
Doa witir tarawih adalah rangkaian dzikir dan doa yang dianjurkan dibaca setelah salam dari sholat witir, yaitu shalat berjumlah rakaat ganjil yang menutup rangkaian tarawih pada malam Ramadhan. Urutannya diawali dengan membaca Subhaanal malikil qudduus sebanyak tiga kali, bacaan ketiga dipanjangkan lalu ditambah rabbil malaa'ikati war ruuh, dilanjutkan doa memohon ridha dan surga, doa perlindungan, sampai doa witir yang masyhur. Artikel ini menghimpun bacaannya secara lengkap dalam Arab, latin, dan artinya sebagaimana diuraikan NU Online dengan merujuk kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten, sekaligus menjelaskan kapan dibaca dan kaitannya dengan tarawih.
Perlu ditegaskan sejak awal, seluruh rangkaian ini berstatus anjuran, bukan syarat sah shalat. Witir Anda tetap sah dan sempurna meskipun Anda langsung beranjak seusai salam tanpa membaca satu pun dzikir di bawah. Meski begitu, para ulama menganjurkan untuk tidak buru-buru meninggalkan tempat, melainkan menutup malam dengan berdzikir dan berdoa sejenak, mengikuti keterangan yang diriwayatkan dari kebiasaan Rasulullah seusai witir. Anggaplah bacaan-bacaan ini sebagai pelengkap yang mempercantik penutup ibadah malam, bukan beban yang harus ditakuti bila terlewat.
Kapan Doa Witir Tarawih Dibaca
Doa dan wirid ini dibaca setelah salam dari sholat witir, bukan di dalam shalat. Sebagaimana keterangan NU Online, setelah salam dari witir kita dianjurkan untuk tidak segera bangun meninggalkan lokasi, melainkan membaca dzikir dan doa sejenak terlebih dahulu. Karena witir berkedudukan sebagai penutup shalat malam, doa ini secara praktis menjadi penutup dari seluruh rangkaian ibadah malam Ramadhan: tarawih, lalu witir, lalu dzikir dan doa penutupnya.
Di sinilah banyak orang keliru menempatkan dua doa yang berbeda. Ada dua momen doa berjamaah yang lazim di masjid saat Ramadhan, dan keduanya tidak sama:
- Doa setelah tarawih, sebelum witir. Doa panjang yang populer disebut doa kamilin biasa dibaca di sela ini, yaitu setelah tarawih selesai dan sebelum jamaah berdiri untuk witir. Bacaannya berbeda dan pembahasannya tersendiri di halaman doa kamilin.
- Doa setelah witir. Inilah yang sedang kita bahas, yaitu dzikir dan doa yang dibaca sesudah salam witir sebagai penutup. Isinya diawali Subhaanal malikil qudduus dan diakhiri doa witir.
Karena statusnya anjuran, tidak ada aturan baku yang mengikat urutan maupun kelengkapannya. Sebagian masjid membacanya lengkap, sebagian memendekkannya, dan sebagian jamaah cukup membaca yang ia hafal lalu menutup dengan hajat pribadinya. Semua itu tidak mengurangi keabsahan witir. Untuk memastikan Anda menunaikan witir masih dalam waktunya, yakni antara Isya hingga terbit fajar, ada baiknya memantau jadwal sholat kota Anda.
Dzikir Subhanal Malikil Quddus Setelah Witir
Pembuka wirid setelah witir adalah bacaan tasbih pendek yang bersandar pada praktik Rasulullah. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab bahwa Nabi menutup witir dengan membaca surat Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas, lalu setelah salam beliau membaca Subhaanal malikil qudduus sebanyak tiga kali dengan meninggikan suaranya pada bacaan yang ketiga, kemudian menambahkan rabbil malaa'ikati war ruuh (Mahasuci Tuhan yang menguasai para malaikat dan Ruh). Riwayat ini dicatat An-Nasa'i dan Ibnu Majah, dan tuntunan yang sama dikutip Muhammadiyah dari Himpunan Putusan Tarjih.
