
Foto sampul: Kilat menyambar di langit malam di atas permukiman Yoshkar-Ola, Rusia. Foto oleh Oleg Yakovlev, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons (dipotong dan diperkecil).
Doa mendengar petir yang paling kuat adalah tasbih Subhanalladzi yusabbihur ra'du bihamdihi wal malaikatu min khifatih (Mahasuci Allah yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya). Lafal ini bukan karangan, melainkan hampir menyalin bunyi firman Allah dalam QS Ar-Ra'd ayat 13. NU Online menyebutkan bahwa bacaan ini terdapat dalam kitab al-Muwaththa' himpunan Imam Malik melalui sanad yang sahih, dan dianjurkan dibaca ketika mendengar suara guruh atau halilintar. Artikel ini menyajikan lafal doanya secara lengkap beserta arti dan dalilnya, doa perlindungan yang juga diajarkan, status riwayatnya secara jujur, serta adab dan ikhtiar keselamatan saat badai petir, sebagaimana dihimpun NU Online.
Bacaan Doa Mendengar Petir yang Dianjurkan
Ketika mendengar guruh yang menggelegar, tradisi yang diriwayatkan NU Online adalah menghentikan sejenak pembicaraan, lalu membaca tasbih berikut:
سُبْحانَ الَّذي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Latin: Subhaanalladzii yusabbihur ra'du bihamdihi wal malaa-ikatu min khiifatih.
Artinya: "Mahasuci Allah yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya."
Kalau diperhatikan, bacaan ini tidak berisi permintaan apa pun. Ia murni pengakuan dan pujian. Orang yang membacanya sedang menyatakan satu kesadaran, yaitu bahwa suara petir yang menakutkan itu, di sisi lain, adalah bentuk tasbihnya guruh kepada Allah, dan bahwa para malaikat pun bertasbih karena rasa takut kepada-Nya. Jadi doa mendengar petir yang pertama ini menempatkan hati kita sejajar dengan seluruh makhluk yang sedang menyucikan Allah, bukan sekadar meminta agar bahaya berlalu.
QS Ar-Ra'd Ayat 13: Guruh Bertasbih Memuji Allah
Dasar utama doa mendengar petir bukan sekadar tradisi, melainkan firman Allah sendiri. Nama surat ke-13 dalam Al-Quran adalah Ar-Ra'd, yang berarti "guruh" atau "petir". Pada ayat ke-13 surat ini, Allah menjelaskan bahwa guruh termasuk makhluk yang bertasbih memuji-Nya:
وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِۚ وَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ
Latin: Wa yusabbihur ra'du bihamdihi wal malaikatu min khifatih, wa yursilush shawa'iqa fa yushibu biha man yasya'u wa hum yujadiluna fillah, wa huwa syadidul mihal.
Artinya: "Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya." (QS Ar-Ra'd: 13)
Perhatikan bahwa lafal tasbih pada bagian awal doa mendengar petir hampir sama persis dengan penggalan pertama ayat ini. Itulah sebabnya bacaan tersebut terasa begitu pas: ia sesungguhnya mengulang kembali apa yang Allah firmankan tentang tasbihnya guruh. Ayat ini juga menyebutkan dua sisi petir sekaligus. Di satu sisi ia bertasbih memuji Allah, di sisi lain Allah dapat melepaskan halilintar (shawa'iq) yang menimpa siapa yang Dia kehendaki. Dua sisi inilah yang membuat sikap seorang muslim terhadap petir tidak boleh berat sebelah, tidak meremehkan dan tidak pula panik berlebihan.
Menariknya, penempatan pembahasan guruh dalam surat yang justru bernama Ar-Ra'd menegaskan betapa fenomena ini dijadikan Al-Quran sebagai sarana perenungan. Di tengah surat yang banyak berbicara tentang kekuasaan Allah, bukti keesaan-Nya, dan hari pembalasan, kilat dan guruh dihadirkan sebagai saksi yang setiap saat bisa disaksikan manusia. Maka ketika kita mendengar petir lalu teringat ayat ini, sesungguhnya kita sedang diajak membaca ulang tanda kekuasaan Allah yang terpampang di langit, bukan sekadar menunggu suaranya reda.
