NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Nabi Yusuf: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Kisah di Baliknya

Doa Nabi Yusuf yang terekam dalam Al-Quran ada dua yang paling masyhur: QS Yusuf ayat 101 yang memohon diwafatkan dalam keadaan muslim dan digabungkan bersama orang-orang saleh, serta QS Yusuf ayat 33 yang memohon dijauhkan dari godaan maksiat. Keduanya bukan doa pengasihan atau pelet. Isinya justru kebalikannya, yaitu meminta dijauhkan dari dorongan syahwat.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit

Doa Nabi Yusuf: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Kisah di Baliknya

Doa Nabi Yusuf yang terekam langsung dalam Al-Quran ada dua yang paling masyhur, dan keduanya ada di dalam surat yang menyandang nama beliau sendiri. Yang pertama adalah QS Yusuf ayat 101, doa penutup perjalanan hidupnya yang memohon diwafatkan dalam keadaan muslim dan digabungkan bersama orang-orang saleh. Yang kedua adalah QS Yusuf ayat 33, doa yang beliau panjatkan justru pada saat digoda, yang isinya memohon agar dijauhkan dari tipu daya dan kecenderungan pada maksiat. Artikel ini menyajikan kedua lafalnya lengkap dengan arti, kisah yang melatarinya, maknanya, serta satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: doa Nabi Yusuf bukan doa pengasihan, bukan pelet, dan tidak berisi permintaan agar dicintai lawan jenis.

Bacaan Doa Nabi Yusuf dalam Al-Quran

Al-Quran mengabadikan beberapa ucapan Nabi Yusuf, tetapi dua di antaranya yang paling dikenal sebagai doa. Kami menyajikannya berurutan sesuai kronologi hidup beliau, bukan sesuai nomor ayat, supaya kisahnya lebih mudah diikuti.

Doa saat digoda (QS Yusuf ayat 33)

Ini adalah doa yang beliau ucapkan ketika berada dalam tekanan godaan di dalam rumah majikannya di Mesir:

رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِۚ وَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

Latin: Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad'uunanii ilaih, wa illaa tashrif 'annii kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun minal jaahiliin.

Artinya: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh."

Perhatikan baik-baik isi permintaannya, karena di sinilah seluruh artikel ini berporos. Seorang pemuda yang sedang ditawari kesempatan berbuat maksiat justru meminta penjara. Bukan meminta agar orang yang menggodanya semakin mencintainya, melainkan meminta agar tipu daya itu dipalingkan darinya.

Sebelum berdoa, respons pertama beliau bahkan lebih ringkas lagi. Ketika pintu-pintu dikunci dan ajakan itu dilontarkan terang-terangan, Nabi Yusuf menjawab dengan dua kata yang diabadikan pada QS Yusuf ayat 23:

مَعَاذَ اللّٰهِ

Latin: Ma'aadzallaah.

Artinya: "Aku berlindung kepada Allah."

Doa penutup hidup (QS Yusuf ayat 101)

Doa berikut ini dipanjatkan pada penghujung kisah, setelah beliau bebas dari penjara, dipercaya memegang perbendaharaan Mesir, dan dipertemukan kembali dengan ayah serta saudara-saudaranya:

رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

Latin: Rabbi qad aataitanii minal mulki wa 'allamtanii min ta'wiilil ahaadiits, faathiras samaawaati wal ardh, anta waliyyii fid dunyaa wal aakhirah, tawaffanii musliman wa alhiqnii bish shaalihiin.

Artinya: "Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh."

NU Online memasukkan lafal ini ke dalam daftar doa-doa para nabi yang diabadikan dalam Al-Quran, dan menyebutnya sebagai doa Nabi Yusuf. Dalam artikel yang sama, NU Online menjelaskan bahwa doa para nabi umumnya mengandung dua unsur, yaitu mengagungkan Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. Doa ini memperlihatkan pola tersebut dengan jelas: sebelum meminta apa pun, Nabi Yusuf menyebut satu per satu pemberian Allah kepadanya, baru kemudian menyampaikan permohonan.