Bacaan Subhaanal malikil qudduus berarti "Mahasuci Allah yang Maha Merajai lagi Mahakudus". Karena lafal Arab dzikir ini beserta rabbil malaa'ikati war ruuh sudah dimuat lengkap pada pembahasan doa kamilin, di sini kami tidak mengulang tulisan Arabnya agar tidak berganda, dan cukup menyebutkan latin serta artinya. Yang perlu diperhatikan hanyalah tiga hal praktis: dibaca tiga kali, suara pada kali ketiga dipanjangkan, dan barulah ditambah rabbil malaa'ikati war ruuh satu kali.
Dalam susunan wirid yang dihimpun NU Online dari kitab Nihayatuz Zain, sesudah tasbih itu dibaca pula kalimat pujian kesucian yang lebih panjang:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
Latin: Subbuuhun qudduusun, rabbunaa wa rabbul malaa'ikati war ruuh.
Artinya: "Mahasuci lagi Mahakudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan ruh (Jibril)." (HR Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)
Kalimat subbuuhun qudduusun ini serumpun makna dengan tasbih sebelumnya, hanya lebih lengkap karena menegaskan bahwa kesucian itu milik Tuhan sekalian malaikat dan Ruh, yakni Malaikat Jibril. Menempatkan pujian kesucian di awal wirid mengajarkan adab berdoa yang runtut: memuliakan Allah lebih dahulu sebelum menyampaikan permohonan.
Doa Setelah Witir: Ridha, Surga, dan Perlindungan
Setelah tasbih dan pujian kesucian, susunan wirid berlanjut ke doa yang berisi permohonan sekaligus permintaan perlindungan. Doa pertama singkat dan mudah dihafal, memohon dua hal terbesar sekaligus meminta perlindungan dari dua hal yang paling ditakuti:
أَسْأَلُك رِضَاك وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِك مِنْ سَخَطِك وَالنَّارِ
Latin: As'aluka ridhaaka wal jannah, wa a'uudzu bika min sakhathika wan naar.
Artinya: "Aku memohon ridha dan surga-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu."
Perhatikan bahwa lafal Arab yang diriwayatkan NU Online untuk doa ini dimulai dari as'aluka (aku memohon), sehingga latin dan artinya kami setiakan pada teks Arab tersebut, tanpa menambah pembuka yang tidak tertulis di dalamnya. Doa ini memasangkan permintaan dengan permintaan perlindungan: meminta ridha diiringi berlindung dari murka, meminta surga diiringi berlindung dari neraka. Susunan berpasangan seperti ini mengajarkan keseimbangan antara harap (raja') dan takut (khauf).
Doa berikutnya lebih panjang dan termasuk doa yang masyhur diajarkan Nabi. NU Online mencantumkannya sebagai bagian dari permohonan ampunan dan keselamatan:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك
Latin: Allaahumma innii a'uudzu bi ridhaaka min sakhathika, wa bi mu'aafaatika min 'uquubatika, wa a'uudzu bika minka, laa uhshii tsanaa'an 'alaika, anta kamaa atsnaita 'alaa nafsika.
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu, kepada afiat-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (hukuman)-Mu. Aku tidak sanggup menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Kalimat penutup doa ini, laa uhshii tsanaa'an 'alaika (aku tak sanggup menghitung pujian atas-Mu), sering disebut ulama sebagai puncak kerendahan hati seorang hamba: sebanyak apa pun kita memuji Allah, pujian itu tak akan pernah setara dengan pujian Allah atas diri-Nya sendiri. Dua doa di atas boleh dibaca sendiri-sendiri, dan boleh pula dirangkai dalam satu tarikan sebagai penutup witir.
