap sunnah, bukan wajib, dan puasa Ramadhan tetap wajib. Sebesar apa pun keutamaan sebuah amalan, diterimanya amal tetap bergantung pada keikhlasan dan rahmat Allah. Ibadah adalah ikhtiar seorang hamba, bukan transaksi yang hasilnya bisa dipastikan sendiri.

Ketika Nabi Justru Menahan Semangat Sahabatnya

Bagian ini kerap terlewat, padahal justru di sinilah puasa Daud menemukan konteksnya. Kalau puasa Daud adalah puasa sunnah yang paling utama, mengapa Nabi tidak menganjurkannya kepada semua orang, dan mengapa beliau melarang sahabat yang ingin melampauinya?

NU Online mengawali kisahnya dengan catatan yang jujur: para sahabat Nabi terkenal sebagai orang yang memiliki semangat ibadah sangat tinggi. Namun terkadang semangat tersebut kebablasan dan mengabaikan hak-hak manusiawi pada umumnya, sehingga ibadah terkesan membebani. Islam sebagai agama rahmah (kasih sayang) tidak ingin pemeluknya terbebani dengan ibadah-ibadah yang dilakukan umatnya.

Suatu ketika seorang sahabat dipergoki Nabi berpuasa setiap hari, dan malam-malamnya ia gunakan hanya untuk shalat. Nabi pun menanyainya, "Wahai Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?" Sahabat itu membenarkan. Nabi lalu menegurnya, "Janganlah kamu lakukan itu, tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya."

Sahabat itu meminta tambahan, karena ia merasa lebih kuat dari sekadar berpuasa tiga hari dalam setiap satu bulan. Barulah pada titik itu Nabi menyuruhnya melakukan puasa Dawud, dengan satu hari berpuasa dan satu hari tidak.

Catatan redaksi tentang nama sahabat ini. Halaman NU Online yang memuat kisah di atas menyebutnya "Abdullah bin Umar". Namun setelah kami cek silang ke kanal hadits NU Online sendiri, riwayat Shahih al-Bukhari nomor 1840, 1841, dan 1844 secara konsisten menyebut pelakunya adalah Abdullah bin Amr (yakni Abdullah bin Amr bin al-Ash), bukan Abdullah bin Umar. Karena sumber NU sendiri berbeda antara satu halaman dan halaman lain, kami memakai nama yang didukung kanal haditsnya, dan kami catat penyimpangan ini secara terbuka alih-alih menyalin begitu saja.

Dalam riwayat al-Bukhari nomor 1841 yang dihimpun kanal hadits NU Online, dialognya bahkan lebih tajam. Ketika Abdullah bin Amr menyatakan dirinya lebih kuat dari itu, Nabi mengarahkannya ke puasa Dawud. Namun di riwayat lain Nabi juga menegaskan, "Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya," dan menutup dengan sabda bahwa tidak dianggap puasa bagi siapa yang berpuasa abadi sepanjang masa, yang beliau ucapkan dua kali.

Dari sini terbaca satu hal penting: puasa Daud diberikan Nabi sebagai batas atas, bukan sebagai target yang harus dikejar semua orang. Ia muncul sebagai rem, bukan sebagai gas. Nabi tidak sedang menantang umatnya berlomba menambah beban, beliau justru sedang menahan seorang sahabat yang hendak berpuasa seumur hidup tanpa jeda, lalu menawarkan pola paling jauh yang masih beliau izinkan. Jadi membaca hadits "puasa paling dicintai Allah" tanpa membaca konteks tegurannya berisiko membalik pesannya secara total.

NU Online juga menukil hadits yang menegaskan prinsip ini:

عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَواللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوا وكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Latin: 'Alaikum bimâ tuthîqûna, fawallâhi lâ yamallullâhu hattâ tamallû, wa kâna ahabbud dîni ilaihi mâ dâwama shâhibuhu 'alaihi. Muttafaqun 'alaihi.