Pro Tip: Kalau Anda ingin menghafal ayat 101, jangan mulai dari hafalan bunyi. Mulailah dari strukturnya yang sebenarnya sangat rapi: pengakuan nikmat (kekuasaan dan ilmu takwil mimpi), lalu penyebutan sifat Allah (pencipta langit dan bumi, pelindung di dunia dan akhirat), baru permintaan (wafat dalam Islam dan berkumpul dengan orang saleh). Tiga tahap ini jauh lebih mudah diingat daripada deretan suku kata. Catatan bacaan: pada musliman wa, tanwin bertemu waw bertasydid sehingga dibaca berdengung menjadi muslimaw wa.

Kisah di Balik Doa: Dibuang, Difitnah, Dipenjara

Doa ayat 101 terasa berbeda kalau kita tahu apa saja yang dilewati orang yang memanjatkannya. Ini bukan doa seorang yang hidupnya mulus.

Dibuang saudara sendiri. Menurut uraian NU Online, Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub yang ibunya, Rahel, wafat ketika beliau masih kecil. Beliau memiliki sebelas saudara, satu saudara kandung dan sepuluh saudara tiri. Perundungan yang beliau alami berakar pada kecemburuan sosial, sebab Nabi Ya'qub tampak lebih menyayangi Yusuf dan adiknya, Bunyamin, antara lain karena keduanya masih kecil dan telah ditinggal wafat ibunya. Rasa cemburu itu memuncak setelah Yusuf kecil menceritakan mimpinya melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya, sebagaimana QS Yusuf ayat 5. Ayahnya sudah berpesan agar mimpi itu tidak diceritakan kepada saudara-saudaranya, tepat karena khawatir memicu hasad. Cerita itu tetap sampai juga kepada mereka, dan berujung pada musyawarah untuk menyingkirkannya. Sebagian mengusulkan membunuh, sebagian menolak, lalu disepakati membuangnya ke dasar sumur, seperti direkam QS Yusuf ayat 8 sampai 10.

Digoda lalu difitnah. Yusuf kecil dipungut kafilah dan berakhir di rumah seorang pembesar Mesir. Dalam khutbah yang dimuat NU Online, dijelaskan bahwa kepribadian Nabi Yusuf yang sangat santun dengan wajah yang sangat tampan itulah yang membuat istri majikannya diam-diam jatuh hati. Ketika kesempatan itu datang, godaan disampaikan secara terbuka. Nabi Yusuf menolak, dan justru berdoa memohon dijauhkan, sebagaimana ayat 33 di atas.

Dipenjara meski tidak bersalah. Masih menurut khutbah tersebut, setelah berdoa seperti itu Nabi Yusuf dipenjarakan atas perintah suami perempuan itu meski beliau tidak bersalah, dan terbentuklah opini publik bahwa Yusuflah pihak yang keliru. Beliau tidak keberatan dengan opini itu. Bagi Nabi Yusuf, menghindari perzinaan lebih penting daripada sekadar mempertahankan nama baiknya sendiri, dan beliau meyakini Allah lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Al-Quran menutup babak ini pada ayat 34 dengan menyatakan bahwa Tuhannya memperkenankan doanya dan menghindarkannya dari tipu daya mereka.

Menjadi pembesar Mesir. Dari penjara, kemampuan menakwilkan mimpi mengantarkan beliau kepada raja. NU Online mengulas QS Yusuf ayat 54 sampai 55, ketika raja menyebut Yusuf sebagai orang yang makin (terhormat) dan amin (dipercaya), lalu Yusuf berkata, "Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan Mesir. Sesungguhnya aku adalah orang amanah dan berpengetahuan." Dari ayat ini NU Online menarik empat sifat kepemimpinan Nabi Yusuf, yaitu makin yang dimaknai memiliki kedudukan dan rekam jejak yang baik, amin yang bermakna jujur dan sangat dipercaya atas urusan yang diamanahkan, serta hafizh dan alim pada penggalan berikutnya.

Memaafkan. Ketika saudara-saudara yang dahulu membuangnya berdiri di hadapannya dalam keadaan beliau berkuasa penuh, Nabi Yusuf berkata, seperti diterjemahkan pada QS Yusuf ayat 92, "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." Dan pada ayat 100, saat menyebut nikmat Allah kepadanya, beliau mengatakan Allah telah berbuat baik kepadanya ketika membebaskannya dari penjara dan membawa keluarganya dari dusun, "setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku". Perhatikan pilihan katanya: yang beliau tunjuk sebagai perusak adalah setan, bukan saudara-saudaranya. Persis sesudah rangkaian itulah doa ayat 101 dipanjatkan.