Doa Witir yang Masyhur dan Susunan Wiridnya
Selain dzikir dan doa singkat di atas, NU Online juga mencantumkan doa witir yang lebih panjang dan populer dibaca berjamaah. Doa ini berisi rangkaian permohonan yang mencakup kebutuhan dunia dan akhirat sekaligus, ditutup dengan shalawat dan tahmid:
أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Latin: Allaahumma innaa nas'aluka iimaanan daa'iman, wa nas'aluka qalban khaasyi'an, wa nas'aluka 'ilman naafi'an, wa nas'aluka yaqiinan shaadiqan, wa nas'aluka 'amalan shaalihan, wa nas'aluka diinan qayyiman, wa nas'aluka khairan katsiiran, wa nas'aluka al-'afwa wal 'aafiyah, wa nas'aluka tamaamal 'aafiyah, wa nas'aluka asy-syukra 'alal 'aafiyah, wa nas'aluka al-ghinaa 'anin naas. Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa wa shiyaamanaa wa qiyaamanaa wa takhasy-syu'anaa wa tadharru'anaa wa ta'abbudanaa, wa tammim taqshiiranaa yaa Allaahu yaa arhamar raahimiin. Wa shallallaahu 'alaa khairi khalqihi sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi ajma'iin, wal hamdu lillaahi rabbil 'aalamiin.
Artinya: "Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang saleh, agama yang lurus, dan kebaikan yang banyak. Kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, afiat yang sempurna, serta rasa syukur atas afiat itu, dan kami memohon kecukupan sehingga tidak bergantung kepada manusia. Ya Allah, Tuhan kami, terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, ibadah malam kami, kekhusyukan kami, kerendahan hati kami, dan ketaatan kami, serta sempurnakanlah segala kekurangan kami, wahai Allah, wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada sebaik-baik makhluk-Nya, junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
Kalau diperhatikan artinya, doa ini bergerak rapi dari perkara batin ke perkara amal, lalu ke permohonan penerimaan. Ia dibuka dengan meminta iman yang langgeng dan hati yang khusyuk, dilanjutkan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, kemudian meminta afiat lahir batin sekaligus rasa syukur atasnya, dan ditutup permohonan agar shalat, puasa, serta ibadah malam kita diterima. Dalam susunan wirid versi NU Online yang merujuk Nihayatuz Zain, doa panjang ini berada di rangkaian akhir, setelah syahadat, istighfar, tasbih, dan pujian. Adapun kalimat Allaahumma innaka 'afuwwun kariimun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii yang juga kerap dibaca di malam-malam akhir Ramadhan pembahasannya ada di halaman doa malam Lailatul Qadar.
| Bacaan (awal latin) | Arti singkat | Keterangan riwayat |
|---|---|---|
| Subhaanal malikil qudduus (tiga kali), lalu rabbil malaa'ikati war ruuh | Mahasuci Allah yang Maha Merajai lagi Mahakudus | Riwayat Ubay bin Ka'ab, dicatat An-Nasa'i dan Ibnu Majah |
| Subbuuhun qudduusun, rabbunaa wa rabbul malaa'ikati war ruuh | Mahasuci lagi Mahakudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan ruh | HR Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni |
| As'aluka ridhaaka wal jannah | Memohon ridha dan surga, berlindung dari murka dan neraka | Dicantumkan NU Online dalam susunan wirid setelah witir |
| Allaahumma innii a'uudzu bi ridhaaka min sakhathika | Berlindung kepada ridha Allah dari murka-Nya | HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah |
| Allaahumma innaa nas'aluka iimaanan daa'iman | Memohon iman, ilmu, amal, afiat, dan diterimanya ibadah Ramadhan | Doa witir masyhur yang dicantumkan NU Online |
Hubungan Witir dengan Tarawih dan Jumlah Rakaatnya
Witir dan tarawih adalah dua shalat yang berbeda tetapi berpasangan erat di bulan Ramadhan. Tarawih adalah shalat sunnah malam yang khusus ada pada Ramadhan, sedangkan witir adalah shalat ganjil yang berkedudukan sebagai penutup shalat malam sepanjang tahun. Di Ramadhan, keduanya lazim dikerjakan berurutan: tarawih dahulu, lalu ditutup witir. Karena itulah dzikir dan doa setelah witir sering disebut sebagai penutup rangkaian tarawih.
