
Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, saat dipadati jamaah. Foto: GusJuned / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
Foto sampul: Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, pada malam hari saat jemaah bertawaf. Foto oleh Basheer Olakara, CC BY 2.0, melalui Wikimedia Commons (dipotong dan diperkecil).
Doa melihat Kabah adalah doa yang dianjurkan dibaca ketika mata pertama kali menatap Ka'bah, dimulai dengan lafal Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wa ta'zhiman wa takriman wa mahabatan. Anjuran membaca doa ini dicatat Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Idhah fi Manasikil Hajj, dan momen memandang Baitullah dinilai sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Menurut An-Nawawi, saat itu pintu-pintu langit dibuka untuk mengabulkan doa orang yang sedang melihat Ka'bah. Artikel ini menyajikan bacaan lengkap dalam Arab, latin, dan artinya, menjelaskan status serta sumber doa tersebut secara jujur, lalu membahas adabnya dan doa-doa lain yang dianjurkan di Masjidil Haram, sebagaimana dihimpun NU Online.
Bacaan Doa Melihat Kabah: Arab, Latin, dan Artinya
Berikut bacaan doa yang dianjurkan Imam An-Nawawi untuk dibaca ketika melihat Ka'bah:
اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرّفَهُ وَكَرّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا
Latin: Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wa ta'zhiman wa takriman wa mahabatan, wa zid man syarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi'tamarahu tasyrifan wa takriman wa ta'zhiman wa birran.
Artinya: "Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kehebatan pada Baitullah ini. Tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kebaikan kepada orang-orang yang berhaji atau berumrah yang memuliakan dan menghormati Ka'bah."
Setelah membaca doa di atas, Imam An-Nawawi menganjurkan agar dilanjutkan dengan doa berikut ini:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ
Latin: Allahumma antas salam, wa minkas salam, fa hayyina rabbana bis salam.
Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah keselamatan. Dari-Mu keselamatan berasal. Wahai Tuhan kami, berikanlah kehormatan kepada kami melalui keselamatan."
Kedua doa ini bukan bacaan yang panjang, sehingga mudah dihafal bahkan oleh jamaah yang baru pertama kali berangkat. Isinya pun bukan permintaan untuk diri sendiri lebih dulu, melainkan permohonan agar Allah menambah kemuliaan bagi Ka'bah dan bagi setiap orang yang memuliakannya. Ada adab yang halus di situ: saat menatap rumah Allah, hal pertama yang kita ucapkan adalah pengagungan, baru setelahnya permohonan pribadi. Kedua lafal ini sama-sama tercatat dalam kitab Al-Idhah fi Manasikil Hajj karya Imam An-Nawawi, sebagaimana dikutip NU Online.
| Urutan | Bacaan | Isi singkat |
|---|---|---|
| 1 | Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wa ta'zhiman wa takriman wa mahabatan (sampai selesai) | Pengagungan Baitullah dan permohonan kemuliaan bagi orang yang berhaji atau berumrah |
| 2 | Allahumma antas salam, wa minkas salam, fa hayyina rabbana bis salam | Pengakuan bahwa keselamatan bersumber dari Allah, disertai harapan disambut dengan keselamatan |
| 3 | Doa apa saja yang dikehendaki | Kebaikan dunia maupun akhirat, boleh dengan bahasa sendiri |
| 4 | Memperbanyak istighfar | Penutup yang paling ditekankan An-Nawawi untuk memungkasi doa |
Kalau diperhatikan dari terjemahnya, empat kata kunci pada doa pertama menggambarkan penghormatan yang berlapis kepada Baitullah. Tasyrif bermakna tambahan kemuliaan, ta'zhim bermakna keagungan, takrim bermakna kehormatan, dan mahabah bermakna kewibawaan atau kehebatan yang menumbuhkan rasa hormat di hati orang yang memandangnya. Yang menarik, doa ini tidak berhenti pada Ka'bahnya saja, tetapi juga memohonkan tambahan kemuliaan bagi setiap orang yang memuliakan dan menghormatinya, yaitu para jamaah haji dan umrah. Jadi ketika membacanya, kita sekaligus mendoakan seluruh tamu Allah yang datang dari berbagai penjuru dunia, bukan hanya diri sendiri. Doa kedua melengkapinya dengan pengakuan bahwa keselamatan sejati hanya bersumber dari Allah, disertai harapan agar kita disambut dengan keselamatan itu.