Artinya: "Hendaklah kalian melakukan amal sesuai dengan kemampuan kalian. Maka demi Allah, Allah tidak akan bosan (memberi pahala) hingga kalian sendiri yang bosan. Dan amalan agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah apa yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) oleh pelakunya." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam syarahnya, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini berlaku untuk semua amal kebaikan, termasuk puasa:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى الْحَثِّ عَلَى الِاقْتِصَادِ فِي الْعِبَادَةِ وَاجْتِنَابِ التَّعَمُّقِ وَلَيْسَ الْحَدِيثُ مُخْتَصًّا بِالصَّلَاةِ بَلْ هُوَ عَامٌّ فِي جَمِيعِ أَعْمَالِ الْبِرِّ

Artinya: "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang anjuran untuk bersikap proporsional dalam beribadah dan menjauhi sikap berlebihan. Hadits ini pun tidak hanya khusus berkaitan dengan ibadah shalat, melainkan bersifat umum mencakup seluruh amal kebajikan." (Syarhun Nawawi 'ala Muslim, Mesir: Mathba'ah Al-Mishriyah Bil Azhar, 1929, juz VI, halaman 71)

Poin Penting: Puasa Daud memang puasa sunnah paling utama, tetapi hadits yang sama juga menyatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara konsisten sesuai kemampuan. Dua hal ini tidak bertabrakan. Puasa Daud yang dipaksakan lalu berhenti total dalam dua minggu bukanlah yang dimaksud Nabi. Lebih baik memulai dari amalan yang lebih ringan dan sanggup Anda jaga bertahun-tahun daripada mengejar yang paling utama lalu tumbang di tengah jalan.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memulai

Puasa Daud berbeda dari puasa sunnah musiman. Puasa Ayyamul Bidh hanya tiga hari sebulan, sedangkan puasa Daud secara praktis berarti berpuasa sekitar setengah dari hari-hari dalam hidup Anda, dan dijalankan terus-menerus. Karena itu ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum memulai.

Catatan Kesehatan: Puasa Daud adalah ibadah sunnah, bukan kewajiban, dan dijalankan dalam jangka sangat panjang. Kalau Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti maag berat, diabetes, gangguan makan, sedang hamil atau menyusui, sedang menjalani pengobatan dengan jadwal obat tertentu, atau kondisi lain yang menuntut asupan teratur, konsultasikan lebih dahulu kepada dokter yang menangani Anda sebelum menjalankan pola ini. Islam tidak menuntut ibadah yang memudaratkan diri, dan tidak menjalankan puasa sunnah sama sekali tidak berdosa. Jangan menyimpulkan kondisi Anda sendiri dari artikel, dan jangan memaksakan diri demi mengejar keutamaan.

Dahulukan utang puasa Ramadhan. Kalau Anda masih punya utang puasa Ramadhan, sebaiknya qadha didahulukan, karena yang wajib lebih utama daripada yang sunnah. Ketentuan menggantinya bisa Anda baca pada artikel niat puasa ganti.

Jaga yang lebih dari sekadar lapar. Perlu diingat juga bahwa hak-hak orang di sekitar Anda ikut disebut Nabi dalam teguran tadi: hak jasad, hak mata, hak istri atau pasangan, dan hak tamu. Puasa Daud yang membuat Anda lemas saat bekerja, mudah marah kepada keluarga, atau menolak undangan orang lain terus-menerus justru berjalan berlawanan dengan alasan hadits itu diucapkan.

Boleh berpindah amalan, dan itu wajar. Ada pertanyaan menarik yang dijawab NU Online: bolehkah meninggalkan puasa Senin-Kamis demi menjaga konsistensi puasa Daud? Jawabannya, hal itu diperbolehkan. Hanya saja, jika melakukan keduanya tidak terasa berat, maka lebih baik keduanya tetap diamalkan tanpa perlu meninggalkan yang lain. Sebaliknya, jika mengamalkan keduanya terasa berat dan kemungkinan tidak bisa konsisten, maka memilih salah satu saja asalkan bisa konsisten itu lebih baik.