Makna Doa: Husnul Khatimah dan Perlindungan dari Maksiat

Dua doa Nabi Yusuf berbicara tentang dua babak yang berbeda, tetapi arah keduanya sama, yaitu keselamatan agama.

Ayat 101: meminta kondisi terbaik saat ajal tiba

Isi permintaannya ada dua, dan keduanya soal akhirat: tawaffanii musliman (wafatkanlah aku dalam keadaan muslim) dan wa alhiqnii bish shaalihiin (gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh). Inilah yang lazim disebut permohonan husnul khatimah.

Di sini muncul pertanyaan yang wajar: bukankah meminta kematian itu tidak dianjurkan? Jawabannya ada pada pembahasan NU Online tentang hukum mengharapkan mati di tanah suci. Di sana dijelaskan bahwa harapan yang dimutlakkan, tanpa dibatasi perjalanan atau tahun tertentu, pada hakikatnya bukan termasuk mengharapkan kematian, melainkan mengharapkan kondisi tertentu saat kematian tiba. Menurut Syekh Sayyid Al-Bashri, itu adalah mengharapkan sifat atau kondisi yang menetapi kematian, bukan kematiannya. NU Online lalu merumuskan bahwa yang seperti ini pada hakikatnya seperti doa pada umumnya, yaitu berdoa diberi kondisi yang terbaik saat meninggal dunia, seakan-akan berdoa "Bila Engkau mematikanku, matikanlah aku sebagai syahid atau di kota Mekah", sebagaimana doa yang diteladankan Nabi Yusuf, "Matikanlah aku dalam keadaan Muslim dan susulah aku dengan orang-orang saleh."

Jadi doa Nabi Yusuf tidak sedang meminta ajal disegerakan. Ia meminta agar, kapan pun ajal itu datang, keadaannya sedang dalam Islam. Ada nuansa lain yang halus di sini. Doa ini dipanjatkan justru pada puncak kesuksesan duniawi, bukan pada titik terendah. Ketika kekuasaan, kehormatan, dan keluarga sudah kembali utuh, yang beliau minta bukan tambahan apa pun dari dunia, melainkan penutup yang baik.

Ayat 33: meminta dijauhkan dari kecenderungan pada maksiat

Doa ayat 33 punya struktur yang jujur dan realistis. Nabi Yusuf tidak berkata "aku kebal godaan". Beliau justru mengakui, wa illaa tashrif 'annii kaidahunna ashbu ilaihinna, artinya jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka. Seorang nabi mengakui bahwa tanpa penjagaan Allah, dirinya bisa condong. Ini pelajaran besar bagi siapa pun yang merasa imannya sudah cukup kuat untuk mendekati sumber maksiat.

Poin Penting: Perhatikan bahwa kedua doa Nabi Yusuf tidak meminta satu pun hal yang biasa diinginkan orang dari sosok setampan beliau. Tidak ada permintaan agar dicintai, dikagumi, atau dituruti. Yang diminta adalah dijauhkan dari godaan (ayat 33) dan wafat dalam Islam (ayat 101). Doa yang isinya lari dari syahwat tidak mungkin dipakai untuk mengejar syahwat.

Meluruskan: Ini Bukan Doa Pelet atau Pengasihan

Bagian ini perlu ditulis paling terus terang, sebab di sinilah letak masalah terbesar dari popularitas nama "doa Nabi Yusuf".

Karena Nabi Yusuf digambarkan sangat tampan dan kisahnya bersinggungan dengan seorang perempuan yang jatuh hati kepadanya, namanya banyak dipinjam untuk memasarkan apa yang disebut "doa pengasihan Yusuf", "pelet Yusuf", atau "amalan agar dicintai lawan jenis". Redaksi tidak akan memuat satu pun lafal semacam itu di halaman ini, dan alasannya bukan sekadar kehati-hatian.

Pertama, amalan semacam itu tidak ada di dalam Al-Quran. Lafal yang beredar sebagai "doa pengasihan Yusuf" bukan bagian dari surat Yusuf dan bukan doa yang Al-Quran nisbatkan kepada beliau. Yang Al-Quran nisbatkan kepada Nabi Yusuf adalah dua doa di atas, ditambah ucapan ma'aadzallaah pada ayat 23. Meminjam nama seorang nabi untuk lafal yang tidak pernah beliau ucapkan bukan perkara sepele.