Status dan Sumber Doa Melihat Kabah
Bagian ini penting disampaikan apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan. Doa melihat Ka'bah yang beredar luas ini memang dianjurkan oleh ulama, tetapi kedudukan riwayatnya perlu dipahami dengan jujur agar kita tidak salah menyandarkannya.
NU Online menerangkan bahwa anjuran membaca doa tersebut berasal dari Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Idhah fi Manasikil Hajj (pada Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, Beirut, Darul Fikr, halaman 109). Adapun sandaran riwayatnya, sebagaimana dikutip Imam Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami' at-Tirmidzi, adalah bahwa Imam asy-Syafi'i meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu Juraij bahwa Nabi Muhammad apabila melihat Baitullah, beliau mengangkat kedua tangannya lalu membaca doa tersebut.
Namun di sinilah letak nuansa yang tidak boleh disembunyikan. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Talkhis mengomentari riwayat ini sebagai riwayat yang mu'dhal. Mu'dhal adalah istilah dalam ilmu hadits untuk riwayat yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya, dalam hal ini pada mata rantai antara Ibnu Juraij dan Nabi Muhammad. Ibnu Juraij sendiri hidup pada generasi jauh setelah masa Nabi, sehingga ada beberapa perawi yang terputus di antara keduanya. Riwayat mu'dhal termasuk kategori hadits yang lemah dari sisi sanad, dan karena itu tidak tepat kalau kita mengklaim doa ini pasti diucapkan langsung oleh Nabi dengan sanad yang tersambung utuh.
Menariknya, Imam asy-Syafi'i sendiri bersikap hati-hati. Setelah meriwayatkan doa itu, beliau menyampaikan pandangannya tentang mengangkat tangan saat melihat Ka'bah, bahwa hal itu bukanlah perkara yang beliau makruhkan, tetapi juga bukan perkara yang beliau sunahkan. Dengan kata lain, Imam asy-Syafi'i mengambil posisi netral: tidak mencela, tidak pula menegaskannya sebagai sunnah.
Perlu dipahami, penilaian lemah pada sanad tidak otomatis membuat sebuah doa terlarang dibaca. Para ulama membedakan antara menetapkan hukum syariat, yang menuntut dalil kuat, dengan mengamalkan lafal doa yang maknanya baik. Untuk yang kedua, lafal yang isinya pujian dan permohonan kebaikan tetap boleh dibaca sebagai doa mutlak, kapan dan di mana saja, termasuk saat melihat Ka'bah. Yang tidak dibenarkan adalah menaikkan status doa ini menjadi sunnah yang pasti dari Nabi, lalu menyalahkan orang yang tidak membacanya. Membedakan dua hal ini penting agar kita tetap bersemangat mengamalkan kebaikan tanpa terjebak pada klaim yang melampaui dalil.
Lalu apakah doa ini boleh diamalkan? NU Online menyimpulkan bahwa, terlepas dari perbincangan sanadnya, dari kandungan doanya saja kita dapat melihat bahwa doa itu baik untuk diamalkan. Isinya berupa pengagungan kepada Baitullah dan permohonan kebaikan bagi orang-orang yang berhaji dan berumrah, dan tidak ada satu pun kalimatnya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Inilah kaidah yang sering dipakai ulama: doa dengan lafal yang baik tetap boleh dibaca sebagai doa mutlak, meski status riwayatnya sebagai hadits marfu' diperdebatkan.
Keutamaan Momen Melihat Kabah dan Waktu Mustajab
Kenapa doa saat melihat Ka'bah begitu ditekankan? Karena momen itu sendiri istimewa. Imam An-Nawawi, sebagaimana dinukil NU Online, menjelaskan bahwa saat seseorang memandang Baitullah, pintu-pintu langit dibuka untuk mengabulkan doa-doanya. Itulah sebabnya para ulama menganjurkan agar kesempatan langka ini tidak dilewatkan begitu saja, apalagi bagi jamaah yang baru pertama kali menunaikan haji atau umrah.
Karena momen ini termasuk waktu yang tepat untuk memanjatkan doa, An-Nawawi menganjurkan agar orang yang melihat Ka'bah tidak berhenti pada dua doa di atas, melainkan melanjutkannya dengan doa apa saja yang dikehendaki, baik yang berkaitan dengan kepentingan dunia maupun akhirat. Anda boleh mendoakan kesehatan, kelancaran rezeki, keselamatan keluarga, ampunan bagi orang tua, hingga hajat-hajat pribadi yang selama ini dipendam. Semuanya sah dan dianjurkan, selama isinya kebaikan.