NU Online melandasi kelapangan ini dengan keterangan Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari bahwa Allah menyadari manusia memiliki sifat bosan atau jenuh terhadap rutinitas, sehingga Allah tidak menjadikan ibadah hanya satu bentuk saja, melainkan bervariasi seperti shalat, puasa, zikir, infak, menuntut ilmu, dan lainnya:

لَمَّا عَلِمَ الْحَقُّ مِنْكَ وُجُوْدَ الْمَلَلِ لَوَّنَ لَكَ الطَّاعَاتِ

Artinya: "Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu (bosan), Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu." (Al-Hikam Al-Atha'iyah, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2003, halaman 127)

Sebagai penutup, puasa Daud adalah amalan yang indah justru karena ia mengajarkan keseimbangan, bukan karena ia berat. Polanya sederhana: sehari puasa, sehari tidak, dengan niat yang dibaca sejak malam atau paling lambat sebelum zawal, dan dihentikan pada hari-hari yang memang haram dipakai berpuasa. Keutamaannya besar, tetapi Nabi sendiri menyodorkannya sebagai rem bagi semangat yang berlebih, lengkap dengan pengingat bahwa tubuh, mata, keluarga, dan tamu Anda punya hak yang juga harus ditunaikan. Kalau setelah membaca ini Anda merasa belum sanggup, itu bukan kegagalan, melainkan justru pembacaan yang tepat atas pesan haditsnya. Untuk persoalan pribadi yang tidak terjawab di sini, silakan bertanya melalui halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz di lingkungan Anda, dan untuk urusan kesehatan tetap ikuti nasihat dokter yang menangani Anda.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar niat puasa daud

TApa bacaan niat puasa Daud?

Lafal niatnya adalah "Nawaitu shauma dawuda lillahi ta'ala", yang berarti saya berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah ta'ala. Niat ini dibaca pada malam hari, yakni sejak terbenamnya matahari sampai terbit fajar. Selain dihadirkan di hati, niat disunahkan diucapkan dengan lisan, meski melafalkannya bukan syarat sah.

TBagaimana cara menjalankan puasa Daud?

Puasa Daud dijalankan selang-seling, yaitu satu hari puasa dan satu hari tidak, begitu seterusnya. Contohnya, jika Senin berpuasa maka Selasa tidak, lalu Rabu berpuasa dan Kamis tidak. Durasinya sama seperti puasa lain, yaitu dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

TBolehkah niat puasa Daud dibaca pada siang hari?

Boleh. Karena termasuk puasa sunnah, orang yang lupa berniat pada malam hari boleh berniat pada siang harinya sampai sebelum matahari tergelincir (waktu zuhur), selagi belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Lafal niat siangnya adalah "Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an ada'i sunnati dawuda lillahi ta'ala".

TBagaimana kalau hari puasa Daud jatuh pada hari yang haram berpuasa?

Tidak berpuasa pada hari itu. Menurut NU Online, puasa Dawud bisa dilakukan kapan saja kecuali pada hari yang diharamkan puasa, yaitu Idul Fitri (1 Syawal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah), separuh terakhir Sya'ban, dan hari yang diragukan (30 Sya'ban). Setelah hari itu lewat, polanya dilanjutkan kembali.

TKalau hari libur puasa Daud jatuh pada Senin atau Kamis, lebih baik puasa atau tidak?

Lebih utama tetap berpuasa. Imam ar-Ramli sebagaimana dinukil NU Online menjawab bahwa yang lebih utama adalah berpuasa, dan dengan tetap berpuasa itu ia tidak dianggap keluar dari pola sehari puasa sehari berbuka. Jadi pahala puasa Senin-Kamis tetap diraih tanpa merusak keutamaan puasa Daud.

TKenapa puasa Daud disebut paling utama tetapi Nabi melarang sahabatnya melebihinya?

Karena puasa Daud diberikan sebagai batas atas, bukan target yang harus dikejar semua orang. Nabi menegur Abdullah bin Amr yang berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam dengan mengingatkan bahwa jasad, mata, istri, dan tamunya punya hak atasnya. Puasa Daud baru ditawarkan setelah ia meminta tambahan, dan Nabi tetap mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan konsisten sesuai kemampuan.

TBolehkah meninggalkan puasa Senin-Kamis demi konsisten puasa Daud?

Boleh. Menurut NU Online, meninggalkan puasa Senin-Kamis untuk menjaga konsistensi puasa Daud hukumnya diperbolehkan. Namun jika melakukan keduanya tidak terasa berat, lebih baik keduanya tetap diamalkan. Jika terasa berat dan berisiko tidak konsisten, memilih salah satu yang bisa dijaga terus-menerus itu lebih baik.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar puasa