Kedua, isi doanya justru berlawanan dengan tujuan pelet. Inilah argumen yang paling menentukan, dan ia berasal dari teks doanya sendiri. Pelet bertujuan membuat orang lain tertarik dan tunduk pada keinginan pemakainya. Doa Nabi Yusuf pada ayat 33 bertujuan sebaliknya: memohon agar ketertarikan itu dipalingkan, sampai-sampai penjara lebih beliau sukai daripada memenuhi ajakan tersebut. Memakai doa ayat 33 sebagai pelet berarti memakai sebuah permohonan lari dari maksiat untuk mendekati maksiat. Adapun doa ayat 101 sama sekali tidak menyentuh urusan cinta, isinya tentang kematian dan orang-orang saleh. Tidak ada satu kata pun di dalam kedua doa itu tentang memikat, mengasihi, atau menundukkan hati siapa pun.

Ketiga, secara akidah, pelet berdiri di wilayah yang berbahaya. Dalam artikelnya tentang amalan, hizib, dan azimat, NU Online mengutip hadits riwayat Ahmad, "Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik." NU Online sendiri berpandangan luwes soal amalan dan azimat, tetapi kelonggaran itu bersyarat dan syaratnya justru menutup pintu pelet. Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Hajar dan ulama lain menjelaskan bahwa keharaman itu berlaku apabila yang digantungkan tidak mengandung Al-Quran atau semisalnya, dan larangan itu tidak berlaku bila yang digantungkan berupa dzikir kepada Allah. NU Online kemudian menyebut tiga ketentuan yang harus dipenuhi: isinya harus Kalam Allah, sifat Allah, asma Allah, atau sabda Rasulullah; memakai bahasa Arab atau bahasa lain yang dapat dipahami maknanya; serta tertanam keyakinan bahwa amalan itu tidak dapat memberi pengaruh apa pun, dan apa yang diinginkan terwujud hanya karena takdir Allah, sedangkan doa dan azimat hanyalah salah satu sebab saja.

Uji saja "pelet Yusuf" dengan tiga ketentuan itu. Tujuannya adalah membelokkan kehendak orang lain, bukan memohon kepada Allah. Keyakinan yang dibangun justru bahwa amalannya berdaya, bukan bahwa hasil ada pada takdir Allah. Dan lafalnya kerap tidak jelas asal-usulnya sehingga syarat pertama pun tidak terpenuhi. Ketiganya gugur.

Ada satu hal lagi yang layak direnungkan. Ketampanan Nabi Yusuf dalam kisah Al-Quran bukan alat untuk memikat, melainkan justru ujian yang nyaris menjerumuskan dan berbuah penjara bertahun-tahun. Menjadikan ketampanan itu sebagai jualan amalan pemikat berarti membalik total pesan kisahnya.

Ringkasan: Doa Nabi Yusuf yang sahih dari Al-Quran ada dua, yaitu QS Yusuf ayat 33 (memohon dijauhkan dari godaan maksiat) dan QS Yusuf ayat 101 (memohon wafat dalam Islam dan digabungkan dengan orang saleh). Keduanya tidak berisi permohonan agar dicintai lawan jenis. "Doa pengasihan Yusuf" yang beredar tidak berasal dari Al-Quran, tidak berdasar, dan bertentangan dengan isi doa Nabi Yusuf sendiri. Prinsip ini sama dengan yang berlaku pada doa seribu dinar yang kerap disalahgunakan sebagai jimat pelaris.

Bagi yang sedang mencari jodoh atau menghadapi persoalan hati, jalannya bukan amalan pemikat, melainkan doa yang jujur kepada Allah disertai ikhtiar yang wajar dan menjaga diri. Bila ada persoalan pribadi yang lebih spesifik, silakan tanyakan lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang mengenal keadaan Anda.

Kapan Doa Ini Relevan Diamalkan

Kedua doa Nabi Yusuf adalah ayat Al-Quran, sehingga membacanya bernilai ibadah. Tidak ada ketentuan waktu khusus, jumlah bilangan tertentu, atau syarat yang dipatok sumber otoritatif untuk keduanya, dan kami tidak akan mengarang ketentuan yang sumbernya diam. Yang bisa disampaikan adalah kapan isinya paling nyambung dengan keadaan pembaca.