Meski begitu, penting diingat bahwa doa adalah bentuk ikhtiar dan penghambaan, bukan transaksi yang otomatis menjamin hasil. Keterbukaan pintu langit yang disebutkan bukanlah jaminan bahwa setiap permintaan pasti dikabulkan persis sesuai keinginan kita, melainkan penegasan bahwa waktu itu sangat layak dimanfaatkan untuk bersungguh-sungguh memohon. Allah yang menentukan bentuk pengabulannya, kadang berupa apa yang kita minta, kadang berupa yang lebih baik menurut ilmu-Nya.
Cara pandang ini sekaligus menjaga hati dari kekecewaan. Ada jamaah yang pulang membawa cerita indah tentang doa yang cepat terkabul, ada pula yang hajatnya belum terlihat terwujud sampai bertahun-tahun kemudian. Keduanya tetap beruntung, sebab yang dinilai Allah adalah kesungguhan memohon, bukan kecepatan pengabulan. Menatap Ka'bah lalu berdoa dengan rendah hati sudah merupakan ibadah yang bernilai, apa pun bentuk jawaban yang kelak Allah berikan.
Adab dan Cara Berdoa saat Melihat Kabah
Selain lafal, ada adab yang menyempurnakan momen ini. NU Online, mengutip pengalaman jamaah, mengingatkan bahwa ketika seseorang melihat sesuatu yang indah dan agung, ia dianjurkan bertasbih memuji Allah sebagai Zat yang menciptakan segala keindahan. Menatap Ka'bah untuk pertama kali sering menghadirkan getaran hati yang sulit dilukiskan, dan adab pertamanya adalah menghadirkan hati, khusyuk, serta menyadari di hadapan siapa kita sedang berdiri.
Soal mengangkat tangan, sebagian jamaah mengangkat kedua tangannya saat berdoa mengikuti bunyi riwayat yang menyebut Nabi mengangkat tangan ketika melihat Baitullah. Sebagaimana dijelaskan di bagian status, Imam asy-Syafi'i menilai perbuatan itu bukan sesuatu yang dimakruhkan dan bukan pula yang disunahkan. Artinya, mengangkat tangan boleh dilakukan dan tidak perlu diperdebatkan, tetapi juga tidak perlu dipaksakan sebagai keharusan. Yang lebih utama adalah kesungguhan dan kekhusyukan doanya, bukan sekadar posisi tangan.
Adab berikutnya adalah tidak terpaku pada lafal baku. Karena momen ini dianjurkan untuk berdoa apa saja yang baik, Anda tidak perlu merasa "salah" bila hanya berdoa dengan bahasa Indonesia, atau bila lupa sebagian lafal Arabnya. Doa yang lahir dari hati yang tulus jauh lebih berharga daripada lafal yang hafal tetapi kosong makna.
Sebagai gambaran praktis, banyak pembimbing ibadah menyarankan agar jamaah tidak terburu-buru berpindah begitu tiba di hadapan Ka'bah. Berhentilah sejenak, tenangkan napas, tatap Baitullah dengan penuh kesadaran, baru kemudian panjatkan doa dengan perlahan. Ketergesaan sering membuat momen istimewa ini berlalu tanpa benar-benar dihayati. Kekhusyukan tidak diukur dari panjang atau fasihnya lafal, melainkan dari hadirnya hati saat menghadap Sang Pemilik rumah yang sedang kita pandang.
Adapun puncak dari semua adab itu, menurut An-Nawawi sebagaimana dinukil NU Online, adalah memperbanyak istighfar atau memohon ampunan kepada Allah setelah membaca doa-doa tersebut. Di antara sekian banyak permohonan, istighfar-lah yang paling ditekankan untuk mengakhiri munajat di hadapan Baitullah. Ini mengajarkan bahwa sebelum meminta banyak hal, seorang hamba sebaiknya membersihkan diri lebih dulu dengan mengakui kesalahan dan memohon ampun.
Doa Lain di Masjidil Haram dan Kaitannya dengan Umroh Haji
NU Online menggambarkan suasananya menjelang musim haji: kelompok terbang atau kloter jamaah dari Tanah Air berdatangan ke Makkah, sebagian bahkan bergerak dari Madinah menuju kota kelahiran Nabi. Begitu memasuki Masjidil Haram, hal pertama yang mereka jumpai adalah Ka'bah. Bagi yang belum pernah berhaji atau berumrah sebelumnya, pertemuan pandangan dengan Ka'bah untuk pertama kali menyimpan kesan yang sangat mendalam dalam hidupnya, dan di titik itulah doa melihat Ka'bah menemukan tempatnya.