Makna Petir sebagai Tasbih dan Tanda Kebesaran Allah
Dalam Tafsir Tahlili yang dihimpun NU Online atas QS Ar-Ra'd ayat 13 dijelaskan bahwa suara menggelegar yang keluar dari petir, menurut Al-Quran, adalah bacaan tasbihnya dalam memuji Allah. Ini merupakan tanda ketundukan petir kepada Allah, penyucian dari segala sekutu, sekaligus pengakuan atas kelemahan dirinya dibandingkan kekuasaan Penciptanya yang Mahaluhur. Bahkan ditegaskan bahwa tiap benda yang bersuara, suaranya itu pada hakikatnya adalah tasbih, hanya saja manusia tidak memahami bahasanya. Prinsip ini dikuatkan oleh firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 44:
وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ
Latin: Wa in min syai'in illa yusabbihu bihamdihi wa lakin la tafqahuna tasbihahum.
Artinya: "Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka." (QS Al-Isra: 44)
Cara pandang ini mengubah pengalaman mendengar petir. Suara yang bagi banyak orang hanya berarti gangguan atau ketakutan, dalam kacamata Al-Quran justru menjadi pengingat kebesaran Allah. NU Jateng bahkan menyebut fenomena ini dengan istilah yang tepat, yaitu bahwa gemuruh guruh adalah tasbih. Ketika kita mendengar petir lalu ikut berzikir, kita sebenarnya sedang menyelaraskan diri dengan tasbih yang sedang dilantunkan langit. Di sinilah letak keindahan doa mendengar petir, ia mengubah rasa cemas menjadi kesadaran spiritual, bukan menambah rasa takut yang tidak beralasan.
Meski begitu, memaknai petir sebagai tasbih tidak berarti kita menganggapnya sepele. Ayat Ar-Ra'd 13 tadi tetap mengingatkan bahwa Allah bisa menimpakan halilintar kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka keindahan makna spiritual berjalan seiring dengan kewaspadaan yang nyata, dua hal yang akan kita bahas lebih jauh di bagian adab dan ikhtiar.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tasbihnya benda-benda mati bukan sekadar kiasan, ia hakiki, hanya saja terjadi dengan cara yang tidak kita pahami. Guruh yang menggelegar, angin yang berdesir, dan air yang mengalir, semuanya sedang menyucikan Allah dengan bahasa masing-masing. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati. Jika seluruh alam saja tunduk bertasbih, sudah sepatutnya manusia yang diberi akal lebih dahulu berzikir ketika menyaksikan tanda kebesaran Allah. Itulah yang menjadikan momen mendengar petir bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan kesempatan memperbarui kesadaran akan kehadiran dan kuasa Allah.
Doa Perlindungan saat Mendengar Guruh
Selain tasbih di atas, NU Online juga menyebutkan doa lain yang biasa dibaca ketika mendengar guruh dan petir. Berbeda dengan tasbih yang berisi pujian, doa kedua ini berisi permohonan perlindungan agar tidak dibinasakan oleh murka dan azab Allah:
اللّٰهُمَّ لاَ تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلاَ تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذٰلِكَ
Latin: Allahumma la taqtulna bighadhabika wa la tuhlikna bi'adzabika wa 'afina qabla dzalik.
Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, janganlah Engkau membinasakan kami dengan azab-Mu, dan berilah kesehatan kepada kami sebelum itu."
NU Online menjelaskan bahwa kedua doa ini punya nuansa yang berbeda. Doa perlindungan ini mengesankan kecemasan akan murka Allah dan takut mati sebelum dosa-dosa terampuni, sedangkan tasbih yang pertama tidak demikian, sebab isinya kesadaran bahwa guruh dan malaikat pun bertasbih memuji Allah. Keduanya sama-sama baik diamalkan sebagai bentuk zikir kepada Allah, sebagaimana dinukil dari kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Perlu ditegaskan, doa ini bukan klaim bahwa petir pasti azab, melainkan bentuk kerendahan hati seorang hamba yang menyadari betapa lemah dirinya di hadapan kekuatan alam yang Allah ciptakan.