  1. Ayat 33 ketika godaan sedang di depan mata. Saat berada dalam situasi berdua yang tidak semestinya, saat jari sudah gatal membuka sesuatu yang tidak pantas, atau saat ada tawaran yang menggiurkan tetapi jelas keliru. Doa ini pas justru pada detik-detik itu, karena itulah konteks aslinya.
  2. Ayat 33 sebagai pengakuan, bukan klaim kekebalan. Nabi Yusuf mengakui bisa condong tanpa penjagaan Allah. Maka doa ini sebaiknya diiringi langkah nyata: menjauh dari tempatnya, menutup aplikasinya, mengubah situasinya. Nabi Yusuf sendiri tidak berdoa lalu tetap tinggal di ruangan itu, beliau memilih penjara.
  3. Ayat 101 saat sedang di puncak. Ini penempatan yang jarang terpikir. Doa itu dipanjatkan Nabi Yusuf ketika segalanya sedang baik. Ketika promosi turun, usaha membaik, atau keluarga sedang utuh, ayat ini mengingatkan bahwa yang paling layak dicemaskan bukanlah kehilangan semua itu, melainkan bagaimana keadaan kita saat mengembalikannya.
  4. Ayat 101 sebagai doa husnul khatimah. Cocok dirutinkan dalam rangkaian doa harian, misalnya digabung dengan dzikir pagi dan petang, atau pada sepertiga malam terakhir seusai sholat tahajud.
  5. Ayat 101 saat mendengar kabar kematian. Momen takziah sering membuat kita teringat pada akhir hidup sendiri. Doa ini menyalurkan kesadaran itu menjadi permohonan yang benar.

Kalau yang Anda hadapi adalah kesulitan, himpitan, atau kesedihan, doa yang lebih tepat konteksnya justru doa Nabi Yunus, yang memang dipanjatkan dari dalam kesempitan dan dianjurkan NU Online untuk dibaca ketika seseorang sedang susah atau terlilit utang. Untuk permohonan keselamatan secara umum, ada doa selamat. Memilih doa sesuai konteksnya adalah bagian dari adab, bukan formalitas.

Pro Tip: Menurut hemat redaksi, cara paling sehat memperlakukan doa Nabi Yusuf adalah berhenti memburunya sebagai "amalan berkhasiat" dan mulai membacanya sebagai ayat. Buka mushaf pada surat Yusuf, baca kisahnya dari awal sampai akhir sekali saja dengan terjemahannya, dan doa pada ayat 33 serta 101 akan terasa jauh berbeda daripada saat ia dipotong menjadi lafal lepas tanpa cerita.

Pelajaran dari Nabi Yusuf

Ada beberapa hikmah yang bisa dibawa pulang dari rangkaian kisah dan doa ini:

  • Sabar yang panjang dan tidak bersuara. Nabi Yusuf dibuang, dijual, difitnah, lalu dipenjara bertahun-tahun tanpa membalas dan tanpa sibuk membela nama baiknya. Kesabaran beliau bukan kepasrahan pasif, sebab ketika kesempatan berbuat baik datang, beliau mengambilnya sepenuh tenaga.
  • Menjaga diri lebih berharga daripada nama baik. Beliau rela dianggap bersalah oleh publik asalkan tidak jatuh ke dalam maksiat. Di zaman ketika citra begitu dijaga, urutan prioritas ini terasa asing sekaligus menampar.
  • Jujur mengakui kelemahan diri. Pengakuan "aku akan cenderung kepada mereka" datang dari seorang nabi. Merasa diri kebal godaan bukan tanda iman kuat, melainkan tanda kurang waspada.
  • Memaafkan tanpa syarat ketika sedang berkuasa. Maaf paling mahal adalah maaf yang diberikan saat kita punya kemampuan penuh untuk membalas. Nabi Yusuf memilih menyebut setan sebagai perusak hubungan, bukan menunjuk hidung saudara-saudaranya.
  • Kekuasaan diminta karena kemampuan, bukan karena ambisi. Permintaan beliau untuk mengurus perbendaharaan Mesir disertai alasan yang terukur, yaitu amanah dan berpengetahuan, dan NU Online membacanya sebagai teladan empat sifat kepemimpinan.
  • Akhir yang baik lebih penting daripada awal yang baik. Seluruh kisah panjang itu ditutup dengan permintaan sederhana: wafat dalam Islam, berkumpul dengan orang saleh. Kisah lengkap para nabi lainnya bisa Anda telusuri di kanal kisah teladan.