Momen melihat Ka'bah biasanya terjadi di awal rangkaian ibadah, yaitu ketika jamaah masuk ke Masjidil Haram dan Ka'bah tampak di tengah masjid. Sesudah itu, jamaah umumnya melanjutkan dengan tawaf, mengelilingi Ka'bah tujuh kali, lalu sa'i antara Shafa dan Marwah. Ka'bah adalah pusat tawaf sekaligus kiblat seluruh umat Islam di dunia, sehingga wajar bila menatapnya secara langsung menghadirkan kesan yang mendalam.
Di sepanjang ibadah di Tanah Suci, ada beberapa momen lain yang juga punya doa dianjurkan. Salah satunya adalah ketika meminum air zamzam, yang punya adab dan doanya tersendiri. Anda bisa mempelajarinya di artikel doa minum air zam zam. Perlu ditegaskan, doa melihat Ka'bah tidak termasuk rukun atau wajib dalam ibadah haji maupun umrah. Ia adalah amalan yang dianjurkan (mustahab), bukan syarat sahnya ibadah. Jadi seandainya seseorang lupa membacanya, hajinya atau umrahnya tetap sah selama rukun dan wajibnya terpenuhi.
Untuk memahami mana yang termasuk rukun dan mana yang sekadar anjuran, ada baiknya Anda mengenali kerangka manasik secara utuh. Rukun haji, misalnya, ada enam menurut mazhab Syafi'i, mulai dari ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadhah, sa'i, tahallul, sampai tertib. Pembahasan lengkapnya kami uraikan tersendiri di artikel rukun haji. Bagi yang sedang mempertimbangkan jalur keberangkatan, tersedia pula ulasan tentang haji furoda sebagai salah satu opsi. Intinya, kuasai dulu rukun dan wajibnya, lalu lengkapi dengan amalan-amalan anjuran seperti doa melihat Ka'bah ini.
Menempatkan doa ini pada porsinya juga menjaga kita dari sikap berlebihan. Doa melihat Ka'bah menyempurnakan pengalaman spiritual jamaah, tetapi keabsahan ibadah tetap bertumpu pada rukun dan wajib yang sudah ditetapkan syariat. Keduanya berjalan seiring: yang wajib menjaga sahnya ibadah, yang sunnah menambah keindahan dan kekhusyukannya.
Hal yang Sering Disalahpahami
Karena doa ini sangat populer dan banyak beredar di media sosial menjelang musim haji, ada beberapa kekeliruan yang perlu diluruskan supaya niat baik jamaah tidak tergelincir:
- Mengira lafalnya pasti sabda Nabi. Seperti dijelaskan di atas, riwayatnya mu'dhal (lemah sanadnya). Doa ini dianjurkan Imam An-Nawawi dan isinya baik, tetapi bukan hadits sahih yang tersambung sampai Nabi. Menyandarkan sesuatu kepada Nabi secara pasti padahal sanadnya lemah termasuk hal yang perlu dihindari.
- Menganggap ada khasiat mistik dari mengulang lafal tertentu. Doa adalah munajat kepada Allah, bukan mantra atau jimat. Tidak ada jaminan angka atau hasil instan dari sekadar mengulang lafal. Yang bernilai adalah kesungguhan, keikhlasan, dan kebersihan hati saat memohon.
- Memaksakan mengangkat tangan sebagai keharusan. Imam asy-Syafi'i menilai mengangkat tangan saat melihat Ka'bah bukan perkara yang makruh dan bukan pula yang disunahkan. Boleh dilakukan, boleh tidak, tanpa perlu saling menyalahkan.
- Melupakan istighfar. Padahal justru inilah yang paling ditekankan An-Nawawi untuk memungkasi doa di hadapan Baitullah. Jangan sampai sibuk meminta banyak hal, tetapi lupa memohon ampun.
- Ribut soal perbedaan versi lafal. Antara satu rujukan dan rujukan lain kadang ada sedikit perbedaan penulisan atau harakat. Selama maknanya sama dan sumbernya jelas, hal ini tidak perlu dijadikan bahan perselisihan.
Untuk mempersiapkan ibadah Anda lebih matang, pelajari rangkaian lengkapnya di kanal Umroh dan Haji serta komponen pembiayaannya di halaman biaya umroh dan haji. Bila Anda punya pertanyaan fikih pribadi seputar doa, adab, atau kondisi khusus saat di Tanah Suci, silakan berkonsultasi melalui halaman Tanya Ustadz atau bertanya langsung kepada pembimbing ibadah kloter Anda.
Sumber Rujukan
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