| Aspek | Tasbih Subhanalladzi yusabbihur ra'du | Doa Allahumma la taqtulna |
|---|---|---|
| Isi | Pujian dan pengakuan, tanpa permintaan | Permohonan perlindungan dari murka dan azab Allah |
| Nuansa | Kesadaran bahwa guruh dan malaikat bertasbih memuji Allah | Kecemasan akan murka Allah dan takut mati sebelum dosa terampuni |
| Yang ditanamkan | Hati sejajar dengan seluruh makhluk yang menyucikan Allah; lafalnya hampir menyalin QS Ar-Ra'd ayat 13 | Kerendahan hati seorang hamba yang menyadari lemah dirinya di hadapan kekuatan alam |
| Status riwayat menurut sumber NU | al-Muwaththa' dengan sanad yang sahih | nu.or.id menyebut sanadnya lemah; Tafsir Tahlili NU menyandarkannya pada riwayat al-Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i dari Ibnu Umar |
| Kedudukan | Zikir yang baik diamalkan, bukan wajib | Zikir yang baik diamalkan, bukan wajib |
Dalam praktiknya, sebagian orang membaca tasbih saja, sebagian menggabungkan keduanya, dan semua itu berada dalam ruang yang lapang. Yang lebih penting untuk dipahami, doa dibaca dengan hati yang hadir, bukan sekadar diucapkan buru-buru agar cepat selesai. Menghayati artinya membuat zikir ini benar-benar menenangkan, bukan sekadar rutinitas lisan yang berlalu bersama suara guruh.
Status Dalil: Antara Sanad Sahih dan Sanad Lemah
Karena ini menyangkut ibadah, status riwayat kedua doa perlu disampaikan apa adanya, termasuk ketika sumber-sumber tepercaya sendiri berbeda penilaian.
- Tasbih Subhanalladzi yusabbihur ra'du: NU Online (nu.or.id) menyatakan bacaan ini disebutkan dalam kitab al-Muwaththa' melalui sanad yang sahih. Inilah yang menjadikannya bacaan utama, ditambah lagi lafalnya memang diambil dari QS Ar-Ra'd ayat 13 yang statusnya jelas sebagai firman Allah.
- Doa Allahumma la taqtulna: di sinilah sumber NU tampak berbeda. Halaman nu.or.id menyebut doa ini berasal dari "riwayat lain dengan sanad yang lemah (dla'if)". Namun pada Tafsir Tahlili atas QS Ar-Ra'd 13, NU Online menyandarkan doa yang sama pada hadis riwayat al-Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i dari sahabat Ibnu Umar, serta menyebutnya disunahkan dibaca saat mendengar guntur dan halilintar.
Bagaimana menyikapi perbedaan ini? Cara yang jujur adalah tidak diam-diam memilih salah satu. Untuk doa perlindungan, ada sumber NU yang menilai sanadnya lemah dan ada pula yang menyandarkannya pada perawi-perawi utama dari Ibnu Umar. Yang tidak diperselisihkan adalah dua hal: pertama, tasbih dari al-Muwaththa' bersanad sahih dan lafalnya bersandar pada Al-Quran; kedua, keduanya sama-sama tergolong zikir yang baik diamalkan, bukan bacaan wajib yang bila ditinggalkan berdosa. Untuk urusan zikir dan doa seperti ini, para ulama umumnya lebih longgar selama tidak sampai pada penetapan hukum halal-haram.
Adab dan Ikhtiar Keselamatan saat Badai Petir
Memahami lafal doa mendengar petir baru setengah dari persoalan. Setengah lainnya adalah adab dan tindakan nyata ketika badai petir benar-benar datang. Dari riwayat NU Online kita tahu bahwa Rasulullah pun berubah raut wajahnya saat angin kencang bertiup atau guruh terdengar, sebuah gambaran bahwa manusia paling mulia sekalipun tidak menyikapi cuaca ekstrem dengan santai. Kegelisahan itu beliau salurkan menjadi doa, bukan keluhan.
Adab pertama adalah tidak mencela cuaca. Petir, guruh, dan angin adalah makhluk yang sedang menjalankan perintah Allah, bahkan tengah bertasbih kepada-Nya. Mengumpat cuaca buruk sama saja menyoal ketetapan yang mengutusnya. Gantinya, alihkan keluhan menjadi zikir dan doa. Kami membahas larangan mencela cuaca dan lafal terkaitnya lebih lengkap di halaman doa angin kencang.
Adab kedua adalah menyeimbangkan ketenangan dan kewaspadaan. Kita tidak boleh panik berlebihan, sebab hati yang tenang lebih mudah mengambil keputusan yang benar. Namun tenang bukan berarti abai. Doa harus berjalan beriringan dengan ikhtiar keselamatan yang konkret. Membaca doa lalu tetap berdiri di lapangan terbuka saat petir menyambar bukanlah tawakal, itu kelalaian yang meminjam bahasa agama. Secara praktis, ikhtiar keselamatan saat badai petir mencakup langkah-langkah berikut:
- Segera masuk ke dalam bangunan yang kokoh dan menjauh dari lapangan atau tanah lapang terbuka.
- Menjauhi pohon tinggi yang berdiri sendiri, tiang, dan menara, karena benda menjulang cenderung menjadi sasaran sambaran petir.
- Menjauhi benda dan permukaan logam, pagar besi, serta genangan dan aliran air yang menghantarkan listrik.
- Menghindari berteduh di tempat terbuka seperti pos sederhana beratap seng tanpa dinding, dan tidak menerobos badai jika perjalanan masih bisa ditunda.
- Mengikuti peringatan dini resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta arahan aparat setempat, dan mematuhinya sebagai bagian dari tawakal, bukan lawannya.
Kesalahan Umum dan Doa Cuaca yang Terkait
Beberapa kekeliruan sering muncul di seputar doa mendengar petir. Memahaminya membantu kita mengamalkan doa ini secara sehat dan sesuai sumber:
- Menganggap petir pasti azab atau tanda murka. Petir lebih dulu diperkenalkan Al-Quran sebagai makhluk yang bertasbih memuji Allah. Ia bisa menjadi rahmat sekaligus peringatan, sehingga tidak tepat memvonis setiap petir sebagai kutukan.
- Mencampur doa dengan mistik. Doa mendengar petir tidak ada kaitannya dengan pelet, penglaris, atau ilmu kebal. Menjadikan lafal suci sebagai mantra semacam itu justru merusak makna tauhid yang dikandungnya.
- Mengarang lafal yang tidak bersumber. Cukuplah dua bacaan yang sudah bersandar pada riwayat NU di atas. Menambah atau mengubah lafal dengan bunyi karangan tidak dianjurkan.
- Berhenti pada doa tanpa ikhtiar. Doa adalah ikhtiar batin. Ia tidak menggantikan kewajiban mencari tempat aman dan mengikuti peringatan resmi.
Petir jarang datang sendirian. Ia biasanya menyertai hujan deras dan angin kencang, sehingga doa-doa cuaca lain ikut relevan. Saat hujan mulai turun sebagai rahmat, pelajari lafalnya di halaman doa ketika turun hujan. Ketika hujan berlebihan sampai membahayakan, ada lafal permohonan agar hujan dialihkan ke tempat yang lebih membutuhkan yang kami ulas di doa agar hujan berhenti. Untuk terpaan angin keras yang menyertai badai, bacaannya kami bahas di doa angin kencang. Bila badai menimbulkan musibah besar bagi banyak orang, tradisi Islam mengenal qunut nazilah yang ketentuannya ada di halaman doa qunut. Dan bila hati terasa cemas oleh suara petir, memperbanyak zikir yang menenangkan hati juga dianjurkan, seperti diulas di doa penenang hati dan pikiran.
Pada akhirnya, doa mendengar petir mengajarkan cara pandang yang tenang di tengah suasana yang menegangkan: mengakui bahwa petir pun bertasbih memuji Allah, memohon perlindungan dari keburukannya, lalu tetap berikhtiar menyelamatkan diri. Untuk keadaan darurat, dahulukan keselamatan dengan mengikuti petunjuk BMKG dan aparat setempat. Bila ada persoalan keagamaan pribadi seputar doa cuaca atau musibah yang Anda alami, silakan berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz di lingkungan Anda.
Sumber Rujukan
- NU Online - Doa saat Mendengar Halilintar (tasbih dari al-Muwaththa' sanad sahih, doa Allahumma la taqtulna, Al-Adzkar Imam an-Nawawi)
- NU Online - Doa Saat Mendengar Petir (lafal Allahumma la taqtulna dan konteksnya)
- Quran NU Online - Surat Ar-Ra'd Ayat 13 (Arab dan terjemah: guruh bertasbih memuji Allah)
- Tafsir Tahlili NU Online - QS Ar-Ra'd Ayat 13 (petir sebagai tasbih, QS Al-Isra 44, takhrij doa dari Ibnu Umar)
- NU Online Jateng - Saat Lihat Kilat Dibarengi Guntur, Bacalah Doa Ini (gemuruh guruh adalah tasbih, sikap Rasulullah saat mendung)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas, dan dalil serta kutipannya dicocokkan dengan sumber oleh tim redaksi sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