Soal jumlah rakaat, witir dikerjakan dalam bilangan ganjil sesuai kemampuan, yaitu bisa satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat. Praktik yang umum menyertai tarawih di Indonesia adalah witir tiga rakaat. Pembahasan lebih rinci mengenai bilangan rakaat witir dan kedudukannya sebagai penutup shalat malam sudah kami uraikan pada halaman doa sholat tahajud, sehingga di sini tidak kami ulang.
Untuk lafal niatnya, silakan merujuk halaman yang sesuai agar tidak tertukar. Niat dan rukun niat witir ada di niat sholat witir, sedangkan niat tarawih ada di niat sholat tarawih. Perlu diingat, niat pada dasarnya cukup di dalam hati; melafalkannya hanya membantu memantapkan hati, terutama bagi yang baru membiasakan diri.
Satu hal yang sering ditanyakan, apakah doa witir tarawih hanya boleh dibaca berjamaah di masjid? Jawabannya tidak. Rangkaian dzikir dan doa ini boleh dibaca siapa saja, termasuk yang menunaikan tarawih dan witir sendirian di rumah. Bahkan bagi yang belum hafal, membacanya sambil menyimak teks pun tidak mengapa, karena tujuannya adalah kehadiran hati, bukan sekadar kelancaran lisan.
Qunut Witir Akhir Ramadhan dan Adab Berdoa
Selain dzikir dan doa setelah witir, ada satu amalan lain yang khas melekat pada witir Ramadhan, yaitu qunut witir. Dalam pendapat yang kuat di mazhab Syafi'i, qunut witir disunahkan hanya pada separuh akhir Ramadhan, yakni mulai malam ke-16 sampai akhir bulan, dibaca pada rakaat terakhir witir setelah bangkit dari rukuk. Redaksi dan tata caranya berbeda dari dzikir setelah witir yang dibahas di sini, dan sudah kami uraikan tuntas di halaman doa qunut. Singkatnya, qunut witir dibaca di dalam shalat pada separuh akhir Ramadhan, sedangkan dzikir dan doa di atas dibaca setelah salam dan berlaku sepanjang bulan. Membedakan dua hal ini penting supaya Anda tidak keliru menempatkan qunut di luar shalat atau sebaliknya.
Adapun beberapa adab yang membantu agar doa setelah witir tidak berhenti sebagai rutinitas kosong:
- Pahami maknanya. Membaca dzikir dan doa sambil mengerti artinya membuat hati lebih hadir daripada sekadar melafalkan bunyi. Terjemahan tiap bacaan sudah disertakan di atas untuk tujuan ini.
- Boleh menambah hajat sendiri. Setelah bacaan yang bersumber dari tuntunan selesai, Anda bebas melanjutkan dengan permohonan pribadi dalam bahasa apa pun, sebab witir dikerjakan di penghujung malam yang termasuk waktu doa lebih diharapkan dikabulkan.
- Jangan memaksakan kelengkapan. Kalau waktu sempit atau jamaah lelah, memendekkan bacaan bukan pelanggaran. Yang penting witirnya sudah tertunaikan dengan benar.
- Hormati perbedaan praktik. Ada masjid yang membaca doa panjang, ada yang cukup dengan tasbih singkat, dan keduanya punya sandaran. Ikuti kebiasaan imam tempat Anda shalat dengan tenang, tanpa menyalahkan yang berbeda.
Kalau Anda punya persoalan fikih pribadi seputar witir atau kebiasaan di masjid Anda yang berbeda dari uraian ini, sebaiknya ditanyakan kepada ustadz setempat yang mengenal kondisi jamaah, atau lewat halaman Tanya Ustadz.
Sumber Rujukan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