Kalau boleh memilih satu kalimat untuk dibawa dari artikel ini, redaksi memilih ini: doa yang isinya meminta dijauhkan dari maksiat tidak akan pernah bisa menjadi alat untuk meraih maksiat. Selama itu dipegang, nama besar Nabi Yusuf akan sulit disalahgunakan.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa nabi yusuf

TApa bacaan doa Nabi Yusuf yang ada di Al-Quran?

Ada dua yang paling masyhur. Pertama QS Yusuf ayat 33, 'Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad'uunanii ilaih...', yang memohon agar dijauhkan dari godaan maksiat. Kedua QS Yusuf ayat 101, 'Rabbi qad aataitanii minal mulki... tawaffanii musliman wa alhiqnii bish shaalihiin', yang memohon diwafatkan dalam keadaan muslim dan digabungkan dengan orang-orang saleh.

TApakah doa Nabi Yusuf bisa dipakai sebagai pelet atau doa pengasihan?

Tidak. Doa Nabi Yusuf dalam Al-Quran tidak berisi satu pun permintaan agar dicintai atau dikasihi orang lain. Ayat 33 justru memohon agar godaan dipalingkan, sampai beliau menyatakan lebih menyukai penjara daripada memenuhi ajakan itu, sedangkan ayat 101 berbicara tentang kematian dan orang saleh. Lafal yang beredar sebagai 'doa pengasihan Yusuf' bukan berasal dari Al-Quran dan tidak berdasar. NU Online juga mengutip hadits riwayat Ahmad yang menyebut hizib, azimat, dan pelet sebagai perbuatan syirik, serta menetapkan syarat bahwa amalan harus berisi Kalam Allah dan disertai keyakinan bahwa hasil hanya karena takdir Allah.

TApakah doa Nabi Yusuf ayat 101 berarti meminta cepat mati?

Tidak. Menurut pembahasan NU Online tentang hukum mengharapkan mati di tanah suci, harapan yang dimutlakkan seperti ini bukan termasuk mengharapkan kematian, melainkan mengharapkan kondisi tertentu saat kematian tiba. NU Online menyebut doa Nabi Yusuf 'Matikanlah aku dalam keadaan Muslim dan susulah aku dengan orang-orang saleh' sebagai contoh doa memohon kondisi terbaik saat ajal datang, bukan meminta ajal disegerakan.

TKapan doa Nabi Yusuf sebaiknya dibaca?

Tidak ada waktu khusus atau bilangan tertentu yang dipatok sumber otoritatif. Yang bisa dijadikan pegangan adalah konteks isinya: ayat 33 relevan saat sedang menghadapi godaan maksiat, dan ayat 101 relevan sebagai permohonan husnul khatimah, termasuk ketika hidup sedang di puncak atau saat mendengar kabar kematian.

TMengapa Nabi Yusuf justru meminta dipenjara?

Karena bagi beliau menghindari perzinaan lebih penting daripada kenyamanan maupun nama baiknya. Dalam khutbah yang dimuat NU Online dijelaskan bahwa setelah berdoa demikian Nabi Yusuf memang dipenjarakan meski tidak bersalah, dan beliau tidak keberatan dengan opini publik yang menyalahkannya karena meyakini Allah lebih tahu kejadian sebenarnya. QS Yusuf ayat 34 menyatakan Allah memperkenankan doanya dan menghindarkannya dari tipu daya mereka.

TApa saja cobaan yang dialami Nabi Yusuf?

Menurut uraian NU Online, beliau dirundung saudara-saudara tirinya karena kecemburuan lalu dibuang ke dasar sumur (QS Yusuf ayat 8 sampai 10), dijual dan berakhir di rumah pembesar Mesir, digoda lalu difitnah, dipenjara meski tidak bersalah, dan akhirnya dipercaya mengelola perbendaharaan Mesir (QS Yusuf ayat 54 sampai 55) sebelum dipertemukan kembali dengan keluarganya.

TApa yang diucapkan Nabi Yusuf ketika digoda?

Menurut QS Yusuf ayat 23, ketika pintu-pintu dikunci dan ajakan itu disampaikan, beliau menjawab 'Ma'aadzallaah' yang artinya 'Aku berlindung kepada Allah', lalu menyebut bahwa suami perempuan itu adalah tuannya yang telah memperlakukannya dengan baik, dan menegaskan bahwa orang-orang zalim tidak akan beruntung.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa